Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 112 Pergolakan


__ADS_3

Puteri Juwita mengikuti langkah kaki orang yang menyeretnya tanpa menghiraukan tatapan teman-temannya. Mereka berjalan terus sampai ke belakang bangunan wisma selir.


"Terima kasih, Ningrum."


"Aku memang harus menyelamatkan sahabatku." Ningrum tersenyum.


"Oh ya, kau pernah bilang bahwa ayahmu adalah tabib istana. Apa kau sudah menemuinya? "


"Belum, tapi mungkin sebentar lagi ayahku akan mencariku. "


"Ya, kau pasti senang sekali bisa bertemu dengan ayahmu. Sebenarnya semalam, sebelum semua kejadian itu, ayahku juga datang menemuiku. "


"Benarkah? "


"Iya. Meskipun sebentar, tapi aku senang sekali. Kau tahu, orang tuaku hanya memiliki diriku. Jadi aku yakin mereka merasa sangat berat untuk melepaskan aku pergi sejauh ini."


"Benar Juwita. Lagipula kau juga seorang calon pewaris tahta Kerajaan Elfian, tentu tidak hanya orang tuamu saja yang merasa kehilangan."


Mendengar perkataan Ningrum, Puteri Juwita teringat kepada orang-orang yang dia kasihi di istana. Ibunya, para pengasuhnya, pengawal pribadinya dan juga guru-gurunya.


Ketika mereka sedang berbincang, dari kejauhan terlihat seorang lelaki paruh baya berjalan tergopoh-gopoh mendekat.


"Ningrum! " Panggil lelaki itu.


"Ayah! " Ningrum segera berlari dan memeluk ayahnya.


"Kau terlihat agak kurus, apa kau sakit? " Tabib Bagio memeriksa urat nadi di pergelangan tangan anaknya.


"Beberapa waktu yang lalu aku sempat sakit, Ayah. Tapi sekarang aku sudah sembuh." Ningrum masih memeluk ayahnya dengan manja.


"Siapa temanmu itu? Apakah dia Puteri Juwita?"


"Kok Ayah tahu? "


"Ayahmu ini kan hebat. Ayah dekat dengan keluarga kerajaan, jadi hal kecil seperti ini pasti ayah tahu. "


"Ayah.. siapa yang memberitahu. Katakan Ayah!" Ningrum merengek.


"Seorang pria tampan dari Kerajaan Elfian, Tuan Eldrige yang memberitahu."


"Tuan Eldrige? Dia yang sudah menolongku Ayah. Lain kali Ayah harus membalas budi padanya! "


"Menolongmu? Memangnya kau kenapa?" Tabib Bagio merasa heran.


"Sebenarnya tidak hanya aku, tapi Juwita juga." Ningrum kemudian menceritakan kejadian buruk yang menimpanya dan Puteri Juwita. Ayahnya terlihat sangat geram mendengarnya.


"Ayah sangat heran ada puteri bangsawan yang berkelakuan hina seperti itu. Untung saja kau berteman dengan Puteri Juwita sehingga Tuan Eldrige menolongmu! "


Tabib Bagio berjalan mendekati Puteri Juwita yang dari tadi hanya memperhatikan mereka dari jauh.


"Salam, Tuan Puteri. Saya adalah Tabib Bagio, ayah Ningrum. "


"Salam, Paman! " Puteri Juwita membungkuk sopan.


"Paman? Ah, apakah pantas seorang pewaris tahta Kerajaan Elfian memanggil saya dengan sebutan paman? " Wajah pria itu merah karena merasa agak malu mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang anggota kerajaan.


"Paman adalah ayah dari sahabatku. Tentu saja hal itu sangat pantas." Jawab Puteri Juwita dengan lembut.


"Terima kasih, Tuan Puteri. Saya sangat terharu." Mata pria itu berkaca-kaca. Dia adalah orang yang mudah sekali terharu.


"Ayah, tolong rahasiakan status Juwita. Juwita tidak ingin teman-teman tahu kalau dia seorang pewaris tahta Kerajaan Elfian." Pinta Ningrum.


"Tapi kenapa? " Pria itu benar-benar tidak mengerti dengan permintaan putrinya yang agak aneh.


"Maaf Paman, peraturan sekolah menyebutkan bahwa segala status kebangsawanan tidak berlaku di sekolah. Selain itu, saya tidak ingin orang-orang mendekati saya karena status. Saya menginginkan teman yang tulus." Puteri Juwita menjelaskan dengan tenang.


"Begitu rupanya? Saya bisa mengerti. Saya harap anak saya bisa menjadi teman baik Tuan Puteri." Tak dipungkiri ada kekaguman yang tumbuh di hati pria itu ketika menyadari betapa rendah hatinya gadis belia itu.


"Ningrum adalah temanku yang sangat berharga! "

__ADS_1


Tabib Bagio terharu mendengar perkataan Puteri Juwita. Dia bangga anaknya bisa menjadi sahabat Puteri Juwita.


"Baiklah, saya harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus saya lakukan. Kalau begitu, saya permisi Tuan Puteri! " Akhirnya pria itu berpamitan karena baru teringat dengan tugasnya.


"Iya Paman. "


"Ayah pergi dulu, siang nanti sepertinya akan ada kejutan yang menunggumu."


"Kejutan apa, Ayah? "


"Kalau Ayah memberitahumu sekarang itu namanya bukan kejutan. "


Ningrum pura-pura kesal padahal hatinya sangat senang.


*****


Raja Satria duduk mendengarkan laporan para bawahannya mengenai situasi keamanan yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan.


"Sepertinya kita harus melakukan pertemuan dengan para pemimpin Liga Kerajaan." Ucap Raja Satria setelah mendengar laporan.


"Tapi Yang Mulia, saat ini rasanya sulit sekali bagi kita untuk meninggalkan kerajaan. Musuh bisa sewaktu-waktu menyerang istana. Jika mereka tahu seorang raja tidak ada di istana, mereka akan memanfaatkannya. "


"Kau benar. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Setiap hari aku selalu mendapat laporan penyerangan di beberapa wilayah kita dan wilayah kerajaan tetangga. Kurasa kita harus bekerjasama untuk memberantas gerombolan Daemonie itu."


"Kita bisa berkumpul tanpa mencolok dengan melewati lubang dimensi. " Usul Eldrige.


"Usulanmu boleh juga. Kurasa malam hari adalah waktu yang tepat. Pada saat mereka pikir semua pemimpin sedang tidur, mereka tidak bakalan mengira kita akan mengadakan pertemuan. "


"Benar Yang Mulia. "


"Baiklah, sebaiknya kalian para peri segera mengirim kabar kepada semua Kerajaan, nanti malam aku ingin bertemu mereka di sini! "


Maka pergilah beberapa peri ke Kerajaan Angsana, Alsatia, Watu Ijo dan Nord. Mereka memberikan undangan rahasia yang hanya diketahui oleh raja.


Ketika mereka melanjutkan diskusi, tiba-tiba telinga Eldrige berdengung. Ratu Malea mengirim telepati menyuruhnya untuk datang ke Lucshire.


"Maaf, Yang Mulia. Saya harus segera menemui Ratu Malea. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan."


Setelah berpamitan, Eldrige langsung pergi ke istana Lucshire untuk menemui pemimpin bangsa peri itu.


*****


Para gadis berkumpul di aula yang, sudah disulap menjadi ruang makan darurat. Mereka makan di atas satu meja panjang. Di seberangnya ada dua meja serupa yang ditempati oleh dua kelompok pemuda dengan seragam berlainan warna. Yang duduk tepat di sebelah meja mereka mengenakan seragam biru muda, sedangkan di sebelahnya lagi mengenakan seragam hitam.


Pangeran Ryota terlihat diantara pemuda berseragam biru muda. Wajah orientalnya terlihat menonjol. Pemuda itu duduk dengan tenang dan sopan, seolah tidak terpengaruh teman-temannya yang beberapa kali melirik para gadis.


Kesan dingin yang ditimbulkannya membuat pandangan para gadis tertuju padanya. Apalagi mereka sempat mendengar bahwa dia adalah seorang pangeran.


"Ya, Tuhan! Juwita, coba kau lihat ke sana! " Mulut Ningrum terbuka lebar.


"Ada apa? "


"Itu Bagas kakakku yang duduk paling ujung! Ah, ini pasti kejutan yang dibicarakan ayahku tadi pagi! " Dengan mengibas-ngibaskan tangannya, Ningrum menunjuk seorang pemuda berparas pucat dalam balutan seragam berwarna hitam.


"Kakakmu? " Pandangan Puteri Juwita mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ningrum.


"Iya. Kalau dugaanku benar, berarti mereka adalah murid-murid dari Sekolah Pengobatan Elixir." Ucap Ningrum.


"Tunggu, bukankah Sekolah Elixir adalah... " Wajah Puteri Juwita mendadak pucat.


"Benar, tim baggata mereka yang mengamuk dan membantai orang-orang di stadion."


"Ningrum, apa kau yakin kakakmu baik-baik saja? "


Ningrum menatap kakaknya dari tempat duduknya, "Sejauh ini kurasa dia baik-baik saja. Dia adalah orang yang sangat baik. Kau akan tahu setelah mengenalnya."


Puteri Juwita masih menatap kumpulan pemuda dari Sekolah Elixir dengan perasaan was-was.


"Kalau kau masih khawatir, nanti aku akan menemui kakakku agar kau bisa tenang." Ningrum seolah bisa membaca kekhawatiran Puteri Juwita.

__ADS_1


"Kuharap kau tidak tersinggung. "


"Tidak apa-apa Juwita. Aku juga cemas setiap kali mengingat peristiwa itu. Tapi aku yakin kakakku bukan salah satu dari mereka." Ningrum berusaha meyakinkan.


"Setelah makan nanti kau akan kuajak bertemu dengannya."


Selesai makan siang, Ningrum segera menarik tangan Puteri Juwita untuk mengikutinya. Dia berjalan cepat-cepat untuk menemui kakaknya.


Mereka mengejar Bagas yang sedang berjalan dengan teman-temannya. Kedua gadis itu ingin menunggu sampai Bagas sendirian. Ketika Bagas akhirnya masuk ke dalam kamar, Ningrum segera mengetuk pintu.


"Iya, kau siapa? " Tanya Bagas begitu dia membuka pintu.


Pertanyaan itu seolah membuat darah gadis itu membeku. Bagaimana mungkin kakaknya itu melupakannya hanya karena berpisah beberapa bulan?


"Bagas? " Mulut Ningrum menganga karena merasa tak percaya.


"Bagaimana kau tahu namaku? Cih, lagi-lagi seorang gadis bodoh yang sembarangan jatuh cinta! " Wajah Bagas terlihat mengejek.


"Apakah ada gadis yang menyukaimu sebelum ini? " Pertanyaan itu hanyalah sebuah pancingan untuk mengetahui apakah kakaknya itu sedang mempermainkannya.


"Apa aku harus menjelaskannya padamu?" Sikap Bagas terlihat sangat arogan.


"Kalau begitu, maafkan aku. Aku tak akan mengganggumu lagi."


"Baguslah kalau kau tahu diri! " Bagas tertawa meremehkan dan segera menutup pintu di depan wajah gadis itu.


Ningrum berjalan mendekati Juwita yang berdiri agak jauh. Wajah gadis itu muram dan matanya berair.


"Juwita, dia bukan kakakku! " Bisik gadis itu tepat di telinga Puteri Juwita.


*****


Raja Gaurav sudah menerima undangan untuk bertemu dengan semua pemimpin Liga Kerajaan di Elfian nanti malam. Namun dia tidak akan mengatakannya pada siapapun karena undangan itu bersifat rahasia.


Saat dia ingin mengakhiri pertemuannya dengan para Anggota Dewan Kerajaan, tiba-tiba salah satu dari mereka bangkit berdiri. Pria tua itu adalah Ketua Dewan Kerajaan yang bernama Adil.


"Ada apa, Adil? Ada yang ingin kau sampaikan?"


"Maafkan saya, Yang Mulia. Meskipun saat ini adalah waktu yang genting, namun saya terpaksa harus mengatakannya. Mengingat tidak adanya putera mahkota di kerajaan ini, kami sudah membawa seorang puteri dari Kerajaan Dewanata untuk menjadi selir."


"Cukup! Apa kau bahkan tidak bisa menunggu sampai situasi kembali normal untuk membahas hal ini lagi?"


"Maafkan saya, Yang Mulia. Justru karena situasi seperti ini saya memberanikan diri untuk melakukannya. Yang Mulia sudah menolak puteri-puteri bangsawan yang telah kami bawa. "


"Aku menolaknya karena itu menyakiti hati isteriku! " Raja Gaurav agak meninggikan suaranya karena merasa marah.


"Yang Mulia Ratu Elok adalah ibu negara kerajaan ini, posisi itu tidak akan pernah berubah. Kami hanya menginginkan penerus tahta. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika situasi semakin mengkhawatirkan, kami hanya ingin mengantisipasi kemungkinan yang terburuk! " Pria itu mengakhiri perkataannya dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.


"Maksudmu kau khawatir aku mati dan tidak memiliki penerus, begitu? " Suara Raja Gaurav mengandung emosi tertahan.


"Maafkan kelancangan saya! " Adil segera membungkuk.


"Apakah Puteri Devi tidak cukup untuk kalian?" Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai seorang ayah, Raja Gaurav merasa tersinggung dan sakit hati karena semua orang seolah-olah tidak menghargai putrinya. Bahkan kini gadis itu telah dia kirim ke hutan Lucshire untuk menjalani pengobatan.


"Puteri Devi adalah seorang wanita. Bahkan kesehatan Tuan Puteri juga kurang bagus, itu tidak baik untuk masa depan kerajaan ini!" Lagi-lagi hal itu yang dijadikan senjata untuk menekan raja.


Wajah Raja Gaurav terlihat geram, tapi semua ini adalah keinginan rakyatnya untuk mendapatkan penerus kerajaan.


"Akan kupikirkan dulu, saat ini aku sedang fokus dengan masalah keamanan. "


"Jangan khawatir Yang Mulia. Masalah selir kami yang akan mengurusnya." Adil tersenyum puas. Sepertinya dia telah merencanakan semuanya untuk memuluskan niatnya.


Raja Gaurav turun dari singgasananya dengan perasaan kesal bukan main. Saat dia berjalan di depan Adil, Raja Gaurav tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau memilih wanita dari Kerajaan Dewanata? Apa kau sudah melupakan kejadian beberapa tahun yang lalu? " Raja Gaurav mengingatkan invasi besar-besaran yang dilakukan Kerajaan Dewanata.


"Raja Bharata sudah lama meninggal, sedangkan penerusnya sekarang adalah raja yang bijaksana. Lagipula bukankah raja kita sebelumnya pun memiliki selir dari Kerajaan Dewanata? Sepupu Yang Mulia yang sekarang menjabat sebagai Ratu Kerajaan Elfian pun memiliki darah Kerajaan Dewanata." Kata-kata yang dipilih oleh Adil memang sengaja untuk membungkam Raja Gaurav.


Raja Gaurav sudah membuka mulutnya untuk membantah, namun diurungkannya. Kedua tangannya mengepal. Akhirnya pria itu pergi meninggalkan para punggawanya dalam keadaan murka.

__ADS_1


"Devi, ayah berharap hidupmu bahagia meskipun tidak bisa mendapatkan hak yang seharusnya kau dapatkan." Harapan tulus seorang ayah yang putus asa mengiringi langkahnya.


__ADS_2