Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 131 Rumah Baru


__ADS_3

Ratu Malea memandang pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu memiliki sorot mata tenang dan dalam. Ada yang berbeda pada diri pria itu jika dibandingkan saat pertemuan mereka yang terakhir.


"Kau sudah menyadarinya? " Suara lembut wanita agung itu membelai telinga Eldrige.


"Ya. Tapi saya masih belum yakin. " Kata Eldrige terus terang.


"Karena itulah kau kupanggil kemari." Ratu Malea tersenyum.


"Apakah saya betul-betul telah menjadi manusia? " Tanya Eldrige.


"Hmm, hampir. "


"Apa saya akan kehilangan semua kekuatan sihir? "


"Kau sudah mengetahuinya sejak awal. Apa kau menyesalinya? Belum terlambat untuk menyesal sekarang." Ratu Malea memandang Eldrige.


Eldrige terdiam. Dia sudah tahu konsekuensi melepaskan kehidupannya sebagai peri. Tapi dia tidak tahu bahwa hidup sebagai manusia membuatnya begitu lemah.


"Saya tidak menyesal. Saya hanya... belum terbiasa. "


"Tidak apa-apa, Eldrige. Setiap kehidupan itu berharga. Kekuatan dan kelemahan tidak ada bedanya. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri. "


"Akhir-akhir ini saya sering berhalusinasi dan tidak bisa fokus. Apakah ini efek dari perubahan itu? " Eldrige menanyakan keluhannya.


"Kau adalah ahli pengobatan, Eldrige. Meskipun kau tidak lagi memiliki kekuatan sihir, seharusnya kau bisa menganalisanya."


"Jadi ini adalah sebuah penyakit? "


"Aku tidak mengatakannya demikian. "


"Ataukah efek racun? "


"Kau harus memastikannya sendiri, Eldrige." Ratu Malea lebih suka Eldrige mengetahuinya sendiri.


"Saya membutuhkan kantung itu. " Eldrige menunjuk kantungnya yang ditumpuk di atas cambuknya.


"Kau sudah tidak boleh menggunakannya. Jangan khawatir, pengetahuanmu selama 300 tahun lebih berharga dari kantung ini. " Jawab Ratu Malea.


Eldrige mengangguk pasrah. Kehidupan sebagai makhluk fana sudah menjadi pilihannya. Meskipun kehidupan itu terasa begitu rentan dan menakutkan, dia akan berusaha menjalaninya.


"Bolehkah saya menanyakan tentang keberadaan Puteri Juwita? "


"Hmm, aku bisa berbaik hati sedikit soal itu." Ratu Malea tersenyum. Wanita itu kemudian mengangkat kedua tangannya dan mengusap udara.


Udara yang tembus pandang kini menampakkan pemandangan lautan. Burung-burung camar terlihat beterbangan di atas kapal-kapal nelayan. Pemandangan itu kemudian berganti dengan pelabuhan yang sibuk.


Saat Eldrige berfokus pada beberapa detail, tiba-tiba pemandangan itu menghilang. Ratu Malea menghentikan scrying.


"Kau tidak diizinkan untuk mengintip lebih jauh, Eldrige. "


"Apakah itu berarti bahwa Puteri Juwita masih hidup? "


"Apa kau tidak bisa merasakannya? "


"Saya hanya bisa berharap. "


"Berharap adalah kekuatan bagi makhluk fana. Dengan memiliki harapan, mereka tidak akan putus asa. "


Eldrige mengangguk dan membenarkan perkataan Ratu Malea. Yang terpenting baginya sekarang adalah harapan bahwa Puteri Juwita masih hidup. Meskipun butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukannya tidak akan menjadi masalah.


"Kuharap kau berbahagia dengan kehidupan barumu, Eldrige. "


"Terima kasih, Yang Mulia. " Eldrige membungkuk.


Syuuut.


Tiba-tiba tubuh Eldrige seakan tersedot keluar. Dengan sedikit terhuyung pria itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali karena kini dirinya berada di tempat yang gelap.


Hu..hu..


Telinga Eldrige menangkap suara burung hantu. Kini dia menyadari bahwa sekarang dirinya berada di hutan. Tepat di dekat jurang yang sempat didatanginya tadi.


Suiit!


Eldrige bersuit memanggil kuda yang tadi ditambatkannya.


Hiih..

__ADS_1


Suara ringkikan kuda terdengar. Eldrige melangkah mendekati binatang itu. Kuda berbulu coklat dan bersurai putih itu terlihat gembira.


"Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu kawan. " Ucapnya sambil mengelus punggung binatang itu sebelum melompat naik.


Kuda itu berderap kencang menembus gelapnya hutan.


*****


Sudah satu minggu sejak kedatangan mereka di pesisir wilayah Kerajaan Dewanata, namun rombongan Tabib Bagio belum juga mendapatkan tempat tinggal yang sesuai.


"Sepertinya kita harus pergi ke daerah lain. Lagipula di sini udaranya kurang cocok untuk kita, agak terlalu panas." Kata Tabib Bagio pada saat makan siang.


Mereka semua mengangguk setuju.


"Seorang pekerja mengatakan bahwa ada sebuah desa yang indah di lereng gunung Taevas. Jaraknya bahkan tidak terlalu jauh dari ibukota Dewanata." Bagas berkata sambil mengaduk makanannya.


"Kedengarannya menyenangkan. Aku ingin ke sana. " Kata Ningrum penuh semangat.


"Baiklah kalau kalian menginginkannya, besok pagi kita berangkat ke sana. " Kata Tabib Bagio.


Semua orang merasa senang dan bersemangat tentang tempat tujuan mereka. Mereka menggantungkan harapan yang besar pada hal itu.


Keesokannya harinya sebuah kereta kuda yang disewa telah siap di depan penginapan. Setelah menaikkan semua barang bawaan, mereka segera berangkat.


Kereta kuda melewati jalanan yang berkelok-kelok di sepanjang bibir pantai kota pelabuhan Samandar yang indah. Sebelum kereta menanjak ke atas, mereka melewati reruntuhan bangunan kuil kuno di tepi laut.


Agak siang mereka mampir ke kedai makan yang menjual hidangan laut. Beberapa penduduk lokal yang mengunjungi tempat itu terlihat beberapa kali mencuri pandang ke arah mereka.


"Ayah, kelihatannya penampilan kita terlalu mencolok. " Keluh Ningrum ketika menyadari pandangan orang-orang itu.


"Hmm, kalau begitu kita harus merubah penampilan agar terlihat lebih membaur." Jawab Tabib Bagio dengan tenang.


"Terutama Juwita. Andai rambut dan kulitmu lebih gelap, kau akan terlihat seperti penduduk lokal. " Ningrum berbalik menghadap sahabatnya.


"Apa aku harus mewarnai rambutku dan berjemur. " Tanya Puteri Juwita.


"Itu boleh juga. Nanti telingamu itu tinggal kau tutupi dengan rambut. " Ningrum mengatur rambut Puteri Juwita dan menutupi telinga runcing gadis itu."Sempurna! "


"Benar. Kau memiliki raut wajah khas penduduk lokal. " Bagas mengiyakan.


Puteri Juwita tersenyum meskipun merasa agak kurang nyaman karena harus merubah seluruh penampilannya.


Mereka juga melewati istana Dewanata yang terlihat sangat mengagumkan. Tempat yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh mereka.


Bagas turun sebentar untuk berbelanja pakaian dan berbagai perlengkapan. Dia hampir lupa waktu ketika menjelajahi pasar yang sangat ramai yang menjual berbagai barang yang menarik.


Menjelang sore kereta mulai meninggalkan keramaian ibukota dan mulai memasuki wilayah pedesaan. Jalanan mulai menanjak dan berkelok tajam.


"Ada penginapan di ujung jalan sana. Selepas itu tidak akan ada penginapan lagi. " Kusir kereta berkata dari tempat duduknya.


"Kalau begitu kami turun di penginapan. " Kata Tabib Bagio.


Mereka sampai di penginapan ketika langit benar-benar sudah gelap. Untung saja ada kamar yang kosong. Mereka segera menyewa kamar, sedangkan kusir kereta langsung pergi setelah mendapat bayaran.


*****


"Kalian akan pergi ke mana? " Tanya wanita pemilik penginapan pada saat dia menyajikan sarapan.


"Kami ingin tinggal di daerah sekitar sini. Kami berencana untuk membeli sebuah rumah. Apakah barangkali anda mau menyarankan tempat yang bagus untuk kami?"


"Apa pekerjaan kalian? "


"Saya seorang tabib. "


"Di atas ada sebuah desa bernama Kulm. Tempatnya sangat indah. Kalian bahkan bisa melihat laut dari sana. Dan yang lebih penting, hutan di dekat desa itu kaya dengan tanaman obat."


"Kami ingin sekali ke sana. "


"Kebetulan salah seorang kerabat saya tinggal di desa itu. Dia pernah mengatakan ada seseorang yang ingin menjual rumahnya."


"Wah, kebetulan sekali. " Kata Tabib Bagio dengan gembira.


Kemudian wanita pemilik penginapan bernama Bu Maya itu segera menyuruh salah satu pegawainya untuk mengantar rombongan itu ke desa Kulm menggunakan kereta kudanya. Bahkan wanita itu menolak dibayar untuk jasanya itu.


"Kelihatannya penduduk daerah sini orangnya baik-baik. " Kata Ningrum.


"Apakah kalian bukan dari daerah sini? " Tanya pegawai penginapan yang sedang mengendarai kereta kuda.

__ADS_1


"Benar." Jawab Tabib Bagio.


"Kalian tidak akan menyesal pindah kemari. Semua orang di sini sangat baik. " Kata pegawai itu.


Kereta kuda terus berjalan menanjak melewati hutan dan lembah yang hijau. Sesekali mereka melewati orang-orang desa yang ramah.


"Kita sudah sampai. " Pegawai penginapan itu. Pria itu kemudian turun dan mengetuk pintu sebuah rumah khas pedesaan.


"Ada apa kau datang pagi-pagi begini, Bima? " Seorang wanita paruh baya keluar. Tangannya sibuk membenahi rambutnya yang panjang. Dengan cekatan dia menyanggulnya di atas tengkuknya.


"Ada yang ingin membeli rumah." Kata Bima.


Wanita tadi menatap orang-orang yang duduk di dalam kereta. Kepalanya kemudian mengangguk. Wanita itu kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Dia adalah Bu Ratih, saudara ipar Bu Maya. Dia yang akan menunjukkan rumah yang akan dijual itu. " Bima yang sudah naik kembali ke atas kereta, menjelaskan pada rombongan itu.


Tak lama kemudian Bu Ratih keluar. Wanita itu sudah berganti pakaian. Dia kemudian naik ke atas kereta dan duduk di sebelah Bima.


"Saya akan tunjukkan tempatnya. Dijamin kalian akan menyukainya. " Kata wanita itu dengan ceria.


"Saya harap begitu, Nyonya. " Kata Tabib Bagio dengan sopan.


"Kalian tampaknya bukan dari daerah sini? " Kata Bu Ratih dengan tubuh terguncang-guncang karena kereta kuda melewati jalanan yang terjal.


"Benar, Nyonya."


"Ah, panggil saya Bu Ratih saja. " Wanita itu tampak tersipu. "Antar kami ke rumah Pak Kama. " Bu Ratih menoleh pada Bima.


"Oh, jadi rumah Pak Kama yang mau dijual? "


"Benar. Anak lelaki Pak Kama sekarang sudah sukses di kota, jadi dia meminta ayahnya untuk ikut pindah ke kota."


Perjalanan mereka yang dipenuhi perbincangan itu memakan waktu sekitar 20 menit. Bima menghentikan kereta kuda di depan sebuah rumah besar yang agak masuk ke dalam hutan.


Mereka semua kemudian turun. Bu Ratih membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Wanita itu membuka jendela-jendela di sana agar udara dan sinar matahari dapat masuk.


"Bagaimana, apa kalian menyukai rumah ini? " Tanya Bu Ratih ketika mereka selesai melihat-lihat.


"Rumah ini bagus sekali, kami menyukainya." Tabib Bagio melihat anak-anaknya dan Puteri Juwita menyukai rumah itu.


"Harga yang tadi saya sebutkan sudah termasuk semua perabotan di sini. Oh ya, kalian bisa menambah bangunan lagi karena tanah yang tersisa masih sangat luas. "


"Saya beruntung bisa menemukan tempat ini." Kata Tabib Bagio.


"Kalau begitu apa kita sudah sepakat? " Tanya Bu Ratih.


"Sepakat."


"Saya senang sekali berbisnis dengan anda, Pak. Nanti siang surat-suratnya akan saya serahkan. " Kata Bu Ratih.


Setelah Bu Ratih pergi bersama Bima, mereka segera membersihkan tempat itu. Mereka masing-masing mendapatkan kamar yang mereka sukai karena rumah itu memiliki banyak kamar.


"Kita harus menyiapkan tempat ini agar kita bisa segera membuka balai pengobatan." Kata Tabib Bagio.


Mereka semua bekerja keras membenahi rumah itu. Mereka mengatur ruangan-ruangan yang akan dipakai untuk praktek pengobatan.


"Akhirnya selesai juga. " Kata Ningrum sambil meregangkan punggungnya.


"Walaupun aku lelah tapi ini sangat menyenangkan. " Puteri Juwita menimpali.


"Juwita, nanti malam aku akan mewarnai rambutmu. Kau tidak apa-apa kan? " Ningrum agak khawatir pada temannya itu.


Puteri Juwita menggeleng, "Aku tidak apa-apa. "


Sesuai kesepakatan mereka, malam itu Ningrum mewarnai rambut Puteri Juwita dengan inai yang dibeli oleh Bagas di ibukota. Mereka mendiamkan pewarna itu semalaman dan keesokan harinya Puteri Juwita baru mencucinya saat mandi.


"Wah, kau terlihat sangat berbeda. " Ningrum tertegun melihat perubahan gadis itu.


"Apakah jelek? " Tanya Puteri Juwita agak khawatir. Rambutnya yang keperakan kini berwarna hitam legam.


"Tidak, kau tetap cantik. Hanya saja kau terlihat seperti orang lain. " Kata Ningrum.


"Bukankah itu tujuan kita?" Bagas tiba-tiba ikut berkomentar. "Kau cocok dengan penampilan itu, Juwita. "


"Terima kasih, Kak. " Gadis itu tersenyum lega.


"Mulai sekarang, kita akan menjadi satu keluarga. Jangan sampai ada yang tahu kalau kita tidak ada hubungan darah. " Tabib Bagio menatap Puteri Juwita. "Mulai sekarang panggil aku ayah. "

__ADS_1


"Ayah."


__ADS_2