Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 117 Kedatangan Sang Penyelamat


__ADS_3

Hati prajurit Kerajaan Nord bergetar saat melihat panji-panji pasukan Daemonie bergerak menuju benteng pertahanan.


Bum.. bum..


Bumi seakan bergoncang manakala pasukan Daemonie datang mengendarai elephas. Gading panjang yang menjorok hampir ke tanah dan melengkung di ujungnya itu menggedor-gedor pintu gerbang. Setiap gedoran membuat tembok yang menyangga gerbang besi itu bergetar. Beberapa batu di tembok itu runtuh dan butiran pasir berhamburan.


Sssiiing.. sssiiing..


Jleb.. jleb..


Prajurit Nord segera melepaskan anak panah ke udara. Panah-panah besi itu melayang lalu turun bertubi-tubi menancap ke tubuh prajurit-prajurit Daemonie dan membuat mereka jatuh bergelimpangan.


Namun hal itu tidak menyurutkan semangat pasukan Daemonie yang semakin merangsek. Mereka sudah menunggu hari ini. Pemimpin Agung akhirnya memutuskan untuk bergerak secara serempak.


Selang beberapa jam, gerbang besi itu runtuh. Para Daemonie masuk ke dalam benteng. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Prajurit-prajurit Nord melawan dan berusaha mempertahankan wilayah mereka.


Meski postur tubuh prajurit-prajurit Nord tinggi besar, namun melawan para Daemonie yang berubah wujud menjadi makhluk yang jauh lebih kuat membuat mereka sangat kesulitan.


*****


Setiap hari tersiar berita tentang jatuhnya pasukan Liga Kerajaan di bawah serbuan pasukan Daemonie. Meskipun gabungan kekuatan diupayakan untuk membendung serangan itu, namun lagi-lagi pasukan Daemonie sanggup mematahkannya.


Sudah sebulan lebih sejak rombongan pasukan Elfian meninggalkan kerajaan. Dan sejak saat itu Ratu Gita mengambil alih kepemimpinan. Sekali lagi, dia harus mempertahankan kerajaan tanpa Sang Raja dalam keadaan hamil.


Usia kehamilan yang hampir mencapai enam bulan membuatnya cukup kesusahan, apalagi di usianya yang menjelang empat puluh tahun.


Berbagai hal dirisaukannya. Masalah keamanan negara, keselamatan suaminya dan juga kabar putrinya yang tak lagi diketahuinya sejak perang berkobar.


Para peri masih belum bisa menggunakan jalur lubang dimensi. Tersiar kabar, bahwa beberapa tawanan yang dikurung di salah satu dimensi berhasil melarikan diri. Itulah sebabnya jalur dimensi masih ditutup. Bahkan mereka sudah tidak melakukan telepati kecuali dengan Ratu Malea.


"Faye, apakah kau tak bisa mencari tahu bagaimana keadaan di Alsatia? " Tanya Ratu Gita setelah selesai melaksanakan tugasnya hari itu.


"Saya bisa pergi ke sana jika Yang Mulia menginginkan. " Jawab Faye.


"Apa kau sungguh bisa melakukannya? "


"Tentu, jarak Alsatia hanya kurang dari satu hari perjalanan dengan berkuda."


"Oh, kukira kau sudah bisa memakai lubang dimensi. "


"Lubang dimensi masih belum boleh digunakan, Yang Mulia. "


Ratu Gita termenung, jika dia menyuruh Faye pergi lalu terjadi sesuatu di istana yang memerlukan kehadiran peri itu maka keadaannya akan jadi berbahaya.


"Kalau begitu tetaplah di sini saja. " Ratu Gita menempelkan telapak tangan di dahinya, dia hampir frustrasi memikirkan hal ini. Di satu sisi dia mencemaskan putrinya, di sisi lain kewajibannya untuk menjaga keamanan negara.


"Apakah Sekar masih di istana Alsatia? "

__ADS_1


"Saya rasa demikian, Yang Mulia. "


"Kalau begitu aku merasa lega, aku tahu Sekar akan menjaga Juwita. "


*****


Kebencian kadang bermula dari sesuatu yang tidak kita sadari. Kebencian bagaikan bara di dalam sekam yang tidak terlihat namun diam-diam membakar hati hingga membuat seseorang kehilangan nuraninya.


Begitulah yang terjadi pada Nona Sekar yang bahkan tidak menyadari telah memupuk benih kebencian di dalam hatinya. Setiap kali dia melihat Puteri Juwita dia merasa dadanya terbakar.


Sore itu dia melihat Puteri Juwita sedang berbincang dengan Pangeran Ryota sambil berjalan-jalan di bawah pepohonan. Pangeran Ryota terlihat berusaha keras untuk menarik perhatian Puteri Juwita dan gadis itu tersenyum menanggapinya.


Nona Sekar masih mengingat kedekatan Puteri Juwita dan Eldrige ketika di asrama. Beberapa kali dia memergoki Eldrige dan Puteri Juwita menunjukkan kemesraan.


Dan sekarang gadis itu malah berduaan dengan laki-laki lain saat Eldrige tidak ada. Bagaimana bisa seorang gadis bangsawan dapat demikian mudahnya mempermainkan perasaan setiap pria.


"Munafik! " Desisnya sambil menatap dingin ke arah gadis itu.


"Apa artinya munafik? " Suara seorang gadis kecil menyentakkan Nona Sekar.


Wanita itu menurunkan pandangannya dan melihat wajah seorang gadis kecil yang memandanginya dengan sepasang mata monolid yang memancarkan rasa keingintahuan.


"Dari mana kau mengetahui kata itu, Wulan? " Seorang anak laki-laki yang berwajah serupa dengan gadis kecil itu berdiri dengan anggun di belakangnya.


"Puteri Wulan, Pangeran Lintang? " Nona Sekar agak gugup menghadapi kedua bocah bangsawan yang tiba-tiba datang di hadapannya.


"Jadi, Nona Sekar. Apa artinya munafik? " Gadis kecil itu kembali mengulangi pertanyaannya, menuntut penjelasan. Kali ini anak laki-laki di sebelahnya ikut menatapnya dengan pandangan yang sama.


"Munafik adalah saat seseorang melakukan hal sebaliknya dari yang dia tunjukkan." Tiba-tiba sebuah suara lembut menjawab pertanyaan itu sebelum Nona Sekar menggerakkan bibirnya.


"Kak Juwita! " Puteri Wulan segera berlari dan menubruk tubuh Puteri Juwita yang berdiri di ambang pintu. Semilir angin meniup anak rambutnya dan membuatnya terlihat semakin mempesona.


"Anak-anak, apa kalian sudah tidur siang? " Tanya gadis cantik itu sambil mengacak rambut kedua bocah kembar itu.


"Tentu saja sudah, kak." Jawab Puteri Wulan sambil tersenyum lebar.


"Kalau begitu kalian bisa ikut aku dan Pangeran Ryota berjalan-jalan di taman." Ucap Puteri Juwita.


"Yeay.. " Kedua bocah itu bersorak.


"Apa anda mau bergabung, Nona Sekar? " Tanya Puteri Juwita dengan ramah.


"Tidak, terima kasih. " Jawab Nona Sekar singkat.


Puteri Juwita mengangguk dan berjalan keluar sambil menggenggam tangan kedua sepupunya itu di kanan kiri. Pangeran Ryota menyambut mereka dan mengikuti di belakang.


"Eldrige tidak boleh membuang hak istimewanya hanya demi manusia seperti itu." Tanpa sadar Nona Sekar menggeram sambil meremas kuat kedua sisi gaunnya yang menjuntai.

__ADS_1


*****


Pasukan Nord semakin terdesak. Benteng pertahanan bahkan sebagian telah runtuh. Para Daemonie semakin leluasa memasuki wilayah Kerajaan Nord.


Para prajurit dan ksatria bangsa Nord dengan sekuat tenaga berusaha menghalau serbuan yang begitu gencar dan tanpa ampun. Namun kelihatannya hal itupun sulit untuk terwujud.


Saat harapan semakin sirna seiring gugurnya para pahlawan Nord, tiba-tiba serbuan angin meniup para prajurit Daemonie. Untuk sesaat tak ada seorangpun yang memahami apa yang sesungguhnya terjadi.


Namun kemunculan seberkas sinar putih yang tiba-tiba turun dari langit membuat semua orang terpana. Seorang gadis belia berwajah lugu duduk di atas punggung kuda bersayap berbulu seputih kapas.


Rambut gadis itu berkibar dan berkilauan ditimpa cahaya matahari. Di sekeliling kepala gadis itu seolah-olah ada lingkaran cahaya yang membuat setiap mata merasa silau memandangnya.


"Siapa kau? " Seorang panglima Daemonie yang berwujud makhluk kekar berbulu berwarna hijau, bertanya keheranan dari atas punggung elephas.


"Aku datang untuk membela para ksatria bangsa Nord. " Suara gadis itu merdu seperti suara seruling para gembala.


"Hahaha.. kau pikir hanya dengan menaiki Pegasus lantas bisa membuat bangsa memalukan itu menang melawan kami? "


"Pegasus adalah makhluk suci yang mengiringi para ksatria untuk mencapai kemenangan. Kukira kaupun sudah tahu? " Ejekan halus dari gadis itu membuat wajah panglima itu bertambah hijau.


"Aku tak kan segan padamu gadis kecil. Jangan menyesal jika kau hanya mengantarkan nyawa!" Setelah berkata seperti itu, panglima Daemonie itu melompat dari punggung elephas sambil melempar sebuah bola besi yang dipenuhi duri-duri ke arah gadis itu. Panglima itu mengendalikan bola duri itu dengan rantai besi yang menyerupai rantai kapal.


Wuuush..


Serangan maut itu rupanya dengan mudah dielakkan oleh gadis yang duduk di atas punggung Pegasus. Gadis itu terlihat berkelit lincah melayani lemparan bola berduri yang terlihat mengerikan itu.


Wuuut.


Gadis itu kemudian melompat dari punggung Pegasus yang sedang terbang di udara. Lompatan itu begitu indah seolah sedang mempertunjukkan sebuah tarian.


Namun keindahan itu ibarat hidangan terakhir sebelum hukuman mati. Tangan gadis itu bergerak lincah menyabetkan pedangnya yang tadinya berupa ikat pinggang.


Pedang itu tipis dan lentur. Di tangannya, pedang itu meliuk-liuk di udara seperti pita pada pertunjukan tari balet. Namun mata semua orang segera terbelalak saat menyaksikan pedang itu tiba-tiba membelit rantai milik si panglima Daemonie.


Gadis itu menyentak rantai itu dan membuat pemiliknya terpental. Sungguh mengherankan bahwa seorang gadis belia dengan tubuh yang terlihat rapuh bisa menyentakkan seseorang yang bahkan tidak mampu dilawan oleh seorang ksatria Nord, begitu saja.


Bum!


Panglima itu jatuh menghantam tanah, dan gadis itu mendaratkan kakinya tepat di sebelah pria yang baru dibantingnya itu.


"Siapakah Yang Mulia ini, yang mau membantu kami? " Tanya panglima bangsa Nord.


"Kalian boleh memanggilku Dewi Hutama." Jawab gadis itu sambil tersenyum manis.


Para Daemonie terperangah mendengar nama yang diperkenalkan oleh gadis itu. Dewi Hutama. Nama yang mereka dengarkan sepanjang waktu ketika para tetua menceritakan kisah pahit para leluhur 300 tahun yang lalu.


Namun bukankah diceritakan bahwa pada akhirnya Dewi Hutama meninggal karena dia sesungguhnya hanyalah seorang manusia? Mungkinkah Dewi Hutama bangkit dari kematian karena mengetahui pemberontakan para Daemonie?

__ADS_1


Sementara pasukan Daemonie sedang keheranan, pasukan Nord kembali menggencarkan perlawanan. Tidak memakan waktu lama, pasukan Daemonie terpaksa mundur meninggalkan bangsa Nord yang kedatangan seorang penyelamat.


__ADS_2