Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 44 Lahirnya Seorang Penerus


__ADS_3

Seluruh sudut istana Elfian sudah dibersihkan dan dicat ulang seperti baru. Peralatan makan mewah dikeluarkan dan ditata rapi. Kamar-kamar tamu untuk para Wakil Kerajaan juga sudah dipersiapkan.


Sehari sebelum Pertemuan Liga Kerajaan dilaksanakan, beberapa tamu undangan sudah datang. Mereka langsung diantarkan ke kamar tamu yang mewah.


Kamar-kamar tamu itu terletak di lantai dua bangunan istana. Jendela-jendela di kamar tamu menghadap halaman depan istana.


Tamu yang sudah datang hari itu adalah perwakilan dari Kerajaan Angsana dan Kerajaan Watu Ijo. Perwakilan dari kerajaan lain akan segera menyusul.


Raja Pramana sangat letih karena telah menempuh perjalanan jauh. Maka pemimpin Kerajaan Watu Ijo itu langsung beristirahat di kamarnya.


Sementara itu Pangeran Gaurav, diam-diam pergi dari kamarnya tanpa sepengetahuan Raja Pramana. Pria itu ingin menemui Ratu Gita.


Pangeran Gaurav menitipkan pesan kepada seorang Staf Kerajaan Elfian untuk Ratu Gita.


"Tolong sampaikan pada Ratu Gita, Pangeran Gaurav dari Kerajaan Watu Ijo ingin bertemu!"


Staf Kerajaan itu segera undur diri dan pergi ke Wisma Raja untuk menyampaikan pesannya kepada Ratu Gita. Kebetulan saat itu Ratu Gita sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku ditemani oleh kedua pelayannya.


"Permisi Yang Mulia. Saya ingin menyampaikan pesan dari Pangeran Gaurav. Beliau ingin bertemu dengan Yang Mulia." Staf Kerajaan itu berbicara dengan sopan.


"Pangeran Gaurav? Dimana dia? Bisakah kau menyuruhnya kemari?" Ratu Gita terlihat sangat gembira.


"Baik Yang Mulia." Staf Kerajaan itu segera beranjak pergi.


Tak lama kemudian, dia datang kembali bersama Pangeran Gaurav. Ratu Gita segera menyambut sepupunya itu.


Melihat kedatangan sepupu Ratu Gita itu,Esme dan Talitha segera menyingkir keluar.


Pangeran Gaurav menggandeng tangan Ratu Gita dan menyuruhnya untuk duduk. Dia melihat Ratu Gita agak kepayahan akibat kehamilannya.


"Lama sekali kau tidak mengunjungiku!" Ucap Ratu Gita setengah merajuk.


"Kau tahu sendiri, keadaan sangat kacau akhir-akhir ini Gita."


"Apa kalian juga ikut berperang melawan Kerajaan Dewanata?" Tanya Ratu Gita.


Pangeran Gaurav menggeleng, dia memandang wajah Ratu Gita seolah merahasiakan sesuatu.


"Kami hanya mengirimkan pasokan bahan makanan untuk Kerajaan Angsana. Pasukan Kerajaan Watu Ijo tak sebanyak kerajaan lain, Gita. Kami juga harus menjaga keamanan di dalam negeri."


"Aku mengerti. Keputusan itu pasti sudah kalian pikirkan masak-masak." Ratu Gita tersenyum maklum.


"Bagaimana keadaanmu? Kudengar suamimu pergi berperang selama 5 bulan?"


"Mau bagaimana lagi? Kita memiliki kewajiban untuk negara." Ratu Gita menghela napas panjang.


"Ngomong-ngomong, apakah ayahku datang?"


"Iya, beliau sekarang sedang istirahat."


Ratu Gita mengangguk-angguk memaklumi. Sebenarnya dia ingin bertemu ayahnya. Tapi pertemuan terakhir dengan ayahnya itu masih menyisakan kesedihan di hatinya.


"Kau ingin menemuinya?" Tanya Pangeran Gaurav.


"Apa aku masih boleh menemuinya?" Tanya Ratu Gita dengan sedih.


"Tentu saja. Dan aku berharap ayahmu bisa membuka hatinya jika tahu akan segera mendapat cucu darimu." Pangeran Gaurav menyentuh tangan Ratu Gita, wajahnya terlihat sedih.


"Andai saja aku tahu, apa sebenarnya kesalahanku." Gumam Ratu Gita.

__ADS_1


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal-hal di luar kemampuanmu. Sekarang yang penting kau bisa menjaga dirimu sendiri." Pangeran Gaurav menghela napas.


"Terima kasih, Gaurav."


"Sebenarnya aku mengkhawatirkanmu. Aku sempat mendengar kabar buruk tentang dirimu. Aku harap kau selalu bahagia, Gita."


"Ya, sebenarnya banyak hal yang terjadi padaku sejak aku masuk ke istana ini. Tapi sekarang aku baik-baik saja, Gaurav. Jangan cemas!"


"Dan kuharap kau cepat menikah."


"Entahlah Gita. Ayahmu mengatakan akan menjodohkan aku dengan seorang Puteri. Entah siapa dia?"


"Hidup kita selalu diatur oleh orang lain" Ucap Ratu Gita.


"Dulu kau juga pernah mengatakan hal yang sama. Hidup kita selalu diatur oleh orang lain."


"Benarkah? Kapan aku mengatakannya?"


"Sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, ketika itu usiamu baru 14 tahun."


"Oh, ya?"


"Aku baru ingat, suasana waktu itu persis seperti sekarang ini. Waktu itu sedang diadakan acara Penobatan Putera Mahkota Kerajaan Elfian."


"Benarkah?"


"Paman Pramana mengenalkanmu pada Raja Prasetya dan Ratu Juwita, kedua orang tua suamimu. Mereka sudah lama bersepakat untuk menjodohkan kalian."


"Aku tidak ingat. Lalu apa yang terjadi?"


"Saat mengetahuinya kau langsung menangis dan lari ke taman. Tepat di bawah pohon itu kau menangis. Aku bahkan tidak bisa membujukmu." Pangeran Gaurav menunjuk sebuah pohon yang tumbuh di depan Wisma Raja.


"Kenapa aku tidak ingat Gaurav? Aku bahkan tidak tahu bahwa aku pernah datang ke istana ini sebelumnya." Ratu Gita terlihat bingung.


*****


Malam harinya, Ratu Gita gelisah di pembaringannya. Dia memikirkan perkataan Pangeran Gaurav tadi siang.


"Kau belum tidur, Sayang?" Tanya Raja Satria yang baru masuk ke kamarnya.


"Gaurav menemuiku tadi siang."


"Oh ya? Lalu kenapa kau terlihat cemas?"


"Apakah kau ingat pernah bertemu denganku sebelumnya?"


"Tidak. Kapan?"


"Tujuh tahun yang lalu. Kata Gaurav, tujuh tahun yang lalu aku kemari saat penobatanmu sebagai Putera Mahkota."


"Entahlah Sayang, aku tidak ingat." Raja Satria memeluk tubuh istrinya.


"Aku juga tidak ingat." Keluhnya.


"Tidurlah, jangan mencemaskan apa pun." Bisik Raja Satria.


Ratu Gita terlelap, namun dia kembali bangun saat merasa perutnya terasa mulas. Wanita itu turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu dia kembali duduk di pinggir ranjang.


Tak lama kemudian perutnya kembali mulas, kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Rasa sakit itu membuatnya mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Kau kenapa, Sayang? Perutmu sakit?" Tanya Raja Satria yang terbangun. Dia melihat istrinya sedang memegangi perutnya.


"Kurasa, aku akan segera melahirkan."


"Apa? Melahirkan?" Raja Satria berteriak histeris.


"Tunggu disini, aku akan memanggil tabib!" Raja Satria segera keluar menemui pengawal yang berjaga di pintu.


"Cepat panggil Tabib. Ratu Gita mau melahirkan!" Perintahnya. Kemudian pria itu kembali ke dalam menemui istrinya.


Tabib datang bersama seorang bidan untuk membantu proses persalinan. Kedua pelayan pribadi Ratu Gita juga dipanggil.


"Cepatlah Albus, istriku sedang kesakitan!"


"Baik Yang Mulia." Jawab tabib tua itu.


Setelah memeriksa kondisi tubuh Ratu Gita, Tabib itu keluar dari kamar. Dia membiarkan bidan yang akan mengurus persalinan dibantu oleh Esme dan Talitha.


Karena tidak tahan melihat istrinya kesakitan, akhirnya Raja Satria keluar. Di sana sudah ada Eldrige yang sedang duduk dengan raut wajah yang tampak cemas.


Raja Satria menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah Eldrige. Wajahnya terlihat kusut. Berkali-kali pria itu menatap pintu kamar dengan cemas.


Beberapa pelayan datang membawa baskom berisi air panas dan barang-barang lain. Mereka tetap di dalam untuk membantu.


Selang beberapa waktu, terdengar tangisan bayi dari dalam kamar. Raja Satria terlonjak kaget dan air mata langsung membasahi pipinya.


Dia segera memasuki kamar dan melihat istrinya sedang diganti pakaiannya. Sedangkan bayinya sedang dibersihkan dan dibungkus seperti buntalan.


"Selamat Yang Mulia, seorang Puteri telah lahir di Istana ini!" Bidan segera menyerahkan bayi itu ke pelukan ayahnya.


Raja Satria memeluk bayinya dengan penuh haru. Entah kenapa perasaannya menjadi sangat sensitif. Rasanya dia ingin menangis lagi.


"Lihatlah Sayang, ini anak kita."


Raja Satria mendekatkan bayinya kepada Ratu Gita. Kemudian Ratu Gita menggendong bayi itu. Air matanya menetes karena bahagia. Raja Satria mengecup kening istrinya itu.


"Terima kasih Sayang, kau sudah memberiku segalanya."


Tak lama kemudian tabib kembali masuk untuk memeriksa Ratu Gita dan bayinya. Sementara itu Raja Satria keluar menemui pengawal.


"Kabarkan kepada Raja Pramana dari Kerajaan Watu Ijo bahwa cucunya sudah lahir!"


"Baik Yang Mulia!" Pengawal itu langsung pergi.


Raja Satria kembali ke ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat cerah.


"Kau sekarang sudah menjadi kakek, Eldrige!"


Raja Satria menepuk bahu Eldrige dengan gembira. Wajahnya kembali terlihat menyebalkan di mata Eldrige.


"Paman!" Eldrige meralat.


"Kakek!" Raja Satria masih ngotot.


"Panggil namaku saja!" Seru Eldrige.


"Tapi bayiku ingin memanggilmu kakek!"


"Bayi itu belum bisa bicara!" Bantah Eldrige.

__ADS_1


"Aku ayahnya, Eldrige. Dan aku tahu bayi itu ingin memanggilmu K-A-K-E-K!"


"Terserah!" Eldrige akhirnya menyerah.


__ADS_2