Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 28 Teror Di Istana


__ADS_3

Ketua Dewan Permadi memandang Raja Satria dengan perasaan tak percaya. Selama ini pria muda dihadapannya ini selalu terlihat tunduk dan takluk kepada anaknya.


"Kenapa? Tidakkah Selir Mayang sangat berharga bagi Yang Mulia?" Bibirnya gemetar saat mengucapkan itu.


"Karena dia sudah melakukan kesalahan yang fatal! Kau tahu 'kan?" Mata ungu Sang Raja menatap tajam seolah menguliti pria tua itu.


Pria itu ingin membantah dan membela anaknya, namun dia tidak tahu sejauh mana Raja Satria mengetahui rahasia Selir Mayang. Bagaimana jika Raja Satria sudah mengetahui semuanya? Sanggupkah dia menanggung aib karena dituduh bekerjasama dengan anaknya untuk mencelakai Ratu Gita dengan mantera sihir?


"Saya mohon maafkan Selir Mayang jika dia melakukan kesalahan Yang Mulia! Ingatlah kebaikannya dan kesetiaannya kepada Yang Mulia!" Pria itu membungkuk penuh harap, tubuhnya yang renta gemetar karena takut. Dia berharap Raja Satria mengingat jasa Selir Mayang yang dulu pernah menyelamatkan nyawa Raja Satria.


"Ayah, aku tidak bersalah!" Suara Selir Mayang yang lembut menggetarkan hati ayahnya. Wajahnya terlihat memelas seolah teraniaya. Wanita itu berusaha untuk mendekati ayahnya namun segera dihalangi Eldrige.


"Tahukah kau bahwa Selir Mayang sudah mencoba membunuhku?" Pertanyaan Raja Satria membuat Ketua Dewan Kerajaan Permadi kaget. Wajahnya bertambah pucat, dia tidak menyangka anaknya akan berbuat sejauh itu. Bukankah mereka sudah berhasil menyingkirkan Ratu Gita ke pengasingan? Tidakkah itu cukup?


"Ampunilah anak saya Yang Mulia! Tunjukkanlah sedikit belas kasihan untuk Selir Mayang!" Pria itu hampir bersujud namun dicegah oleh Raja Satria.


"Aku akan memikirkannya. Tapi sebaiknya jangan coba-coba menghalangi Eldrige, kau tidak tahu akan menjadi apa dia jika kita membiarkannya!" Kali ini peringatan keras dari Raja Satria membungkamnya.


"Eldrige, lanjutkan!" Raja Satria melemparkan pandangannya pada Eldrige yang tidak lepas mengawasi Selir Mayang.


Eldrige mengangguk. Pria itu pergi keluar dan mengambil cermin besar seukuran manusia yang sudah disiapkannya, kemudian meletakkannya di depan Selir Mayang.


"Ayah, jangan biarkan mereka menyakitiku!" Selir Mayang memanggil ayahnya membuat pria tua itu memejamkan matanya. Tidak sanggup dia menyaksikan anaknya tersiksa.


"Sekh, keluarlah dari raga wanita ini!" Perintah Eldrige sambil menaburkan garam laut. Ketika butiran garam itu menyentuh kulit Selir Mayang, wanita itu langsung menjerit kencang. Kulitnya seakan terbakar dan mengeluarkan asap tipis. Ada aroma gosong memenuhi ruangan.


Ayah Selir Mayang menangis melihatnya. Namun dia tidak mau meninggalkan tempat itu, dia ingin mendampingi anaknya.


"Aku tidak mau!" Kali ini suaranya berubah mengerikan lagi.


"Kau sungguh keras kepala!" Eldrige merasa geram.


Eldrige mengeluarkan cambuk dari kantungnya. Cambuk bercahaya yang pernah digunakan untuk menangkap Djin.

__ADS_1


Eldrige segera melecutkan cambuknya ke tubuh Selir Mayang, namun wanita itu bergerak dengan gesit dan berhasil menghindar.


"Kau tidak bisa memaksaku, Peri!" Wanita itu marah. Kemudian mata wanita itu berubah hitam seluruhnya membuatnya terlihat sangat mengerikan.


Eldrige kembali melayangkan cambuknya dengan cepat sehingga ujung cambuk itu sempat mengenai bahu Selir Mayang dan menimbulkan suara ledakan.


"Aaargh!" Wanita itu berteriak dengan suara keras seperti geraman binatang.


Tidak menunggu lama, Eldrige kembali melayangkan cambuknya namun kali ini untuk mengikat tubuh wanita itu. Selir Mayang berusaha memberontak untuk melepaskan diri. Namun Eldrige sudah menguncinya dengan kuat.


Sekuat tenaga Eldrige mencoba memindahkan tubuh Selir Mayang ke depan cermin. Meskipun wanita itu terus melawan namun perlahan-lahan Eldrige berhasil menggeser tubuh wanita itu.


Saat berada di depan cermin wanita itu berteriak marah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya terlihat kesakitan dan matanya melotot. Perlahan tumbuh paruh burung menggantikan bibirnya yang indah. Bulu-bulu burung mulai memenuhi seluruh tubuhnya. Telapak kakinya membesar menembus sepatu yang dikenakannya. Jari-jari kaki dan tangannya berubah menjadi cakar dengan kuku hitam dan tajam.


Tiba-tiba wanita itu tersungkur, tubuhnya semakin gemetar. Terdengar suara keras seperti tulang yang bergeser. Dan di punggung Selir Mayang mulai muncul dua buah tonjolan seperti punuk yang semakin lama semakin besar hingga mengoyak bagian belakang gaunnya.


Tonjolan itu semakin mencuat dan lama-lama membentuk sayap burung yang terentang lebar. Selir Mayang sudah sepenuhnya berubah menjadi wujud iblis wanita burung elang. Wujud Sekh !


Eldrige memperkuat pertahanannya. Dia lalu mengucapkan mantera dalam bahasa asing untuk mengeluarkan iblis itu dari tubuh Selir Mayang.


Namun dengan sebuah sentakan keras, iblis itu terlepas. Cambuk milik Eldrige jatuh terkulai di kakinya. Dengan cepat Eldrige menarik cambuknya untuk menjerat kaki makhluk itu. Namun gerakannya kalah cepat, iblis wanita itu telah terlebih dahulu melesat terbang hampir menyentuh langit-langit.


Berkali-kali Eldrige berusaha melemparkan cambuknya ke arah makhluk itu, namun usahanya tidak berhasil. Seakan ingin mengejek Eldrige, Iblis wanita itu tertawa melengking sambil mengepak-ngepakkan sayapnya di udara, membuat benda-benda di ruangan itu beterbangan.


Raja Satria dan Ketua Dewan Permadi segera berlindung di belakang Eldrige. Mereka bertiga kini telah dikepung dalam pusaran angin. Benda-benda yang berada di ruangan itu ikut berputar-putar mengelilingi mereka.


Eldrige kemudian melecutkan cambuknya ke arah makhluk itu. Seketika semua benda-benda itu jatuh berhamburan menimbulkan kegaduhan. Mereka bertiga berusaha menutupi kepala dan menghindar agar tidak tertimpa benda-benda itu.


Kesempatan itu digunakan iblis wanita itu untuk melarikan diri. Tubuhnya segera melesat keluar menerobos pintu. Eldrige segera berlari keluar untuk mengejarnya. Raja Satria dan ayah Selir Mayang mengikuti di belakang.


Terjadi kegemparan di lingkungan istana. Para pegawai istana berteriak ngeri melihat penampakan iblis berwujud wanita elang itu.


"Kaaaaaack! Kaaaaaack!" Suara lengkingannya menggema di angkasa. Bayangannya yang gelap dan besar terlihat mondar mandir melintasi halaman istana yang luas.

__ADS_1


Semua pelayan wanita diperintahkan untuk masuk ke dalam, sedangkan para pengawal berjaga-jaga mengawasi makhluk itu.


"Bagaimana ini Eldrige?" Raut wajah Raja Satria terlihat cemas.


Tiba-tiba Ketua Dewan Permadi mendekati Raja Satria. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sungguh tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Mungkin Ahren bisa membantu menangkap makhluk itu!"


"Siapa Ahren?" Tanya Raja dengan kening berkerut.


"Dia adalah sahabat Selir Mayang. Dia bekerja sebagai pengawal di istana ini."


Mendengar hal itu Raja Satria segera menyuruh seseorang untuk memanggil Ahren. Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dengan rambut merah tergerai sepinggang, dia mengenakan seragam pengawal. Dengan hormat pemuda itu menghadap Raja Satria.


"Ketua Dewan Permadi mengatakan bahwa kau mungkin bisa membantu kami menangkap makhluk itu?" Tanya Raja Satria.


Wajah pemuda itu terlihat tegang. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi namun dia merasa ini ada hubungannya dengan Selir Mayang.


"Dimanakah Selir Mayang?" Tanya pemuda itu.


"Dia ada di sana!" Tunjuk Raja Satria ke arah makhluk yang sedang terbang meneror istana.


Ahren kaget mendengar penuturan Raja Satria. Seketika pemuda itu terlihat cemas. Wanita yang selama ini dicintainya telah menjelma menjadi makhluk yang mengerikan.


"Apa kau bersedia membantu kami?" Raja Satria menatap tajam ke arah mata pemuda itu.


Ahren mengangguk pasrah."Tapi Yang Mulia harus berjanji tidak akan membunuhnya!"


Wajah Raja Satria mengernyit heran dengan keberanian pemuda itu. Dia penasaran ada hubungan apa antara pemuda itu dengan Selir Mayang? Benarkah mereka hanya sekedar sahabat?


"Aku berjanji tak akan membunuhnya. Tapi jangan salahkan aku jika terjadi hal-hal buruk akibat perbuatannya sendiri!" Jawab Raja Satria.


Mata pemuda itu berkaca-kaca. Dia tahu semua ini hasil perbuatan Selir Mayang sendiri. Dan yang lebih parah, dialah yang membantu Selir Mayang melakukan hal-hal yang mengerikan itu.


"Baiklah, saya bersedia!" Ahren menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2