
Eldrige sudah melarang para gadis untuk ikut melihat pertandingan Malla, tapi tentu saja gadis-gadis itu tidak mau mendengarnya. Meski awalnya Puteri Juwita dan Ningrum merasa ngeri mendengar penjelasan pertandingan Malla dari Puteri Pertiwi, namun akhirnya kedua gadis itu memutuskan untuk melihatnya.
Mereka keluar mengenakan seragam pelayan dan kain penutup kepala yang mereka turunkan sampai batas hidung. Lewat bantuan Lali, gadis-gadis itu bisa keluar dengan menyamar.
"Tidak usah ada yang mengikuti kami, Tuan Eldrige dan pelayannya akan menjaga kami." Ucap Puteri Juwita pada Lali. Wanita itu hanya bisa menuruti majikannya begitu melihat Eldrige. Dia mendengar bahwa pria itu adalah peri pelindung Kerajaan Elfian, tentu saja hal itu menyingkirkan kekhawatirannya.
Kini mereka sudah berada di pasar. Dengan lincah Puteri Pertiwi berjalan di antara kerumunan orang tanpa canggung. Gadis itu sangat hapal gang-gang yang harus dilalui untuk menuju tempat pertandingan Malla.
Belum sampai mereka ke tempat itu, suara sorakan yang riuh sudah terdengar. Puteri Pertiwi menuju tempat membeli tiket dan membeli tiket untuk mereka semua.
Pertandingan sudah berlangsung ketika mereka masuk. Orang-orang berkerumun mengelilingi arena pertandingan dimana kedua petarung sedang mengerahkan kekuatan untuk menjatuhkan lawan.
Mereka bertelanjang dada dan hanya mengenakan selembar kain yang dililit sedemikian rupa untuk melindungi area di bawah pusar. Kedua petarung terlihat tangguh dan tubuh mereka kekar berotot.
Mereka saling mendorong dan membanting. Aliran keringat mereka membuat lumpur kering tempat mereka berpijak menempel di sekujur tubuh.
Buk!
Salah satu petarung menghantam tanah. Lawannya berada di atasnya dengan posisi mengunci.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.." Seorang wasit mulai menghitung. "enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.. sepuluh!"
"Hore.!" Sorak kemenangan bergema dari kubu pemenang.
"Kak, apa kira-kira kau bisa melakukan pertarungan ini?" Bisik Ningrum ketakutan.
"Aku akan berusaha." Jawab Bagas.
Eldrige menonton pertandingan itu dengan tenang. Otaknya menyimpan teknik-teknik yang digunakan para petarung. Dia juga mempelajari peraturan pertarungan itu.
Setelah pertarungan tadi selesai, sang juara kembali di tantang oleh petarung lain. Kini sang juara harus menghadapi seorang petarung yang bertubuh lebih tinggi dan lebih besar darinya.
Petarung yang baru datang itu langung merangsek lawannya dan mengangkatnya ke bahunya yang kekar. Setelah itu, tak menunggu lama, dia segera membanting sang juara dengan keras.
Puteri Juwita bergidik ngeri. Tanpa sengaja dia terpekik dan tangannya mencengkeram lengan Eldrige saking takutnya.
"Kau takut?" Tanya Eldrige.
Gadis itu mendongak dengan wajah pucat, tapi dia tidak mau mengakui bahwa dia takut. Kepalanya menggeleng pelan. Namun Eldrige tahu kalau Puteri Juwita hanya pura-pura berani. Akhirnya Eldrige menarik tubuh Puteri Juwita dan menyembunyikan wajah gadis itu dalam pelukannya.
"Jangan lihat." Ucap Eldrige.
Selama pertandingan itu Puteri Juwita sama sekali tidak melihat kedua petarung saling menyerang atau saat salah satu dari mereka melolong karena dagunya terkena tinju lawan. Gadis itu tidak juga mendengar teriakan ataupun erangan para petarung yang ditimbulkan oleh rasa sakit, karena Eldrige menutupi kedua telinganya.
Yang dirasakan gadis itu hanyalah kehangatan yang dipancarkan dari tubuh Eldrige. Bagaimana denyut jantung pria itu memompa darah untuk kemudian dialirkan kembali ke seluruh pembuluh darahnya.
Sebuah tepukan lembut di bahunya membuat gadis itu membuka matanya. Eldrige telah menurunkan tangannya, suara-suara kembali memasuki pendengarannya.
"Apa sudah selesai?" Tanya gadis itu.
"Sudah selesai. Ayo kembali ke istana." Eldrige menggandeng tangan gadis itu sementara Puteri Pertiwi berjalan di samping Bagas. Ningrum mau tidak mau kini berjalan bersama Eshwar.
Mereka naik kereta yang dikendarai Eshwar menuju Istana Dewanata. Tidak ada kesulitan sama sekali karena mereka sudah ditunggu Lali.
"Istirahat saja dan jangan keluyuran kemana-mana." Ucap Eldrige ketika mereka berpisah di koridor istana.
"Iya, Eldrige." Gadis itu mengangguk patuh.
*****
Bagas kembali berlatih. Kali ini tidak hanya Eldrige yang melatihnya, Puteri Pertiwi pun ikut. Gadis itu memberi banyak informasi yang berkaitan dengan pertandingan Malla.
Bagi Bagas, kehadiran gadis itu sangat membantunya mempelajari tentang pertandingan Malla. Selain itu Puteri Pertiwi menjadi penyemangat untuk lebih rajin berlatih.
Setelah sepekan dari pertandingan panah, akhirnya Raja Badre mengadakan pertandingan adu kekuatan. Seperti yang sudah diduga, Raja Badre memilih untuk mengadakan pertandingan Malla.
Kedua peserta kini telah berdiri di tempatnya masing-masing. Mereka saling berhadapan dengan tubuh bagian atas terbuka. Keduanya sama-sama percaya diri. Bagas merasa yakin karena sudah berlatih siang malam, sedang Pangeran Awang mengandalkan bantuan dukun saktinya Jadukari Daalal Nath.
Saat wasit mulai membuka pertandingan, kedua orang itu langsung mengambil kuda-kuda. Bagas melompat untuk menyerang Pangeran Awang.
Haa..
__ADS_1
Bet!
Pangeran Awang dengan gesit mengelak dan melancarkan pukulan ke perut Bagas. Pemuda itu terhuyung. Cairan dari lambungnya naik ke atas dan membuat lidahnya mencecap rasa getir.
Tepuk tangan membahana dari para penonton membuat Pangeran Awang menyeringai senang. Melihat Bagas, dia tahu pemuda itu bahkan tidak mendekati kemampuannya bertarung.
"Hmm, dukun itu tidak perlu membantuku pun aku pasti bisa mengalahkan bocah ini. Ah, sekalian kupermalukan saja dia." Pangeran Awang tersenyum licik.
Mereka kembali berdiri berhadapan. Bagas kini lebih bertekad, dia tidak ingin kalah di pertandingan ini. Diingat-ingatnya perkataan Eldrige mengenai strategi pertarungan. Dia tidak boleh terbawa emosi. Dengan begitu dia bisa menemukan celah dan peluang untuk menjatuhkan lawan.
"Kemarilah!" Pangeran Awang menggerak-gerakkan telunjuknya memanggil Bagas sambil tersenyum mengejek.
Pemuda itu kembali menyerang, kali ini kedua tangannya mencengkeram bahu Pangeran Awang dan mendorongnya. Tapi pertahanan kaki Pangeran Awang sangat kokoh, berapa kalipun mencoba Bagas tidak mampu merobohkan pria itu.
"Rasakan ini bocah!" Geram Pangeran Awang.
Pria itu mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kedua tangan Bagas lalu menekannya dengan kuat. Raut terkejut pemuda itu jelas tidak bisa disembunyikan. Dan sebelum menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba pangeran Awang memindahkan tangannya ke pinggang Bagas sambil merendahkan tubuhnya.
Tangan Pangeran Awang mencengkeram pinggang Bagas. Dengan punggung melengkung ke belakang dia kemudian mengangkatnya. Tubuh pemuda itu kini terangkat ke atas dengan posisi kaki berada di atas. Lalu tanpa menunggu lagi, Pangeran Awang membanting tubuh Bagas ke belakang.
Bruk!
"Akk!" Bagas meringis merasakan tulang ekornya membentur tanah. Sakit itu menjalar ke seluruh pinggang, kemudian naik ke sepanjang tulang punggung.
Penonton kembali bersorak. Mereka mengelu-elukan Pangeran Awang. Pria itu berdiri dengan congkak. Sinar matahari menyinari wajahnya yang berlumur lumpur kering.
Bagas menatapnya dari tempatnya berbaring. Dia tidak boleh menyerah sekarang. Dia tidak boleh membiarkan pria kejam itu mempersunting Puteri Pertiwi.
Wasit datang memeriksanya, memastikan apakah dirinya masih mampu meneruskan pertandingan.
"Saya akan mulai menghitung." Kata wasit itu.
Bagas berusaha bangkit meski seluruh tubuhnya terasa remuk.
"Satu.. dua.. tiga.. " Wasit itu menghitung diikuti oleh semua penonton. "..empat.."
Bagas memaksakan tubuhnya bangun dengan menopangkan kedua tangannya di atas tanah.
Wasit berhenti menghitung. Semua orang memperhatikan Bagas yang berdiri dengan tertatih-tatih.
"Ah..ck..kenapa tidak menyerah saja sih?" Pangeran Awang menghembuskan napas kesal. Dia mulai tidak sabar menghadapi pemuda itu.
"Apakah harus kubunuh saja?" Gumam pria itu sambil mengibaskan tangannya dengan malas.
Di datanginya pemuda yang berdirinya goyah itu. Dia sudah bosan bermain-main.
Dicengkeramnya bahu Bagas. Dapat didengarnya deru napas dan detak jantung pemuda itu yang semakin cepat. Bagai seekor binatang pemburu, dia bisa merasakan emosi mangsanya.
*****
Puteri Pertiwi menyaksikan Bagas yang tersungkur di arena pertandingan dengan bercucuran air mata. Jantungnya seakan dicabik-cabik oleh kuku binatang yang tajam.
"Bagaimana ini Juwita?" Ratap gadis itu.
Keduanya saat ini berada di bawah panggung tempat Raja Badre duduk menyaksikan pertandingan kesukaannya. Mereka hanya berdua saja karena Ningrum sama sekali menolak menyaksikan kakaknya melakukan adu fisik seperti yang disaksikannya di pasar. Dia tidak mau melihat kakaknya dipukul atau dibanting lawannya.
"Kita harus mendoakannya. Tapi Pertiwi, tidak bisakah kau pikirkan strategi untuk mengalahkan Pangeran Awang?" Puteri Juwita memandang sepupunya yang sedang mengintip di balik celah itu.
"Tuan Eldrige telah mengajarkan semua strategi yang dipelajarinya. Aku hanya bisa menceritakan semua yang pernah kulihat di pertandingan Malla." Jawab Puteri Pertiwi sambil menoleh sebentar pada Puteri Juwita, kemudian dia mengintip ke luar lagi.
Saat itu dia melihat Bagas sedang berdiri di hadapan Pangeran Awang. Bahu kekasihnya itu dicengkeram dengan erat.
"Betahanlah Bagas, kumohon." Ucap Puteri Pertiwi lirih.
Bagas yang kini berhadapan dengan Pangeran Awang seolah mendengar suara Eldrige yang tengah membimbingnya.
"Pondasimu harus kokoh, Bagas. Dalam pertarungan adu fisik, pemenangnya tidak selalu yang terkuat. Kau harus bisa bertahan seperti pohon redwood yang akarnya menancap kuat ke dalam tanah."
Bagas memantapkan pijakan kakinya. Dia menggeser kaki kanannya ke depan, sedang kedua tangannya kini diangkat dan diposisikan pada lengan dan tengkuk Pangeran Awang.
"Berusahalah lebih keras lagi." Pangeran Awang meremehkan lawannya.
__ADS_1
"Haaa!"
Mereka saling mendorong untuk mendesak lawan. Meski Pangeran Awang memiliki tenaga yang lebih kuat, namun dia tidak mampu menggeser pijakan Bagas. Beberapa kali pria itu mencoba posisi lain, namun Bagas tetap bertahan.
"Ini giliranku." Ucap Bagas.
Tiba-tiba Bagas memeluk lengan Pangeran Awang dengan erat dan menguncinya. Sebelah tangannya lalu bergeser dan mencekik leher Pangeran Awang.
Pria itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari kuncian itu, namun Bagas tidak membiarkannya. Kemudian Bagas menendang lutut Pangeran Awang sehingga pria itu menekuk kakinya. Bagas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menarik kakinya. Saat posisi pangeran Awang goyah, Bagas menjatuhkan seluruh bobot tubuhnya untuk menjatuhkan Pangeran Awang.
Duk!
Pangeran Awang jatuh kebelakang dengan posisi leher masih terjerat lengan Bagas. Bagas menindih tubuh Pangeran Awang dan menekannya di tanah.
Melihat posisi keduanya yang tak kunjung berubah, wasit datang untuk mulai menghitung.
"Satu.. dua.. tiga .."
Wuuush..
Tiba-tiba sebuah pusaran angin datang entah dari mana. Pusaran angin itu mendekati arena pertarungan sehingga menerbangkan debu-debu lumpur kering. Wasit yang sedang menghitung jatuh terjengkang ke belakang.
Para penonton kini tidak bisa menyaksikan kedua petarung. Angin itu menderu-deru seolah menelan mereka.
Dalam keadaan ini hanya Pangeran Awang yang menyadari alasan dibalik fenomena aneh itu. Pusaran angin itu datang untuk membantunya.
Seluruh tubuh Bagas bergetar dan kunciannya mulai goyah. Dia merasakan tubuh Pangeran Awang mulai mendorongnya ke atas. Pemuda itu tidak bisa membiarkan Pangeran Awang lepas dan kembali membalikkan keadaan.
*****
Eshwar melaporkan jalannya pertandingan itu pada Eldrige, juga tentang pusaran angin yang kini menyelimuti kedua petarung.
"Aku akan ke sana. Tolong awasi kembali kamar Pangeran Awang." Usai mengatakan hal itu, Eldrige melangkah ke luar.
Di sepanjang koridor terdengar para pelayan berbisik-bisik. Berita mengenai fenomena aneh di arena Malla rupanya telah tersebar ke seluruh istana. Bahkan para dukun yang diundang khusus oleh Raja Badre kini berkumpul di kuil istana untuk membakar dupa dan memanjatkan doa. Mantera-mantera mengalun riuh rendah menggetarkan dada.
Langkah Eldrige kini telah sampai di arena pertandingan. Sambil berdiri di antara kerumunan penonton yang berdiri agak jauh, Eldrige mencengkeram pedangnya.
Seluruh peralatan sihir yang dimilikinya memang telah diambil oleh Ratu Malea, namun pedangnya tidak. Pedang itu adalah pedang peri yang diberikan langsung oleh roh peri yang agung kepada Eldrige 300 tahun yang lalu. Pedang itu tidak akan tunduk pada siapapun kecuali pada tuannya.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Eldrige mencabut pedangnya. Dengan cepat Eldrige melempar pedang itu ke arah pusaran angin.
Blaaar.
Pusaran angin itu terbelah. Pedang peri berputar-putar memporak-porandakan gulungan-gulungan angin. Setelah itu pedang peri kembali melesat pada pemiliknya.
Orang-orang yang menyaksikan hanya dapat melongo dan tidak menyadari bahwa kilatan cahaya putih yang melesat masuk ke dalam pusaran angin adalah sebuah pedang.
Kini semua mata mengawasi kedua petarung di arena Malla. Seorang petarung menindih tubuh yang lainnya.
Wasit kembali datang untuk menghitung.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.."
Sepertinya sudah tidak mungkin lagi posisi itu berbalik karena petarung yang di atas betul-betul mengunci lawannya.
"..lima.. enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.. se..puluh!" Wasit mengibaskan bendera merah tanda pertandingan berakhir.
"Pemenang pertarungan Malla kali ini adalah.." Raja Badre berdiri di atas panggungnya untuk mengumumkan pemenangnya.
"Bagas." Ucapnya yang langsung disambut oleh sorak-sorai penonton.
Kedua peserta pertandingan berdiri bersebelahan menghadap raja. Wajah Pangeran Awang sangat keruh. Dia tidak menyangka bahwa bahkan dengan bantuan Jadukari Daalal Nath, pemuda itu bisa mengalahkannya.
"Karena kedua peserta telah memenangkan masing-masing satu pertandingan, maka aku akan memberikan satu pertandingan tambahan. Dan pertandingan itu adalah..pertandingan menentukan belahan jiwa putriku. Ketentuan selengkapnya akan aku umumkan sebelum pertandingan dimulai." Raja Badre meninggalkan panggung setelah mengumumkan keputusannya.
Pangeran Awang dengan geram kembali ke kamarnya. Dengan gerakan menggebrak dia membuka pintu dan menatap tajam ke arah lelaki yang mengaku sebagai dukun sakti.
"Apa kau benar-benar sakti seperti bualanmu?" Teriak Pangeran Awang marah. Matanya menyimpan bara api.
"Saya akui kalau saya terlalu meremehkan peri itu. Tapi saya akan membuktikan semua janji saya, Yang Mulia." Jawab Jadukari Daalal Nath yang sedang memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat hantaman sihirnya yang berbalik arah.
__ADS_1
"Jangan membuatku habis kesabaran. Besok, tidak peduli aku keluar sebagai pemenangnya atau tidak, akan kurebut tahta Kerajaan Dewanata!" Ucap Pangeran Awang.