
Eldrige menemui Puteri Juwita setelah makan malam. Mereka bertemu di halaman sekolah.
"Aku dipanggil oleh Raja Sagar ke istana. Kemungkinan aku akan pergi selama beberapa hari. Kuharap selama aku pergi, kau selalu menjaga kesehatanmu dan jangan tidur terlalu larut." Eldrige mengelus kepala Puteri Juwita dengan sayang.
"Iya Eldrige, kau juga hati-hati di jalan. Lekas kembali, aku menunggumu! " Ucap Puteri Juwita.
"Aku akan merindukanmu, Tuan Puteri." Eldrige tiba-tiba menarik tubuh Puteri Juwita dan memeluknya dengan erat. Rasanya sangat berat untuk berpisah dengan gadis itu meski hanya beberapa hari.
"Aku juga akan sangat merindukanmu! " Balas Puteri Juwita.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Eldrige dan menghirup dalam-dalam aroma citrus dari tubuh pria itu. Aroma yang membuatnya merasa nyaman.
Telinganya mendengarkan detak jantung Eldrige yang bertalu-talu. Puteri Juwita tersenyum karena sekarang dia tahu bahwa bukan hanya dirinya yang berdebar-debar.
"Jangan dekat-dekat dengan orang yang tak kau kenal, terutama laki-laki! " Pinta Eldrige sambil mengangkat dagu Puteri Juwita dengan jarinya.
"Iya Eldrige." Gadis itu mengangguk sambil tersenyum manis.
"Gadis baik! " Eldrige mengecup pucuk kepala Puteri Juwita dan membuat jantung gadis itu semakin berdebar tidak karuan.
"Aku pergi dulu Juwita, Aku mencintaimu! " Setelah mengecup tangan Puteri Juwita, Eldrige melangkah pergi. Di halaman sekolah, sudah ada beberapa prajurit yang dari tadi menunggunya.
Eldrige kemudian menaiki seekor kuda berwarna coklat tua yang bulunya berkilauan di bawah sorot penerangan jalan. Puteri Juwita memandangi kepergiannya sampai benar-benar tak terlihat.
Tanpa gadis itu sadari, ada seseorang yang bersembunyi di bawah bayang-bayang gedung sekolah yang gelap. Tatapannya terlihat marah dan kedua tangannya mengepal.
*****
Akhir pekan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Puteri Juwita dan teman-temannya telah meninggalkan asrama setelah mendapatkan izin keluar.
Suasana di stadion sangat ramai saat mereka tiba. Sari pergi ke loket untuk membeli tiket, sedangkan teman-temannya menunggu di pinggiran stadion.
Tak berapa lama kemudian Sari sudah datang membawa tiket. Mereka kemudian langsung ke stadion. Seperti biasa mereka mendapat tempat duduk di depan.
Beberapa saat kemudian kedua tim yang akan bertanding mulai memasuki lapangan. Tim Sekolah Kesatrian dan tim Sekolah Elixir kini saling berhadapan.
Tim Elixir yang menjadi lawan tim Kesatrian kali ini terdiri dari pemuda-pemuda berkulit pucat. Wajah mereka ditutup dengan kain hitam sebatas hidung. Ada aura dingin yang terpancar dari mereka.
"Tim Elixir sangat mengagumkan! Aku tidak keberatan jatuh sakit jika mereka yang merawatku! " Ucap Sari.
"Aku akan tetap setia pada Bagaskara. Bagaskara! " Teriak Sapna ketika pemuda itu tersenyum ke arah mereka.
"Apa kalian tahu kalau kemarin saat kunjungan sekolah, Baskara sempat menghilang? " Tanya Ratri tiba-tiba.
"Benar juga. Padahal waktu itu aku ingin mengobrol dengannya." Jawab Sapna.
"Mungkin saja dia sedang bermain-main dengan seorang gadis? " Sari tersenyum sambil memandang Bagaskara yang sedang berkumpul dengan tim-nya.
__ADS_1
Deg!
Puteri Juwita kaget mendengarnya. Bukankah waktu itu Bagaskara menemaninya?
"Apa? Siapa kira-kira gadis itu? " Tanya Ratri dan Sapna bersamaan.
"Jangan bilang bahwa gadis itu adalah dirimu!" Tuduh Sapna.
"Aku bukan gadis semacam itu! " Jawab Sari dengan sengit.
Pertengkaran mereka terhenti ketika pertandingan dimulai. Kedua tim kini berhadapan di tengah lapangan. Seperti pertandingan terdahulu, Tim Kesatrian mendapat giliran pertama melempar bola.
Pemain penyerang mereka segera memukul bola dan bola melambung jauh ke gawang lawan. Namun Tim Elixir mampu mencegah bola memasuki gawang mereka.
Kini mereka gantian menyerang Tim Kesatrian. Tongkat-tongkat mereka dengan lincah saling mengoper bola yang melambung kesana-kemari mengikuti arah lemparan pemain Tim Elixir.
Tim Kesatrian yang mengejar dan berusaha merebut bola, terlihat seperti anak-anak balita yang dipermainkan. Akhirnya, sebuah serangan dari seorang pemain Elixir berhasil menjebol gawang Tim Kesatrian.
Penjaga gawang Tim Kesatrian terlihat syok karena serangan itu sangat cepat dan tidak terprediksi. Seluruh Tim Kesatrian terlihat kecewa, begitupun para penggemar mereka.
Teriakan-teriakan penyemangat bercampur dengan teriakan kekecewaan menggema di seluruh stadion. Namun Tim Kesatrian terlihat belum menyerah, mereka kembali berusaha merebut bola di lapangan.
Tim Kesatrian kini mulai memimpin pertandingan, beberapa kali mereka berhasil menjebol gawang lawan. Senyum puas tampak menghiasi wajah lelah mereka.
"Kesatrian! Kesatrian! " Teriakan para penggemar membahana di udara.
Saat pertandingan hampir usai, tiba-tiba Tim Elixir bergerak cepat merebut bola dan menggiringnya ke gawang lawan. Secara beruntun dan tidak terduga, Tim Elixir memasukkan bola berkali-kali ke gawang Tim Kesatrian.
Berkali-kali Tim Kesatrian mencoba merebut bola namun Tim Elixir sama sekali tak memberikan mereka kesempatan. Bola terus melambung dan ditangkap oleh tongkat-tongkat pemain Tim Elixir. Mereka benar-benar membalas kekalahan mereka dengan telak.
Hingga saat waktu pertandingan berakhir, Tim Kesatrian tertinggal satu angka dari Tim Elixir. Seluruh angka yang dikumpulkan oleh Tim Kesatrian yang mereka kumpulkan selama hampir sepanjang pertandingan, kini didapatkan oleh Tim Elixir dengan mudah hanya dalam waktu singkat.
Teriakan-teriakan kecewa dari penggemar Tim Kesatrian mulai terdengar. Seluruh pemain Tim Kesatrian membungkuk dan meminta maaf atas kekalahan mereka kepada para pendukungnya.
Tiba-tiba ada seorang pria yang berlari menerobos lapangan, dia terlihat histeris seperti orang tidak waras.
"Mereka penipu! " Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Tim Elixir.
"Mereka bukan Tim Elixir! " Teriaknya lagi.
Penonton menjadi gempar gara-gara ulah orang itu. Beberapa petugas akhirnya masuk dan berusaha menangkap orang itu. Namun pria setengah baya itu langsung lari dan menubruk seorang pemain Tim Elixir. Tapi pemuda yang ditubruk itu diam saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kemana kalian bawa anakku? " Pria itu kembali berteriak dan menunjuk-nunjuk sekumpulan pemuda berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup itu.
Meskipun wajah mereka tertutup, namun ekspresi mengejek mereka terlihat jelas. Mereka seolah-olah menikmati luapan kemarahan pria paruh baya itu.
Karena merasa diremehkan, pria itu kemudian melompat dan menarik kain yang menutupi salah seorang pemuda itu.
__ADS_1
Sret!
Tampaklah wajah seorang pemuda berparas tampan dan pucat. Pemuda itu memandang pria tadi dengan aura mengintimidasi.
"Nic.. Nicolae? " Gumam Puteri Juwita ketika mengenali pemuda itu.
Nicolae langsung menoleh dan memandang tajam ke arah Puteri Juwita, seakan mendengar suara gadis itu ketika menyebut namanya. Tatapannya yang sedingin es, membuat gadis itu menggigil. Tiba-tiba Nicolae menyeringai dan memperlihatkan sepasang taring yang menyembul di sudut bibirnya.
Cras!
Tiba-tiba tangan Nicolae meraih leher pria paruh baya itu dan menggigit lehernya. Darah segera muncrat dari leher pria itu dan membuat cipratan berwarna merah di wajah Nicolae. Semua orang tersentak kaget. Pekik kengerian tiba-tiba memenuhi stadion.
Seolah tak cukup dengan itu, tiba-tiba semua pemuda berpakaian hitam itu menarik lepas penutup wajah mereka. Wajah-wajah pucat dan dingin menyeringai, menunjukkan taring mereka.
Mereka melompat dan menyerang siapa saja yang berada di dekat mereka. Teriakan ketakutan bercampur dengan lolongan kesakitan saat seseorang meregang nyawa memekakkan telinga.
Ningrum menarik tangan Puteri Juwita agar gadis itu mengikutinya untuk keluar dari stadion.
"Ayo cepat! " Teriakan Ningrum terkubur oleh kebisingan yang memenuhi udara.
Puteri Juwita berjalan di belakang temannya itu dengan susah payah. Orang-orang yang ketakutan mendesaknya dari segala arah.
Puteri Juwita memandang berkeliling mencari ketiga temannya yang lain, namun mereka tidak terlihat dimanapun.
"Kemana yang lain? " Tanya Puteri Juwita sambil berteriak kencang.
"Mereka sudah lari duluan! " Jawab Ningrum.
Puteri Juwita masih berusaha bergerak maju, namun dia sama sekali tidak bisa bergerak karena terhimpit oleh orang-orang yang berdesakan. Teriakan dari orang-orang di depannya semakin histeris. Gadis itu akhirnya menyadari bahwa mereka marah karena pintu stadion telah di kunci dari luar.
Suasana semakin mencekam dan mayat-mayat mulai bergelimpangan di depan mata. Kengerian menyelimuti hati Puteri Juwita. Akankah dia bisa selamat dari situasi mengerikan ini?
"Eldrige! " Tanpa sadar gadis itu menyebut nama kekasihnya.
*****
Eldrige sedang berada di perbatasan wilayah Kerajaan Alsatia ketika tiba-tiba telinganya berdenging. Entah kenapa dia mendadak teringat kepada Puteri Juwita.
Mungkinkah Juwita sedang teringat padaku? Dia pasti merindukanku !
Eldrige tersenyum sambil membayangkan wajah kekasihnya. Dia tidak sabar ingin segera menjumpai gadis itu. Dia berjanji akan segera meminta kepada Raja Satria dan Ratu Gita untuk merestui hubungan mereka.
"Tuan, ada seseorang berdiri di tengah jalan dan mencegat rombongan kita! " Seruan seorang prajurit membuyarkan lamunan Eldrige.
Karena melamun, dia sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di tengah jalan dengan angkuh. Eldrige segera turun dari kuda, kemudian berjalan mendekati orang itu.
"Raja Pelvis? " Eldrige terkejut ketika menyadari bahwa orang itu adalah Raja Pelvis, pemimpin para rusalqa.
__ADS_1
"Iya, ini aku! " Jawabnya.