
Eldrige datang setelah dua hari pergi tanpa kabar. Pria itu memasuki perpustakaan ketika melihat Puteri Juwita sedang memilih-milih buku di rak.
Tanpa menimbulkan suara, Eldrige mengikuti gadis itu yang berjalan di antara rak-rak buku yang tinggi. Puteri Juwita sama sekali tidak menyadari kehadiran Eldrige dan tetap sibuk membolak-balik halaman buku kemudian meletakkannya kembali ke atas rak, lalu mencari-cari lagi.
Saat Puteri Juwita mengambil salah satu buku tebal bersampul kulit, tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang juga sedang memegang buku itu di seberang sana.
Puteri Juwita berusaha mempertahankan buku itu, tapi lawannya di balik rak itu juga tidak mau kalah. Akhirnya terjadi tarik-menarik untuk memperebutkan buku itu.
Pada saat Puteri Juwita kelelahan, gadis itu melepaskan pegangannya. Orang di seberang sana telah memenangkan pertandingan tarik-menarik tadi. Namun ketika Puteri Juwita menatap ke depan, di balik rak itu dia melihat wajah Eldrige yang sedang tersenyum jahil.
"Eldrige! " Pekiknya.
"Sstt.. jangan berteriak Tuan Puteri, ini perpustakaan! " Ucap Eldrige untuk menggodanya.
"Huft, kau menyebalkan sekali! " Gadis itu meniup poninya sambil melipat tangannya di depan dada.
"Jangan marah, Juwita! " Eldrige berjalan seiring langkah Puteri Juwita di seberangnya.
Pria itu bisa melihat wajah gadis itu cemberut lewat celah-celah tumpukan buku. Entah kenapa melihat wajah cemberut gadis itu membuatnya senang dan semakin ingin menggodanya.
"Apa yang kau inginkan, Eldrige? " Tanya Puteri Juwita dengan ketus saat mereka bertemu di ujung rak.
"Saya ingin menyerahkan buku ini! " Eldrige meraih tangan Puteri Juwita dan menaruh buku yang tadi mereka perebutkan di atas tangan gadis itu.
Puteri Juwita mau tak mau akhirnya tersenyum melihat tingkah Eldrige yang jahil. Pria yang selama ini terlihat dingin itu akhir-akhir ini bertingkah agak konyol.
Apa ini karena pria itu sedang jatuh cinta? Tiba-tiba Puteri Juwita teringat perkataan teman-temannya. Ternyata tidak hanya Nona Sekar saja yang bertingkah aneh, Eldrige juga sekarang sering bertingkah aneh. Benarkah ada sesuatu di antara mereka?
Puteri Juwita memandangi wajah Eldrige sangat lama membuat pria itu salah tingkah.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh? " Eldrige mencoba bersikap tenang.
"Apa kau sedang jatuh cinta, Eldrige?" Pertanyaan Puteri Juwita yang blak-blakan itu langsung membuat Eldrige terbatuk-batuk. Dia tidak menyangka gadis itu akan menyadarinya secepat itu.
"Katakan padaku Eldrige, apakah aku mengenal wanita itu? " Tanya Puteri Juwita penuh rasa ingin tahu.
Wajah Eldrige merah padam, jantungnya berdegup kencang seolah-olah akan segera meloncat keluar dari dadanya.
Apakah aku harus mengungkapkannya sekarang? Masa aku menyatakan cintaku di perpustakaan? Bagaimana kalau ada yang melihat? Astaga, aku gugup sekali ..
Akhirnya dengan memberanikan diri Eldrige meraih tangan Puteri Juwita dan menggenggamnya, membuat dada gadis itu tiba-tiba berdebar-debar tak karuan. Dia melihat sesuatu yang lain di mata Eldrige yang merah dan berkilat, seakan ada perasaan terpendam yang di sembunyikan oleh pria itu.
"Juwita, sebenarnya aku.. "
"Eldrige, kau sudah kembali? " Suara seseorang memotong perkataan Eldrige.
Puteri Juwita segera menarik tangannya dari genggaman Eldrige ketika menyadari siapa yang datang. Gadis itu merasa kesal, dia kini mengira Eldrige datang ke perpustakaan untuk menemui Nona Sekar.
"Saya permisi! " Puteri Juwita cepat-cepat meninggalkan mereka. Tak lupa gadis itu melemparkan lirikan tajam ke arah Eldrige.
Dia selalu merasa terganggu jika melihat kedekatan kedua orang itu. Dulu dia sempat ingin menjodohkan mereka berdua, tapi entah kenapa sekarang gadis itu menjadi sangat kesal jika membayangkannya.
Eldrige menatap kepergian gadis itu dengan perasaan kecewa. Sepertinya dia harus betul-betul mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
*****
Buk!
Puteri Juwita melemparkan dirinya ke atas kasur dengan wajah muram. Entah kenapa tadi dia merasa Eldrige ingin mengatakan sesuatu yang penting tapi langsung di ganggu oleh kedatangan Nona Sekar.
"Kau kenapa, Juwita? " Tanya Ningrum yang melihat teman sekamarnya itu dari tadi berguling-guling di kasurnya.
"Aku merasa kesal, Ningrum! " Katap Puteri Juwita sambil tangannya memukul kasur.
"Kesal pada siapa? " Dahi Ningrum berkerut heran.
"Aku kesal pada Eldrige! "
"Kenapa? Bukankah dia selalu baik padamu? "
"Masalahnya, dia tidak hanya baik kepadaku!"
"Maksudmu apa? "
"Eldrige itu kelihatannya betah tinggal di asrama ini karena dikelilingi oleh gadis-gadis cantik yang memujanya! "
"Astaga, apa kau sedang cemburu? "
"Apa? Huh, tidak mungkin aku cemburu padanya. Aku hanya kesal karena dijadikan alasan agar dia bisa dekat-dekat dengan Nona Sekar! "
"Kenapa kau harus kesal kalau mereka berdua dekat? Bukankah Eldrige juga berhak untuk mencari pasangan? Kau pernah bilang bahwa dia adalah pegawai ayahmu, tapi bukan berarti kau bisa mengekang kebebasannya untuk mencintai seorang wanita! " Ningrum berusaha menasehati temannya itu.
Ucapan Ningrum membuat Puteri Juwita tersentak. Benarkah selama ini dia sudah bersikap keterlaluan dengan mengekang kebebasan Eldrige?
Maafkan aku, Eldrige. Selama ini aku terlalu egois karena telah terbiasa bermanja-manja padamu. Mulai sekarang aku akan merelakan jika kau ingin menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Memiliki pemikiran seperti itu membuat Puteri Juwita merasa sedih. Namun dia tidak ingin menghalangi kebahagiaan Eldrige.
Puteri Juwita tidur dengan membawa perasaan sedih. Oleh karena itu semalaman tidurnya gelisah dan membolak-balikkan badannya. Gadis itu bahkan bermimpi buruk dan menangis dalam tidurnya.
Karena tidurnya yang tidak nyenyak, pagi harinya dia terbangun dengan tubuh lemas. Dengan memaksakan dirinya, Puteri Juwita berjalan terseok-seok menuruni tangga dan menuju ruang makan.
Di sana dia melihat Eldrige sudah duduk bersama Nona Sekar. Meskipun membuatnya sedih, tapi Puteri Juwita berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
"Juwita, apa kau sakit lagi? " Tanya Sari ketika melihat wajah temannya itu sangat pucat.
"Tidak, aku hanya bermimpi buruk semalam. " Jawab Puteri Juwita.
Di seberang sana, Eldrige menatap gadis itu cemas. Dia takut Puteri Juwita sakit lagi. Rasanya dia ingin menyuruh gadis itu kembali ke tempat tidur dan memaksanya berbaring seharian. Tapi gadis itu bisa sangat keras kepala, dia tahu itu.
"Hari ini bisakah aku meminta izin agar Juwita beristirahat di kamarnya? Dia terlihat sangat pucat." Eldrige bertanya pada Nona Sekar.
"Boleh saja, tapi apakah gadis itu mau? Jika dia merasa sakit atau kelelahan, aku tak pernah melarang untuk beristirahat. Tapi lihatlah, dia masih memaksakan dirinya untuk berangkat sekolah! " Nona Sekar menunjuk Puteri Juwita dengan dagunya yang runcing.
Eldrige mengangguk setuju. Dia memang tidak akan bisa memaksakan sesuatu pada gadis itu. Akhirnya Eldrige memutuskan untuk mendekati gadis itu saat selesai sarapan.
"Apa tidurmu nyenyak semalam? " Ucap Eldrige untuk menyapa.
__ADS_1
Namun pertanyaannya itu malah membuat dahi Puteri Juwita berkerut. Pertanyaan itu mirip sekali dengan pertanyaan Nona Sekar waktu itu. Apakah itu artinya Eldrige dan Nona Sekar sudah sehati? Bahkan ucapan mereka pun kini bisa sangat mirip.
"Aku semalam bermimpi buruk, Eldrige! " Jawabnya lemah. Saat ini rasanya dia ingin menangis.
"Nanti aku akan memberi jimat untuk menangkal mimpi buruk. " Eldrige berusaha menghibur.
Aku bermimpi buruk gara-gara dirimu, Eldrige!
"Terima kasih, Eldrige." Dengan lesu gadis itu berjalan menuju gedung sekolah.
Ketika Puteri Juwita masuk ke dalam kelas, tiba-tiba Bu Tara mengumumkan bahwa sekolah mereka hari ini kedatangan murid-murid dari Sekolah Kesatrian. Mereka datang untuk saling berbagi pengalaman belajar.
Semua murid-murid yang mendengar bersorak gembira. Mereka segera merapikan penampilan agar terlihat cantik saat murid-murid sekolah khusus pria itu datang.
Sementara itu Puteri Juwita hanya membaringkan kepalanya di atas meja dengan lesu. Dia merasa sangat mengantuk dan tak terasa gadis itu tertidur.
Para guru sudah bersiap-siap menyambut kedatangan tamu istimewa mereka. Murid-murid semuanya berbaris di aula sambil berbisik-bisik lirih.
Gadis-gadis itu memekik perlahan saat satu persatu murid-murid dari Sekolah Kesatrian memasuki aula. Beberapa gadis itu dengan sengaja menutup mulutnya dengan tangan agar jeritannya tidak sampai terdengar oleh guru.
Seorang pemuda tampan yang terlihat mendominasi, berjalan ke depan lalu memperkenalkan diri.
"Selamat pagi para guru dan murid Sekolah Griya Pitutur, saya sebagai ketua murid ingin memperkenalkan diri. Nama saya Bagaskara, dan mereka adalah teman-teman saya dari Sekolah Kesatrian. Mohon kerja samanya! " Bagaskara membungkuk hormat dan mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari tuan rumah.
Setelah masing-masing guru memberikan sambutan, akhirnya seluruh murid dibebaskan untuk saling mengenal dan berinteraksi.
Bagaskara terlihat dikerubuti oleh gadis-gadis yang menjadi penggemarnya. Namun matanya terlihat memindai seluruh ruangan seolah-olah mencari-cari seseorang.
Setelah berkali-kali mencoba melepaskan diri dari gadis-gadis itu, akhirnya Bagaskara berhasil. Kini dia berjalan seorang diri menghindari keramaian.
Kenapa gadis itu tidak kelihatan? Bukankah dia bersekolah di sini?
Bagaskara terus berjalan sambil melihat-lihat ruangan-ruangan yang dia lewati. Hingga akhirnya dia terpaku karena melihat seorang gadis berambut perak yang sedang tertidur sendirian di dalam kelas. Pemuda itu tersenyum senang. Akhirnya dia menemukan gadis itu!
Bagaskara mendekati gadis yang sedang tertidur itu dengan langkah pelan, lalu dia berjalan mendekat dan duduk di kursi sebelah gadis itu.
"Kau menggemaskan sekali! " Gumamnya. Tangannya terulur dan mengelus rambut perak yang halus itu. Sentuhannya itu membuat gadis itu terbangun.
"Siapa kau? " Gadis itu berteriak ketika menyadari ada seseorang di depannya.
"Tenang cantik, ini aku Bagaskara! " Pemuda itu tersenyum manis yang mampu menaklukkan hati gadis-gadis.
Namun reaksi gadis di depannya adalah menguap lebar sambil mengucek-ngucek matanya.
"Hoam.. kenapa kau bisa ada di sini? " Tanya Puteri Juwita karena merasa terganggu.
"Aku dan teman-temanku mewakili Sekolah Kesatrian untuk mengunjungi sekolahmu."
"Untuk apa? " Gadis itu benar-benar tidak mengerti.
"Agar kita bisa saling bertemu? " Bagaskara menaik turunkan alisnya menggoda Puteri Juwita.
"Pergilah, kau mengganggu tidurku! " Usir Puteri Juwita. Gadis itu kembali meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan mata.
__ADS_1
"Aku akan tetap disini. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu. " Bagaskara ikut-ikutan meletakkan kepalanya di atas meja, wajahnya menghadap ke arah wajah Puteri Juwita.
"Kau cantik sekali! " Bagaskara memandangi wajah gadis itu.