Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 34 Upacara Pembatalan Perjanjian


__ADS_3

Selir Mayang yang baru terbangun merasa heran. Di kamarnya ada ayahnya dan Eldrige yang duduk memandanginya.


"Apa yang dia lakukan di sini, Ayah?" Wajah wanita itu menunjukkan rasa tidak suka.


"Eldrige di sini untuk menolongmu, Mayang! Kau seharusnya berterima kasih padanya!" Ketua Dewan Permadi menggenggam tangan anaknya.


"Kenapa aku harus berterima kasih pada pengacau itu?" Dengan angkuh, Selir Mayang mengacungkan telunjuknya pada Eldrige yang masih menatapnya dengan tenang.


"Mayang! Bisakah kau tunjukkan sikap yang sedikit hormat padanya? Dia yang sudah menyelamatkanmu! Kau berhutang nyawa padanya!" Wajah ayahnya merah karena marah dan malu dengan kelakuan kurang ajar anaknya itu.


Melihat kemarahan ayahnya, Selir Mayang menjadi gentar. Ayahnya bukan orang yang suka bermain-main. Tapi dia sungguh tidak mengerti, kenapa dia bisa berhutang nyawa pada penjaga perpustakaan itu.


"Semua orang di istana ini sudah mengetahui rahasiamu, Mayang!" Suara ayahnya melunak, wajahnya tampak sangat prihatin.


Selir Mayang terbelalak, dia tak bisa lagi berkata-kata. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah Ahren telah menghianatinya?


"Apakah Ahren sudah menghianatiku?" Suara wanita itu penuh penekanan.


"Brakk!"


"Kau bahkan tidak bisa menghargai ketulusan Ahren? Anak malang itu hampir mati gara-gara ingin menyelamatkanmu!" Ayahnya menggebrak meja saking geramnya, membuat wanita itu terlonjak.


Ahren hampir mati? Apa yang sudah dia lewatkan? Kenapa dia tidak ingat apa-apa?


"Sebaiknya kita lakukan upacaranya, sekarang!" Eldrige tiba-tiba membuka suara.


Ketua Dewan Permadi mengangguk. Sedangkan Selir Mayang tampak bertambah bingung.


"Upacara? Upacara apa?" Selir Mayang tampak kebingungan.


"Upacara pembatalan perjanjian dengan iblis Sitr !" Ayahnya menatapnya dengan tajam, seolah mengulitinya.


Selir Mayang menelan ludah. Tidak disangkanya bahwa ayahnya mengetahui semuanya. Apakah semua orang juga sudah tahu? Termasuk Raja Satria?


Wanita cantik itu tertunduk lesu. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan sekarang. Jika semua orang di istana ini sudah mengetahui rahasianya, maka hidupnya sudah berakhir. Sanggupkah dia menanggungnya?


"Kalau kau tidak melakukan upacara itu, maka nyawamu akan melayang!"


Wajah Selir Mayang menjadi pucat karena ketakutan. Dia ingat perjanjiannya dengan iblis itu. Jiwanya telah dia gadaikan pada iblis tua itu.


"Eldrige, mulailah sekarang!"

__ADS_1


Eldrige mengangguk dan menggambar Pentagram di lantai dan menyalakan lilin di setiap sudutnya. Eldrige menyuruh Selir Mayang untuk berbaring di depan Pentagram. Kemudian lampu di ruangan itu dipadamkan.


Eldrige duduk bersila di depan Selir Mayang, lalu mengucapkan mantera yang bahasanya tak diketahui oleh wanita itu.


Tak lama kemudian atmosfer di dalam ruangan itu berubah, terasa mencekam dan semakin dingin. Meskipun hawa terasa dingin, namun keringat membasahi kening Selir Mayang.


Tiba-tiba sesosok bayangan hitam yang lebih gelap dari malam, telah hadir. Ada geraman marah yang sangat mengerikan dan membuat nyali wanita itu mengkerut.


"Selir Mayang, coba ikuti kata-kata ini!" Perintah Eldrige sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Ego dimittam te , Abripio a te !"


Selir Mayang kemudian menirukan kata-kata Eldrige.


"Ego dimittam te , Abripio a te !"


Bayangan makhluk itu meliuk-liuk marah. Dia tidak rela mangsanya lepas begitu saja. Bayangan sebuah cakar dengan cepat melesat ke leher Selir Mayang dan mencekiknya.


Wanita itu menggeliat kesakitan dan kehabisan napas. Tangannya terkepal dan lidahnya menjulur.


Melihat hal itu Eldrige lalu melemparkan garam laut dan membuat cakar itu melepaskan leher Selir Mayang. Wanita itu terbatuk-batuk.


Setelah itu lampu kembali dinyalakan. Terlihat Selir Mayang terbaring. Seluruh tubuhnya dipenuhi lendir yang lengket dan bau.


"Saya sarankan agar tidak membersihkan lendir itu sampai pagi. Saya khawatir iblis itu akan datang lagi." Ucap Eldrige kepada Selir Mayang.


"Maksudmu, aku harus membiarkan tubuhku dipenuhi lendir menjijikkan ini sampai pagi?" Selir Mayang menatap Eldrige dengan kesal.


Dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih kepada peri yang telah menyelamatkan nyawanya itu.


"Mayang, kau harus menuruti Eldrige jika ingin selamat!" Ayahnya langsung menegur.


"Eldrige, terima kasih banyak!" Ketua Dewan Permadi memandang Eldrige dengan tulus.


Eldrige mengangguk lalu pergi keluar. Tanpa sepengetahuan siapapun, Eldrige tersenyum puas atas kejahilannya.


*****


Sementara itu Raja Satria terbaring lemah di atas ranjangnya. Wajahnya lebam kebiruan dan sudut bibirnya pecah. Namun pikirannya telah menyusun berbagai rencana.


Besok dia akan mengadakan sidang tertutup bagi Selir Mayang sekaligus mencopot jabatannya sebagai Selir Utama secara resmi.

__ADS_1


Kemudian dia akan mendesak Dewan Kerajaan agar mencabut hukuman pengasingan Ratu Gita. Dan akan segera menjemput istrinya itu agar bisa kembali ke istana.


Lalu dia teringat pada Eldrige. Segera dipanggilnya peri itu, karena dia sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil upacara pembatalan perjanjian itu.


Eldrige segera datang ke kamar Raja Satria. Wajahnya terlihat lelah, namun Raja Satria tidak perduli, dia hanya ingin segera mengetahui hasilnya.


"Upacara itu berhasil, Yang Mulia. Sekarang Selir Mayang sudah bebas." Ucap Eldrige.


"Bagus. Berarti besok dia bisa mengikuti persidangan!" Raja Satria tersenyum puas.


Sementara itu Eldrige terkantuk-kantuk di depannya. Energi peri itu sudah terkuras habis, namun Raja Satria masih saja berbicara panjang lebar.


Meskipun sedang sakit, pria itu terlihat masih punya banyak energi untuk berbicara. Dia baru berhenti ketika menyadari kalau Eldrige sudah naik ke kasurnya dan tidur di sebelahnya.


"Apa yang kau lakukan, Eldrige? Bangun! Ini bukan tempat tidurmu!" Pria itu mengomel. Namun mata Eldrige sudah terpejam. Peri itu sudah terbang ke alam mimpi sehingga tidak menggubris teriakan pria itu.


Dengan kesal Raja Satria membaringkan tubuhnya di sebelah Eldrige. Pria itu menaruh guling di tengah sebagai pembatas. Wajahnya cemberut, malam ini dia pasrah harus tidur seranjang dengan Eldrige.


*****


Pagi-pagi Eldrige terbangun dengan kaget. Karena ada lengan yang memeluk punggungnya. Dia segera berbalik dan langsung menatap wajah Raja Satria.


"Aaaaaaaa..!"


Eldrige berteriak kencang dan membuat Raja terbangun. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Ada apa?" Tanya Raja Satria.


"Kenapa Yang Mulia tidur di ranjang saya?" Tanya Eldrige setengah berteriak.


"Apa? Ini kamarku Eldrige! Kenapa kau tidur di sini?" Raja Satria langsung bangun dan mengomel.


Eldrige baru menyadari bahwa ini adalah kamar Raja. Kemudian dengan buru-buru dia turun dari ranjang lalu meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata. Pikirannya kacau karena kejadian memalukan ini.


Raja Satria hanya memandangnya heran. Dia bergidik ngeri mengingat tadi sempat memeluk Eldrige.


"Dasar peri gila!" Umpatnya.


Setelah itu Raja Satria segera bersiap-siap. Dia menyuruh asistennya untuk mengundang para Dewan Kerajaan agar berkumpul. Hari ini dia akan memulai sidang tuntutan kepada Selir Mayang.


.

__ADS_1


__ADS_2