Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 161 Waktu Yang Hilang


__ADS_3

Puteri Juwita menghampiri jendela kamarnya. Goresan kilat berderak di langit, menyinari tubuhnya dengan cahaya putih kebiruan.


"Kenapa aku seakan tidak mengenal diriku sendiri?" Gumamnya dengan perasaan gundah. Perkataan Eldrige sebelumnya telah menyita pikirannya.


Hujan deras terdengar seperti dentingan koin. Badai terus mendekat dan pohon-pohon meliuk tertiup angin. Petir bergemuruh menggetarkan kaca, tubuh Puteri Juwita mundur menjauh.


Gadis itu gemetar ketakutan. Namun ketakutannya bukan karena gemuruh petir melainkan karena sebab yang lain.


"Si-siapa kau?" Suaranya tercekat melihat bayangannya di kaca jendela. Bayangan itu menyerupai dirinya namun matanya berwarna merah membara.


Duaaarrr!


Petir kembali menggelegar. Bayangan menakutkan tadi lenyap dan digantikan bayangan aslinya. Puteri Juwita segera melompat ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Api yang menyala pada lilin di pojok ruangan berkedip-kedip membuat bayangan benda-benda di ruangan itu bergerak-gerak menakutkan.


Deg..deg..deg..


Jantung gadis itu berdetak kencang. Bayangan tadi masih menghantuinya. Dia tidak tahu yang dilihatnya itu nyata atau hanya hayalannya semata. Namun begitu, hal itu sudah membuatnya ketakutan.


Blam.


Tiba-tiba lilin padam. Kamar itu sekarang gelap. Sesekali cahaya kilat yang menerjang di luar sana menerangi tempat itu.


Tek..tek..tek..


Suara langkah yang ganjil terdengar mendekat. Perlahan-lahan Puteri Juwita menurunkan selimutnya dan mengintip ke luar.


..... Tidak ada siapapun. Tapi tengkuk gadis itu merinding. Puteri Juwita mengedarkan pandangannya, mencoba mencari apapun yang bergerak di ruangan itu.


Selarik cahaya dari luar kembali menerangi malam sebelum disusul suara pecah menggelegar. Saat itulah Puteri Juwita melihatnya. Sosok itu berdiri di tengah ruangan memunggungi jendela. Wajahnya tak terlihat, namun gadis itu bisa menduga bahwa sosok itu adalah yang dilihatnya tadi.


"Aaaa..!" Gadis itu berteriak. Namun teriakannya teredam suara petir.


Puteri Juwita kembali menyusup ke dalam selimut. Dia sangat ketakutan. Petir kembali menyambar. Dari dalam selimut dia melihat sebuah bayangan mendekat dan berhenti tepat di sampingnya. Tak lama setelahnya selimut yang menutupi seluruh tubuhnya direnggut.


"Kau sudah bangun?"


Puteri Juwita tersentak begitu berhadapan dengan wajah Eldrige. Namun yang lebih mengejutkannya adalah suasana kamar yang kini tampak terang benderang.


Puteri Juwita mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau terpapar sinar matahari yang masuk lewat jendela. Rasanya sulit dipercaya bahwa waktu telah berganti siang.


"Bukankah tadi hujan?" Tanya gadis itu bingung.

__ADS_1


"Semalam memang hujan disertai badai. Tapi hari ini sangat cerah. Aku kemari karena kau tidak datang untuk sarapan. Apa semalam kau tidur larut?" Eldrige tersenyum sambil meletakkan nampan berisi makanan di hadapan Puteri Juwita.


"Aku..Ah, semalam aku tidak bisa tidur karena ketakutan. Lilin mati dan.." Gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya karena tidak mampu mencerna apa yang terjadi padanya.


"Suara petir pasti membuatmu takut." Tangan Eldrige mengelus kepala Puteri Juwita dengan lembut.


"Eldrige, sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak mengerti bagaimana bisa sekarang tiba-tiba sudah siang?"


"Kau pasti tertidur. Waktu aku masuk kemari kau sedang tidur meringkuk di dalam selimut."


"Benarkah?" Puteri Juwita ingin mempercayai perkataan Eldrige, namun hatinya masih saja sulit menerimanya.


"Sekarang makanlah dulu, aku akan menunggumu di bawah." Eldrige mengecup keningnya lalu melangkah pergi. Pria itu tersenyum padanya sebelum menutup pintu kamar.


Puteri Juwita termangu. Apakah yang semalam hanya mimpi? Ya, pasti itulah yang terjadi, pikirnya.


*****


"Pernikahan kami akan dilaksanakan akhir bulan ini. Para utusan sudah berangkat untuk menyebarkan undangan." Puteri Pertiwi mengabarkan berita gembira itu pada sore harinya ketika sedang bejalan-jalan di taman bersama Puteri Juwita dan Ningrum.


"Wah, selamat ya." Ucap Puteri Juwita sambil tersenyum.


"Aku masih tidak menyangka kalau kakakku akan menikah denganmu, Pertiwi." Ningrum berkata sambil mencabut setangkai bunga marigold.


"Benar." Puteri Juwita dan Ningrum mengangguk bersamaan.


"Apa kau berencana untuk pulang ke Elfian, Juwita?" Pertanyaan Ningrum mengejutkan Puteri Pertiwi, gadis itu segera menoleh pada Puteri Juwita.


"Sebenarnya aku sudah rindu sekali dengan orang tuaku. Dan aku juga ingin melihat adik bayiku. Kemarin sebelum pergi, Paman Gaurav berkata akan mampir dulu ke Elfian untuk mengabarkan keadaanku pada orang tuaku." Jawab Puteri Juwita.


"Nenek mengatakan padaku bahwa ayah juga mengundang orang tuamu untuk datang ke pernikahanku. Ah..rasanya aku enggan berpisah darimu, Juwita." Puteri Pertiwi merangkul pundak sepupunya itu.


"Bukankah Ningrum masih di sini? Lagipula sebentar lagi Kak Bagas akan menjadi suamimu, dia pasti tidak akan membiarkanmu kesepian." Ucap Puteri Juwita sambil terkikik.


Ningrum ikut terkikik. Sedangkan Puteri Pertiwi pura-pura merajuk dengan wajah memerah, namun akhirnya dia ikut-ikutan tertawa. Namun keseruan mereka terhenti manakala di ujung jalan mereka melihat Eldrige sedang berbincang dengan seseorang.


"Bukankah itu Tuan Eldrige?" Ningrum menoleh pada Puteri Juwita.


Puteri Juwita mengamati Eldrige yang seolah tidak menyadari kehadiran mereka. Gadis itu ingin tahu dengan siapa Eldrige berbicara.


"Aku akan menemui Eldrige dulu. Kalian lanjutkan saja jalan-jalan ini sendiri, ya?" Kata Puteri Juwita.


"Iya, kami mengerti." Jawab kedua gadis itu sambil cekikikan.

__ADS_1


Setelah Puteri Pertiwi dan Ningrum berbelok, Puteri Juwita segera berjalan mendekati Eldrige. Namun sebelum langkahnya sampai, Puteri Juwita segera berhenti dan bersembunyi di balik rimbunan perdu.


Dari tempatnya sekarang, Puteri Juwita kini bisa melihat jelas dengan siapa Eldrige berbicara. Tiba-tiba saja dada gadis itu bergemuruh.


"Apa kau sungguh-sungguh, Sekar?" Suara Eldrige terdengar sampai di telinga Puteri Juwita.


"Kau harus percaya padaku, Eldrige. Ini adalah jalan satu-satunya." Nona Sekar berbicara sambil menatap Eldrige.


"Apa kau yakin? Aku akan mencari cara agar Juwita tidak tahu." Kata Eldrige dengan suara tegas.


"Cepat atau lambat dia pasti akan tahu. Jika kau terus menunda-nunda memberitahunya, hal itu tidak akan baik untuknya. Dia pasti akan lebih kecewa jika sampai mengetahui hal ini sendiri." Nona Sekar mendekati Eldrige dan meletakkan tangannya pada lengan pria itu


"Tidak, aku tidak akan membiarkannya." Eldrige menggeleng.


Puteri Juwita memalingkan wajahnya. Dia tidak menyangka akan memergoki Eldrige berduaan dengan Nona Sekar di taman ini. Sebenarnya dia penasaran dengan pembicaraan mereka karena menyebut-nyebut tentang dirinya, tapi dia tidak sanggup lebih lama lagi menyaksikan kedekatan keduanya.


Gadis itu memutuskan untuk pergi. Dia kemudian diam-diam berjalan menyusul kedua gadis tadi. Sebelah tangannya mengusap air mata yang jatuh tanpa bisa dicegah.


Suasana hati gadis itu menjadi buruk. Dia tidak banyak bicara ketika bertemu dengan Puteri Pertiwi dan Ningrum yang terus menggodanya mengenai Eldrige. Di pikirannya hanya berisi bayangan Eldrige yang sedang berduaan dengan Nona Sekar.


"Kenapa kau tega sekali, Eldrige?" Batinnya.


Malamnya ketika gadis itu akan pergi tidur, Eldrige mencegatnya. Eldrige sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu mengacak rambut Puteri Pertiwi yang kini sudah kembali ke warna alaminya dan menyampaikan ucapan selamat tidur yang sangat manis. Sikap Eldrige itu membuat Puteri Juwita semakin sakit hati.


"Aku sudah mengantuk, Eldrige." Puteri Juwita mengalihkan pandangannya dari pria itu. Sebenarnya dia berharap Eldrige setidaknya menyinggung pertemuannya dengan Nona Sekar sore tadi.


"Ah, kalau begitu sebaiknya kau segera tidur. Malam ini kelihatannya tidak akan hujan, jadi kuharap tidurmu nyenyak." Kata Eldrige sambil tersenyum.


Puteri Juwita mengangguk pelan lalu segera berbalik untuk masuk ke kamarnya. Namun tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang.


"Aku mencintaimu, Juwita." Eldrige berbisik di telinganya.


Puteri Juwita tidak mengucapkan sepatah katapun, hatinya terlalu sakit mendengar ucapan Eldrige yang kini terasa palsu. Perlahan dilepasnya pelukan Eldrige.


"Aku lelah." Puteri Juwita segera masuk ke kamar tanpa menoleh.


Di dalam kamar dia berdiri menyandar pada pintu. Bahunya bergetar dan air mata meluncur membasahi pipinya. Pelan-pelan tubuhnya merosot ke bawah.


"Kenapa kau tidak jujur saja, Eldrige?"


Gadis itu menunduk memeluk lututnya sambil terisak-isak. Emosinya kini seakan meledak-ledak, antara marah dan sakit hati.


Setelah puas menangis Puteri Juwita mengangkat wajahnya. Namun matanya yang sembab itu segera melebar saat melihat ruangan itu terang benderang. Sinar matahari menyorot melewati jendela.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Gadis itu kaget karena lagi-lagi waktu berlalu tanpa disadarinya.


__ADS_2