Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 60 Bertemu Musuh


__ADS_3

"Lepaskan! Siapa kau? "


Raja Satria berteriak marah dan menghempaskan tangan wanita yang tiba-tiba menariknya. Hal itu menyebabkan tubuh wanita itu agak limbung. Lalu tanpa terduga, wanita itu menubruk tubuh Raja Satria dan memeluknya.


"Maaf Yang Mulia, saya tidak sengaja." Wanita itu tampak menyesal dan perlahan melepaskan pelukannya.


Ratu Gita yang melihat kelakuan wanita itu, mendadak merasa panas. Dadanya terasa bergemuruh. Entah kenapa, dia tidak rela ada wanita lain yang menyentuh suaminya.


"Perkenalkan, nama saya Bao Yu. Saya sepupu Kaisar Haocun." Nona Bao Yu tersenyum sambil membungkukkan tubuhnya dengan anggun.


Ratu Gita terkejut mengetahui nama wanita itu. Dia adalah wanita yang disebut-sebut dekat dengan Chen.


"Salam, Nona Bao Yu." Ucap Raja Satria.


"Jika Yang Mulia berkenan, saya ingin menunjukkan sebuah persembahan musik tradisional Baiyun." Nona Bao Yu berbicara dengan suara lembut. Tangannya menyentuh lengan Raja Satria.


"Maaf tapi saya harus menanyakan pendapat pada wanita cantik ini dulu." Raja menoleh pada Ratu Gita.


"Apa kau mau menerima undangan Nona Bao Yu, Sayang? "


"Terus terang aku tidak tertarik, tapi aku bisa menemanimu kalau kau ingin? " Jawab Ratu Gita dengan rasa sebal.


Wajah Nona Bao Yu langsung merah padam. Namun dengan latihan pengendalian diri yang diterimanya sejak kecil, wanita itu tidak menampakkan kekesalannya.


"Maaf Nona Bao Yu, saya harus menolak tawaran Nona. " Kata Raja Satria sambil menyingkirkan tangan wanita itu.


"Tapi saya hanya ingin menunjukkan keramahan Bangsa Baiyun kepada Yang Mulia. Mohon jangan mengecewakan saya." Nona Bao Yu kembali berusaha meraih tangan Raja Satria, seolah-olah Ratu Gita tak ada di sana.


"Maaf, mungkin lain kali kami akan menerima tawaran itu. " Ucap Raja Satria.


Wajah Nona Bao Yu terlihat kecewa, dia ingin sekali menarik perhatian Raja Satria. Dia masih sakit hati pada Ratu Gita karena sudah berani merebut Chen. Dan dia merasa wanita disamping Raja itu tidak ada apa-apanya dibanding dia.


"Nona sudah dengar 'kan? Kami permisi!" Ucap Ratu Gita sambil menarik tangan suaminya.


Raja Satria tersenyum senang melihat istrinya terlihat cemburu dan mengikuti wanita itu dengan patuh.


"Jika Yang Mulia berubah pikiran, saya akan menunggu di ruang hiburan. "


"Nona Bao Yu, apakah Nona tidak mendengarkan?" Tegur Ratu Gita.


"Maafkan saya, Yang Mulia."


"Sudahlah, jangan hiraukan dia." Ucap Raja Satria sambil memeluk lengan istrinyanya.


"Baiklah, kita pergi saja ya." Ratu Gita mengangguk dan tersenyum pada Raja Satria.


"Dan kau, menjauhlah dariku!" Usir Raja Satria pada Nona Bao Yu.


"Saya berharap Yang Mulia memberikan saya kesempatan." Nona Bao Yu kembali berusaha meraih tangan Raja Satria, seolah-olah Ratu Gita tak ada di sana. Melihat hal itu membuat Ratu Gita bertambah kesal.


"Kami tidak berminat. Kau ini sudah mengganggu waktuku untuk berduaan dengan suamiku! " Jawab Ratu Gita dengan ketus.


"Saya hanya ingin.. "


"Astaga, apakah sebagai puteri bangsawan kau tidak diajarkan untuk menghargai privasi orang lain? " Ratu Gita hampir kehilangan kesabaran.


"Maaf. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu! " Kepala Nona Bao Yu menunduk.


Raja Satria kaget melihat sikap istrinya itu. Lalu dia memandang penuh penyesalan kepada Nona Bao Yu. Namun wanita itu malah merasa dirinya telah diejek. Tangannya mengepal kencang karena menahan marah.

__ADS_1


Ratu Gita menggandeng tangan suaminya dan mengajaknya pergi meninggalkan Nona Bao Yu. Meskipun merasa tidak enak pada wanita itu, namun Raja Satria tetap mengikuti istrinya.


"Maafkan aku karena telah kasar pada wanita tadi. Namun kau harus paham, aku merasa wanita itu tidak menghargaiku. "


"Ya, aku mengerti. Aku malah senang kau bersikap seperti itu. "


Ucapan Raja Satria membuat Ratu Gita tersipu. Lalu setelah sadar kalau dirinya sedang memeluk lengan Raja Satria, dia segera melepaskan pegangannya.


*****


"Kumohon berhentilah cemberut. " Bujuk Raja Satria ketika mereka sedang duduk menikmati pemandangan matahari terbenam di kursi taman.


"Aku tidak suka ada wanita yang terang-terangan menggoda suami orang! "


"Apa kau cemburu? "


"Bukan masalah cemburu, tapi ini mengenai moral. Atau jangan-jangan kau suka digoda wanita lain meskipun sudah menikah? "


"Tidak! "


"Atau kau mengoleksi selir? "


"Uhukk! "


"Meskipun ibuku seorang selir, tapi dia bukanlah wanita yang suka merayu suami orang. "


"Aku tak akan mencari selir lagi. "


"Berarti benar, kau punya selir? "


"Aku akan jujur padamu. Ya, aku pernah punya seorang selir, tapi sudah tidak lagi. Dulu aku sangat bodoh hingga tidak menyadari bahwa kau adalah wanita yang sangat berharga untukku. Dan aku sangat menyesal sekali. "


"Tidak, demi Tuhan saat itu kita sedang tidak bertengkar. Saat itu kita malah sedang berkencan, kencan pertama kita. Namun tak lama kemudian ada ledakan dan kau hilang."


"Apa kau merasa sedih saat aku hilang? "


"Tentu saja, aku sangat sedih. Rasanya seluruh dunia hancur. Tapi aku harus bertahan demi anak kita dan demi Kerajaan Elfian."


"Aku lega, paling tidak saat aku hidup denganmu aku merasa bahagia. Karena ayahku membenciku." Suara wanita itu terdengar murung.


"Sebenarnya ayahmu sudah meminta maaf padamu atas sikapnya selama ini. Ayahmu sangat menyayangimu. "


"Apa kau berkata yang sesungguhnya? " Ratu Gita seakan tak percaya mendengarnya.


"Ya, itu kejadian yang sebenarnya. Kau bisa bertanya pada Gaurav. "


Ratu Gita meneteskan air mata haru. Dia tidak menyangka bahwa akhirnya ayahnya mau menerimanya sebagai seorang anak.


"Aku telah melewatkan banyak hal. Aku ingin mengingat semuanya! " Keluh wanita itu.


"Jangan khawatir, aku akan membantumu mengingat semua. "


"Sebenarnya, selama ini Chen memberiku obat penenang yang menyebabkan aku kehilangan memori. "


"Kurang ajar sekali Chen itu!"


"Kau tahu, sebenarnya Nona Bao Yu dekat dengan Chen. Aku pernah mendengar para pelayan membicarakan mereka. "


"Benarkah? " Raja Satria nampak terkejut.

__ADS_1


"Aku khawatir Nona Bao Yu akan mengatakan pada Chen bahwa aku berada di sini. "


"Jangan cemas, aku tidak akan membiarkan Chen mengganggumu lagi."


Raja Satria membelai rambut hitam bergelombang milik wanita yang dikasihinya itu. Rasanya sudah sangat lama dia tidak sedekat ini dengan istrinya. Dan dia sudah sangat merindukannya.


"Boleh aku menyentuhmu? "


Raja Satria bertanya pada Ratu Gita dengan tatapan mendamba. Wanita itu mengangguk pelan. Meskipun ingatannya belum kembali, namun hatinya menginginkan pria itu.


Pelan-pelan Raja Satria menyentuh tubuh Ratu Gita. Setiap sentuhan Raja Satria pada tubuhnya menimbulkan efek yang mampu menggetarkan seluruh saraf-saraf tubuhnya.


Jari-jari pria itu menelusuri lekukan wajahnya, kemudian turun ke lehernya. Mata wanita itu terpejam, menikmati sensasi yang membangkitkan naluri kewanitaannya.


Wanita itu setengah tersentak ketika merasakan sentuhan lembut pada bibirnya. Sebuah ciuman yang manis pada awalnya, lalu lama-kelamaan berubah semakin intens dan menuntut.


Pria itu semakin menekan tubuh wanita itu dan memperdalam ciumannya. Mereka benar-benar telah tenggelam dalam hasrat yang sekian lama terpendam.


Ketika Raja Satria pada akhirnya melepaskan ciumannya, mereka berdua seakan baru terbangun dari mimpi. Napas keduanya terengah-engah dan saling memandang wajah masing-masing.


"Aku mencintaimu." Bisikan yang manis di telinga Ratu Gita, mengiringi hilangnya rona merah terakhir di langit senja.


*****


Ratu Gita belum tidur dan hanya berbaring di samping bayinya yang terlelap begitu damai. Rupa bayi itu mengingatkannya pada ayah sang bayi. Entah kenapa bayangan wajah Raja Satria tak bisa hilang dari benaknya. Menyadari hal itu, Ratu Gita tersenyum-senyum sendiri.


Sayup-sayup tiba-tiba dia mendengar suara keributan. Suaranya mirip suara perkelahian.


"Tok.. tok.. tok..! "


Ratu Gita buru-buru turun dari ranjangnya dan mendekati pintu.


"Siapa? "


"Ini saya, Eldrige! "


Cepat-cepat Ratu Gita membuka pintu dan menemukan Eldrige sedang memandangnya cemas.


"Istana telah diserang! "


Kata-kata Eldrige membuatnya limbung. Sebuah kilasan tiba-tiba melintas di benaknya. Seolah dia pernah mengalami kejadian serupa.


"Ayo, Yang Mulia. Kita harus bergegas meninggalkan tempat ini. "


"Anakku! "


"Jangan cemas, Yang Mulia. Saya akan menggendong Tuan Puteri! "


Eldrige membimbing Ratu Gita untuk menjauhi keributan. Ratu Gita berjalan cepat-cepat mengikuti langkah Eldrige.


Eldrige membuka pintu sebuah ruangan. Di dalam gelap. Samar-samar terlihat rak-rak yang berjajar. Ratu Gita menduga, ruangan itu adalah perpustakaan.


"Untuk sementara bersembunyilah di sini. Jangan cemas, saya akan kembali! "


Eldrige pergi meninggalkan Ratu Gita setelah menyerahkan bayinya. Dengan jantung berdegup kencang, wanita itu mendekap buah hatinya. Dia berdoa semoga mereka semua bisa selamat.


"Srek.. srek.. srek..! "


Terdengar suara langkah kaki mendekat. Ratu Gita semakin erat memeluk bayinya. Dia sama sekali tidak berani bergerak.

__ADS_1


"Fen, keluarlah. Aku tahu kau di sini! "


__ADS_2