
Saat Raja Satria dan Eldrige bersiap-siap pergi untuk mencari Puteri Juwita, tiba-tiba terjadi kegaduhan di luar istana. Karena penasaran mereka segera keluar untuk melihat.
"Juwita? " Raja Satria berseru kaget.
Di depan sana dia melihat putrinya berjalan dengan tangan terikat, sementara di sebelahnya dua orang anak kecil berjalan mengikuti sambil meremas erat gaun gadis itu.
Raja Satria segera berlari menuju putrinya, sedangkan Eldrige tetap berdiri di tempatnya sambil memperhatikan.
"Lepaskan dia! " Teriak Raja Satria pada prajurit yang mengawal Puteri Juwita.
"Kami tidak bisa melepasnya, dia adalah tersangka pembunuh Ratu Akemi. " Jawab salah seorang prajurit.
"Tolong lepaskan ikatannya! " Raja Satria memohon karena tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti kriminal.
"Maaf, kami tidak bisa melakukannya. Kami tidak bisa mengambil resiko dia melarikan diri."
"Ayah." Puteri Juwita menatap ayahnya dengan air mata berlinang.
"Jangan takut, Sayang. Ayah pasti akan menolongmu! " Raja Satria menggenggam erat tangan gadis itu.
Puteri Juwita mengangguk dan mencoba tersenyum. Ketika dia berjalan melewati Eldrige, pandangannya tertuju pada pria itu. Hatinya serasa diremas saat melihat mata kekasihnya itu berkaca-kaca.
"Tuan Puteri! " Suara Eldrige terdengar menyedihkan.
Puteri Juwita tidak tahan melihat orang-orang yang dikasihinya terluka karena dirinya.
Gadis itu kemudian dibawa ke sebuah ruangan untuk diinterogasi. Kedua anak kecil yang dari tadi mengekorinya menolak untuk dipisahkan dari gadis itu.
Mereka menangis meraung-raung bahkan hampir histeris. Meskipun pelayan yang biasa bermain dengan mereka berusaha membujuk, kedua anak itu tetap menolak.
"Kalau mereka tetap tidak mau, paksa saja! " Perintah Pangeran Awang.
Akhirnya kedua anak itu dibawa dengan paksa meskipun mereka menjerit-jerit histeris. Puteri Juwita menangis melihat kedua sepupu kecilnya itu.
"Sekarang ceritakan bagaimana kau membunuh Ratu Akemi? " Seorang petugas bertanya dengan suara dingin.
"Apa? Saya tidak membunuh Ratu Akemi, dia bibi saya sendiri. Bagaimana saya tega membunuhnya? " Bahu Puteri Juwita bergetar mendengar tuduhan itu.
"Mungkin kau tidak membunuhnya dengan tanganmu sendiri, tapi mungkin kekasihmu yang melakukannya? "
"Kekasih? "
"Bukankah kau berhubungan dengan seorang Daemonie? "
"Apa maksud anda? Saya tidak memiliki hubungan dengan seorang Daemonie! " Puteri Juwita merasa tersinggung.
"Jangan menyangkal! Ada seseorang yang melihat seorang Daemonie berada di kamarmu."
Puteri Juwita tertegun. Tiba-tiba ingatannya kembali ke malam saat dia menemukan Nicolae di kamarnya. Wajah gadis itu menjadi pucat.
"Apakah kau masih berani menyangkal? " Petugas itu tersenyum sinis.
"Saya.. saya menemukannya di kamar saya dalam keadaan terluka. Saya hanya mengobatinya, itu saja."
"Lalu kenapa kau tidak melaporkannya? Hmm, saya sudah lama bertemu dengan berbagai macam penjahat, mereka selalu memiliki banyak alasan untuk menutupi kesalahan mereka."
"Tapi saya mengatakan yang sebenarnya! " Wajah Puteri Juwita memelas.
Petugas itu menatap mata Puteri Juwita lekat-lekat, " Saya sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah sok polos yang kau tunjukkan! "
"Saya benar-benar tidak melakukannya. Saya dan kedua sepupu saya menyaksikan pembunuhan Ratu Akemi. Kemudian mereka mengejar kami. Lalu saat kami terdesak dan masuk ke dalam telaga, tiba-tiba seekor burung.. " Puteri Juwita menghentikan kalimatnya dan memandang petugas itu dengan ragu.
"Lalu burung itu menyelamatkanmu, begitu? Burung apa yang bisa mengangkat tiga orang dari dalam telaga? "
"Itu.. Strix. " Ucap Puteri Juwita lirih, dia merasa petugas itu berusaha memancingnya.
__ADS_1
"Akhirnya kau mengaku juga. Dari perkataanmu tadi sudah jelas bahwa di sana kau bersama dengan seorang Daemonie yang menjelma menjadi Strix. Benar? "
"Benar. Tetapi itu tidak seperti yang anda pikirkan! "
"Lalu saya harus berpikir apa? Jelas sekali seseorang telah bersaksi melihat seorang Daemonie bermalam di kamarmu. Lalu ada kesaksian lain yang menyatakan melihat kau bersama-sama dengan seorang Daemonie membantai Ratu Akemi dan menculik kedua anaknya! " Suara petugas itu sangat nyaring hingga menyakiti telinga.
"Tidak. Itu tidak benar! Coba tanyakan kepada kedua anak itu. Mereka melihat apa yang terjadi pada ibu mereka. "
"Kita tidak perlu menyeret anak kecil ke dalam masalah ini. Lagi pula kedua anak itu sedang syok. Keadaan mental mereka tidak stabil untuk dimintai keterangan. "
"Saya ingin bertemu ayah saya. " Ucap Puteri Juwita kemudian.
"Boleh saja, tapi jam berkunjung sudah habis. Besok keluargamu baru boleh menemuimu." Petugas itu kemudian menyuruh prajurit membawa Puteri Juwita ke dalam sel.
*****
Raja Gaurav yang baru kembali bersama Ratu Elok merasa kaget ketika mengetahui Ratu Akemi terbunuh. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa tersangka pelaku pembunuhannya adalah keponakan mereka sendiri, Puteri Juwita.
"Aku benar-benar tidak percaya, Kak Satria. Juwita adalah gadis yang lembut, dia tidak akan tega melakukan kekejian semacam itu." Ratu Elok memandang Raja Satria dengan prihatin.
"Itu juga yang kukatakan. Tapi mereka dengan semena-mena melemparkan tuduhan keji itu kepada putriku! " Kata Raja Satria dengan geram.
"Aku akan mencoba bicara dengan Pangeran Awang. Meskipun hubungan kami kurang akrab, namun kami tidak pernah punya masalah. Semoga saja dia mau mendengarkan aku. "
"Terima kasih, Elok. " Raja Satria menaruh harapan besar pada Ratu Elok.
Ratu Elok pergi menemui Pangeran Awang. Namun wanita itu segera kecewa melihat kekerasan hati sepupunya itu.
"Meskipun dia keponakanmu, tapi dia sudah membunuh adik iparmu dan mencoba menculik kedua keponakanmu yang masih balita." Pangeran Awang memandang Ratu Elok dengan tajam.
"Aku mengenal Juwita, dia tidak mungkin berbuat keji seperti itu. "
"Aku tidak ingin mendengar hal ini lagi darimu. Besok Dewan Kerajaan akan mengadili gadis itu. "
"Kenapa kalian tidak menyelidiki kasus ini dengan lebih teliti? Bisa saja ada yang sengaja ingin mengambil keuntungan dengan meninggalnya adikku dan istrinya."
"Aku tidak menuduhmu. Tunggu.. jangan bilang kalau setelah ini kau yang akan memimpin Alsatia? "
"Itu.. bisa saja kalau Dewan Kerajaan memutuskan demikian." Ekspresi wajah Pangeran Awang tenang tak terbaca.
"Bagaimana dengan Lintang dan Wulan? "
"Mereka tentu saja akan tinggal di istana dalam perlindungan kami. "
"Maksudku.. siapa yang akan mengasuh mereka? "
"Istana ini tidak kekurangan pelayan."
"Ha! Jadi kau akan menyerahkan pengasuhan Lintang dan Wulan pada pelayan? Kalau begitu mereka akan ikut aku, lagi pula aku kesepian sejak Devi tidak tinggal bersama kami. "
"Aku tidak akan mengizinkan siapapun membawa mereka! Mereka adalah penerus Kerajaan Alsatia. "
"Aku akan mengembalikan mereka jika mereka sudah siap. "
"Tidak bisa! "
Ratu Elok menahan diri untuk tidak terus-terusan berdebat dengan Pangeran Awang.
"Kita akan bicara lagi besok. Sekarang aku akan bersiap-siap untuk pemakaman adikku. " Ratu Elok segera beranjak pergi.
*****
Pemakaman diadakan sebelum hari gelap. Ribuan pelayat tumpah ruah di area pemakaman. Karangan bunga terus mengalir dan bertumpuk-tumpuk sebagai tanda berkabung.
Suara tangisan terdengar saat kedua jenazah masuk ke liang lahat. Sedang kedua anak kembar yang ditinggalkan oleh kedua orang tua di hari yang sama itu tampak diam tanpa suara. Namun wajah mereka basah oleh air mata.
__ADS_1
Ratu Elok memeluk keduanya dengan erat, namun kedua bocah itu bergeming seolah tak bereaksi oleh sentuhan dan segala bentuk simpati. Hati mereka seakan telah beku oleh kesedihan.
"Langit sudah gelap, sebaiknya kita pulang sekarang ya? " Ratu Elok berusaha membujuk kedua anak itu untuk pulang.?
Mereka hanya diam, namun tetap mengikuti langkah bibinya itu. Keduanya bergandengan tangan dengan erat saling menyalurkan kekuatan.
"Seharian tadi kalian tidak mau makan. Sekarang kalian harus makan, ya? " Ratu Elok berkata saat mereka sudah masuk ke dalam istana.
"Tolong ambilkan makanan untuk mereka! " Pinta Ratu Elok kepada pelayan.
Saat makanan telah terhidang, mereka berdua tetap diam tanpa menyentuh makanan itu sedikitpun.
"Kenapa kalian tidak makan? " Tanya Ratu Elok dengan lembut.
Mereka tetap diam tak bereaksi, hanya air mata yang kembali mengalir membasahi pipi kedua bocah itu.
"Kalian harus makan agar kuat. Bibi tahu kalian sedih. Bibi juga sedih. Tapi kalian harus kuat untuk melanjutkan hidup. Orang tua kalian pasti sedih melihat kalian seperti ini. "
Sepasang bocah kembar itu kini menatap Ratu Elok dengan sendu. Sesekali isakan mulai terdengar lirih.
"Kalian boleh menangis, boleh menunjukkan kesedihan." Ratu Elok mengusap pipi Pangeran Lintang, namun bocah lelaki itu memalingkan wajahnya.
"Bibi ingin kalian tinggal bersama bibi kalau Pangeran Awang mengizinkan. Apa kalian mau? "
Kedua bocah itu diam tak bereaksi. Ratu Elok berusaha mencari tahu apa yang diinginkan keduanya.
"Atau kalian ingin tinggal di sini? "
Mereka tetap diam, namun Ratu Elok melihat punggung mereka menegang. Kedua kakak beradik itu semakin mengeratkan genggaman mereka.
"Juwita tidak bisa menemui kalian saat ini." Keduanya langsung menatapnya. "Kalian ingin bersama Juwita? "
Tanpa diduga keduanya mengangguk. Mereka seolah sudah menunggu seseorang menanyakan hal itu.
"Bibi akan mengusahakan supaya kalian bisa bertemu dengan Juwita, asalkan kalian mau menuruti perkataan bibi. "
Kedua bocah itu memperhatikan Ratu Elok dengan seksama.
"Pertama-tama, kalian harus makan! " Ratu Elok menyorongkan piring di hadapan mereka.
Mereka langsung mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulut tanpa protes.
*****
Puteri Juwita yang tidak bisa tidur di dalam selnya hanya membolak-balikkan tubuh dengan gelisah. Otaknya rasanya penuh. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Rasa-rasanya semua tindakannya yang sempat disangkanya benar, kini malah menjadi bumerang baginya.
Andaikan dia tidak menolong Nicolae malam itu. Andaikan dia tidak mengikuti Ratu Akemi masuk ke lubang di bawah ranjang itu. Andaikan dia tidak meninggalkan Ratu Akemi di padang rumput itu!
Semua pengandaian itu membuat kepalanya sakit. Namun percuma saja menyesali hal-hal yang telah lewat.
Dia mengingat kembali saat dirinya harus masuk ke dalam telaga bersama kedua sepupu kembarnya.
Jujur saja dia sempat menginginkan semuanya berakhir saja di sana, saat itu juga.
Lalu ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat ke udara, dia sempat terkejut dan bertanya-tanya beginikah rasanya mati?
Kesadarannya pulih saat kakinya kembali menginjak bumi dan dengan agak terhuyung menatap burung Strix yang kini berubah wujud menjadi Nicolae.
"Aku sudah melunasi hutangku. " Kata pemuda itu sebelum pergi.
Kini dia berpikir ulang seandainya dia tidak menolong Nicolae malam itu.
Satu-satunya yang dia syukuri adalah berhasil membawa Pangeran Lintang dan Puteri Juwita kembali ke istana dengan selamat.
__ADS_1
"Juwita! " Sebuah suara menariknya dari lamunan.