
"Nenek?" seru Puteri Juwita begitu mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.
"Kau tidak bisa tidur?"
"Aku baru saja terbangun, nenek." Puteri Juwita melangkah mendekati wanita tua itu. "Nenek kenapa kemari?"
"Nenek hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, nek."
"Sebenarnya, nenek tahu di mana tempat Mangal Arti itu disimpan."
"Benarkah, nek? Tapi nenek tidak perlu mengatakannya padaku karena aku tidak berminat pada benda itu."
"Kau gadis yang polos, persis seperti nenekmu. Nenek ingin mengadakan upacara penyucian agar kau terlepas dari nasib buruk. Bagaimana menurutmu?"
"Apakah upacara itu bisa melepaskan aku dari bayang-bayang Dewa Murr?"
"Nenek harap begitu. Seorang pendeta telah memilihkan hari baik untuk melaksanakan upacara itu."
"Aku menurut perkataan nenek saja."
"Nenek lega mendengarnya. Tapi sebelum upacara itu dilaksanakan, ada satu hal yang harus kau lakukan Juwita."
"Apa, Nek?"
"Membawa Mangal Arti itu kemari."
"Tapi, bukankah benda itu disimpan oleh mendiang raja?"
"Iya benar dan nenek juga tahu tempatnya. Tapi sayangnya nenek tidak bisa mengambilnya."
"Kenapa?"
"Benda itu telah disegel. Tidak satupun orang yang bisa mengambilnya kecuali orang yang diberkati Dewa Murr."
"Maksud nenek, aku?" Gadis itu tampak terkejut.
"Benar Juwita."
"Baiklah nek, katakan saja di mana letaknya. Nanti aku akan mengambilnya."
"Di sebuah kuil kuno yang terletak di kota Samandar, carilah pendeta Jairam."
"Baiklah nek, besok aku akan ke sana."
"Terima kasih, Juwita." Nenek Divya tersenyum lega lalu dia melanjutkan, "Tapi ada satu hal lagi, jangan sampai ada yang tahu kau pergi ke sana."
Puteri Juwita merasa heran dengan perkataan Nenek Divya, namun sebelum gadis itu bertanya Nenek Divya segera menjawab keheranan gadis itu.
"Mangal Arti adalah benda yang berbahaya jika sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, jadi pergilah diam-diam. Keselamatanmu akan terancam jika ada yang tahu kau memiliki benda itu."
Tengkuk Puteri Juwita meremang. Hal-hal ganjil yang terjadi padanya belakangan ini memang membuatnya gelisah. Apalagi tadi dia sempat melihat orang asing yang seharusnya hanya ada di dalam mimpinya.
"Nenek berharap kau berhasil mendapatkannya, Juwita. Ah, tapi sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Tidurlah kembali, kau harus cukup istirahat untuk perjalananmu besok."
Setelah Nenek Divya pergi, Puteri Juwita termenung. Dia berharap perkataan Nenek Divya benar. Dia sudah ingin segera terbebas dari hal-hal aneh itu.
"Ah, aku pusing." Puteri Juwita mengacak rambutnya. Dia kini kembali berbaring dan memejamkan mata. Tak lama kemudian dia kembali tidur.
Pagi hari ketika pelayan membuka tirai, Puteri Juwita bergegas turun. Setelah bersiap-siap, dia segera pergi ke istal dan menaiki seekor kuda betina berwarna coklat tua yang disediakan seorang petugas yang telah ditugaskan Nenek Divya. Petugas itu membawanya melewati gerbang khusus pegawai istana agar tak seorangpun melihatnya keluar dari istana.
Di pagi yang dingin dan berkabut itu, Puteri Juwita menderap kudanya melewati jalanan ibukota menuju wilayah pesisir. Dia masih mengingat rute menuju kota Samandar yang pernah dilewatinya ketika bersama keluarga Tabib Bagio.
Langit sudah benar-benar terang saat dia sampai di perbatasan kota. Udara asin masuk ke penciumannya dan deburan ombak terdengar di kejauhan. Jarak pelabuhan masih bebeberap kilo meter lagi namun bukan ke sana tujuannya.
Puteri Juwita mengamati secarik kertas berisi nama kuil yang diberikan penjaga istal tadi pagi. Karena tidak memahami lokasi itu dia memutuskan untuk bertanya. Beberapa kali dia diarahkan ke beberapa tempat namun rupanya bukan kuil yang dicarinya. Bahkan tak ada yang mengenal nama pendeta Jairam.
"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengatakan kalau sedang mencari Mangal Arti," desahnya sambil mengusap butiran keringat di dahinya.
__ADS_1
Sampai siang dia belum juga menemukan kuil itu. Puteri Juwita akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Perutnya perih karena sejak pagi belum terisi.
"Aku mampir ke warung sana saja," batinnya saat melihat sebuah warung yang berada agak turun ke bawah.
Dia turun dari kudanya dan menuntun binatang itu menuruni tanah landai. Pohon-pohon kelapa tumbuh menjulang memayungi halaman warung. Setelah mengikat kudanya, Puteri Juwita masuk ke dalam.
"Permisi," ucapnya ketika dilihatnya warung itu sepi. "Permisi!"
"Ah, selamat datang." Seorang lelaki berkulit gelap keluar sambil membawa nampan berisi makanan yang masih mengepulkan asap.
"Saya mau pesan makanan."
"Ah, silakan nona. Kebetulan masakan saya baru matang."
"Ehm, tapi sebelum itu bolehkah saya minta air dan rumput untuk kuda saya?"
"Wow, kuda yang cantik. Sepertinya bukan kuda biasa," kata lelaki itu dengan sorot kagum. "Sebentar, saya akan suruh anak saya mengurus kuda itu."
Lelaki itu masuk lagi. Tak berselang lama dia keluar sambil membawa makanan dan minuman ke meja Puteri Juwita.
"Oh ya Pak, bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Tentu saja."
"Apakah bapak mengenal seorang pendeta bernama Jairam?"
Tiba-tiba tangan lelaki itu menyenggol gelas minuman yang baru dia letakkan di meja hingga isinya tumpah. Wajah lelaki itu kini menampakkan gelagat aneh.
"Nona tahu nama itu dari mana?" Suara lelaki itu bergetar ketika bertanya.
"Nenek saya menyuruh saya menemuinya. Ini nama kuilnya." Puteri Juwita menyodorkan kertas yang dari tadi digenggamnya.
Lelaki itu melirik sekilas tanpa bermaksud untuk mengambilnya.
"Nona, saya sarankan agar Nona mengurungkan saja niat untuk menemui orang ini. Dia ... sangat berbahaya."
Puteri Juwita tersentak kaget. Lelaki ini pasti salah. Tidak mungkin kalau nenek Divya mengirimnya untuk menemui orang yang berbahaya.
"Dia memang seorang pendeta. Tapi pendeta pemuja iblis."
Tengkuk Puteri Juwita langsung meremang. Dia berharap lelaki itu salah.
"Kalau bapak tahu, tolong tunjukkan saja tempatnya."
"Kalau Nona memaksa, akan saya tunjukkan. Nikmati dulu makanan Nona karena ... " Lelaki itu tidak melanjutkan kalimatnya karena tidak ingin buang-buang waktu percuma. Dia tahu gadis di hadapannya pasti tetap pergi menemui pendeta itu juga.
Setelah makan, sesuai janjinya lelaki itu menunjukkan arah menuju kuil tempat pendeta itu berada.
Puteri Juwita mengikuti petunjuk yang diberikan lelaki itu. Dia menyusuri jalanan berpasir yang semakin dekat dengan laut. Tak lama kemudian, puncak sebuah bangunan mulai terlihat.
*****
"Aku tidak melihat Juwita seharian ini, apa kau tahu dia ke mana?" tanya Puteri Pertiwi pada Ningrum ketika mereka bertemu di taman pada sore harinya.
"Ah, aku juga tidak melihatnya." Ningrum juga merasa heran.
"Tadi aku ke kamarnya dan kata pelayan, dia pergi berkuda sejak pagi. Tapi aku heran kenapa dia belum juga kembali."
"Apakah mungkin, Juwita pergi dengan Tuan Eldrige? Seharian ini aku tidak melihat pelayannya. Padahal biasanya laki-laki itu sering sekali pergi ke dapur." Kata Ningrum.
"Oh, begitukah? Kalau benar aku sangat lega. Sebenarnya akhir-akhir ini aku mencemaskannya. Dia terlihat murung dan sering menyendiri."
Ningrum tercenung. Memang akhir-akhir ini sahabatnya itu terlihat agak aneh. Dia seolah-olah menghindari semua orang.
"Tapi aku pernah melihatnya berbicara serius dengan Nona Sekar. Entah kenapa sepertinya hubungan mereka tak sebaik yang terlihat." Puteri Pertiwi memandang Ningrum seolah ingin memastikan kecurigaannya.
"Eh, itu ... " Ningrum sendiri agak bingung untuk menggambarkan hubungan Puteri Juwita dan Nona Sekar. Meski sahabatnya itu tidak mau jujur tentang masalah di antara keduanya, namun samar-samar dia bisa menebak.
"Apakah Nona Sekar menyukai Tuan Eldrige? Sebagai seorang wanita aku bisa menilai tatapannya saat melihat kekasih sepupuku itu."
__ADS_1
"Juwita tidak pernah bercerita apa-apa tapi ... Itulah juga yang aku pikirkan," jawab Ningrum.
"Benar kan? Kau ... bisa merasakannya juga ya?" Ucap Puteri Pertiwi dengan rasa puas karena pikirannya sama dengan pikiran Ningrum.
"Tapi semuanya tergantung Tuan Eldrige. Aku yakin dia sangat mencintai Juwita meskipun sikapnya akhir-akhir ini juga agak aneh."
"Ah, jangan terlalu dipikirkan. Sangat wajar adanya pertengkaran kecil dan selisih paham antara sepasang kekasih, aku dan kakakmupun sudah mengalaminya." Wajah Puteri Pertiwi bersemu merah saat mengatakannya. "Dan itu tidak berarti kami tidak saling mencintai."
Ningrum mengangguk. Meskipun dia belum pernah menjalin hubungan dengan seorang priapun namun dia merasa perkataan kakak iparnya itu ada benarnya.
"Oh? Itu ..." Ningrum tiba-tiba terlonjak begitu melihat Eldrige berjalan sambil diikuti Eshwar.
"Tuan Eldrige!" Panggil Puteri Pertiwi.
Lelaki yang dipanggil segera menoleh dan berjalan mendekat.
"Salam, Tuan Puteri. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Eldrige.
"Apa kau habis jalan-jalan?"
"Ah, tidak. Kami baru saja berlatih di bukit belakang istana," jawab Eldrige.
"Lalu, Juwita di mana?"
"Juwita?" Eldrige heran sambil mengamati wajah kedua wanita di hadapannya yang terlihat menunggu jawabannya.
"Apa dia tidak bersama kalian?" Eldrige balik bertanya.
"Seharian ini kami tidak melihatnya." Suara Ningrum agak terpekik saking cemasnya.
"Apa tidak ada yang melihatnya? Pelayan bagaimana? Mereka tidak mengatakan apa-apa?" Kedua wanita itu dicecar pertanyaan oleh Eldrige yang merasa cemas.
"Mereka bilang kalau Juwita pergi menunggang kuda tadi pagi. Aku kira dia persamamu," jawab Puteri Pertiwi. "Ah, akan kuperintahkan para prajurit untuk mencarinya."
"Tunggu! Jangan sampai ada yang tahu kalau Puteri Juwita menghilang. Biar saya yang mencarinya." Cegah Eldrige. Dia segera pergi bersama Eshwar. Kedua wanita itu hanya memandanginya saja dengan khawatir.
Setelah berada jauh dari kedua wanita itu, Eldrige memerintahkan Eshwar untuk mencari Puteri Juwita. Mereka berdua berpencar. Eshwar dengan kecerdikannya mencari tahu lewat para pelayan yang sudah mulai akrab dengannya.
"Tadi pagi aku melihat seorang wanita meninggalkan istana lewat gerbang khusus pegawai. Tapi aku tidak jelas melihat wajahnya," kata seorang pelayan.
Sementara itu di istal, Eldrige mendapati semua petugas tidak ada yang tahu menahu perihal kepergian Puteri Juwita. Dahi Eldrige berkerut, dia merasakan kejanggalan.
Dia kembali bertemu Eshwar ketika malam sudah turun. Tidak bisa digambarkan betapa gelisahnya hati lelaki itu begitu mendengar informasi yang didapat Eshwar tidak lebih baik darinya.
Langit begitu gelap karena benda-benda angkasa yang biasanya menyemarakkan langit malam kini tertutup mendung. Eldrige bisa memprediksi kalau sebentar lagi hujan akan turun.
"Kau teruskan pencarian di istana ini. Aku akan mencari di tempat lain," kata Eldrige.
"Tapi Tuan, hujan sebentar lagi turun," kata Eshwar cemas.
"Karena itulah kita harus segera menemukan Juwita."
Eshwar tidak membantah lagi, dia tahu betapa besarnya perasaan cinta tuannya itu kepada Puteri Juwita. Dia kembali masuk ke istana dan diam-diam mencoba mencari keberadaan Puteri Juwita.
Sementara itu Eldrige lebih memilih menyelinap keluar tanpa sepengetahuan para penjaga agar leluasa mencari Puteri Juwita tanpa menghabiskan banyak waktu untuk pemeriksaan.
Jalanan di ibukota masih ramai dan semarak. Dia sebenarnya bingung akan mencari ke mana karena sama sekali tidak punya gambaran tentang tempat yang mungkin dituju gadis itu. Namun dia memutuskan untuk menyewa kuda karena kudanya dia tinggal di istal.
"Eldrige!" Seseorang memanggilnya.
"Sekar?" Eldrige terkejut melihat wanita itu di sini.
"Kau pasti mencari Juwita kan?"
"Kau tahu di mana dia?"
Nona Sekar mengangguk, "Tadi pagi tanpa sengaja aku melihatnya pergi diam-diam, jadi aku memutuskan untuk mengikutinya."
"Lalu dia sekarang di mana?" tanya Eldrige tidak sabar.
__ADS_1
Sebuah senyum ganjil terbit di sudut bibir Nona Sekar. "Akan kuantarkan kau ke sana."