Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 116 Pertempuran Berlanjut


__ADS_3

Pasukan Daemonie yang menyerang pasukan Angsana adalah para prajurit yang memiliki kemampuan sihir. Mereka merubah wujud menjadi makhluk yang memiliki kekuatan melebihi manusia normal. Beberapa dari mereka mengambil wujud manusia setengah binatang. Mereka benar-benar menggabungkan keterampilan fisik dan kekuatan sihir mereka.


Saat pasukan Elfian datang, para Daemonie itu sedang membantai sisa-sisa pasukan Angsana. Sekitar tujuh puluh persen pasukan Kerajaan Angsana yang mempertahankan perbatasan mereka di wilayah itu telah tewas.


Duarr..


Sebuah ketapel raksasa milik para Daemonie kembali menghancurkan formasi pasukan Angsana. Pelurunya yang besar menghantam prajurit-prajurit yang kelelahan itu lalu amblas ke tanah. Tanah di tepian sungai menjadi longsor. Batu-batu menyumbat aliran air sehingga air yang keruh itu meluap.


Raja Satria memacu kudanya dengan lebih kencang dan menerobos pertempuran. Ada raut lega pada wajah-wajah lelah prajurit Angsana yang telah bertempur semalaman di bawah siraman hujan.


Meskipun bisa dibilang kedatangan mereka itu terlambat, namun kehadiran pasukan Elfian paling tidak bisa menumbuhkan semangat pasukan Angsana lagi.


Ssiiing.. ssiiing..


Panah-panah beterbangan dari busur yang direntangkan oleh prajurit-prajurit Elfian. Beberapa prajurit Daemonie berjatuhan dari punggung squama.


Trang.. trang..


Pertarungan menjadi lebih seimbang. Apalagi saat ketapel besar milik para Daemonie berhasil dijungkirbalikkan.


Eldrige melompat dari kudanya dengan mengarahkan pedangnya ke arah makhluk berkepala anjing yang ingin menerkam Raja Satria dari belakang.


Sreet.. cras.


Graaa..


Geraman manusia setengah anjing membahana saat pedang di tangan Eldrige membabat leher monster itu. Kepala monster itu terkulai hampir putus dengan darah yang mengucur deras. Saat monster itu ambruk, perlahan-lahan wujudnya kembali menjadi manusia.


"Terima kasih, Eldrige." Raja Satria tersenyum dari punggung kudanya tepat setelah dia berhasil menghempaskan seorang prajurit Daemonie ke tanah dengan sebuah lubang di dada yang memuncratkan darah.


Gabungan pasukan Elfian dan Angsana akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Daemonie sebelum sore. Prajurit yang kelelahan karena bertempur selama berjam-jam kini beristirahat di tepian Sungai Banger yang merupakan perbatasan Kerajaan Angsana dengan jalur bebas antar kerajaan.


Di bawah langit yang mulai kelam mereka berkumpul mengitari api unggun yang kayu-kayunya mereka kumpulkan dari ranting pinus kering di sepanjang sungai.


Kemudian mereka makan dari sisa perbekalan yang berupa roti kering. Prajurit Angsana menyuguhkan ikan bakar, namun mereka makan tanpa selera. Suasana makan malam terasa sunyi karena mereka terlalu letih untuk sekedar berbincang.


Namun begitu, Raja Satria dan Raja Purnama duduk berhadapan di depan tenda dan berbincang. Meski kemenangan mereka kali ini tidak bisa terlalu dibanggakan namun Raja Purnama bersikeras untuk merayakannya. Raja Purnama menuangkan arak untuk Raja Satria dan mencoba meyakinkannya untuk minum.


Ketika Raja Satria menolak, Raja Purnama meletakkan cawan itu ke telapak tangan Raja Satria dan meremat tangannya memaksanya minum.


"Sudah sewajarnya laki-laki minum." Raja Purnama menyeringai. Luka sayatan di pipinya ikut meregang ketika bibir pria itu membentuk senyuman.


Eldrige yang duduk agak jauh memperhatikan kelakuan Raja Purnama yang agak tidak sopan. Namun reaksi Raja Satria sungguh diluar dugaannya. Pria itu mengangkat cawannya dan menempelkannya di bibir dan meneguk isinya.


Raja Purnama nampak puas. Dia sering mendengar rumor bahwa raja Elfian yang berkuasa saat ini tidak minum arak, tapi ternyata itu semua hanya sekedar rumor.


Raja Satria memang meneguk minumannya tapi dia tidak menelannya, namun tanpa sepengetahuan Raja Purnama, diam-diam dia melepehkannya.


Raja Satria menuangkan arak ke dalam cawan Raja Purnama dan pria itu langsung meneguknya.


"Istana Angsana telah direbut para Daemonie itu. " Suara Raja Purnama terdengar getir.


Raja Satria mau tidak mau akhirnya menatap pria itu dengan iba.

__ADS_1


"Keluargaku bahkan tidak selamat. " Bibir Raja Purnama bergetar dan air mata mengaliri pipinya yang terluka.


"Maaf, saya tidak tahu. Bagaimana dengan rakyat Angsana? "


"Ribuan orang telah dibantai oleh monster-monster itu. Sebagian ada yang berhasil melarikan diri. Kami di sini untuk membantu orang-orang yang ingin pergi dengan menyeberang sungai." Ludahnya terasa pahit dan tenggorokannya tercekat.


"Kita harus mengupayakan untuk merebut istana kembali. " Kata Raja Satria.


"Tapi bagaimana? Hari ini kita bisa selamat sudah sangat beruntung. "


"Pasti ada jalan, kawan." Kata-kata penyemangat meluncur dari bibir Raja Satria.


Raja Purnama menganggukkan kepalanya sambil air mata mengalir di pipinya.


Raja Satria masih menemani Raja Purnama selama satu jam ke depan untuk mendengarkan curahan hati Raja Purnama. Ketika bulan sudah beranjak dari atas kepala, Raja Satria pamit untuk beristirahat.


"Bukankah Yang Mulia tidak minum arak? " Eldrige sudah tidak sabar menanyakan hal yang mengganjal hatinya.


"Itu namanya tata krama, Eldrige. Aku tidak mungkin menolak mentah-mentah permintaan Raja Purnama."


Eldrige mengangguk paham. Meskipun dia hidup jauh lebih lama dari Raja Satria, namun ada beberapa hal yang masih dia pelajari dari pemimpin Elfian itu.


"Eldrige, apa kau belum bisa menggunakan lubang dimensi? "


"Sayang sekali belum, Yang Mulia. Ratu Malea mengunci semua jalur sejak para Daemonie berhasil menyusup. "


"Ah, aku mencemaskan istriku dan putriku."


Eldrige mengangguk. Dia pun mencemaskan hal yang sama. Terutama sejak dia mendengar bahwa sekolah Puteri Juwita diserang.


"Saya... " Eldrige mencoba mencari jalan. Tiba-tiba wajahnya berseri-seri sambil menatap wajah Raja Satria.


"Bagaimana? " Tanya Raja Satria ketika melihat perubahan wajah Eldrige.


"Saya rasa kita bisa meminta tolong Ratu Malea untuk melakukan scrying." Tanpa menunggu reaksi Raja Satria, Eldrige segera meletakkan ujung telunjuk pada pelipisnya. Dia segera berkonsentrasi untuk menghubungi Ratu Malea.


"Ada apa, Eldrige? " Suara lembut seorang wanita menyapa telinga Eldrige.


"Bisakah Yang Mulia menolong kami untuk melihat keadaan Ratu Gita dan Puteri Juwita? "


"Tentu saja, Eldrige."


Eldrige membuka mata. Kegelapan di sekitar mereka mendadak diselimuti kabut putih yang berpendar. Kabut itu menyebar dan menyelimuti mereka.


Tiba-tiba di depan mata mereka terlihat menara istana Elfian. Tubuh keduanya seakan melayang mendekati menara. Lalu tanpa peringatan, tubuh mereka meluncur ke bawah dan menimbulkan sensasi bergolak di dalam perut.


Kini mereka seolah berjalan di koridor istana. Sebelah kanan mereka terlihat rumpun-rumpun mawar yang basah disiram embun yang terlihat berkilauan di bawah sinar bulan.


Mereka kemudian sampai di depan kamar raja. Eldrige memutuskan untuk membiarkan Raja Satria sendiri, peri itu memalingkan pandangannya.


Raja Satria seolah menembus pintu dan tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Matanya menatap tubuh seorang wanita yang sedang berdiri di depan jendela, memunggunginya.


Itu adalah tubuh wanita yang sangat dikasihinya. Dia adalah Ratu Gita, istrinya.

__ADS_1


"Sayang." Kedua tangan Raja Satria merengkuh tubuh wanita itu namun seolah memeluk udara.


Wanita itu tetap berdiri menatap ke luar jendela tanpa menyadari kehadiran suaminya. Ratu Gita tampak termenung sambil sesekali mengelus perutnya.


Wanita itu terlihat begitu cantik dan lembut. Dia sangat merindukan wanita itu. Merindukan tubuh wanita itu di dalam dekapannya.


Menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar berada di sana, Raja Satria kini hanya berdiri tepat di samping tubuh istrinya. Pria itu berusaha mengendus aroma tubuh wanita itu namun yang diciumnya hanya aroma rumput basah.


Sementara itu Eldrige yang berada di luar kamar raja, tiba-tiba seakan berpindah tempat. Kini dia berada di dalam sebuah ruangan temaram. Cahaya masuk dari jendela yang dibiarkan terbuka. Tirai jendela tampak bergoyang pelan tertiup angin.


Sebuah ranjang berkanopi berdiri di tengah ruangan. Kain kelambu yang menjuntai sampai ke lantai berkibar lembut.


Eldrige berjalan mendekat dan matanya menangkap figur seseorang yang sedang berbaring di ranjang. Tubuh Eldrige menerobos kain kelambu dan terpaku pada wajah seorang gadis yang sedang terlelap.


Mata gadis itu terpejam dengan suara napas yang halus seiring paru-parunya memompa oksigen dan membuat dadanya naik turun secara teratur.


"Juwita." Suara Eldrige menyerupai d*sahan.


Dadanya berdebar kencang. Dia tidak pernah tahu bahwa perasaan rindu bisa begitu menyiksa. Seakan ada api yang menyulut jiwanya. Tubuhnya seketika dijalari oleh getaran yang membuatnya hampir tak bisa mengendalikan diri.


Eldrige bersimpuh di sebelah ranjang dan memandangi wajah polos itu. Dia tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuhnya. Namun jari-jarinya lolos begitu saja menembus wajah gadis itu.


Eldrige segera tersadar bahwa ini hanyalah efek scrying. Ratu Malea sudah berbaik hati memberinya kesempatan untuk melihat kekasihnya.


*****


Puteri Juwita tiba-tiba terbangun. Bulu matanya yang lentik mengerjap seperti kepakan sayap kupu-kupu. Dia merasa sedikit gelisah. Dia barusan memimpikan Eldrige datang mengunjunginya.


Kain kelambu yang menutupi ranjangnya bergerak tertiup angin. Bunyi gesekan pelan yang ditimbulkan saat kelambu itu menepuk-nepuk sisi ranjangnya menimbulkan perasaan aneh.


Lalu dia mengangkat punggungnya dan duduk. Ada sensasi aneh, seolah ada yang menyentuh wajahnya hingga kulitnya terasa meremang. Sentuhan itu terasa asing sekaligus akrab.


Sentuhan itu merambat halus hingga mengelus bibirnya. Debaran jantungnya bertambah cepat saat tiba-tiba bayangan Eldrige kembali berkelebat di matanya.


Akhirnya gadis itu memejamkan mata dan menikmati imajinasinya.


*****


Sebuah rombongan pasukan terlihat bergerak menyusuri tebing di dekat hutan Wira Sukma. Pasukan itu terdiri dari prajurit Daemonie yang mengendarai squama dan menenteng berbagai senjata.


Kemudian beberapa rombongan menyusul di belakang. Rombongan berikutnya nampak lebih istimewa. Mereka mengendarai elephas, gajah raksasa dengan gading panjang yang hampir menjorok ke tanah. Telinga binatang itu dihiasi anting-anting yang terbuat dari besi.


Di atas tubuh binatang itu terdapat kursi yang diberi kanopi. Seorang Daemonie berpangkat tinggi duduk di kursi itu. Dan seorang kusir duduk di depan untuk mengendalikan elephas.


Ada sekitar seratus elephas dalam rombongan itu. Dan di belakangnya adalah rombongan yang mengendarai drakon. Binatang itu bertubuh mengkilat dan bisa menyemburkan api dari mulutnya. Lubang hidung binatang itu terkadang mengepulkan asap yang berbau pembakaran.


Dan meskipun saat ini mereka berjalan di atas keempat kaki yang bercakar, namun mereka mampu terbang dengan mengepakkan sayap yang mirip seperti sayap kelelawar.


Iring-iringan itu kemudian memecah ketika sudah berada di perbatasan wilayah Liga Kerajaan. Mereka mengambil dua rute yang berbeda. Salah satunya masuk ke dalam wilayah Kerajaan Nord.


*****


Ratu Malea menurunkan tangannya. Seluruh pemandangan di depannya seketika lenyap. Wajahnya yang lembut terlihat gusar.

__ADS_1


"Ini sudah saatnya."


__ADS_2