
Pangeran Awang menggeram marah ketika menyaksikan kepergian rombongan para puteri. Dari balkon, pria itu terus mengawasi sampai rombongan itu menghilang di balik gerbang.
"Pikirkan sesuatu untuk menaklukkan gadis itu! " Perintah Pangeran Awang pada salah satu asistennya.
"Saya mendengar bahwa di Kerajaan Dewanata sihir tidak dilarang. " Kata asisten itu.
"Maksudmu aku harus menyihir mereka agar tunduk padaku, begitu? " Pangeran Awang menatap asistennya.
"Benar Yang Mulia. "
"Aku tidak punya sihir. Para peri yang dipinjamkan oleh Ratu Malea sudah ditarik saat perang usai. Lagipula apa mereka mau melakukan hal itu? "
"Kita bisa cari dukun sakti di sini. "
"Dukun sakti? "
"Benar, Yang Mulia. "
Senyum mengembang di wajah Pangeran Awang yang kaku Isi kepalanya penuh rencana licik.
Sementara itu rombongan para puteri yang tadi diperhatikannya kini telah keluar dari ibukota. Rombongan itu mulai memasuki area berbukit-bukit menuju gunung Taevas.
"Aku sungguh tidak bisa sedetik saja berada di ruangan yang sama dengan Pangeran Awang setelah mendengar ceritamu. " Puteri Pertiwi duduk dengan tubuh bergoyang-goyang di atas kereta kuda bersama kedua gadis lainnya.
"Apa kau akan menceritakannya pada ayahmu? " Tanya Puteri Juwita.
"Aku ingin sekali melakukannya. Tapi aku tidak bisa sembarangan melakukan hal itu, Bisa-bisa ayahku akan melakukan sesuatu pada pangeran itu yang menyebabkan perang antara dua kerajaan. " Puteri Pertiwi lagi-lagi menghela napas, hal yang kini sering dilakukannya sejak kedatangan Pangeran Awang.
"Lagipula Pangeran Awang datang dengan maksud untuk melamar. Dia tidak menunjukkan itikad tidak baik." Sambungnya.
"Ralat, belum." Kata Ningrum dengan wajah penuh prasangka.
"Yah, kau tidak bisa menuduh seseorang atas kejahatan yang tidak atau belum dilakukannya, bukan? " Puteri Pertiwi merasa skeptis.
"Kau benar, Pertiwi. Oleh karena itu saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah selalu waspada. Kau jangan melakukan sesuatu yang membuat Pangeran Awang curiga." Puteri Juwita memandang sepupunya itu dengan agak khawatir.
"Kita harus membicarakan ini dengan ayah dan kakakku. Kita tanyakan pendapat mereka." Ningrum memandang kedua gadis sekilas lalu melihat ke luar jendela ke arah hamparan lembah hijau.
Ketiganya terdiam selama sisa perjalanan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak terasa rombongan itu memasuki gerbang desa Kulm dan langsung disambut oleh tatapan kagum para warga desa.
Rombongan itu terus menuju ke Balai Pengobatan milik Tabib Bagio. Rupanya tempat itu sedang ramai. Banyak pasien dari daerah lain datang ke sana.
Salah satu pelayan yang dipekerjakan oleh Tabib Bagio datang melapor pada majikannya. Dia mengabarkan bahwa ada rombongan kerajaan yang datang.
Tabib Bagio segera keluar setelah sebelumnya menyuruh Bagas untuk menggantikannya.
"Ayah! " Ningrum berlari pada ayahnya dan memeluknya. Puteri Juwita mengikutinya dari belakang dan ikut memeluk ayah angkatnya itu.
Ketiga gadis itu diajak masuk ke dalam, sedangkan para prajurit yang menyertai mereka dipersilakan beristirahat di salah satu paviliun yang telah dibangun di belakang bangunan rumah itu.
"Tempat ini indah sekali! " Puteri Pertiwi mengagumi kamar yang mereka tempati. Dari jendela dia bisa melihat hamparan lembah sampai ke batas perairan Kerajaan Dewanata.
"Kau menyukainya? " Tanya Puteri Juwita sambil tersenyum.
"Sangat. Udara di sini begitu segar. " Puteri Pertiwi tersenyum lebar seolah telah melupakan masalahnya.
"Istirahatlah dulu, nanti kita akan berjalan-jalan kalau kakakku sudah tidak sibuk. " Ningrum mengambil beberapa selimut dari lemari dan menaruhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku bisa tidur seharian di tempat ini. Lihat, belum apa-apa aku sudah ngantuk begitu melihat selimut. " Puteri Pertiwi beberapa kali menguap tanpa canggung di depan kedua gadis itu.
Mereka tertawa melihat tingkah Puteri Pertiwi itu. Tata krama yang dijalankannya di istana, sejenak ingin dilupakannya.
Mereka berbaring bertiga sambil mengobrol dan tertawa. Obrolan itu sesekali disela saat salah satu dari mereka menguap. Tak terasa obrolan itu terputus ketika ketiganya akhirnya sama-sama tertidur.
*****
Raja Gaurav datang ke istana Alsatia dengan beberapa prajuritnya. Salah satu staf kerajaan mengatakan padanya bahwa Pangeran Awang sedang pergi ke Kerajaan Dewanata untuk meminang puteri kerajaan itu.
"Di mana kedua keponakanku, Pangeran Lintang dan Puteri Wulan? " Tanya Raja Gaurav.
"Pangeran Lintang dan Puteri Wulan dikirim ke sebuah sekolah sebelum Pangeran Awang berangkat. " Jawab staf kerajaan itu.
"Sekolah mana? "
"Matha Nima. "
"Bukankah itu nama sebuah biara? " Kedua alis Raja Gaurav bertaut karena heran.
"Saya kurang tahu mengenai itu, Yang Mulia. "
Raja Gaurav mengurungkan niatnya untuk menginap di istana itu. Pemimpin Kerajaan Watu Ijo itu segera memacu kudanya menuju Matha Nima diikuti oleh para prajuritnya.
Sebenarnya Raja Gaurav belum pernah pergi ke tempat itu, namun menurut informasi yang di dapat dari staf kerajaan tadi Matha Nima berada di wilayah pegunungan Lashio, daerah paling selatan wilayah Alsatia.
Mereka berkuda selama beberapa jam tanpa istirahat, namun akhirnya mereka berhenti di sebuah desa yang berada beberapa kilometer dari kaki gunung Lashio. Mereka mengistirahatkan kuda-kuda dan memberinya rumput.
"Kita tidak akan sampai ke Matha Nima sebelum tengah malam. Apakah tidak sebaiknya besok saja kita melanjutkan perjalanan? " Seorang pengawal kepercayaan Raja Gaurav memberi saran.
"Baik. Kita akan berkemah di sini karena aku ragu kita akan menemukan penginapan di desa ini. " Raja Gaurav menyetujui saran pengawalnya.
Ketika langit sudah gelap, mereka berkumpul di depan api unggun sambil memanggang kelinci yang mereka tangkap tadi sore.
"Ada yang aneh dengan tempat ini. " Kata salah seorang prajurit.
"Kenapa? " Tanya temannya.
"Tidak ada satupun warga desa yang terlihat." Jawab prajurit tadi.
Raja Gaurav mendengarkan percakapan kedua prajurit itu. Diapun merasa aneh sejak tadi namun sempat mengira bahwa itu hanya perasaannya saja. Pria itu makan dengan tenang dan masuk ke tendanya setelah selesai.
Sambil berbaring Raja Gaurav berusaha mengenyahkan pikiran buruknya. Setelah beberapa waktu akhirnya pria itu tertidur. Namun belum lama berselang, tiba-tiba telinganya menangkap suara keributan.
Trang.. trang.. trang..
Suara logam bergesekan. Raja Gaurav segera bangun sambil membawa pedangnya. Di luar sana, keempat prajuritnya sedang bertarung dengan gerombolan orang-orang berpakaian sebagai hitam.
*****
Eshwar adalah pemuda yang cekatan. Dia melayani Eldrige dengan baik. Dia membawa Eldrige ke penginapan dan bahkan memesankan makanan yang sesuai dengan selera pria itu.
"Tak kusangka kau sangat berguna, Eshwar. " Kata Eldrige sambil mengelap mulutnya setelah menghabiskan hidangan daging bersantan yang sangat lezat.
"Saya akan selalu berusaha melayani Tuan sebaik-baiknya. " Kata pemuda itu yang juga menikmati hidangan serupa dengan Eldrige. Seumur hidupnya baru kali inilah dia bertemu seseorang yang memberinya makan dan memperlakukannya dengan baik.
"Apa kau memiliki keluarga? " Tanya Eldrige.
__ADS_1
"Tidak Tuan. Mereka telah meninggal saat saya masih kecil. Ayah saya meninggal dalam peperangan saat Raja Baratha menyerang negara-negara di seberang sana. " Jari Eshwar menunjuk lautan.
"Lalu ibumu? "
"Ibu saya meninggal kelaparan karena memberikan makanan yang didapatnya untuk saya. Raja Baratha tidak menjamin kesejahteraan keluarga para prajurit yang mengikutinya berperang. Bisa dibilang bahwa ayah saya terpaksa ikut berperang. " Suara Eshwar terdengar begitu pilu ketika mengenang nasib malangnya.
"Lalu sekarang kau tinggal sendiri? "
"Benar Tuan. Saya menyewa kereta kuda untuk membawa penumpang. Itulah pekerjaan saya sehari-hari untuk bertahan hidup. "
"Apa kau mau ikut denganku? "
"Maksud Tuan, untuk bekerja? " Mata Eshwar yang lebar memandang Eldrige penuh harap.
"Iya, kalau kau mau. " Kata Eldrige.
"Saya mau. Bahkan jika Tuan tidak membayar saya. " Kata Eshwar yang membuat Eldrige terkejut.
"Kau mau mengikutiku meski tidak dibayar? " Eldrige bingung dengan pemikiran pemuda lugu itu.
"Saya bekerja sehari-hari seperti ini pun hanya cukup untuk makan. Saya bahkan tidak mampu menyewa rumah dan sering tidur di kereta kuda. "
"Baiklah kalau kau bersedia mengikutiku Eshwar, aku senang memiliki teman di negeri asing ini. "
"Teman? Kehormatan macam apa ini, Tuan? Saya bahkan sudah senang jika hanya diangkat sebagai budak. " Setitik air mata jatuh di sudut mata Eshwar.
"Seumur hidupku aku tidak pernah memiliki budak, Eshwar. Dan tidak akan pernah. "
"Tapi saya..saya hanya orang berkasta rendah yang hanya pantas menjadi budak atau pelayan. "
"Aku tidak mengenal kasta. Bagiku semua manusia sama derajatnya." Eldrige kemudian diam memandang lautan yang gelap. Titik cahaya kapal-kapal nelayan berkelip di kejauhan.
"Apa tujuan Tuan datang kemari. Saya sering melihat Tuan melamun. " Suara Eshwar membuat Eldrige berpaling.
"Aku mencari seseorang. " Sepasang mata Eldrige yang berwarna merah menyorot lembut.
"Mencari siapa? "
"Kekasihku." Suara Eldrige membuat Eshwar merasakan betapa dalamnya perasaan pria itu.
"Saya akan membantu Tuan menemukannya." Pemuda itu berkata sungguh-sungguh.
"Terima kasih. "
"Siapa nama kekasih Tuan itu? "
"Namanya Juwita. Dia seorang puteri dari Kerajaan Elfian. "
"Elfian? " Eshwar tampak terkejut."Bukankah raja bangsa itu yang telah membunuh Raja Baratha? "
"Benar. Apa kau dendam padanya? " Eldrige memandang Eshwar, menunggu reaksinya.
"Tidak. Saya justru bersyukur bahwa raja jahat itu terbunuh. Keluarga saya tak akan hancur jika Raja Baratha tidak berambisi menguasai seluruh wilayah negara tetangga. " Kepala pemuda itu menggeleng pelan.
"Syukurlah kau dapat berpikir bijaksana. Terkadang seseorang tidak bisa benar-benar mencerna suatu keadaan yang membuatnya menderita dan malah menyalahkan orang lain. " Ucap Eldrige kagum.
"Saya belajar pada kehidupan, Tuan." Ucap Eshwar.
__ADS_1
Eldrige tersenyum. Pemuda itu adalah permata yang tertutup debu, Eldrige bisa melihatnya.