Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 74 Situasi Berbahaya


__ADS_3

Ratu Gita bersiap-siap dengan panahnya. Dengan cepat dia menghitung ada lima belas wanita menyeramkan yang mengepung mereka.


Kuda-kuda yang mereka tunggangi melonjak dan meringkik karena ketakutan. Dengan tepukan pelan dan menarik tali kekang, mereka berusaha menenangkan hewan-hewan itu.


Wanita-wanita itu semakin mendekat dan bergerak mengelilingi Raja Satria dan Ratu Gita sambil menari. Bulan yang tadi tertutup mega, perlahan muncul dan bersinar terang.


Tubuh-tubuh yang licin dan basah itu meliuk-liuk seakan melakukan pemujaan. Kaki-kaki yang menghentak ke tanah, menimbulkan irama mistis yang kental.


Punggung mereka yang telanjang mulai ditumbuhi sirip yang bergelombang dengan ujung lancip. Jari-jari mereka yang berselaput dengan kuku-kuku panjang, melambai-lambai di udara.


"Kalian mau apa?" Tanya Raja Satria.


"Bunuh... "


"Bunuh... "


Tiba-tiba salah satu dari mereka melompat dan menerjang Ratu Gita. Tangannya yang kurus mengayun dengan gerakan mencabik.


Melihat hal itu, Raja Satria segera meraih tubuh istrinya dan menariknya. Hal itu membuat tubuh Ratu Gita berpindah tempat. Kini wanita itu duduk di depan Raja Satria.


Sementara itu kuda milik Ratu Gita menerjang ke depan dan melompati kerumunan wanita-wanita itu, kemudian melarikan diri.


"Kau tak apa-apa? " Tanya Raja Satria karena merasakan tubuh istrinya gemetar.


"Ya." Ratu Gita menjawab singkat karena jantungnya masih berpacu begitu cepat akibat kejadian barusan.


"Kita lawan mereka! " Bisik Raja Satria.


Setelah itu, Raja Satria segera melompat turun dan menghadapi para Rusalqa. Wanita-wanita itu menyerang Raja Satria dengan gerakan liar seperti anjing gila, terus menyerang tanpa rasa takut.


Raja Satria menyabetkan pedangnya. Satu per satu mereka tumbang dengan tubuh bercucuran darah. Namun rekan mereka bertambah ganas. Beberapa kali tubuh Raja Satria harus merasakan perih karena terkena goresan kuku-kuku mereka yang tajam.


"Aaakh! "


Raja Satria menjerit kesakitan ketika salah satu wanita itu menggigit bahunya dengan gigi-giginya yang tajam. Gigi itu menancap dan mencabik sampai ke daging. Darah mengalir deras membasahi dada dan lengannya.


Ssiiiiing... jleb!


Ratu Gita yang melihat hal itu segera melesatkan panahnya tepat ke arah leher wanita itu. Gigitannya terlepas dan tubuhnya menggelepar sekarat.


Tiba-tiba para Rusalqa melihat ke atas, tepat ke arah Ratu Gita. Mereka menyeringai mengerikan seperti serigala menatap mangsanya. Lalu mereka berlompatan kearah Ratu Gita.


Ssiiiiing... jleb!


Ssiiiiing... jleb!


Ratu Gita segera melesatkan panahnya. Dua orang Rusalqa yang tertembus anak panah langsung terjatuh ke tanah. Namun sisanya masih berusaha meraih Ratu Gita.


Ratu Gita segera memacu kudanya untuk menghindari serbuan para Rusalqa itu. Kemudian dia berbalik, kembali menarik busurnya dan melesatkan beberapa anak panah ke arah mereka.


Ssiiiiing... Ssiiiiing... Ssiiiiing...!


Jleb.. jleb.. jleb..!


Tiga orang lagi tumbang, namun sisanya masih banyak. Ratu Gita segera mendekati suaminya.

__ADS_1


"Ayo naik! " Ratu Gita mengulurkan tangannya.


Raja Satria segera meraih tangan istrinya dan kemudian melompat naik ke punggung kuda. Ratu Gita memandang wajah suaminya dengan cemas. Namun dia harus menghadapi para Rusalqa itu.


Ssiiiiing....!


Ssiiiiing....!


Anak panah Ratu Gita terbang tanpa mengenai sasaran. Wanita-wanita itu berkelit dan bergerak ke segala arah sehingga agak membingungkan Ratu Gita untuk membidikkan anak panahnya.


"Tenanglah sayang, fokus pada arah bidikanmu." Bisik Raja Satria sambil memeluk pinggang Ratu Gita.


Ratu Gita mengangguk dan mulai berkonsentrasi mengarahkan bidikannya. Ketika dua orang melompat untuk menyerangnya, Ratu Gita segera melepaskan panahnya.


Ssiiiiing.. Ssiiiiing..


Jleb.. jleb..!


Dua dari mereka kembali tersungkur dengan tubuh kelojotan. Melihat teman-temannya tumbang, sisa Rusalqa yang lain segera melarikan diri. Mereka berlari ke rawa-rawa yang gelap. Hanya terdengar suara kecipak saat kaki-kaki mereka menginjak genangan air dan suara ceburan ketika mereka menyebur ke dalam air.


Ratu Gita bisa merasakan tubuh suaminya sangat panas dan menggigil. Rupanya gigitan Rusalqa membuat Raja Satria menjadi demam.


"Bertahanlah sayang, kita akan segera kembali ke istana! " Ratu Gita mengeratkan pelukan suaminya di perutnya, kemudian dia memacu kudanya sekencang-kencangnya.


*****


Langit di ufuk timur mulai merah, Para prajurit yang mengikuti Pangeran Gaurav sudah bangun sebelum subuh dan mulai bersiap-siap.


Pangeran Sagar yang bangun paling akhir, pemuda belia itu terlihat sangat malu. Dia tidak menyangka akan tidur sangat nyenyak dalam situasi gawat seperti ini.


"Terima kasih, Kak! "


Ketika mereka sedang bersantap pagi, Pangeran Gaurav mendekati Eldrige. Ada hal yang sangat ingin dia tanyakan padanya.


"Sepertinya kau tidak kaget dengan kejadian yang menimpa Puteri Elok? " Tanya Pangeran Gaurav sambil mengunyah makanannya.


"Hmm, rupanya kau menyadarinya." Eldrige tersenyum.


"Jelaskan padaku! " Tuntutnya.


"Sebenarnya ini rahasia, tapi kurasa aku bisa mengatakannya padamu." Eldrige memandang Pangeran Gaurav dengan mimik serius.


"Begini, sebenarnya aku dipanggil oleh Ratu Malea karena ada suatu hal yang sangat mendesak. Ada seseorang yang sengaja membuat kekacauan dengan memanfaatkan bangsa Rusalqa."


"Bangsa Rusalqa? "


"Manusia setengah ikan yang kau lihat itu adalah bangsa Rusalqa. "


"Maksudmu, manusia setengah ikan itu sengaja disuruh untuk mengacau? "


"Benar. Dan itu tidak hanya terjadi di sini, tapi juga di Kerajaan Elfian. "


"Maksudmu, Kerajaan Elfian telah diserang oleh bangsa Rusalqa? " Raut wajah Pangeran Gaurav terlihat tegang.


"Betul. Selama kita berada di Kerajaan Baiyun, seseorang telah memanfaatkannya untuk menghimpun kekuatan lewat bangsa Rusalqa. "

__ADS_1


"Apakah Raja Satria dan Ratu Gita baik-baik saja? " Nampak sekali jika Pangeran Gaurav sangat gelisah.


"Kuharap begitu, aku sendiri belum sempat kembali ke Istana Elfian karena Ratu Malea menyuruhku ke Alsatia untuk menolong Puteri Elok." Eldrige juga terlihat cemas.


"Lalu, bagaimana caranya kita menolong Puteri Elok? "


"Cinta."


"Cinta? Apa hubungannya? " Pangeran Gaurav bingung dengan jawaban Eldrige.


"Tidak pernahkah kau berpikir kenapa Puteri Elok menyerahkan dirinya pada makhluk itu?" Kali ini tatapan Eldrige terlihat sangat menusuk.


"Aku... memang penasaran akan hal itu." Pangeran Gaurav merasa ragu.


"Puteri Elok mengorbankan dirinya agar kau selamat! Dia tidak ingin makhluk itu membunuhmu seperti yang terjadi pada pengasuhnya." Mata merah milik Eldrige terlihat membara.


"Aku sama sekali tidak berpikir sampai ke situ. Kenapa dia mengorbankan dirinya untukku? Aku tidak selemah itu." Jawaban Pangeran Gaurav terdengar tidak yakin.


"Tapi dirinyalah yang lemah. Kau adalah kelemahannya. Karena gadis malang itu mencintaimu! " Telunjuk Eldrige menunjuk dada Pangeran Gaurav berkali-kali.


Seketika dada Pangeran Gaurav seakan dihantam godam. Dia tidak menyadari jika Puteri Elok begitu mencintainya sehingga mengorbankan dirinya demi dia.


Tubuh Pangeran Gaurav luruh seakan tak bertulang. Bagaimana bisa dia memperlakukan seorang wanita dengan begitu kejam. Memandang rendah dan menganggapnya tak sebanding dengan cinta pertamanya, Ratu Gita.


Bahkan jika dia tidak mencintai wanita itu, dia tidak pantas memperlakukannya dengan buruk. Kini dia baru menyadari bahwa dialah yang tidak pantas bersanding dengan Puteri Elok. Tiba-tiba dia merasa malu dan rendah diri.


"Eldrige, aku harus bisa menyelamatkan Puteri Elok. Aku bersedia menebusnya dengan nyawaku. "


"Kalau begitu kau bisa membuktikannya nanti malam. Bersiaplah! "


Eldrige kemudian pergi menemani Pangeran Sagar. Dia ingin membesarkan hatinya dan menguatkannya agar tetap tabah.


*****


Tubuh Puteri Elok terbaring di atas sebuah batu cadas yang terletak di dalam sebuah goa yang tersembunyi di dalam telaga. Wanita itu tidak sadar sejak semalam, ketika dibawa masuk ke dalam telaga.


Beberapa makhluk setengah ikan memandangi wanita itu dengan rasa ingin tahu. Mereka sangat tidak menyukai manusia, jadi mereka sangat heran kenapa wanita itu dibawa kemari.


Namun mereka tidak berani membantah Pelvis, pria misterius yang membawa Puteri Elok. Dia adalah raja bangsa Rusalqa di telaga Masserjarvi.


Perlahan-lahan sepasang mata Puteri Elok mengerjap. Ketika dia benar-benar membuka matanya, dia menatap langit-langit goa yang berisi stalaktit. Wanita itu juga merasakan tempatnya berbaring sangat keras.


Saat dia bangun, di dekatnya berjejer makhluk-makhluk setengah ikan sedang memandanginya seperti sedang melihat makhluk aneh. Mereka bertumpu pada batu cadas dengan kedua tangan sedangkan tubuh mereka masuk ke dalam air.


"Siapa kalian? " Puteri Elok beringsut mundur karena merasa sangat ketakutan.


"Akhirnya kau bangun juga istriku! " Sebuah suara menyapanya dengan lembut.


Puteri Elok menoleh dan melihat pria yang membawanya semalam sedang duduk di atas singgasana terbuat dari batu koral berwarna-warni. Pria itu sangat tampan dan tubuhnya terlihat mengagumkan.


"Apa yang terjadi? Ini di mana? " Puteri Elok benar-benar merasa bingung di tempat yang sangat asing ini.


"Selamat datang di istanaku sayang! " Ucap Raja Pelvis sambil melangkah mendekati Puteri Elok.


"Istanamu? " Puteri Elok masih belum mengerti.

__ADS_1


"Istana kita! " Bisik Raja Pelvis tepat di telinga Puteri Elok.


__ADS_2