Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 156 Situasi Tak Terduga


__ADS_3

Serangan mendadak di tengah malam itu termasuk sukses. Prajurit-prajurit Dewanata berhasil ditekan mundur. Seluruh penghuni istana itu seolah dicengkeram suatu kekuatan yang melemahkan fisik dan mental sekaligus.


Oleh karenanya, jumlah pasukan Pangeran Awang yang hanya berjumlah beberapa ribu itu seolah berlipat-lipat jumlahnya sehingga prajurit-prajurit Dewanata terintimidasi.


"Katakan di mana sang puteri?" Suara Pangeran Awang bergaung di ruangan tempat dia menyekap Raja Badre dan Bagas. Dia marah sekali saat tidak menemukan Puteri Pertiwi.


"Dia sudah pergi. Meski kau bunuhpun aku tidak akan mengatakannya padamu. Aku tidak rela kalau kau sampai mengambil anakku."


"Tenang saja, keinginanmu untuk mati pasti kukabulkan. Tapi sebelum itu kau harus memberitahuku di mana Puteri Pertiwi berada."


"Cuih, tidak sudi." Raja Badre meludah ke arah Pangeran Awang.


"Huh, masih sombong juga kau rupanya." Pangeran Awang mengusap air ludah yang menempel di keningnya. "Kita lihat saja sampai kapan putrimu itu bisa bersembunyi."


Jadukari Daalal Nath yang dari tadi duduk bersila di pojokan tiba-tiba bangkit. Seringai mengerikan di wajahnya menandakan ada hal yang memuaskan hatinya.


"Saya sudah menemukan gadis itu, Yang Mulia." Ucapan dukun itu membuat Pangeran Awang luar biasa senang. Sedangkan wajah Raja Badre mendadak gelap.


"Jangan coba-coba kau dekati putriku, b*j***an!" Raja Badre melompat dan menerjang Pangeran Awang sehingga laki-laki berhati dingin itu terjengkang.


Kedua mata Pangeran Awang menggelap. Emosinya benar-benar memuncak karena perlakuan Raja Badre.


Jleb.


Tiba-tiba Pangeran Awang menghunuskan pedangnya ke pinggang Raja Badre. Raja Badre terkejut oleh sengatan rasa sakit yang tiba-tiba menderanya. Kedua mata Raja Badre basah dan merah karena menahan sakit yang tak tertahankan. Darah muncrat begitu Pangeran Awang mencabut pedangnya.


"Dasar biadab!" Teriak Bagas sambil mencoba menerjang Pangeran Awang. Namun tubuhnya segera ambruk begitu Jadukari Daalal Nath menepiskan tangan di udara.


Bruk!


Pemuda itu terjungkal dan kesulitan bangun lagi. Bukan hanya akibat jatuh tadi, tapi juga karena memang dari awal kedua tangannya terikat ke belakang.


"Baiklah, sudah saatnya aku pergi menjemput pengantinku." Pangeran Awang mengelap ujung pedangnya yang berlumuran darah dengan sehelai sapu tangan putih.


Bagas berteriak-teriak marah pada Pangeran Awang yang sama sekali tidak menghiraukannya. Pemuda itu kemudian beringsut mendekati Raja Badre yang duduk terkulai memegangi lukanya.


Pangeran Awang dan Jadukari Daalal Nath tidak lagi mau membuang waktu, mereka segera pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa penjaga berdiri di depan pintu. Namun ketika sampai di pelataran istana, ada sesuatu yang membuat bola mata mereka membelalak.


Prajurit-prajurit bayaran mereka yang tadinya sudah berhasil melumpuhkan prajurit Dewanata, kini terdesak mundur oleh gelombang serbuan prajurit-prajurit berbendera Alsatia dan Watu Ijo.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" Pangeran Awang mendadak gusar. Apalagi ketika dilihatnya Raja Gaurav yang memimpin prajurit-prajurit dari kedua kerajaan itu.


Pangeran Awang tentu saja tidak menyangka akan kedatangan Raja Gaurav dan pasukannya. Dia mulai curiga apakah kebusukannya di Alsatia sudah terbongkar.


"Jadukari, orang-orang itu sangat berbahaya dan bisa mengacaukan rencanaku. Bawalah aku ke tempat Puteri Pertiwi berada. Setelah menikah dengannya, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan karena akulah yang akan menaiki tahta."


"Baik Yang Mulia." Dukun itu mengangguk. Lalu dia memejamkan mata sambil merapal mantera.


Mendadak dari berbagai penjuru, asap tipis datang dan semakin tebal melingkupi keduanya. Seakan asap dupa yang tadi disebarkan dukun itu kini ditarik kembali.


Bau dupa menyengat hidung dan membuat Pangeran Awang merasa pening. Asap itu bahkan kini masuk ke dalam hidungnya dan menyusup ke paru-parunya sehingga membuatnya sesak napas.


Namun perlahan-lahan asap itu menipis, begitu juga paru-paru Pangeran Awang juga semakin longgar. Ketika pernapasannya sudah stabil, dia dikejutkan lagi dengan pemandangan aneh yang baru kali ini disaksikannya.


Mereka seakan sedang berjalan menembus tembok-tembok istana dan melewati kebun-kebun dan hutan-hutan. Tubuh Pangeran Awang terasa seringan bulu dan seolah ditarik ke suatu tempat.


Bisa dilihatnya alur sungai yang berbelok-belok. Kakinya yang tidak bergerak seakan menembus air sungai yang berkilauan tertimpa sinar matahari.

__ADS_1


"Di mana kita?" Tanya Pangeran Awang tanpa mampu membuka mulutnya. Meski begitu, dukun sakti di sebelahnya seakan memahami perkataannya.


"Kita sedang menembus ruang dan waktu menuju tempat Puteri Pertiwi berada." Suara Jadukari Daalal Nath menembus pikirannya.


Tak berapa lama mereka sudah menembus hutan dimana sebuah kuil kuno tempat sang puteri bersembunyi. Kedatangan mereka sama sekali tak terdeteksi. Prajurit-prajurit yang berjaga bahkan tidak menyadari bahwa ada dua orang penyusup yang melewati penjagaan mereka begitu saja.


"Rupanya kau ada di sini." Gumam Pangeran Awang ketika melihat seorang gadis sedang bersimpuh di depan patung dewa.


*****


Eshwar yang terbangun saat mendengar deru pertempuran segera berlari ke luar. Dia mencari-cari Eldrige tapi tidak menemukannya. Pemuda itu kemudian berjalan mengendap-endap mengamati keadaan.


Seluruh istana porak-poranda. Di kuil istana, mayat-mayat para dukun bergelimpangan. Suasana sungguh mencekam. Keadaan yang sangat jauh berbeda dari sebelum dia tertidur. Dia menjadi cemas karena tidak tahu apa yang sudah dilewatkannya.


"Tuan Eldrige ada di mana?" Eshwar terus berjalan dengan hati-hati.


Sempat dilihatnya pertempuran di halaman istana. Dia segera melihat Eldrige yang terlihat paling mencolok. Pria itu sedang bertempur melawan beberapa prajurit bayaran.


Eshwar ingin sekali membantu tuannya namun dia sama sekali tidak memiliki bekal ilmu bela diri. Akhirnya dia hanya bisa membantu doa agar Eldrige selamat. Memperhatikan pria jangkung itu mengayunkan pedang dengan gesit, timbul rasa bangga di hatinya. Tuannya ternyata memang seorang ksatria.


Namun begitu pikiran itu muncul, perasaan malu karena dirinya tidak berguna muncul juga. Akhirnya Eshwar kembali menyusuri istana, berusaha mencari cara kalau-kalau dia bisa melakukan sesuatu yang berguna.


Tibalah dia di sebuah tempat dimana beberapa penjaga bersiaga di depan pintu. Dia penasaran dengan ruangan itu. Melihat pakaian penjaga bukanlah seragam prajurit Dewanata, maka dia berasumsi bahwa mereka adalah pihak musuh. Pemuda itu memutar otak agar bisa masuk ke ruangan itu.


Akhirnya dia pergi ke dapur istana. Di sana keadaan agak tenang. Dia segera membongkar persediaan makanan dan menemukan sisa-sisa kue hidangan semalam. Diambilnya satu untuk dicicipi.


"Masih enak." Gumamnya sambil mencomot satu lagi dan memakannya. Entah kenapa, dihadapan makanan yang enak-enak itu perutnya menjadi lapar.


Setelah menghabiskan beberapa potong kue, Eshwar menaruh kue-kue itu di atas nampan. Lalu dia mencari-cari ke kolong-kolong meja dan menemukan perangkap tikus.


Ada sejumput serbuk putih mirip keju parut di perangkap itu. Eshwar tersenyum melihat benda yang dicarinya. Bubuk itu adalah zehar, racun yang biasa digunakan untuk membasmi tikus.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Seorang penjaga bertanya dengan suara keras begitu Eshwar mendekat.


"Saya...disuruh mengantarkan makanan untuk Tuan-Tuan." Jawabnya dengan dada berdebar.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya penjaga itu tadi.


"Saya di suruh..Yang Mulia." Jawab Eshwar agak ragu karena dia tidak tahu siapa majikan mereka.


"Hahaha.. Bagus sekali kau sudah menganggap Pangeran Awang sebagai rajamu." Penjaga itu tertawa senang.


"Ayo kita nikmati makanan pemberian Yang Mulia." Para penjaga yang berjumlah empat orang itu segera mengambil kue-kue yang dibawa Eshwar.


"Lezat sekali. Ini pasti makanan yang biasa disantap para bangsawan." Penjaga-penjaga itu mengunyah dan menelan kue-kue itu tanpa curiga. Karena rasanya yang enak, mereka mengambil lagi kue-kue itu sampai nampan itu kosong.


Tiba-tiba salah seorang dari mereka mulai mengernyit sambil memegangi lehernya.


"Akkk.." Penjaga itu terpekik seolah lehernya sedang dicekik. Tubuhnya kemudian ambruk dan kelojotan. Busa keluar dari mulutnya.


Melihat hal itu ketiga penjaga lainnya langsung melemparkan kue yang mereka pegang dan memuntahkan sisa kue yang mereka makan.


"Kurang ajar, apa kau meracuni kami?" Salah satu dari mereka berteriak sambil melotot ke arah Eshwar.


Eshwar bergidik ngeri di hadapan ketiga penjaga yang marah itu. Dia bergerak mundur dan berusaha mencari celah untuk kabur. Tubuhnya gemetar.


Plak!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eshwar sampai nampan yang dibawanya jatuh. Pipinya rasanya panas dan perih.


"Akan kubunuh kau!" Ketiga prajurit itu mendatangi Eshwar dengan n**su membunuh.


Eshwar yang terkepung merasa bahwa riwayatnya telah tamat. Disesalinya keputusan konyol untuk meracuni penjaga-penjaga itu.


Ketika mereka bergerak menyerang Eshwar, mendadak kerongkongan mereka terasa terbakar. Secara bersamaan ketiga orang itu memegangi leher. Tenggorokan mereka tercekat sampai air mata berlinang di sudut mata. Tak lama kemudian dari mulut mereka keluar busa.


Tubuh-tubuh para penjaga itu jatuh sambil kelojotan. Nyawa mereka seakan sedang ditarik paksa keluar dari tubuh.


Eshwar menggigil melihat pemandangan mengerikan itu, terlebih karena menyadari bahwa itu semua hasil perbuatannya. Hari ini adalah pertama kalinya dia membunuh seseorang. Pastilah hal ini akan menghantuinya seumur hidup.


"Maafkan aku." Ucap Eshwar di hadapan keempat korbannya.


Setelah beberapa waktu, dia memberanikan diri melangkah diantara mayat-mayat itu dan membuka pintu ruangan di depannya.


Dia terperanjat begitu melihat Bagas sedang duduk menangisi seseorang yang berpakaian seperti pembesar.


"Tuan?" Panggil Eshwar dari depan pintu.


Bagas mendongak dengan wajah kusut dan basah. Eshwar segera berlari menghampiri.


"Tuan, ada apa ini?" Tanya Eshwar lagi.


"Dia adalah Raja Badre." Kata Bagas lirih.


Mendengar hal itu Eshwar sangat terkejut. Rupanya penjaga-penjaga yang telah dibunuhnya tadi menyekap rajanya.


Eshwar segera membuka tali yang mengikat Bagas. Setelah terbebas, Bagas segera mendekati Raja Badre dan membuka ikatannya. Dengan pengetahuannya, Bagas memeriksa denyut nadi Raja Badre.


"Raja Badre masih hidup." Ujarnya yang membuat Eshwar bisa bernapas lega.


"Bantu aku mengobati luka Raja Badre. Tolong carikan kain untuk membebat lukanya." Pinta Bagas pada Eshwar.


Eshwar segera mencari-cari kain di ruangan itu dan menemukan sebuah kain penutup kepala berbahan sutra. Dia segera memberikannya kepada Bagas.


Saat itu Bagas sedang memeriksa luka Raja Badre dan membubuhkan obat yang selalu dibawanya di selipan bajunya. Dengan bantuan Eshwar, Bagas membebat luka Raja Badre.


"Hanya ini yang bisa kulakukan saat ini. Tolong rebuslah ramuan ini dengan lima gelas air sampai airnya menyusut menjadi satu gelas. Obat ini berguna untuk menghentikan pendarahan dan mengeringkan luka." Bagas memberi Eshwar sebungkus ramuan obat.


"Baik." Eshwar langsung bergegas ke dapur melaksanakan perintah Bagas.


"Ba..gas." Tiba-tiba Raja Badre yang sejak tadi pingsan mulai siuman.


"Pelan-pelan Yang Mulia." Bagas membantu Raja Badre duduk.


"Cepat susul putriku." Raja Badre dengan susah payah berusaha bicara.


"Dia.. ada di kuil tua di hutan Tulsi. Cepat..susul dia sebelum.. dukun jahat itu menemukannya." Suara Raja Badre begitu lemah.


"Jangan khawatir Yang Mulia. Saya akan membawa kembali Puteri Pertiwi bagaimanapun caranya." Bagas memandang Raja Badre dengan sungguh-sungguh.


Tak lama kemudian Eshwar datang membawa gelas berisi ramuan obat.


"Tolong minumkan obat itu pada Raja Badre. Aku ada keperluan mendesak. Jagalah rajamu ini dengan nyawamu!" Bagas berkata pada Eshwar yang langsung membuat jantung kusir kereta itu berdebar karena bersemangat.


"Baik Tuan. Jangan khawatir. Saya akan menjaga Raja Badre dengan taruhan nyawa." Jawab Eshwar.

__ADS_1


Bagas kemudian membungkuk hormat pada Raja Badre, lalu melangkah pergi.


__ADS_2