
Raja Satria membalikkan badannya. Kini di hadapannya, berdiri seorang gadis remaja dengan rambut coklat keemasan dikuncir ekor kuda. Gadis itu memakai gaun sutra berwarna coklat muda yang panjang bertumpuk-tumpuk. Kedua bahunya ditutupi lapisan zirah perak, begitupun punggung dan dadanya. Di punggungnya, gadis itu mencangklong busur dan anak panah. Sungguh penampilan yang sangat kontras dengan wajah polos dan kekanak-kanakannya.
"Saya Faye. Pengawal yang akan memandu Yang Mulia berjumpa dengan Ratu Malea." Suaranya lembut bagaikan bisikan angin.
Raja Satria mengangguk dan mengikuti langkahnya yang sangat lincah. Sepanjang jalan setapak itu, Raja melihat para makhluk penghuni hutan memperhatikannya dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka saling berbisik dengan suara yang mirip dengungan lebah. Raja Satria tidak pernah tahu jika hutan bisa terlihat semenarik ini.
Mereka melewati jalur hijau yang tak jauh dari jalan setapak, lalu melintasi hamparan bunga-bunga Bluebell yang mirip permadani biru. Kemudian gadis itu membawanya berjalan dibawah naungan bunga-bunga mawar Sempervirens yang merambat dan saling menjalin membentuk kanopi. Membuat Raja Satria terkagum-kagum dengan keindahannya.
Diujung terowongan mawar berkelopak putih itu, berdirilah seorang wanita cantik berambut panjang menjuntai hampir menyentuh tanah membelakangi singgasana terbuat dari batu Tourmaline Hijau. Dia tersenyum seolah tengah menunggunya.
"Selamat datang Raja Satria." Sambutnya dengan suara lembut dan merdu yang sulit untuk dideskripsikan.
Raja Satria membungkuk hormat pada wanita agung itu. Hatinya merasa agak gentar menghadapi wanita itu yang seolah-olah seluruh tubuhnya diselimuti cahaya surgawi. Namun Raja bangsa Elfian itu segera meneguhkan hatinya.
"Terimakasih telah menerima kedatangan saya." Ucap Raja Satria dengan sopan.
"Saya merasa tersanjung dengan kunjungan Paduka." Ratu Malea mengangguk tenang dan mengajaknya duduk.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada Yang Mulia Ratu Malea."
"Silakan."
"Saya ingin mengetahui, siapakah yang memerintahkan penyihir untuk mencelakai Ratu Gita?"
Ratu Malea tersenyum ke arah Raja Satria yang menampakkan raut ingin tahu. Wanita itu melihat ke dalam hatinya dan membaca jiwanya.
"Paduka akan mengetahuinya saat hati dapat membedakan ketulusan dan kepalsuan."
"Saya tidak mengerti. Apakah ada orang yang sudah membohongi saya?"
"Sihir dapat memanipulasi seseorang, sementara orang itu tak akan menyadarinya."
"Apakah selama ini saya di bawah pengaruh sihir?"
Ratu Malea mengangguk dengan menyesal. "Apa Paduka tak menyadarinya?"
__ADS_1
Raja Satria menelan ludah. Sulit baginya untuk percaya bahwa selama ini dia sudah di bawah kendali seseorang.
"Saya tidak mengerti... Saya tidak menyadarinya!" Raja Satria menjadi gugup.
"Kebanyakan korban mantera sihir akan terpesona dan tunduk kepada pelaku. Dia akan mudah dikendalikan baik di dunia nyata maupun di dalam mimpi, karena pelaku itu sudah diliputi oleh kekuatan Glamour . Yaitu kekuatan sihir yang berfungsi untuk membuat korbannya menjadi tergila-gila pada si pelaku sihir." Ratu Malea menghela napas dengan mimik prihatin.
"Lalu, saya harus bagaimana sekarang?" Raja Satria menjadi gelisah.
"Cepat atau lambat akan terjadi sesuatu yang akan membuka mata Paduka. Pelaku sihir yang sudah mengacaukan pikiran inipun akan terungkap." Ratu Malea menjawab dengan bijak.
"Lalu, bagaimana dengan Ratu Gita? Bisakah saya minta perlindungan untuknya?"
"Jangan khawatir. Saya telah mengawasi Ratu Gita sejak memasuki area gunung Grand Solano." Jawab Ratu Malea dengan nada yang menentramkan.
"Terima kasih." Ucap Raja Satria dengan tulus.
Ratu Malea memperhatikan pria yang nampak gelisah itu. "Apakah ada yang bisa saya bantu lagi, Yang Mulia?"
Raja Satria tergagap, sebuah keinginan menggantung di tenggorokannya. Dengan tersenyum malu-malu akhirnya dia memberanikan diri untuk mengatakannya.
Ratu Malea tersenyum lebar. "Tentu saja."
*****
Ratu Gita sedang membuat makan malam ketika ada yang mengetuk pintu. Tubuhnya langsung tegang, darahnya berdesir. Wanita itu trauma dengan kejadian buruk yang menimpanya. Berbagai hal yang menyeramkan dan tidak masuk akal silih berganti menghampirinya.
"Tok..tok..tok..!" Suara ketukan di pintu masih terdengar. Namun Ratu Gita masih belum beranjak dari tempatnya.
"Tok..tok..tok..!" Sepertinya orang yang mengetuk pintu itu belum menyerah.
Dengan tubuh gemetar didekatinya pintu dan perlahan memegang kenopnya. Diputarnya kenop perlahan dan dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, dia membuka pintu.
Ratu tertegun. Dia tak percaya dengan penglihatannya. Dia tidak yakin apakah sedang bermimpi ataukah sedang berhalusinasi. Di depan pintu sedang berdiri seorang pria dengan rambut perak yang tergerai. Pria itu sedang memandangnya dengan mata bak telaga berwarna ungu muda.
"Ratu Gita." Sapa pria itu dengan tatapan rindu.
__ADS_1
"Brakk!"
Secara reflek Ratu Gita membanting pintu itu hingga menimbulkan bunyi berdebum keras. Hal itu sontak membuat pria tadi kaget karena pintu dibanting tepat di depan wajahnya.
"Hei, buka pintunya! Kenapa kau tidak sopan sekali pada suamimu? Apakah setelah hidup di hutan perangaimu bertambah bar-bar?" Raja Satria berteriak-teriak marah.
Ratu Gita kaget mendengar suara omelan di luar. Dibukanya lagi pintu itu. Dilihatnya Raja Satria sedang berdiri berkacak pinggang dengan wajah memerah.
"Apa kau mau masuk?" Tanya Ratu Gita takut-takut.
Raja membuang napas kesal. Dengan sinis dia melangkah masuk ke dalam. Setelah berada di dalam, Raja Satria tertegun dengan kondisi ruangan itu. Betapa sederhana dan sempitnya tempat itu. Matanya tiba-tiba tertuju pada meja makan yang diatasnya terdapat sepiring beri liar dan telur rebus. Matanya berkaca-kaca melihat betapa sederhananya menu makan malam istrinya.
Ratu Gita seolah dapat menerka jalan pikiran suaminya itu. Dengan segera dia menunjukkan olahan daging kelinci yang sedang dimasak.
"Jangan khawatir! Jika kau ingin makan daging, aku memilikinya." Ucap Ratu Gita dengan gembira. Wanita itu segera menghidangkannya di atas meja.
Raja Satria langsung memeluk punggung istrinya sambil menangis. Biasanya dia tidak semudah itu meneteskan air mata. Namun melihat kesusahan istrinya, telah membuat hatinya terharu. Apalagi dilihatnya wanita itu tetap tegar dan tidak menunjukkan kesedihannya.
Ratu Gita terdiam mendengarkan isakan suaminya. Baru kali ini dia melihatnya menangis. Biasanya pria ini selalu terlihat kuat bahkan terkesan angkuh. Tak disangka kini dia menunjukkan sisi rapuhnya.
"Maafkan aku karena tak bisa melindungimu."
Ratu Gita menggeleng pelan, perasaannya ikut sedih. "Aku tidak apa-apa. Pasti kau tidak bisa mengabaikan bangsamu."
"Tidak, aku sungguh berdosa padamu karena selalu meragukanmu. Aku gagal sebagai suami karena tidak mampu melindungimu. Sungguh malang nasibmu karena menikah denganku!" Ucap Raja Satria, suaranya sangat menyayat hati.
Ratu Gita memeluk tangan suaminya dengan mata berembun. Bibirnya bergetar karena rasa haru dan rasa rindu yang mendalam.
"Kau harus mencoba masakanku. Meskipun tak seenak masakan koki istana tapi rasanya lumayan lho."
Ratu Gita mengajak suaminya untuk duduk. Disiapkannya makanan untuk suaminya itu. Raja Satria memakan masakan hasil olahan istrinya dengan lahap. Rasanya dia belum pernah menikmati makanan selezat itu. Berkali-kali dipujinya kepandaian memasak istrinya. Meskipun sebenarnya makanan itu rasanya tidak istimewa.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan perasaan bahagia. Raja Satria menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Aku sangat merindukanmu." Ucapnya lirih.
__ADS_1