Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 155 Mengambil Alih Istana


__ADS_3

Eldrige masih belum tidur ketika mendengar keributan di luar. Dia segera ke luar meninggalkan Eshwar yang sudah terlelap sejak tadi.


Ketika dia berada di koridor, asap dupa seakan mengepung di segala penjuru. Ini bukan sekedar asap dupa, tapi ada energi lain yang mengikutinya. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menebarkan jaringnya ke seluruh penjuru istana dan memerangkapnya.


Eldrige yakin ini perbuatan dukun yang dibawa Pangeran Awang. Setelah dua kali bersinggungan dengan kekuatan dukun itu, Eldrige merasa tidak asing lagi. Energi yang dirasakannya mengingatkannya pada peristiwa belasan tahun yang lalu ketika Raja Bharata menyerang Kerajaan Elfian.


Saat itu sebagai peri pun dia tidak sanggup melawan kekuatan dukun itu. Kalau saja Ratu Malea tidak menolongnya, mungkin dia sudah menjadi gila.


"Apa yang harus aku lakukan?" Hati Eldrige bimbang.


Orang-orang mulai keluar dan berlarian panik. Mereka terbatuk-batuk dan merasa pusing akibat asap dupa itu. Namun itu malah membuat naluri mereka mendesak untuk cepat-cepat keluar dari istana.


Di luar sana, pertarungan sengit masih berlangsung. Para penghuni istana yang merasa memiliki kemampuan bertarung segera bergabung bersama para prajurit, termasuk Eldrige.


Prajurit-prajurit Kerajaan Dewanata sudah banyak yang gugur. Seorang pemimpin pasukan memerintahkan sebagian anak buahnya untuk melindungi anggota kerajaan. Hal itu tentu saja melegakan Eldrige. Puteri Juwita termasuk anggota kerajaan, jadi gadis itu pun masuk dalam perlindungan para prajurit.


Trang..trang..


Bugh..bugh..


Pertempuran berlangsung sengit. Suara pedang-pedang yang saling beradu diiringi teriakan-teriakan mengerikan menggema di seantero istana.


Di hadapan Eldrige kini ada tiga orang bertampang menyeramkan yang mengeroyoknya. Kemampuan bertarung mereka cukup tinggi dan kini mengurung Eldrige dengan membentuk formasi segitiga.


Seorang bertubuh tinggi yang hampir menyamai Eldrige dengan kepala botak akibat kerontokan, membentak keras dan menyerang dengan pedangnya. Rupanya dialah pemimpin trio itu, karena itulah dia yang lebih dulu menyerang dan mendominasi serangan.


Gerakannya cepat dan sangat kuat, pedangnya berkelebat ke arah leher Eldrige dari samping kiri. Menyusul gerakannya ini, temannya yang berada di depan Eldrige telah menyerang dengan tusukan pedang ke arah perut.


Orang ke tiga segera menyusul. Pedangnya menyambar dan membabat ke arah kaki Eldrige. Begitulah serangan beruntun dan bertubi-tubi menghujani Eldrige ke arah leher, perut dan kakinya.


Karena sudah terbiasa menghadapi pertempuran, Eldrige tidak merasa gentar sama sekali menghadapi sambaran pedang yang berturut-turut. Dia menggerakkan pedangnya dan dengan lincah menangkis serangan di leher. Kakinya menendang pedang yang menyasar perut. Kemudian dia melompat untuk menghindari sambaran pedang di kakinya.


Dari atas, Eldrige sudah menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah puncak kepala si botak sambil memukul dengan tangan kiri ke arah orang di depannya. Sedang kakinya menendang orang yang menyerang tubuh bagian bawahnya. Dia bergerak sangat cepat mengirimkan serangan ke arah ketiga lawannya.


Namun ketiga lawannya itupun tak kalah gesitnya menghindari serangan Eldrige. Mereka kemudian menyerang kembali dengan kompak saat Eldrige kembali turun. Rupanya ketiga orang itu cukup gigih dan tangguh.


Pertempuran itu berlangsung cukup lama dan itu membuat Eldrige bosan. Dia ingin segera mengakhirinya.


"Hyaaa.." Teriak Eldrige.


Ketiga orang itu terkejut ketika secara tiba-tiba Eldrige melakukan gerakan berputar yang sangat cepat. Pukulan-pukulan dari tangan kirinya menyerang mereka secara bertubi-tubi seperti meriam. Tubuh ketiganya terhantam mundur.


Dengan tubuh sempoyongan mereka berusaha kembali menyerang Eldrige, namun tentu saja hal itu adalah perbuatan yang sia-sia karena detik selanjutnya pedang-pedang mereka terpental dan jatuh ke tanah karena terkena sabetan pedang Eldrige.

__ADS_1


Ketiga orang itu tersungkur sambil memuntahkan darah. Rupanya saat menjatuhkan pedang lawan, Eldrige juga mengirimkan pukulan tangan kirinya ke tubuh mereka.


Untuk mencegah ketiga orang itu memulihkan diri dan kembali bergabung dalam pertempuran, Eldrige menendang mereka hingga pingsan.


*****


Di situasi genting ini, Puteri Juwita dan Ningrum bergabung dengan keluarga kerajaan. Penjagaan terhadap mereka diperketat, jumlah pengawalpun ditambah.


Kini mereka dilarikan ke tempat persembunyian yang aman melalui lorong rahasia di kamar Raja Badre. Sedangkan sang raja sendiri ikut dalam pertempuran melawan para penyerang bersama prajurit-prajuritnya.


Entah berapa kali dalam ingatan Puteri Juwita dia mengalami situasi mencekam seperti ini. Mau tidak mau kenangannya melayang pada saat dia melarikan diri bersama Ratu Akemi dan kedua anaknya ke padang rumput Masserjarvi. Kenangan yang mengerikan.


Sambil berusaha menarik napas untuk melegakan dadanya yang terasa terhimpit, entah akibat kenangan itu atau karena asap dupa yang anehnya ikut menyusup ke lorong yang mereka lalui, Puteri Juwita berusaha berjalan cepat agar tidak tertinggal di belakang.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Ningrum ketika gadis itu akhirnya menyusulnya.


"Iya. Hanya sedikit sesak napas." Jawab Puteri Juwita.


"Ayo berjalan bersamaku." Tangan Ningrum memeluk lengan sahabatnya dan berusaha menopang tubuh yang gemetaran itu.


Sebenarnya gadis bertubuh agak gemuk itupun merasa takut. Kejadian penculikan saat mereka sekolahpun kembali terbayang. Namun dia harus tegar supaya bisa menyalurkan kekuatannya pada Puteri Juwita.


Ketika sampai di ujung lorong, mereka di arahkan pada jalan setapak di tengah-tengah kebun. Di depan sana siluet bukit yang terletak di belakang istana tampak besar dan gelap.


"Kita naik perahu bersama-sama." Puteri Pertiwi mengajak kedua gadis itu bergabung dengannya dan Nenek Divya. Dua orang prajurit ikut naik ke perahu mereka sedang sisanya mengikuti di perahu lainnya.


Puteri Juwita duduk sambil berpegangan erat pada Ningrum. Matanya mencoba memindai sekitar yang hanya diliputi kegelapan.


Perahu meluncur cepat membelah aliran sungai. Siluet pepohonan dan batu-batu terlewati dengan cepat. Di belakang mereka, langit terlihat merah merekah. Asap hitam membumbung seperti gumpalan awan mendung. Ibukota tenggelam dalam lautan api.


Di dalam perahu semua orang terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Rasa heran dan takut berkumpul menjadi satu. Hingga saat langit di ufuk timur mulai terang, mereka tetap diam.


Salah seorang prajurit menghentikan perahu saat mereka tiba di sebuah hutan. Tepian sungainya tampak seperti pesisir pantai yang berpasir. Setelah memastikan semua orang turun, kedua prajurit menyeret perahu ke daratan dan menyembunyikannya di dalam semak-semak.


Mereka masuk ke dalam hutan. Ada bekas jalan setapak yang kini ditutupi rerumputan dan belukar. Namun karena hari sudah siang, jalan setapak itu masih bisa dilihat.


Rombongan itu terus masuk lebih jauh ke dalam hutan. Selang berapa lama di dalam hutan itu melihat puncak bangunan kuil yang menyembul diantara dedaunan. Tak lama kemudian mereka segera melihat keseluruhan bentuk bangunan kuil itu.


Kuil yang dibangun dengan batu bata dan kapur itu menjulang di tengah hutan. Daun-daun berserakan di halaman yang dipenuhi rumput liar. Daun-daun itu juga menyebar di lantai kuil yang depannya berundak-undak.


Beberapa prajurit mulai membersihkan tempat itu. Setelah itu keempat anggota kerajaan ditambah Ningrum dipersilakan istirahat di dalam. Mereka beristirahat di atas lantai kuil yang digelari kain. Sebuah patung dewa berdiri gagah di tengah ruangan, menjaga segala makhluk yang berlindung di kuilnya.


"Untuk sementara kita akan bertahan di sini. Kita beri kesempatan pada anakku untuk mempertahankan istana tanpa dibebani pikiran tentang keselamatan kita." Ucap Nenek Divya.

__ADS_1


Ketiga gadis itu mengangguk. Rasa lelah mendera mereka. Tanpa sadar ketiganya tertidur.


*****


Di istana, pertempuran belum selesai. Para penyerang sudah merambah ke dalam istana. Bahkan Raja Badre kini sudah tertawan, dia dipaksa duduk berlutut. Pria itu kini memandang sengit pada seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Seharusnya kudengarkan putriku saat mengatakan tidak menyukaimu." Ucap Raja Badre.


"Tidak masalah, Yang Mulia. Pernikahanku dengan putrimu akan tetap terjadi meski kalian menolak. Aku sudah ditakdirkan untuk menggantikanmu memimpin negeri ini." Pangeran Awang tersenyum mengejek.


"Kau sudah gila. Aku heran dari mana kau dapatkan rasa percaya diri itu mengingat kedudukanmu yang tidak penting itu."


"Tidak penting? Sekarang akulah penguasa Alsatia, dan sebentar lagi aku juga naik tahta sebagai penguasa Dewanata setelah...menikahi putrimu, tentu saja." Ucapan Pangeran Awang membuat Raja Badre berang. Tubuhnya yang terikat berusaha memberontak untuk memukul Pangeran Awang yang lancang itu.


"Sayang sekali, Ayah Mertua. Mungkin kau tidak akan sempat menyaksikan pernikahan kami yang disaksikan para dewa. Namun jangan khawatir keturunan dewa yang mengalir dalam darah kalian akan tetap berlanjut saat Puteri Pertiwi melahirkan anak-anakku kelak." Pangeran Awang tertawa kencang.


"Kurang Ajar. Tubuhmu yang kotor dan berlumuran darah itu tidak pantas menyentuh putriku meski seujung kukupun!" Teriak Raja Badre kalap.


"Hahaha..Teruslah menyangkal. Nyatanya dewa-dewa merestuinya."


Pangeran Awang sangat senang menyaksikan pemimpin Kerajaan Dewanata itu tersiksa. Siksaan fisik mungkin tidak akan berpengaruh padanya, namun pikirannya didera ketakutan jika putrinya berhasil diambil paksa oleh Pangeran Awang yang biadab itu.


Brak!


Saat itulah seorang pemuda yang semalam baru merayakan kemenangannya dalam sayembara menikahi Puteri Pertiwi, masuk ke ruangan itu. Di tangan kanannya sebilah pedang teracung ke depan.


"Lepaskan Raja Badre!" Teriaknya marah karena melihat calon mertuanya diikat sambil duduk berlutut di hadapan Pangeran Awang.


"Wah..wah..wah..rupanya kau punya nyali juga? Sayang sekali permintaanmu tak akan kukabulkan. Tapi aku akan memberimu hak istimewa untuk mendampingi bekas raja ini menghadap ajal. Bahkan, kau akan kuberi kesempatan untuk menyaksikan pernikahanku dengan gadis yang kemarin kau menangkan."


"Jangan mimpi! Kau manusia berhati iblis. Para dewa tidak akan membiarkanmu begitu saja!" Teriak Bagas lagi.


Meskipun pemuda itu jelas-jelas tidak akan mampu mengalahkan Pangeran Awang, namun diam-diam di mata Raja Badre, Bagas telah menjelma menjadi ksatria pemberani yang pantas mendampingi putrinya. Dan pria itu bersyukur bahwa Bagaslah yang memang sejak semula disukai putrinya.


"Aku tidak hanya bermimpi. Meski para dewa tidak merestuiku, namun iblis pasti mau melakukannya." Pangeran Awang kembali tertawa.


Bagas yang menyaksikan hal itu tidak lagi bersabar dan segera menerjang maju. Ketika ujung pedangnya sudah berada di depan leher Pangeran Awang, tiba-tiba tubuhnya terpental ke belakang dan pedangnya jatuh berdenting menyentuh lantai.


Bagas merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah dia berusaha bangkit. Tubuhnya terhuyung-huyung dengan perasaan bingung. Dia tidak mengerti bagaimana tiba-tiba tubuhnya bisa terpelanting sendiri tanpa ada seorangpun yang menyentuhnya.


"Kau pasti heran." Kata Pangeran Awang sambil tersenyum.


"Lihatlah, iblis sendiri telah datang menolongku!" Tangan Pangeran Awang mengarah ke pintu di belakang Bagas.

__ADS_1


Pemuda itu menoleh ke belakang dan terperanjat ketika melihat seorang lelaki tua bertubuh kurus kering dengan hanya mengenakan secarik kain kuning yang melilit bawah pusarnya, melangkah sambil bertumpu pada tongkat kayu.


__ADS_2