Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 40 Mempertahankan Istana


__ADS_3

Fajar menyingsing di ufuk timur. Cahayanya yang keemasan menyinari seluruh wilayah Kerajaan Elfian. Namun nasib negeri itu belum jelas, karena pasukan musuh sudah bersiap di depan mereka.


Raja Satria pergi menemui para prajurit dan mengecek posisi mereka. Dia memerintahkan para pemanah berjaga-jaga di sekeliling tembok istana. Para prajurit yang membawa pedang pun telah bersiap-siap. Raja Satria akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kerajaannya.


Raja Satria tidak tidur semalaman sehingga tubuhnya sangat letih. Dia takut jika sewaktu-waktu pasukan Raja Bharata menyerang. Atau bisa saja dukun mereka akan menyerang lagi secara gaib.


Raja Satria berdoa agar seluruh kerajaannya dilindungi. Dan semoga musuhnya segera angkat kaki dari tempat itu.


Terdengar terompet perang yang terbuat dari cangkang keong laut ditiup oleh pihak Raja Bharata. Mereka sudah kembali siap menyerang. Terdengar derap suara ribuan kuda yang dipacu. Juga terdengar teriakan para prajurit musuh yang datang menyerang.


"Ssiiiiing... ssiiiiing... ssiiiiing...!"


"Jleb..Jleb..Jleb..!"


Pasukan pemanah Kerajaan Elfian mulai melesatkan panah-panah ke arah pasukan musuh.


Ada beberapa yang tumbang, namun jumlah mereka masih sangat banyak. Wajah-wajah yang beringas itu mendatangi mereka dengan semangat yang membara. Pasukan itu tidak pernah kalah sebelumnya, jadi kepercayaan diri para prajurit itu sangat tinggi.


"Swiiing...swiiing...swiiing...!"


"Duarrr...Duarrr... Duarrr...!"


Pasukan Raja Bharata mulai membalas dengan menembakkan ketapel raksasa yang berjumlah tiga buah. Peluru-peluru raksasa dari ketapel itu menghancurkan tembok Istana Elfian.


"Bruukk...Bruukk...!"


Batu-batu berhamburan dari reruntuhan tembok. Beberapa prajurit Elfian tewas terkena reruntuhan dan ada juga yang tewas karena jatuh dari ketinggian.


"Ssiiiiing.. ssiiiiing.. ssiiiiing..!"


Para pemanah dari Kerajaan Elfian kembali membalas. Namun kelihatannya perlawanan mereka tidak berpengaruh banyak.


Pasukan Kerajaan Dewanata kembali menyerbu gerbang istana. Mereka bahkan menembakinya dengan ketapel. Gerbang istana itu kembali jebol. Pasukan Kerajaan Dewanata segera merangsek masuk.


"Trang..Trang..Trang..!"


Pertempuran sengit kembali pecah di halaman istana. Para prajurit dari kedua belah pihak saling menghunuskan pedangnya. Mayat-mayat prajurit yang bergelimpangan terinjak-injak oleh kaki kuda.


Raja Bharata nampak gagah di atas kudanya yang berbulu coklat gelap. Pria itu bertelanjang dada. Bulu-bulu lebat nampak tumbuh di dadanya yang bidang. Kedua lengannya yang kekar dilingkari gelang emas, begitupun kedua pergelangannya. Sebuah mahkota emas dengan ukiran yang indah bertengger di kepalanya.


Pria berperawakan tinggi besar itu sangat handal mengayunkan pedangnya. Dengan mudahnya dia membantai prajurit Elfian bagaikan mesin pemotong gandum.


Dari punggung kudanya dia melihat Raja Satria. Pria garang itu segera melompat turun dari kuda. Sambil membabat prajurit Elfian sepanjang jalan, Raja Bharata mendekati Raja Satria.


"Akhirnya kita bisa berhadapan, Raja Satria!" Raja Bharata menyeringai mengerikan.


"Selamat datang di Elfian!" Jawab Raja Satria sambil menghunuskan pedangnya.

__ADS_1


"Trang..Trang..Trang..!"


Mereka berduel. Saling menusuk, saling menghantam. Raja Bharata yang mulanya meremehkan penampilan Raja Satria yang berwajah rupawan itu, akhirnya harus mengakui dalam hatinya bahwa pria itu sangat handal dalam bertarung.


"Kau lumayan juga!" Puji Raja Bharata sambil menyeringai.


"Terima kasih." Raja Satria tersenyum manis membuat kadar ketampanannya meningkat. Hal itu membuat Raja Bharata semakin muak melihatnya.


"Trang..Trang..Trang..! Sreet..!"


Pedang Raja Satria berhasil menggores lengan musuhnya itu. Raja Satria tersenyum mengejek ke arah Raja Bharata yang terlihat kaget.


"Trang..Trang..Trang..! Sreet..!


Kali ini Raja Bharata balas menggores pinggang Raja Satria. Pemimpin Elfian itu meringis menahan sakit, luka di pinggangnya cukup dalam. Darah merembes membasahi bajunya.


Melihat hal itu membuat Raja Bharata menjadi lebih bersemangat. Pria itu paling suka menikmati penderitaan musuhnya. Dia suka sekali menghancurkan musuh-musuhnya.


Meskipun merasakan sakit, namun Raja Satria tidak mau menyerah. Dengan berani dia terus melawan musuhnya itu.


"Trang..Trang..Trang..!"


Pedang mereka terus beradu. Saling menyabet dan menggoreskan luka pada tubuh lawan. Tubuh mereka sudah dipenuhi luka dan darah.


Hingga tibalah saatnya Raja Satria membuat gerakan cepat dan tak terduga. Raja Bharata bahkan tidak sadar bahwa Raja Satria telah menusuk jantungnya hingga tembus ke belakang.


"Aaaaaaark..!"


Pria gagah itu limbung dan tubuhnya sudah basah oleh cairan merah itu. Dia tidak terima karena dikalahkan oleh pria yang terlihat lemah di matanya itu. Namun dia mulai kehilangan kesadarannya akibat kehilangan banyak darah.


"Bruukk!"


Tubuh Raja Bharata ambruk ke tanah. Darah menggenang di bawahnya, mengalir deras dan melebar bagaikan kolam berwarna merah.


Melihat Rajanya ambruk, prajurit Kerajaan Dewanata menjadi kocar-kacir. Beberapa orang pengikut setianya mengangkat tubuh pria itu dan membawanya pergi dengan kudanya.


"Hooooong...!"


Terompet dari cangkang keong laut ditiup. Seluruh pasukan Kerajaan Dewanata segera mundur. Mereka pergi ke perkemahan dan segera berkemas.


Sementara itu kondisi di istana sangat mengerikan. Mayat-mayat bergelimpangan dan amis darah memenuhi udara. Tembok dan gerbang istana telah hancur.


Meskipun kemenangan ini patut disyukuri, namun tetap saja menyisakan banyak kepedihan. Gugurnya para sahabat dan saudara sebangsa benar-benar memilukan hati.


Para prajurit yang tersisa saling bekerjasama menyingkirkan mayat-mayat dan berusaha memberikan penguburan yang layak. Mereka dimakamkan di pemakaman yang berada di belakang tembok istana.


*****.

__ADS_1


Jadukari Daalal Nath terbelalak melihat mayat Raja Bharata di atas punggung kuda. Pria berpenampilan aneh itu merasa murka. Raja yang didukungnya selama ini, terbunuh di tangan Raja bangsa Elfian.


"Bawalah jenazah Raja Bharata ke dalam tenda!" Perintahnya.


Dukun itu kemudian mengurung diri di dalam tenda bersama mayat Raja Bharata yang sudah membiru. Ditaburinya mayat itu dengan rempah-rempah dan bunga-bunga Marigold yang berwarna kuning tua. Seuntai kalung bunga juga dilingkarkan ke lehernya.


Dukun itu menenteng pedupaan di atas mayat Raja Bharata. Asap dupa yang pekat dengan wangi yang sangat menusuk itu, kini memenuhi tenda.


Jadukari Daalal Nath kemudian duduk bersila di depan mayat Raja Bharata. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit merapalkan mantera sihir.


Tera taamasha sab dekkenge


Mera dasa hua maange na paani


Kya hota hai ab dekkenge


Dekkenga tu na kal ka savera


Dukun itu terus membaca mantera tanpa jeda. Hingga senja berganti malam dan malam pun kembali menjadi pagi.


Karena tenda tempat bersemayam jenazah Raja Bharata tidak dibuka sampai pagi, sebagian besar sisa pasukannya pulang ke negeri asal mereka.


Hanya beberapa orang yang masih setia pada mendiang raja itu yang masih bertahan di depan tenda. Mereka ingin membawa jenazah itu kembali ke Kerajaan Dewanata untuk segera dilakukan upacara pemakaman kerajaan.


Namun, bahkan saat senja kembali datang pun, tenda Raja Bharata masih tertutup rapat.


Tengah malam, udara yang dingin terasa lebih dingin dari biasanya. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing bersahut-sahutan membuat bulu kuduk meremang.


"Hauuuuu....hauuuuu....!"


Prajurit yang masih berjaga di depan tenda merasa gelisah. Entah kenapa mereka merasa seakan ada firasat buruk yang akan terjadi.


Angin tiba-tiba berhembus kencang membuat debu-debu di sekitar tenda beterbangan. Tenda-tenda yang masih berdiri berguncang terkena terpaan angin.


Para prajurit itu terkesiap ketika melihat cahaya gaib berwarna kuning kemerahan laksana api, terbang melesat di angkasa. Selarik cahaya gaib itu terus melesat dengan kecepatan tinggi dan menukik tajam ke arah tenda.


Para prajurit yang ketakutan berlarian menyelamatkan diri, karena menduga bahwa cahaya itu adalah sebuah meteor yang jatuh.


Cahaya itu akhirnya benar-benar jatuh menghantam tenda. Namun tak ada suara dentuman yang terdengar, hanya ada kesunyian.


Para prajurit yang sekarang berada agak jauh dari tenda, melihat tenda itu menjadi terang benderang seakan terbakar. Namun tak ada asap maupun kobaran api.


Mereka merasa heran. Kejadian yang tidak bisa dicerna akal, terjadi tepat di hadapan mereka. Mereka hanya berdiri mematung dan memperhatikan dari kejauhan.


Sementara itu lolongan anjing semakin riuh dan bersahut-sahutan, seakan mengetahui ada hal ganjil dan mengerikan yang akan segera terjadi.


Di dalam tenda, dukun sakti itu masih bersila di depan mayat Raja Bharata yang sudah kaku. Cahaya gaib yang tiba-tiba datang menembus tenda itu, kini telah merasuk ke dalam tubuh Raja Bharata. Tubuh yang membeku itu kini bercahaya kekuningan laksana api.

__ADS_1


Jadukari Daalal Nath diam memperhatikan. Lelaki aneh itu menunggu dengan penuh harap. Mantera yang telah dia panjatkan dengan khusyuk telah didengar para dewa.


Tiba-tiba mata Raja Bharata terbuka. Pandangannya kosong tanpa jiwa. Mayat itu telah bangkit dari kematian!


__ADS_2