Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 127 Pertolongan tak terduga


__ADS_3

Eldrige membuka matanya perlahan. Pandangannya agak buram dan kepalanya sakit. Dia tidak tahu sekarang berada di mana, yang jelas bukan kamarnya di istana Elfian maupun di asrama Griya Pitutur.


Saat dia mencoba bergerak, sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Auh! " Erangnya.


"Jangan bergerak dulu, Eldrige! " Sebuah seruan memaksanya menoleh ke samping.


"Juwita? " Secara reflek peri itu menyebut nama kekasihnya.


"Eldrige, apa kau baik-baik saja? " Seraut wajah yang terlihat cemas memandangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Eldrige begitu dia mengenali wanita yang ada di depannya.


"Aku di sini merawatmu. Kau pingsan selama dua hari."


"Mana Juwita? "


"Kenapa kau menanyakannya? " Nona Sekar merasa tidak senang.


"Aku tanya, dimana Juwita? " Tanya Eldrige lagi.


"Aku tidak tahu. Aku menemukanmu terjatuh di jurang. Sendirian." Nona Sekar menghindari tatapan Eldrige. Dia tidak nyaman harus berbohong di depan pria itu.


"Tidak mungkin. Kau pasti bohong." Eldrige sangat terkejut.


"Seharusnya kau berterima kasih karena sudah kuselamatkan."


"Terima kasih. Tapi aku harus pergi sekarang." Eldrige berusaha bangkit, namun persendiannya terasa lemas. Tubuhnya ambruk di atas kasur.


"Kau belum sehat, Eldrige! " Nona Sekar segera membantu Eldrige berbaring kembali.


"Aku harus mencari Juwita." Eldrige mendorong Nona Sekar, menolak disentuh oleh wanita itu.


"Hentikan, Eldrige! Kau tidak bisa memastikan apakah gadis itu masih hidup atau tidak." Nona Sekar merasa kesal melihat kelakuan Eldrige.


"Segera tarik kembali perkataanmu! "


"Tidak. Kau harus berpikir rasional. Di sana banyak binatang buas. "


"Seharusnya kau mencarinya, Sekar."


Nona Sekar hanya diam memandangi Eldrige. Saat ini dia tidak ingin berdebat dengannya.


"Sebaiknya kau istirahat dulu. Sebentar lagi akan kubawakan makanan." Nona Sekar kemudian keluar dari ruangan itu.


Eldrige memukul kasur dengan kesal. Dia tidak menyukai dirinya yang lemah seperti ini. Seharusnya dia bisa menjaga Puteri Juwita, namun nyatanya dia tidak mampu.


Dia harus bertanya pada Ratu Malea apa yang terjadi pada dirinya. Eldrige memejamkan mata, berpikir keras membuatnya kelelahan.


Nona Sekar masuk kembali dengan membawa nampan berisi bubur dan segelas susu. Dia berhenti sesaat menatap Eldrige yang kembali terlelap. Dia tidak akan membiarkan pria itu pergi. Dia akan merawatnya dan membuat pria itu mengetahui siapa yang pantas berada di sampingnya.


Selarik senyuman menghiasi wajahnya, kemudian dia meletakkan nampan di atas meja. Dia akan membiarkan Eldrige beristirahat sebentar lagi.


Wanita itu sudah berbalik untuk keluar, namun dia berhenti dan memutar kembali tubuhnya. Dia tidak tahan ingin menyentuh Eldrige. Tangannya terulur dan mengelus rahang pria itu.


Grep.


Tiba-tiba Eldrige menangkap tangannya, dada wanita itu berdesir. Wajahnya merona merah.


"Juwita."


Nona Sekar segera menarik tangannya begitu mendengar nama gadis yang berusaha disingkirkannya disebut Eldrige. Hatinya terasa sakit. Dia berjanji nama itu akan dia hapus dari pikiran Eldrige. Dia hanya harus bersabar.


"Kenapa kau masih di sini? " Tiba-tiba Eldrige membuka matanya.


"Aku mengantarkan makanan. Kau harus makan agar cepat sembuh." Nona Sekar mengambil mangkuk bubur kemudian duduk di sebelah Eldrige. Dengan cekatan wanita itu menyendok bubur dan menyuapkannya pada Eldrige.


"Aku bisa sendiri." Eldrige menolak disuapi Nona Sekar, tangannya menahan sendok yang sudah berada beberapa senti dari mulutnya.


Dengan perasaan kecewa Nona Sekar kembali meletakkan sendok itu ke dalam mangkuk.


"Baiklah." Wanita itu tersenyum dan menyerahkan mangkuk bubur pada Eldrige.


"Makanlah, aku akan keluar dulu." Nona Sekar kemudian keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu, wanita itu bersandar pada daun pintu. Dadanya naik turun menahan kesal.


"Ada seseorang yang ingin bertemu anda, Nona. " Suara seorang pelayan mengejutkan wanita itu.


"Siapa? "


"Seorang pria. "


*****


Telah hampir tiga hari Puteri Juwita berjalan menyusuri dasar jurang. Pakaiannya mulai compang-camping karena tercabik duri-duri semak belukar.


Tubuhnya terasa lemas, dia kelaparan. Tidak ada cukup makanan di tempat itu. Dia hanya menemukan beberapa batang jamur liar yang tumbuh di sela-sela akar pohon.


Di sana juga tidak ada air. Setiap pagi Puteri Juwita harus mengumpulkan embun yang menempel di dedaunan dan menyimpan air yang sedikit itu untuk bekalnya seharian.


"Rasanya aku hampir gila. Tidak ada manusia satupun yang kutemui dan aku selalu ketakutan kalau-kalau bertemu binatang buas." Gadis itu mengeluh seorang diri ketika sedang duduk beristirahat di bawah pohon.

__ADS_1


Tempatnya sekarang lebih luas dari pada saat pertama kali dia jatuh bersama Eldrige. Puncak-puncak tebing pun terlihat semakin rendah. Hal itu memberinya harapan bahwa dia akan segera keluar dari jurang itu.


Di atas sana, awan gelap melayang di puncak tebing. Udara semakin lembap dan gerah. Tak lama kemudian titik-titik air mulai membasahi tanah kering dan menguarkan aroma khas.


Gadis itu berdiam di bawah pohon, berharap angin yang bertiup agak kencang akan membawa awan-awan gelap itu pergi. Namun langit bertambah gelap dan kilat mulai menyambar-nyambar dengan suara yang menggetarkan.


Air hujan yang semakin deras membawa aliran lumpur dari atas tebing. Puteri Juwita merasa sangat cemas, dia takut tebing akan longsor.


Grrruuukk..


Aliran lumpur yang turun semakin meluap. Tanah yang dipijak Puteri Juwita kini mulai tergenang. Gadis itu kemudian berlari menembus hujan. Dengan sekuat tenaga dia berusaha mencapai tanah yang lebih lapang.


Pakaiannya basah dan kotor. Sebuah kerikil masuk ke dalam sepatunya dan melukai kakinya, namun dia seakan mati rasa dan terus berlari.


Bruk.


Tubuh Puteri Juwita tersungkur saat sepatunya terbenam dan tersangkut di dalam lumpur. Kini tidak hanya pakaiannya, seluruh tubuhnya basah dan kotor.


Grrruuukk...


Aliran air bercampur lumpur semakin deras. Bahkan hampir menyerupai air bah. Menyadari keadaan semakin genting, Puteri Juwita melepas sepatunya dan berlari tersaruk-saruk sambil mengangkat gaunnya yang berat karena basah.


Grrruuukk... grrruuukk...


Suara gemuruh air semakin lama semakin kencang yang menandakan arus air bah itu semakin mendekat.


Syuuut.


Saat air hampir menggulung tubuh Puteri Juwita, tiba-tiba tubuhnya terangkat. Gadis itu bisa melihat air di bawahnya bergerak dengan cepat dan menabrak dinding jurang. Beberapa pohon kecil tercabut dan ikut hanyut terbawa arus.


Drap.


Tubuh Puteri Juwita mendarat di atas tebing yang agak rendah. Di depannya, seorang pemuda berdiri sambil memegangi tali yang ujungnya mengikat tubuh gadis itu.


*****


"Kenapa kau mencariku? " Nona Sekar bertanya pada tamunya.


"Kudengar Eldrige bersamamu? " Tanya seorang pria yang pakaiannya basah. Lantai dibawahnya dipe


"Itu bukan urusanmu! "


"Kenapa kau galak sekali? " Pria itu terkekeh pelan.


"Cepat katakan keperluanmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang mengenai hal yang tak perlu." Nona Sekar tidak sabar menghadapi pria itu.


"Aku memiliki saksi yang melihat pembunuhan Ratu Akemi. "


"Aku serius. Puteri Juwita tidak bersalah, kita bisa membantunya untuk membersihkan namanya."


"Tidak perlu. Semuanya sudah terlambat." Senyum kaku menghiasi wajah wanita itu.


"Tapi.. "


"Lagi pula gadis itu sudah tiada. Kau tidak perlu repot-repot membuka lagi kasus itu, Raja Pelvis." Nona Sekar menatap tajam ke arah pria itu.


"Bagaimanapun juga, kebenaran itu harus diungkapkan." Desak Raja Pelvis. Baginya mengungkapkan kebenaran akan melegakan orang-orang yang mengasihi Puteri Juwita.


"Dulu kukira kalian bangsa Rusalqa tidak suka mencampuri urusan manusia. Ternyata aku salah. " Sindir Nona Sekar.


"Dulu sikapmu lebih manis. Tak kusangka sekarang kini kau begitu keras kepala." Balas Raja Pelvis menanggapi sikap permusuhan yang ditunjukkan Nona Sekar.


"Aku tidak memerlukan penilaianmu." Emosi Nona Sekar mulai tersulut.


"Baik, aku tak akan berkomentar lagi. Tapi izinkan aku bertemu Eldrige." Pinta Raja Pelvis.


"Tidak bisa. Eldrige sedang sakit. " Cegah Nona Sekar.


"Eldrige sakit? Apa kau bercanda? " Raja Pelvis merasa tak percaya mendengarnya.


"Dia terluka. Sebaiknya kau pergi." Usir wanita itu, tangannya menunjuk ke pintu.


"Sekar, aku tidak tahu kenapa sikapmu bisa begitu berubah. Tapi aku harap, kau tidak kehilangan kebaikan yang dulu kulihat dalam dirimu." Raja Pelvis merasa tersinggung. Dia menatap Nona Sekar dengan tajam, seolah membaca jiwanya. Pria itu kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Perasaan Nona Sekar menjadi bertambah tidak tenang. Dia mengutuk Raja Pelvis yang sudah lancang mengomentari hidupnya.


"Memangnya siapa dia? " Gumam wanita itu.


*****


"Ah, untung aku datang tepat waktu." Pemuda yang menolong Puteri Juwita menatap gadis itu sambil menggulung talinya.


"Terima kasih." Ucap gadis itu.


"Bukan apa-apa. Aku juga tidak sengaja melihatmu saat sedang berteduh."


"Bagaimanapun juga, kau telah menyelamatkan nyawaku. " Kata Puteri Juwita.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa berada di bawah sana? " Pemuda itu melirik ke bawah, air masih mengalir dengan deras.


"Aku terjatuh. " Jawab Puteri Juwita, badannya menggigil kedinginan.

__ADS_1


"Apa kau terluka? " Tanya pemuda itu.


"Tidak, hanya sedikit lecet. "


"Sebaiknya nanti kuperiksa, siapa tahu ada luka serius. " Pemuda itu berkata dengan khawatir.


Perkataan pemuda itu membuat Puteri Juwita curiga. Gadis itu takut kalau pemuda itu akan berbuat tidak baik padanya.


"Jangan takut. Aku ini semacam tabib. Aku kemari sedang mencari tanaman obat. Lihat! " Pemuda itu menunjukkan tas yang dibawanya. Berbagai akar dan dedaunan bertumpuk-tumpuk di dalamnya.


Puteri Juwita merasa lega karena pemuda yang menolongnya itu bukan orang jahat.


"Hujan sudah reda, sebaiknya kau mampir ke pondokku dulu. Nanti setelah aku menaruh tasku, kau akan kuantarkan pulang. "


"Tidak. Aku tidak punya rumah. " Kata Puteri Juwita.


Pemuda itu terlihat terkejut. "Apa kau melarikan diri? "


Puteri Juwita tergagap karena tidak tahu harus berbohong bagaimana.


"Tidak usah kau jelaskan, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Aku sendiri juga terpaksa meninggalkan keluargaku karena suatu alasan." Suara pemuda itu terdengar sedih.


Pemuda itu tersenyum canggung begitu melihat tatapan bingung gadis di depannya.


"Kalau begitu ayo ikut aku. Pondokku di dekat sini. " Pemuda itu berjalan di depan.


Mereka menembus lebatnya hutan dengan langkah pelan. Jalan setapak sangat licin setelah hujan. Tak berapa lama di depan sana mulai terlihat bangunan kayu yang memang pantas di sebut pondok karena ukurannya yang kecil.


"Kita sudah sampai." Suara pemuda itu terdengar ceria.


"Terima kasih sudah mau menerimaku, Tuan. "


"Jangan panggil tuan. Namaku Bagas. "


"Terima kasih, Bagas. Namaku.. " Puteri Juwita ragu-ragu untuk menyebutkan namanya.


"Aku Juwita. " Gadis itu memilih jujur kepada penolongnya.


"Juwita, kalau kau mau, mulai sekarang kau boleh tinggal di sini. " Bagas menggantung tasnya di dinding.


"Jangan khawatir, aku jarang tidur di sini."


"Baiklah. Terima kasih, sekali lagi."


"Kau sebaiknya membersihkan tubuhmu dulu. Dibelakang ada kamar mandi, kau bisa menggunakannya. Ini bajuku yang tidak kupakai, untukmu saja." Bagas memberikan pakaian kepada Puteri Juwita.


Puteri Juwita segera pergi ke belakang pondok. Ada bangunan tanpa atap dengan sebuah sumur di tengahnya. Gadis itu segera menimba air dengan susah payah dan mengisi ember besar. Sebelum mandi dia mencuci pakaiannya dulu dan menjemurnya di pinggir.


Setelah mandi, Puteri Juwita kembali masuk ke dalam pondok. Penciumannya mengendus aroma masakan yang membuat perutnya berkeruyuk.


"Aku memasak dendeng rusa dan kentang tumbuk. Semoga kau menyukainya. " Bagas menaruh beberapa piring di atas meja.


"Keliatannya lezat. "


"Cobalah."


Puteri Juwita segera menggigit seiris dendeng yang dari tadi membuat air liurnya hampir menetes.


"Bagaimana? "


"Enak sekali. "


"Kalau kau suka, makanlah yang banyak. Tapi mulai besok kita akan bergantian memasak. "


Puteri Juwita tiba-tiba berhenti mengunyah. Dia memandang Bagas dengan sedih, "Aku.. tidak bisa memasak. "


"Hahaha.. jangan khawatir, nanti aku ajari memasak makanan sederhana. "


"Benarkah? Terima kasih."


"Kurasa hari ini kau sudah terlalu banyak mengucapkan terima kasih padaku."


"Maaf."


"Hei, tidak apa-apa. Aku senang sudah bisa membantumu. Kau mengingatkanku pada adikku. "


"Adikmu? Kalian tidak tinggal bersama? "


"Tidak. Aku tidak bisa." Kesedihan kembali menyelimuti Bagas.


"Kau bisa menganggapku sebagai adikmu." Kata Puteri Juwita.


"Kau serius? " Tanya Bagas.


"Iya." Jawab Puteri Juwita sambil tersenyum.


"Kalau begitu, panggil aku kakak." Perintah pemuda itu dengan perasaan haru.


"Kakak." Ucap Puteri Juwita.


Keduanya tersenyum. Mendadak udara yang dingin kini terasa hangat.

__ADS_1


__ADS_2