
Untuk mencari Ratu Gita, ketiga orang itu menyusuri jalanan utama kota Baiyun. Dengan berpura-pura sebagai pelancong mereka keluar masuk kedai dan pertokoan.
Beberapa kali mereka bertanya pada orang-orang yang mereka temui tentang wanita dengan ciri-ciri Ratu Gita, namun tak ada seorangpun yang tahu. Hingga akhirnya, mereka disarankan untuk mengunjungi Pagoda Putih di dekat sungai Lan Se.
Karena kabarnya, di sana adalah tempat tujuan orang-orang berdoa dan mencari wangsit. Bahkan tak jarang banyak yang mengajukan permohonan.
Mereka berjalan agak jauh di jalanan tanah yang agak rusak. Beberapa kali mereka melewati rumah-rumah sederhana milik penduduk setempat yang terbuat dari kayu dan beratap jerami.
Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di tepian sungai. Di sana terdapat dermaga kecil, tempat dimana sampan-sampan ditambatkan.
Seorang pemilik sampan segera menghampiri mereka. Menawarkan paket pesiar dengan harga yang menarik. Tak ingin membuang waktu, ketiga orang itu langsung menyetujuinya.
Satu persatu mereka mulai menaiki sampan. Eldrige yang menggendong bayi, naik terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh Raja Satria. Saat itulah sebuah sampan yang disewa sepasang muda mudi melewati mereka.
Raja Satria tak sengaja menatap seorang wanita yang mengenakan topi anyaman yang menaiki sampan itu. Meski wajah wanita itu tertutup oleh topinya, namun dia tahu kalau wanita itu juga sedang menatapnya.
Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba merasukinya saat melihat wanita itu semakin menjauh. Ada sisi hatinya yang berharap dapat berjumpa lagi dengan wanita itu, paling tidak untuk sekedar melihat wajahnya.
"Kita akan mencapai Pagoda Putih sebelum tengah hari." Ucap pemilik sampan sambil mengayuhkan dayungnya, menciptakan riak-riak gelombang pada air sungai yang jernih kehijauan.
"Semoga saja di sana ada yang mengenali Gita." Pangeran Gaurav berkata sambil memandang ke arah bukit-bukit hijau di seberang sungai.
Raja Satria memegangi liontin pada kalung yang melingkar di lehernya. Pikirannya melayang pada pemilik kalung itu.
Dari kejauhan mulai terlihat bangunan pagoda yang menjulang. Pagoda Putih dibangun di atas pulau kecil yang berada di tengah-tengah sungai. Di pinggiran sungai terlihat beberapa sampan yang sedang menunggui penumpangnya.
Mereka kemudian turun satu persatu dan berpesan pada pemilik sampan agar mau menunggu sampai mereka selesai. Mereka berjalan beriringan melewati pedagang-pedagang suvenir di sepanjang jalan masuk.
Rasa kagum menyelimuti mereka saat menyaksikan Pagoda yang dibangun dari batu marmer putih yang mengkilap. Tinggi bangunan itu sekitar 45 meter dan terlihat sangat mempesona.
"Kita sebaiknya berpencar dan bertemu lagi di sini satu jam lagi." Usul Pangeran Gaurav.
"Baiklah. Eldrige tolong jaga anakku, duduklah di bangku sana! " Raja Satria menunjuk bangku-bangku di bawah pohon-pohon Bungur yang sedang berbunga.
Wajah Eldrige berubah masam ketika dilihatnya sekumpulan ibu-ibu sedang duduk di sana sambil mengawasi anak-anak mereka. Bahkan diantara mereka ada yang sedang menyusui tanpa malu-malu.
"Aku akan bertanya pada pedagang suvenir saja! " Eldrige langsung berjalan pergi.
"Apa kau tidak lelah dari tadi menggendong bayiku?" Teriak Raja Satria, tapi Eldrige pura-pura tidak mendengar.
Mereka akhirnya pergi ke arah yang berbeda. Raja Satria menaiki undakan-undakan dan memasuki bangunan Pagoda. Pria itu melepaskan alas kakinya.
__ADS_1
Lonceng-lonceng yang tergantung di langit-langit berdentang riuh karena tertiup angin. Dilihatnya para biksu sedang khusuk berdoa di depan patung Sang Buddha.
Tiba-tiba Raja Satria melihat seorang wanita berjalan keluar melewati pintu samping. Rambut wanita itu hitam bergelombang, sebagian rambutnya disanggul ke atas.
"Tunggu! " Panggilnya.
Wanita itu tidak mendengar dan terus menuruni undakan. Ujung pakaiannya yang lebar berkibar-kibar.
Raja Satria buru-buru memakai sepatu dan mengejarnya dari belakang. Jantungnya berdebar-debar membayangkan kemungkinan bahwa wanita itu adalah istrinya.
Wanita itu terus berjalan menuju ke arah sungai. Gerak-gerik tubuhnya yang anggun membuat Raja Satria yakin bahwa dia adalah Ratu Gita.
"Gita sayang! " Panggilnya dengan berteriak.
Wanita itu berhenti setelah mendengar panggilannya. Wanita itu terkejut karena ada seseorang memanggilnya dengan nama Gita. Nama yang selama ini hanyalah ilusi dalam mimpinya. Seketika wanita itu menoleh.
"Fen, kau pasti kelelahan. Sebaiknya kita pulang sekarang."
Seorang pemuda tampan tiba-tiba datang mendekati wanita itu dan memakaikan topi anyaman di kepalanya. Wanita itu kaget melihat pemuda itu sudah berada di sebelahnya.
Lagi-lagi dia kecewa karena yang didengarnya barusan hanyalah imajinasinya. Kemudian dia menunduk, membiarkan dirinya dibimbing naik ke atas sampan.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Raja Satria ketika mereka sudah berkumpul.
"Ada seorang biksu yang melihat seorang wanita yang mirip dengan Ratu Gita. Katanya wanita itu datang bersama dengan seorang pemuda untuk menanyakan hari baik pernikahan mereka." Kata Pangeran Gaurav.
"Apa? Jangan-jangan itu wanita yang kulihat tadi? " Kata Raja Satria.
"Maksudmu kau melihat wanita itu? " Tanya Pangeran Gaurav.
"Aku hanya melihatnya dari belakang. "
"Kemana mereka? "
"Mereka baru saja menaiki sampan. "
"Ayo kita kejar! "
Mereka bertiga segera menaiki sampan dan menyuruh pemilik sampan itu segera mengejar sampan yang dinaiki wanita tadi.
*****
__ADS_1
"Eldrige, lakukan sesuatu! " Perintah Raja Satria ketika sampan yang dinaiki wanita itu semakin jauh dan hampir tak terlihat.
Eldrige segera mencelupkan tangannya ke dalam air dan memutar-mutar jarinya. Seketika sampan yang mereka naiki melaju dengan cepat membelah aliran sungai.
Pemilik sampan yang sedang mendayung menjadi terkejut dan tercengang melihat sampannya melaju kencang. Dengan tubuh gemetar pria itu memeluk dayungnya sambil berteriak-teriak histeris.
Sampan mereka berbelok tajam menghindari sampan-sampan yang mengapung di sepanjang sungai. Kemudian melaju lagi dengan kecepatan penuh. Hal itu menciptakan cipratan-cipratan dan gelombang besar di sungai.
Orang-orang yang melihat merasa takjub sekaligus ngeri melihat fenomena aneh itu. Mereka berdoa semoga Dewa penguasa sungai tidak murka.
Sampan yang melaju kencang itu akhirnya berhasil memangkas jarak dengan sampan yang dikejarnya. Eldrige menarik tangannya lagi ketika mereka telah sampai di tepian.
Raja Satria memberikan beberapa keping perak kepada pemilik perahu yang masih syok. Pria malang itu mual dan muntah-muntah. Sementara itu bayi dalam gendongan Eldrige tertawa-tawa gembira.
"Kemana dua orang yang tadi turun dari sampan ini? " Tanya Pangeran Gaurav pada pemilik sampan yang tadi mereka kejar.
"Mereka sudah pergi dengan menunggang kuda ke arah ibu kota. " Jawab laki-laki itu.
"Apa kau mengenal mereka? "
"Kenapa aku harus mengatakannya pada kalian? "
Pangeran Gaurav menjadi marah dan ingin memukul laki-laki itu, namun segera dicegah oleh Raja Satria. Raja Satria mengeluarkan beberapa keping perak dan menunjukkannya pada laki-laki tadi.
"Tadi itu Tuan Chen dan tunangannya. Mereka tinggal di kediaman Tuan Liu, seorang pejabat kerajaan."
Laki-laki itu langsung menjawab karena tergiur dengan benda berkilau di telapak tangan Raja Satria.
"Bagaimana rupa wanita itu? "
"Wanita itu bukan berasal dari sini. Kurasa kalian berasal dari ras yang sama." Laki-laki itu menunjuk Pangeran Gaurav.
Raja Satria kemudian melemparkan keping-keping perak itu ke arah laki-laki itu, kemudian segera berjalan pergi diikuti oleh Eldrige dan Pangeran Gaurav.
Mereka menyesal karena tidak membawa kuda. Namun informasi berharga yang telah mereka dapatkan telah sedikit melegakan.
"Kita harus berhati-hati dan tidak gegabah. Saya takut Ratu Gita akan dibawa pergi sebelum kita menemukannya." Eldrige berbicara sambil menepuk-nepuk pantat Puteri Juwita.
"Kau benar Eldrige. Kita sebaiknya kembali ke penginapan dan mulai menyusun rencana." Raja Satria berbicara dengan penuh semangat.
Mereka semua mengangguk setuju.
__ADS_1