
Eldrige mendengarkan dengan tenang penjelasan Raja Gaurav yang sesekali ditimpali oleh Raja Sagar. Pria itu berusaha memahami dan mencari jalan keluar dari permasalahan itu.
"Bangsa Daemonie memang memiliki kemampuan merubah wujud. Hanya saja tingkatan dan spesialisasi mereka masing-masing berbeda-beda. Tapi melihat kejadian yang berlangsung akhir-akhir ini, sepertinya para Daemonie jenis Strix yang memimpin mereka." Eldrige menjelaskan.
"Berarti tidak menutup kemungkinan para Daemonie yang menyusup itu Daemonie jenis lain? " Raja Sagar merasa sangat penasaran.
"Benar." Jawab Eldrige.
"Aku tidak terlalu mengerti mengenai awal mula perselisihan bangsa Daemonie dengan bangsa manusia. Bisakah kau menjelaskannya Eldrige?" Raja Gaurav ganti bertanya.
Eldrige menegakkan tubuhnya dan menyingkirkan kepangan rambutnya ke belakang.
"Semuanya berawal hampir 300 tahun yang lalu, waktu itu saya masih muda. Bangsa Daemonie dianugerahi dengan bakat sihir alami hampir sama seperti bangsa peri. Namun mereka merasa dikekang karena tidak diperkenankan untuk menggunakan sihir secara sembarangan. Mereka malah terus-terusan melakukan berbagai kejahatan dengan sihir mereka." Eldrige berusaha memberi penjelasan kepada kedua Raja itu.
"Sampai pada suatu ketika, ada sekelompok Daemonie yang membunuh seorang putera mahkota kerajaan Elfian. Pada saat mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, bangsa Daemonie merasa tidak terima. Dan hal itu malah membuat bangsa Daemonie membantai penduduk Elfian untuk membalas dendam. Oleh karena itu Kerajaan Elfian mengusir paksa para Daemonie. Kerajaan-kerajaan di sekitar Elfian yang mengetahui hal itu juga tidak mau menerima bangsa Daemonie. Mereka akhirnya dipaksa untuk menyingkir."
"Bagaimana caranya mereka bisa ditaklukkan sehingga mau menyingkir? " Raja Gaurav berusaha penasaran bagaimana mereka bisa mengalahkan para Daemonie.
"Bangsa Daemonie memang tidak mudah dikalahkan, bahkan bangsa peri pun akan kewalahan menghadapi mereka. Apalagi pemimpin agung mereka memiliki kekuatan yang sangat luar biasa." Eldrige menghela napas sejenak, lalu kembali melanjutkan.
"Hingga suatu hari Ratu Malea membawa seorang ksatria wanita yang disebut Dewi Hutama. Dialah yang memimpin Liga Kerajaan dan menaklukkan bangsa Daemonie." Eldrige dengan sabar memberikan penjelasan.
"Dewi Hutama? " Raja Gaurav dan Raja Sagar bertanya bersamaan.
"Dewi Hutama adalah seorang gadis berjiwa murni yang belum mengenal hasrat duniawi."
"Apakah dia seorang peri? " Tanya Raja Sagar.
"Tidak, Dewi Hutama bukan berasal dari bangsa peri. Tapi kemurnian jiwanya bahkan mampu melampaui kekuatan peri tingkat tinggi. Dengan kekuatannya itu, Dewi Hutama berhasil memimpin pasukan dari Liga Kerajaan menumpas bangsa Daemonie yang kuat dan kejam. " Masih jelas di dalam ingatan Eldrige tentang betapa hebatnya seorang gadis belia memimpin pasukan Liga Kerajaan yang terdiri dari pria-pria tangguh.
"Bisakah kita meminta bantuan kepadanya? Tunggu, bukankah seorang manusia tidak bisa bertahan hidup sampai 300 tahun? " Tanya Raja Sagar.
"Betul, Dewi Hutama sudah meninggal sejak ratusan tahun yang lalu." Eldrige mengangguk.
"Lalu kita harus bagaimana? " Raja Gaurav menghela napas berat.
"Cahaya pasti akan menerangi kegelapan. Begitu juga kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan. Jangan pernah meragukan hal itu." Ucap Eldrige bijak.
"Andai saja Dewi Hutama terlahir kembali untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran." Raja Sagar menunduk sambil meremas tangannya.
"Sudahlah, kita tidak bisa terus berharap pada hal yang mustahil. Lebih baik kita membuat rencana yang matang untuk mengalahkan bangsa Daemonie. Mereka berusaha untuk mengganti seluruh jajaran yang ada di pemerintahan Liga Kerajaan dengan orang-orang mereka. Oleh karena itu kita harus segera menangkap para penyusup itu! " Raja Gaurav memotong khayalan Raja Sagar.
"Tapi bagaimana cara kita membedakan mana yang asli dan mana yang bukan? " Tanya Raja Sagar.
"Memang agak susah bagi manusia untuk membedakannya. Namun mereka sulit untuk menyembunyikan diri dari bangsa peri. Kami bisa mendeteksi melalui aroma mereka."
"Eldrige, tolong katakan apa yang harus kami lakukan?" Raja Sagar menatap Eldrige penuh harap.
__ADS_1
"Sebenarnya sangat berbahaya meninggalkan istana seperti ini, Yang Mulia. Jika mereka menyadari kalau Yang Mulia tidak ada, mereka akan dengan mudah menggantikan posisi raja dengan seorang Daemonie yang menyerupai Yang Mulia Raja Sagar. Bukankah itu tujuan mereka sesungguhnya? Mengendalikan Kerajaan Alsatia?" Suara Eldrige tenang namun tepat mengenai sasaran.
Raja Sagar tersentak, dia sama sekali tidak berpikir sampai ke arah itu. Rasa takut sudah menyingkirkan akal sehatnya.
"Kau benar, Eldrige. Aku harus kembali demi rakyatku. Aku khilaf dan hanya mementingkan keselamatan keluargaku sendiri. Aku melupakan rakyatku yang menggantungkan harapan mereka padaku."
"Akan saya panggil peri yang berjaga di perbatasan Alsatia untuk kembali ke istana. Jangan cemas, Yang Mulia. Kami semua akan mendukungmu!" Perkataan Eldrige sungguh menentramkan jiwa Raja Sagar. Pria itu seakan mendapat tambahan energi untuk berjuang melawan para Daemonie yang menyusup ke dalam istananya.
"Terima kasih, Eldrige. Sejak dulu kau adalah pembimbing yang baik. Terima kasih karena sudah mengingatkan tanggung jawabku." Raja Sagar tak kuasa untuk tidak memeluk Eldrige dan meneteskan air mata.
Penguasa Kerajaan Alsatia itu sudah menganggap Eldrige sebagai pengganti orang tuanya, meski penampilan peri itu kini tampak jauh lebih muda darinya.
Eldrige menepuk-nepuk punggung Raja Sagar seperti yang dulu biasa dia lakukan dan berusaha menyalurkan dukungan supaya pria yang dulu pernah diasuhnya itu tetap tegar menghadapi masalah ini.
*****
"Eldrige, kau datang? " Raja Satria terkejut ketika tiba-tiba peri itu menghadapnya.
"Saya ingin menyampaikan berita bahwa para Daemonie sudah menyusup ke dalam istana Alsatia. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka juga akan menyusup ke dalam istana ini." Eldrige melaporkan tentang keadaan di Kerajaan Alsatia.
"Bagaimana dengan Sagar? " Tanya Raja Satria mencemaskan adik sepupunya.
"Raja Sagar kini berada dalam perlindungan para peri. Mereka sedang berusaha menangkap para penyusup yang menyamar menjadi penghuni istana."
"Lalu isteri dan anak-anaknya bagaimana?"
"Ratu Akemi beserta kedua anaknya sekarang bersama Ratu Elok di istana Watu Ijo."
"Tuan Puteri sudah mulai membaik. Teman-temannya yang ikut terlibat dengan peristiwa penculikan itu sudah dikeluarkan dari sekolah." Dada Eldrige selalu berdebar kencang setiap mendengar nama kekasihnya disebut.
"Huh, hukuman itu terlalu ringan bagi mereka. Seharusnya Sagar bisa menegakkan keadilan bagi putriku! " Raja Satria merasa sangat geram.
"Saya sudah menegakkan keadilan bagi Puteri Juwita. Saya rasa, mereka tak akan berani lagi untuk mencelakai Tuan Puteri." Jawab Eldrige.
"Ha, bagus Eldrige! Kau memang selalu dapat diandalkan. Nanti setelah Juwita sudah cukup umur, kuharap akan ada seorang pria yang bisa menjaganya sepertimu." Raja Satria tersenyum puas mendengar perkataan Eldrige.
"Apakah Yang Mulia betul-betul berharap demikian? " Jantung Eldrige berdegup kencang karena merasa mendapat angin segar.
"Tentu saja, Eldrige. Kuharap calon suami anakku akan setangguh dirimu! " Raja Satria memang sangat berharap jika kelak putrinya akan dipersunting oleh orang yang mampu melindunginya.
Wajah Eldrige tampak berseri-seri, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Baginya perkataan Raja Satria seperti menegaskan bahwa dia merestui hubungan Eldrige dengan putrinya. Rasanya dia ingin segera menemui Puteri Juwita dan memberitahu gadis itu tentang perkataan ayahandanya barusan.
"Terima kasih, Yang Mulia. Saya tidak akan mengecewakan harapan Yang Mulia." Peri itu berkata dengan sungguh-sungguh.
*****
Puteri Juwita masih heran kenapa ketiga gadis di depannya itu memanggilnya dengan gelar kebangsawanannya. Namun begitu, dia segera menepisnya dan perlahan-lahan mendekat.
__ADS_1
Gadis itu meraih bangku di pojok dan membawanya ke hadapan mereka. Dengan sikap anggun, gadis bangsawan itu duduk menghadap mereka.
"Puteri Juwita, maafkan saya. Saya betul-betul menyesal. " Sapna berkata dengan suara lirih.
Puteri Juwita memandangi wajah Sapna yang basah karena air mata.
"Apa yang kau sesali? " Suara Puteri Juwita kini terdengar sangat dingin karena merasa dikhianati.
"Saya tidak bermaksud abai, tapi dia memaksaku untuk diam dan tidak melaporkan penculikan itu." Air mata kembali meluncur di pipi Sapna.
Sari mengangkat wajahnya yang dari tadi tertunduk. Harapannya untuk segera lulus dari sekolah ini dan mendapat suami seorang pejabat kerajaan telah sirna. Berkat kebodohannya menjual seorang Puteri Kerajaan Elfian, tidak akan ada yang mau mengambilnya sebagai isteri.
"Aku benar-benar membencimu! " Suara gadis berambut pirang pucat itu lirih dan dingin.
Kedua temannya menoleh bersamaan karena mendengar ucapan Sari. Mereka tidak menyangka bahwa gadis itu masih berani berbicara seperti itu kepada Puteri Juwita.
"Aku tidak tahu alasan kenapa kau sangat membenciku. Tapi yang kurasakan padamu saat ini adalah rasa kasihan."
"Selama ini kau bersikap seolah-olah seluruh dunia berputar di sekelilingmu. Seolah-olah semua orang akan mengikutimu setiap kau mengibaskan rambutmu. Jangan kau kira aku tak tahu kau menjerat Bagaskara? Bahkan teman kencanku pun tak luput dari incaranmu. Dia mencampakkan aku karena ingin mendekatimu. Dan yang lebih menggelikan bahkan seorang peri sampai menyiksaku gara-gara dirimu. Akui saja bahwa kau juga merayu Tuan Eldrige!" Sari berbicara dengan suara nyaring dan emosi yang meletup-letup.
"Ehm.. Kurasa kau sudah tidak tidak waras, Sari. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apa kau pernah melihatku mencoba menggoda Bagaskara? Padahal itu dirimu sendiri yang berteriak-teriak memanggilnya di stadion, kau bahkan mengejarnya selepas pertandingan." Puteri Juwita menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.
"Dan teman kencanmu, kapan aku pernah berbicara dengannya? Jika dia tidak menyukaimu apakah itu juga salahku? "
Fakta yang dibeberkan Puteri Juwita seakan menampar wajah Sari. Dia semakin membenci Puteri dari Kerajaan Elfian itu.
"Kau hanya mengandalkan statusmu untuk meraih semua keinginanmu! "
"Pernahkah aku menyombongkan kedudukan ayahku pada kalian?" Tanya Puteri Juwita.
Sari terdiam, sebenarnya di dalam hatinya dia menyadari bahwa Puteri Juwita tidak bersalah. Namun iri hatinya sudah membutakan mata hatinya hingga yang tersisa hanyalah kebencian.
"Puteri Juwita, maafkan kami. Aku bersalah karena tidak melaporkan soal penculikan itu." Ratri berbicara dengan tubuh bergetar.
"Apa kau tahu yang harus aku alami di tempat itu? Jika aku benar-benar menjadi budak, kurasa mati akan lebih baik bagiku karena kedudukanku menjadi setara dengan binatang." Wajah Puteri Juwita berubah sendu saat mengingat hal-hal mengerikan yang dia alami.
"Maafkan aku! Seandainya waktu bisa diulang kembali, lebih baik aku memilih mati daripada membiarkanmu diculik! " Ratri menangis sejadi-jadinya.
"Sudahlah, aku kemari tidak untuk menuntut dendam. Aku kemari untuk mengatakan bahwa aku sudah mengampuni kalian." Puteri Juwita berbicara dengan suara lembut dan tulus.
"Benarkah?" Sapna seolah tak percaya dengan pendengarannya.
"Aku tidak membenci kalian." Puteri Juwita kembali berbicara.
Ratri dan Sapna langsung menghambur memeluk Puteri Juwita.
"Hatimu sungguh mulia, Puteri Juwita! " Ucap mereka.
__ADS_1
Mereka bertiga saling berpelukan. Tanpa mereka sadari setetes air mata jatuh di pipi Sari. Luapan kebencian di dalam hatinya seolah tersapu oleh ketulusan yang ditunjukkan Puteri Juwita. Mendadak dia merasa sangat malu.
Sementara itu di luar pintu ruangan itu, Nona Sekar berdiri dengan raut yang tak terbaca. Dan sebelum Puteri Juwita keluar dari ruangan itu, Nona Sekar telah melangkah pergi.