
Seorang gadis belia berparas pucat berdiri membungkuk hormat di hadapan Ratu Gita. Gadis itu mengenakan gaun yang terbuat dari kain linen dengan potongan sederhana.
Rambut gadis itu berwarna coklat keemasan yang bergoyang-goyang saat kepalanya berayun. Matanya berwarna hitam dan kulitnya kecoklatan.
"Salam hormat kepada Ratu Gita! " Suara gadis itu lembut seperti bisikan angin.
"Panggil aku, Bibi! Aku senang bertemu denganmu Puteri Devi. " Ratu Gita menyentuh pipi Puteri Devi dengan lembut, wanita itu merasakan kulit gadis itu agak dingin.
"Bagaimana kabarmu, sayangku?" Ratu Elok, ibundanya, bertanya sambil merangkul gadis itu.
"Aku sudah lebih baik, ibu." Jawaban yang selalu terlontar dari bibir Puteri Devi agar ibundanya tidak khawatir, kembali terucap.
Puteri Devi adalah gadis yang cerdas. Meskipun fisiknya lemah namun dia sangat peka dengan situasi di sekitarnya. Dia tahu bahwa banyak orang yang mengharapkan adanya pewaris tahta yang akan menggantikannya.
Namun demikian, gadis itu berusaha tegar agar tidak menambah beban orang tuanya.
"Kemarilah, bibi membawakanmu sesuatu! " Ratu Gita mengajak gadis itu duduk.
Mereka bertiga duduk di atas kursi panjang dengan bantalan empuk berwarna krem. Sandaran kursi itu terbuat dari kayu yang diukir melengkung.
"Bukalah sayang! " Ratu Gita dengan gembira menanti Puteri Devi untuk membuka hadiahnya.
"Wah, bagus sekali! " Mata hitam Puteri Devi berbinar, untuk sesaat wajahnya yang pucat merona.
"Kau suka? " Tanya Ratu Gita.
"Suka sekali! " Kini suara Puteri Devi hanya datar saja ketika menyadari bahwa hadiah pemberian bibinya mungkin tidak akan pernah dia gunakan.
Ratu Gita menyadari perubahan sikap gadis itu. Kemudian tangan Ratu Gita menggenggam tangan Puteri Devi.
"Hari ini kita akan memainkan layang-layang bersama-sama!" Ratu Gita meyakinkan Puteri Devi bahwa hadiahnya tidak akan sia-sia.
Puteri Devi menoleh ke arah ibunya untuk meminta persetujuan dan mendapati wanita itu mengangguk mengiyakan. Binar gembira kembali muncul di matanya.
Gadis itu kemudian menenteng layang-layang besar yang berbentuk kupu-kupu pemberian Ratu Gita ke padang rumput di belakang bangunan Graha Usadha.
Ratu Gita dan Ratu Elok mengikutinya dari belakang sambil tersenyum melihat kegembiraan gadis itu.
Cuaca yang cerah dan angin yang berhembus kencang sangat sempurna untuk menerbangkan layang-layang. Ratu Gita mengajari Puteri Devi menerbangkan layang-layangnya.
Layang-layang itu membumbung tinggi di angkasa dengan indahnya. Warnanya cerah perpaduan merah, kuning dan hitam.
Puteri Devi berlarian kesana-kemari dengan gembira. Ini adalah pengalaman pertamanya bermain layang-layang. Bahkan sebenarnya ini adalah kali pertama dia bermain di luar.
Wajah gadis itu agak merah karena terlalu bersemangat. Senyuman tak lepas dari wajahnya. Ratu Elok merasa terharu melihat putrinya yang terlihat begitu gembira.
"Andai saja aku bisa selalu melihat dia segembira ini." Ucap Ratu Elok seolah pada dirinya sendiri.
"Aku yakin Devi pasti sembuh! " Ratu Gita berusaha menguatkan.
"Di saat putriku berjuang demi kesembuhannya, orang-orang di sekitarnya malah berusaha mencari pewaris tahta untuk menggantikannya." Ucap Ratu Elok dengan sedih.
"Aku tahu di kerajaan ini sangat menuntut adanya pewaris tahta seorang putra mahkota. Tapi aku sangat berharap kalau pemikiran seperti itu bisa berubah. Seorang wanita seharusnya bisa menjadi seorang pemimpin jika dia layak." Ratu Gita berbicara sambil terus menatap gadis yang sedang menikmati mainan barunya itu.
"Mungkin suatu saat nanti akan ada masanya seorang wanita setara dengan pria, tapi putriku lahir sebelum masa itu." Ratu Elok semakin sedih.
"Jangan pesimis, Elok. Perubahan ini tidak datang dengan sendirinya, kitalah yang harus menciptakannya. Perjuangkan nasib anakmu, jangan menyerah! " Ratu Gita memberi semangat.
"Kau benar, Kak. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menyingkirkan anakku! "
"Bagaimana jika nanti kusuruh Eldrige untuk membawa Devi ke Lucshire untuk bertemu Ratu Malea? Siapa tahu jika dirawat di sana, anakmu bisa sembuh? "
"Kenapa tak terpikirkan olehku? Seharusnya kau mengunjungiku sejak awal, Kak! " Raut wajah Ratu Elok tampak cerah.
"Aku baru punya waktu luang sekarang." Ratu Gita tiba-tiba teringat pada putrinya yang sedang menuntut ilmu di negeri orang.
*****
Puteri Juwita memutuskan untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan pemuda yang bernama Nicolae. Dia masih belum yakin jika yang dialaminya adalah kenyataan.
__ADS_1
Mungkin jika dia bercerita malah akan menimbulkan kecemasan pada teman-temannya, terutama Ningrum yang tidur sekamar dengannya.
Tak terasa akhir pekan tiba. Ada beberapa gadis yang sudah izin keluar asrama sejak pagi. Namun Puteri Juwita masih bertahan di asrama.
"Kau tidak keluar hari ini? " Nona Sekar bertanya padanya saat berjumpa di dekat tangga.
"Saya akan keluar nanti sore, bolehkah? "
"Tentu saja, tapi jangan pulang sampai kemalaman. Sebelum gelap kau harus sudah kembali!"
"Baik, Nona Sekar. " Jawab Puteri Juwita dengan patuh.
Sore pun tiba. Puteri Elok izin keluar bersama Ningrum ke pasar malam. Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju alun-alun Alsatia.
"Bagaimana kita bisa menemukan Sari dan yang lainnya jika tempat ini ternyata begitu ramai?" Ningrum agak ketakutan berada di keramaian.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Puteri Juwita sama-sama bingung.
Kedua gadis itu memandang sekeliling mencari teman-teman mereka. Namun mereka tidak menemukannya.
"Ayo kita jalan. Kalaupun kita tidak menemukan mereka, setidaknya kita bisa menikmati suasana ini." Puteri Juwita menggandeng Ningrum dan mengajaknya berjalan berkeliling.
Mereka mampir ke stan makanan dan membeli beberapa cemilan. Kemudian melihat-lihat stan aksesoris yang menjual berbagai perhiasan imitasi dan pernak-pernik cantik.
Setelah itu mereka bahkan memberanikan diri untuk menaiki beberapa permainan. Saat mereka mengantri permainan kincir, mereka bertemu dengan Sari, Ratri dan Sapna. Ketiga gadis itu sedang bersama tiga orang pemuda.
"Kenapa kalian baru datang? " Sari bertanya dengan gaya manja karena sedang diperhatikan oleh teman lelakinya.
"Kami sudah datang dari tadi tapi tidak menemukan kalian! " Jawab Ningrum agak kesal.
"Ya, sudahlah. Yang penting kita akhirnya bertemu." Sapna menengahi agak tidak terjadi perdebatan.
Mereka mulai menaiki kotak besi berbentuk semacam sangkar pada permainan kincir. Sangkar itu hanya dapat diisi oleh empat orang. Sari dan Sapna masuk bersama pasangan mereka, sedangkan Puteri Juwita dan Ningrum masuk bersama Ratri dan pasangannya.
Puteri Juwita berpegangan pada besi di dalam sangkar yang mereka naiki. Saat kincir mulai berputar, ada desiran halus yang dia rasakan di dalam perutnya.
Gadis itu memperhatikan kerumunan manusia di bawah sana. Tenda-tenda para pedagang yang berwarna-warni tampak indah tertimpa matahari sore. Gadis itu dapat melihat hampir seluruh kota, bahkan istana Alsatia dapat dilihatnya saat berada di puncak.
Namun saat permainan tinggal satu putaran, tak sengaja mata Puteri Juwita menangkap sosok hitam yang meringkuk di bumbungan gedung balai kota yang berada di seberang alun-alun.
Mata gadis itu akhirnya terfokus pada sosok itu, hingga akhirnya dia menyadari bahwa yang sedang diamatinya sekarang adalah sosok yang pernah di jumpainya di kamar asrama.
"Nicolae? " Pandangan matanya saling terkunci dengan tatapan dingin pemuda itu seiring pergerakan sangkar yang dinaikinya berputar turun.
"Ayo turun! " Suara Ratri membuyarkan perhatian Puteri Juwita pada Nicolae.
Puteri Juwita melangkah turun. Kemudian saat gadis itu kembali memandang ke atas, sosok pemuda yang berpakaian serba hitam itu telah lenyap.
Tiba-tiba tubuh Puteri Juwita menggigil seakan terserang demam. Gadis itu merapatkan syal yang membungkus bahunya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang! " Ajakan Puteri Juwita bernada memohon.
"Maaf Juwita, tapi kami masih ingin mencoba permainan lain. Kalau kau ingin pulang, pulanglah duluan." Sari berbicara sambil menggandeng pemuda yang dari tadi menempel padanya.
"Baiklah teman-teman, aku akan pulang duluan!" Puteri Juwita tidak ingin mengganggu acara kencan teman-temannya.
"Aku ikut pulang! " Ningrum mengikuti Puteri Juwita.
Saat Ningrum meraih tangan Puteri Juwita, gadis itu terkejut ketika menyadari bahwa tubuh temannya itu sedang menggigil hebat.
"Apa kau sakit? " Ningrum tampak sangat cemas.
"Sepertinya begitu." Jawab Puteri Juwita dengan lemah.
Sepanjang jalan Ningrum memapah temannya itu dengan hati-hati. Meskipun orang tua Ningrum berlatar belakang medis, namun gadis itu belum pernah merawat orang sakit.
"Bertahanlah Juwita, sebentar lagi kita sampai!" Ucap gadis itu dengan cemas.
"Dia kenapa? " Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Ningrum.
__ADS_1
Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap seorang pria tampan bertubuh jangkung yang pernah dilihatnya mengantar teman sekamarnya itu.
"Juwita tiba-tiba sakit! " Suara Ningrum agak bergetar, antara mencemaskan temannya dan mengagumi pria di depannya itu.
"Biar kugendong! " Pria berambut perak dikepang itu segera meraih tubuh Puteri Juwita ke dalam pelukannya dan membopongnya di atas kedua tangannya yang kokoh.
"Eldrige? " Puteri Juwita memandang wajah tampan yang terlihat cemas itu. Tangan gadis itu meraih rahang yang terpahat mengagumkan itu untuk memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi.
Tiba-tiba Eldrige seakan tersentak akibat sentuhan gadis itu. Mata hitam milik Puteri Juwita tampak lemah dan sayu namun anehnya seolah mengirimkan semacam aliran listrik yang menyengat jantungnya.
Mata merah pria itu mengerjap gusar karena merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Sebisa mungkin Eldrige berusaha menghindari bertatapan dengan mata berbentuk daun salam dengan bulu mata lentik itu.
Namun seolah otaknya sudah kehilangan kendali pada tubuhnya, sepanjang jalan matanya tak bisa lepas dari mata gadis itu yang sedang menatapnya sayu.
Ningrum berlari berusaha mengimbangi langkah Eldrige yang lebar. Namun gadis itu selalu berada beberapa langkah di belakang peri itu.
Saat mereka masuk ke asrama, gadis-gadis menjadi histeris karena melihat Eldrige. Nona Sekar segera datang begitu mendengar keributan.
"Apa yang terjadi, Eldrige? " Nona Sekar nampak kebingungan.
"Juwita jatuh sakit. Aku ingin merawatnya!" Ucap Eldrige sambil menatap Nona Sekar dengan tajam.
Nona Sekar mengangguk dan mengajak Eldrige ke ruang kesehatan. Di sana, Eldrige membaringkan tubuh Puteri Juwita di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Jangan cemas, Tuan Puteri. Aku akan menjagamu!" Eldrige mengelus kepala Puteri Juwita seperti kebiasaannya, namun tiba-tiba tangannya berhenti karena merasakan debaran yang tak biasa di dadanya.
Eldrige segera menarik tangannya dan berjalan menjauh. Pria itu berusaha memahami perasaannya sendiri. Saat seorang tabib masuk, Eldrige hanya berdiri di dekat pintu dengan cemas.
"Gadis ini terserang demam, mungkin dia tidak memakai baju yang cukup hangat padahal cuaca sedang dingin." Tabib itu meracik ramuan obat dan menuliskan petunjuk pemakaian.
Eldrige menghampiri pria paruh baya itu dan menerima obat racikannya. Tabib itu mengulangi arahan yang telah dia tulis di kertas kepada Eldrige.
"Jangan lupa untuk menjaganya agar tetap hangat!" Pesan tabib itu sebelum keluar dari ruangan itu.
"Eldrige! " Panggil Nona Sekar ketika wanita itu masuk.
Eldrige menoleh padanya sesaat kemudian kembali mengalihkan pandangannya kembali pada Puteri Juwita yang kini sedang tertidur.
"Aku akan mengizinkanmu menunggui Juwita tapi hanya malam ini saja. Aku tidak ingin gadis-gadis di sini merasa tidak adil!" Nona Sekar berusaha membuat Eldrige mengerti.
"Ya, tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengizinkan aku menungguinya meski hanya satu malam!" Ucap Eldrige dengan tulus.
"Aku harap Juwita lekas sembuh. Bagaimanapun juga, aku benar-benar menyayangi gadis ini diluar jabatanku sebagai ibu asrama." Nona Sekar kemudian keluar dari ruangan itu dengan tidak lupa menutup pintu dari luar.
Kini di ruangan itu hanya tinggal Eldrige dan Puteri Juwita yang tengah tertidur. Eldrige kemudian duduk di kursi dekat jendela. Lapangan rumput terlihat gelap di luar sana.
Seorang pelayan datang membawa bubur panas dan air untuk Puteri Juwita. Sedangkan Eldrige mendapat hidangan makan malam sederhana seperti yang dimakan oleh seluruh penghuni asrama.
Namun sampai malam Eldrige tidak menyentuh makanannya. Pria itu kemudian tertidur setelah mendengar lonceng jam malam berbunyi.
Tengah malam, tiba-tiba Eldrige merasakan hawa dingin yang menusuk. Matanya terbuka dan terlihat menyala dalam kegelapan. Indera penciumannya yang sensitif merasakan aroma sihir yang kuat.
Eldrige memindai seluruh ruangan namun tidak merasakan keberadaan makhluk apapun. Kemudian pria itu keluar dan berjalan di koridor yang sepi dan gelap. Penerangan di asrama itu hanya diletakkan pada titik-titik tertentu.
Wuuush!
Tiba-tiba Eldrige merasakan angin melewati tengkuknya. Hanya sekejap, namun pria itu masih menangkap hawa dinginnya. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Eldrige kemudian berjalan dengan cepat untuk memeriksa ruangan tempat Puteri Juwita berada.
Saat Eldrige membuka pintu, dia sangat terkejut ketika melihat seseorang berpakaian serba hitam membungkuk di sebelah Puteri Juwita.
"Siapa kau? " Teriak Eldrige.
Orang itu berbalik menatap Eldrige dan menyeringai marah. Eldrige bisa melihat sepasang taring di sudut bibir orang itu.
"Dasar pengganggu! " Orang itu mengumpat.
Tiba-tiba tubuh orang itu lenyap dari pandangan. Eldrige ingin segera mengejarnya, namun dia mengurungkan niatnya begitu melihat Puteri Juwita terbangun.
"Eldrige, leherku sakit! "
__ADS_1