
Eldrige menyeret tubuh Nicolae dan menaikkannya ke punggung kuda. Setelah mengikatnya dengan erat, dia memacu kudanya dengan kencang menuju istana.
Saat berada di jalanan menuju perbatasan Kerajaan Alsatia, tiba-tiba seberkas sinar biru berkelebat di depannya. Kuda yang dinaiki Eldrige meringkik ketakutan.
"Hiiiih.. hiiiih.. ! " Kaki depan kuda itu naik ke atas dan menendang-nendang udara.
Eldrige menarik tali kekang untuk menenangkan binatang itu. Kedua telinga kuda itu bergerak-gerak dan bola matanya memandang gelisah.
Bruk.
Muatan di belakang Eldrige terlempar dan jatuh ke tanah.
"Awww, yang benar saja! " Suara teriakan Nicolae terdengar. Pemuda itu merasakan pantatnya sakit karena mendarat dengan keras di atas tanah berbatu.
"Apa yang kau lakukan? " Eldrige memandang ke depan dengan geram.
"Kau sudah melewati batas, Eldrige! Aku sudah melapor pada Ratu Malea, dan kau akan segera dipanggil untuk menghadap! " Nona Sekar berdiri dengan anggun di tengah jalan.
"Kenapa kau melakukan itu, Sekar? "
"Kau menggunakan lubang dimensi tanpa izin. Lalu sekarang kau malah mau membawa Daemonie itu ke pengadilan? "
"Dia akan bersaksi untuk membela Puteri Juwita. "
"Apa kau bercanda? Dia adalah makhluk biadab yang suka berbohong. Dia juga seorang buronan yang melarikan diri dari penjara. "
"Dia tidak akan berani berbohong kali ini, aku akan memastikannya." Jawab Eldrige dari atas punggung kudanya.
"Kalau kau membawanya untuk bersaksi, berarti kau akan membuat dua kerajaan bertikai. Alsatia akan menganggap Elfian bekerjasama dengan bangsa Daemonie." Ucapan Nona Sekar bernada serius.
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Jika ingin persidangan yang adil, Alsatia harus mau mendengar kesaksian dari dua sisi. "
"Pengadilan sudah memutuskan, Eldrige. Kita harus menghormati apapun keputusannya."
"Tapi itu tidak benar, Sekar. "
"Kenapa kau begitu memaksa, Eldrige? Tugasmu sebagai seorang Guardian kelihatannya harus dipertanyakan. Kau terlihat terlalu dekat dengan Puteri Juwita."
"Aku memang sudah dekat dengannya sejak dulu. Melindunginya adalah tugasku. "
"Tapi sepertinya perasaanmu mulai goyah, Eldrige. Apa kau jatuh cinta padanya? "
"Ha, sudah kuduga! " Suara Nicolae terdengar, namun dia diabaikan. Seolah dia makhluk tak kasat mata.
Eldrige menatap tajam ke arah Nona Sekar, "Mengenai perasaanku, itu bukan urusanmu! "
"Kau akan kehilangan hak istimewamu, Eldrige. Apa kau siap melepaskan kehidupan abadimu untuk menjadi makhluk fana? " Tanya Nona Sekar bersungguh-sungguh.
"Mengenai pilihanku, itu juga bukan urusanmu!"
"Eldrige, aku mengagumimu sejak lama. Bahkan sejak aku kecil, saat pertama kali kita bertemu. Kau adalah panutan bagi bangsa peri. Tentu saja hal ini akan mengecewakan semua orang yang mengandalkanmu."
"Aku tidak pernah berharap untuk menjadi panutan. Aku hanya menjalankan tugasku."
"Tapi kau telah menyalahi tugasmu. Kau bahkan telah dikuasai hawa nafsu! "
Wajah Eldrige tampak terkejut. Dia tidak bisa menduga ke arah mana pembicaraan wanita itu.
"Apa yang kau bicarakan? "
"Gadis itu telah membangkitkan hasrat menjijikkan dalam dirimu. Hasrat yang hanya dimiliki oleh binatang dan makhluk rendahan lainnya." Kemarahan wanita itu meluap-luap.
"Kau mengintipku? " Tanya Eldrige curiga.
Semburat warna merah menjalari wajah Nona Sekar. Dia merasa malu dengan kosakata yang dipilih Eldrige untuk menggambarkan perbuatannya.
"Aku tidak mengintipmu, aku hanya kebetulan memergoki perbuatan memalukan kalian."
"Hahaha.. ternyata ada skandal juga dalam bangsa peri. Eldrige, kau benar-benar nakal! " Ejek Nicolae.
Plak!
Cahaya biru tiba-tiba menampar Nicolae, tubuh pemuda itu berguling-guling di tanah.
__ADS_1
"Lancang sekali mulutmu, makhluk rendahan! " Umpat Nona Sekar. Dia tidak terima mendengar Nicolae mengejek Eldrige.
"Kau kejam sekali! Pantas saja laki-laki itu lebih menyukai Juwita. Dia gadis yang sangat lembut dan berbelas kasih." Omel Nicolae.
Nona Sekar sudah mengangkat tangannya untuk kembali menampar Nicolae, namun Eldrige segera menghentikannya.
"Kau tidak perlu menyerang dia lagi, Sekar! "
"Kita sedang dalam keadaan perang, Eldrige. Jika kau terus seperti ini, perlahan-lahan kekuatanmu akan memudar. Dan jika hal itu terjadi, sanggupkah kau menerima konsekuensinya? "
"Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Waktuku tidak banyak." Eldrige melompat dari kudanya dan berjalan mendekati Nicolae. Namun saat dia akan mengangkat tubuh Nicolae, mendadak tubuhnya lemas dan gemetar.
"Ah! " Seru Eldrige kaget. Dia belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Ada apa, Eldrige? " Buru-buru Nona Sekar mendekati Eldrige karena mencemaskannya. Namun saat wanita itu akan menyentuhnya tiba-tiba Eldrige mengangkat tangannya.
"Pergilah! " Tolak Eldrige.
Raut kecewa terpancar jelas di wajah Nona Sekar. Dadanya bergemuruh dan kedua telapak tangannya terkepal erat.
Dia berdiri di tempatnya dan hanya diam memperhatikan Eldrige mengangkat tubuh Nicolae dan menempatkannya di atas punggung kuda.
Tanpa melihat ke arah Nona Sekar, Eldrige kembali memacu kudanya.
*****
Ratu Gita ambruk ketika berita itu sampai ke telinganya. Rupanya firasatnya selama ini benar. Ada hal buruk yang menimpa putrinya.
"Apakah kabar itu bisa dipertanggung jawabkan? " Ratu Gita memandang Faye dengan bibir gemetar.
"Saya bisa memastikan bahwa berita itu benar, Yang Mulia. "
"Ah! Kenapa jadi seperti ini? Seharusnya Juwita tidak kuizinkan untuk pergi ke Alsatia. Bodohnya aku sebagai seorang ibu yang tidak bisa melindungi anaknya! " Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil memukuli dadanya sendiri.
"Yang Mulia, saya mohon tenanglah. Ingatlah janin yang berada dalam kandungan." Esme berjongkok di sebelah Ratu Gita dan mengelus lengannya.
"Huhuhu.. Juwita! " Air mata terus bercucuran membasahi wajahnya dan kepalanya menggeleng-geleng.
"Cepat panggil tabib! " Esme menyuruh seorang pelayan.
"Kenapa tidak ada yang memberitahu lebih awal? Di mana Eldrige? Dia berjanji akan menjaga Juwita. Lalu Sekar, bukankah dia selalu berada di dekat Juwita? " Ratu Gita terus berbicara tanpa henti.
Tabib Albus datang dan segera memberi minuman untuk menenangkan ratu. Tabib tua itu khawatir jika terjadi sesuatu dengan kandungan wanita itu.
Perlahan-lahan tubuh Ratu Gita semakin rileks. Namun air mata masih mengalir deras.
"Kapan eksekusinya? " Suara Ratu Gita serak dan tersendat-sendat.
"Sore ini. " Jawab Faye.
Tiba-tiba Ratu Gita tidak sadarkan diri. Beban di dadanya terlalu berat untuk dipikulnya seorang diri.
*****
Eldrige terus memacu kudanya dengan kencang. Tidak perduli apapun di depannya, dia dengan nekat menerjangnya.
Matahari mulai condong ke arah barat, eksekusi mati akan segera dilaksanakan. Eldrige memacu kudanya ke arah bukit di belakang istana.
Di sekitar bukit telah berkumpul ratusan orang yang ingin menyaksikan jalannya eksekusi Puteri Juwita. Sebuah tiang gantungan telah berdiri dan siap untuk digunakan.
Eldrige turun dari kudanya dan menyeret Nicolae. Pemuda itu berjalan tertatih-tatih dengan tubuh terikat.
"Aku juga tidak rela Juwita diperlakukan seperti ini. " Teriak Nicolae di tengah kebisingan yang mengelilingi mereka.
"Ini semua kaulah penyebabnya. " Kata Eldrige sambil menyentak tali yang mengikat tubuh Nicolae dan menyebabkan pemuda itu mengaduh.
Mereka terus berjalan maju melewati tubuh-tubuh yang berjejal. Beberapa orang mengumpat karena tubuhnya terdorong oleh Eldrige dan Nicolae, namun mereka berdua hanya bersikap tak acuh dan terus menyibak kerumunan.
Sesampainya di ujung kerumunan, terlihat seorang algojo berbadan kekar yang mengenakan penutup kepala telah berdiri siap di dekat tiang.
Tak lama kemudian rombongan prajurit yang membawa Puteri Juwita datang. Gadis itu berpakaian serba putih dan rambut peraknya tergerai lurus di punggungnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun Eldrige dapat menangkap kesedihan di kedua matanya.
"Hu.. Hu.. Pembunuh! " Kerumunan orang-orang itu mulai berteriak-teriak marah.
__ADS_1
Beberapa orang melempar telur dan tomat busuk ke arah gadis itu ketika dia mulai melangkah menaiki panggung kayu. Gaunnya yang putih kini kotor dan bau.
"Hentikan! " Teriak Eldrige, namun suaranya tenggelam di antara gemuruh cacian orang-orang itu.
Eldrige berusaha menemui pejabat yang ikut menyaksikan eksekusi itu, namun mereka semua menolak untuk menemuinya. Pangeran Ryota tampak duduk di sebelah Pangeran Awang yang berwajah dingin.
Berbeda dengan Pangeran Awang tenang, Pangeran Ryota justru terlihat gelisah. Wajahnya tegang, dia bahkan sama sekali tidak berani menatap ke arah Puteri Juwita yang telah berdiri di depan tali yang ujungnya membentuk lingkaran.
Eldrige muak melihat kedua orang itu. Dia merasa bahwa mereka telah melakukan sesuatu di belakang semua orang.
"Di mana Raja Satria? " Tanya Eldrige pada salah satu prajurit.
"Raja Satria tidak diizinkan untuk mengikuti jalannya eksekusi. Dia di kurung sementara di istana agar tidak mengganggu. "
"Apa? " Eldrige tidak menyangka kalau mereka akan berbuat sejauh itu.
Kerumunan orang-orang itu semakin merangsek ke depan sehingga prajurit-prajurit di kerahkan untuk menghalangi orang-orang itu supaya tidak semakin mendekati tiang gantungan.
Drrrrrum!
Genderang di tabuh saat Pangeran Awang menggerakkan tangannya ke atas. Itu sebuah kode bahwa eksekusi akan dilaksanakan sekarang.
Puteri Juwita melihat Eldrige yang berada di antara kerumunan orang-orang. Gadis itu memandangnya untuk terakhir kalinya sebelum selembar kain diikat untuk menutupi matanya. Sesaat pandangan mereka terkunci. Sebentar lagi jurang kematian akan memisahkan mereka untuk selamanya.
"Aku mencintaimu Eldrige." Suara lirih gadis itu tertangkap telinga Eldrige. Hati pria itu seakan dicabik-cabik.
Tangan algojo mengalungkan tali ke kepala Puteri Juwita kemudian memeriksanya sebentar. Setelah memastikan tali itu sudah pas melingkari leher gadis itu, algojo itu kembali berdiri di tempatnya tadi untuk menunggu aba-aba.
"Laksanakan! " Sebuah perintah terdengar.
Pria kekar itu segera menarik tuas yang ada di depannya. Mendadak lantai kayu yang menjadi pijakan kaki gadis itu terbuka dan tubuh Puteri Juwita meluncur ke bawah. Namun tubuh itu kemudian tertahan karena tali yang menjerat lehernya.
"Aaaaa! " Teriakan kaget menggema dari orang-orang yang berkumpul.
Tubuh Puteri Juwita menggantung dengan seutas tali di lehernya. Kaki gadis itu bergerak menendang-nendang karena rasa sakit yang tak tertahankan. Napasnya kini mulai sesak dan paru-parunya serasa diremas.
Sssiiing.. Bruk!
Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan memutus tali gantungan. Tubuh Puteri Juwita yang tadi menggelepar di udara kini jatuh ke dalam lubang di bawah tiang gantungan.
"Haaaah?" Semua orang melongo menyaksikan peristiwa itu.
Tiba-tiba Eldrige melompat melewati para prajurit dengan gerakan cepat, lalu tubuhnya berputar di udara dan mendarat di dalam lubang tempat Puteri Juwita berada.
Pria itu kemudian mengangkat tubuh Puteri Juwita yang sedang pingsan dan membopongnya. Tanpa menunggu lama, Eldrige segera melompat kembali ke atas dengan berpijak pada panggung kayu.
Duk.. duk.. duk..
"Aww! Aww! "
Sambil membawa tubuh Puteri Juwita, Eldrige berlompatan menginjak-injak kepala orang-orang yang berkerumun.
"Hentikan dia! " Teriak seseorang.
Para prajurit segera mengejar Eldrige. Namun pria itu sudah melompat ke atas punggung kuda dan memacunya dengan kencang. Kuda itu berlari sangat cepat seperti kesetanan.
Suara derap kaki kuda terdengar ramai di belakang. Prajurit-prajurit Alsatia kini mengejar mereka.
Tangan kiri Eldrige memeluk tubuh Puteri Juwita yang bersandar di dadanya, sedang tangan kirinya memegang tali kekang.
Drap.. drap.. drap..
Kuda yang mereka tunggangi kini mulai memasuki hutan. Jalanan mulai gelap karena matahari sore sulit menembus lebatnya pepohonan.
Kuda itu terus berlari kencang melewati cabang-cabang pohon yang menjulur dari kedua sisi.
Tiba-tiba kuda itu meringkik karena mendadak jalan di depan mereka berakhir. Jurang terlihat menganga lebar di hadapan mereka dan Eldrige terlambat menyadarinya.
Swiiiing..
Karena tak sempat menarik tali kekang, kuda itu melompat di udara. Seluruh tubuh mereka seakan tersedot oleh daya gravitasi. Tubuh kuda itu meluncur ke bawah, begitu juga tubuh Eldrige dan Puteri Juwita.
Para prajurit yang mengejar mereka berhenti di bibir jurang menyaksikan tubuh mereka terjun ke dasar jurang yang gelap.
__ADS_1
Matahari semakin redup. Berkas cahaya jingga yang membentang di cakrawala semakin menyusut. Saat langit menjadi benar-benar telah gelap, prajurit-prajurit itu pergi.