
Sejak kedatangan Pangeran Awang ke istana Dewanata, diam-diam ada beberapa rombongan yang menyamar sebagai pedagang dari Alsatia masuk ke wilayah Kerajaan Dewanata secara bertahap. Mereka menyewa rumah-rumah di sekitar ibukota dan jumlah mereka jika digabungkan bisa mencapai ribuan orang.
Tidak ada yang menyadari bahwa mereka rutin berkumpul secara rahasia di suatu tempat tersembunyi untuk merancang suatu rencana penyerbuan. Senjata-senjata yang sengaja diselundupkan telah disimpan sedemikian rupa untuk bisa digunakan sewaktu-waktu jika perintah penyerbuan diserukan.
Begitulah mengapa Pangeran Awang merasa begitu yakin untuk merampas tahta Kerajaan Dewanata. Jika lamarannya gagal, sudah ada rencana cadangan yang akan memastikannya mencapai tujuan.
Hari ini Pangeran Awang kembali berhadapan dengan lawannya. Kekalahannya kemarin jelas membuatnya kesal namun tidak terlalu mempengaruhinya. Dia sudah memerintahkan seluruh orang-orangnya untuk bersiap-siap.
Orang-orang itu bukanlah prajurit Alsatia melainkan para prajurit bayaran. Orang-orang yang telah membantu membersihkan jalannya untuk merebut tahta Alsatia.
Namun karena sebuah peraturan kuno yang sudah ketinggalan zaman namun masih dipegang teguh oleh Kerajaan Alsatia, yaitu bahwa calon raja diharuskan sudah menikah membuatnya harus segera mencari calon isteri.
Maka dia memutuskan untuk menikahi puteri dari Kerajaan Dewanata. Jika berhasil menyatukan kedua kerajaan, Alsatia tidak lagi dipandang sebelah mata oleh Liga Kerajaan. Alsatia di bawah pimpinannya akan lebih besar dari Elfian.
"Pertandingan hari ini sangat sederhana dan mudah." Raja Badre memandang kedua pelamar dengan senyum merekah. "Temukan putriku, Puteri Pertiwi, diantara para wanita di sana."
Semua orang menoleh ke tempat yang ditunjuk Raja Badre. Di sebuah lapangan, ada seratus wanita yang berpakaian serupa dengan wajah ditutupi cadar hitam.
"Kalian bisa menebak tiga kali. Pemenangnya tentu saja yang bisa membawa Puteri Pertiwi yang asli ke hadapanku." Wajah Raja Badre tak juga lepas dari senyuman.
Kedua peserta sudah pernah bertemu dengan Puteri Pertiwi. Tentu saja hal itu memudahkan mereka menemukan gadis yang tepat, bukan?
Keduanya segera masuk ke dalam kerumunan wanita-wanita berpakaian serba kuning. Tinggi dan bentuk tubuh mereka hampir sama. Namun ternyata menemukan Puteri Pertiwi tidaklah semudah yang dibayangkan. Wanita-wanita yang semuanya berdiri diam tak bersuara itu sama sekali tidak bisa dibedakan.
Tidak ada batas waktu yang ditentukan, namun baik Pangeran Awang maupun Bagas berusaha mencari Puteri Pertiwi secepat mungkin agar tidak didahului lawannya.
Bagas berjalan melewati wanita-wanita itu sambil memperhatikan mereka dengan teliti. Namun satu jam sudah lewat dia belum juga membawa seorang wanita ke depan untuk ditunjukkan pada Raja Badre.
"Silakan buka cadarmu!" Suara Raja Badre membuat darah Bagas terkesiap. Rupanya Pangeran Awang sudah membawa seorang wanita ke depan.
Bagas berdiri mematung dengan pandangan ke arah Pangeran Awang berada. Jantungnya berdebar-debar menunggu cadar wanita itu dibuka. Dia berharap kalau wanita itu bukan kekasihnya.
"Maaf, wanita itu bukan putriku." Suara Raja Badre membuat Bagas merasa lega. Dia kembali mengamati wanita-wanita itu.
Sebenarnya Bagas merasa bingung, semua wanita itu tampak sama. Dia harus memikirkan sesuatu tentang Puteri Pertiwi yang menjadi ciri khasnya.
Ketika dia maju ke barisan selanjutnya, ada seorang wanita yang persis seperti Puteri Pertiwi. Rambutnya yang hitam tebal dan bergelombang. Juga kulitnya yang kecoklatan, terlihat mirip sekali dengan Puteri Pertiwi. Apakah wanita ini benar-benar Puteri Pertiwi? Bagas berdiri agak lama di depan wanita itu, mengamatinya.
"Hmm, aku akan membawanya." Tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tangan wanita itu dan menariknya pergi. Bagas terkejut karena tiba-tiba Pangeran Awang membawa wanita itu begitu saja.
__ADS_1
Dengan senyum mengejek Pangeran Awang menatap Bagas yang masih tertegun. Pemuda itu memang bukan lawannya. Bagas tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
"Kau sudah membawa seorang gadis lagi rupanya. Aku harus memuji kecepatan berpikirmu, Pangeran Awang." Raja Badre tersenyum senang.
"Coba kita lihat siapa gadis yang berdiri di hadapan kita sekarang. Ayo gadis, bukalah cadarmu!" Ucap Raja Badre.
Semua mata menatap ke arah wanita itu. Gerakannya halus dan gemulai saat mengangkat tangannya untuk membuka cadar. Tanpa sadar, Bagas melihatnya sambil menahan napas.
"Aaah!" ******* kecewa terdengar dari mulut Pangeran Awang karena lagi-lagi wanita yang dibawanya bukanlah Puteri Pertiwi.
Dia kembali ke kumpulan para wanita yang tampak mirip itu. Seharusnya dia tidak terpengaruh dengan pilihan pemuda itu. Bukankah pengamatannya sendiri lebih baik?
Di saat yang sama Bagas kembali mencari-cari Puteri Pertiwi yang asli. Dia mulai mengingat-ingat apa yang mungkit telah dia lewatkan.
"Ah, tentu saja." Gumam Bagas. Dia tidak akan mencari gadis itu berdasarkan kemiripannya saja, tapi juga berdasarkan nalurinya.
Pemuda itu berjalan sambil terus mengamati wanita-wanita itu. Wajah-wajah itu semua menunduk malu-malu. Namun saat dia melewati seorang wanita, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ada sesuatu yang terasa familiar pada wanita itu.
Agak lama Bagas berdiri mengamatinya. Di sudut hatinya ada bisikan yang mengatakan bahwa wanita itulah yang dia cari. Wajah yang tertunduk itu perlahan-lahan mendongak dan sepasang mata indah terlihat memandangnya. Mata yang pinggirannya dibingkai kohl hitam itu menatapnya dengan berani dan tanpa malu-malu.
"Ini dirimu kan?" Tanya Bagas dengan suara bergetar. Irama jantungnya mendadak semakin cepat.
"Ini memang dirimu." Batin Bagas.
Bersamaan dengan itu, Pangeran Awang juga membawa seorang wanita. Dia memilihnya karena cincin yang terselip di jari wanita itu mirip sekali dengan yang melingkar di jari sang puteri.
"Wah, kalian datang dengan pilihan masing-masing. Hm, bagaimana kalau kita persilakan gadis-gadis ini untuk membuka cadar?" Lagi-lagi Raja Badre tersenyum lebar. Baginya permainan ini sangat menyenangkan.
Dia tidak heran jika lagi-lagi pilihan mereka meleset karena bahkan dirinya sendiripun akan kesusahan untuk membedakannya. Namun saat melihat cincin putrinya yang tersemat di jari wanita yang dibawa oleh Pangeran Awang, maka tahulah dia betapa praktisnya pemikiran pria itu.
"Bukalah cadar kalian!" Perintahnya.
Kedua wanita itu melakukan gerakan yang sama. Seolah-olah, mereka adalah satu orang yang sedang berada di depan bayangannya di cermin. Seluruh gerakan kedua wanita itu menjadi sorotan, hingga akhirnya kain berwarna hitam itu terlepas dari wajah keduanya.
"Pertiwi?" Raja Badre memandang ke arah salah seorang dari wanita itu.
Raja Badre takjub karena ternyata salah satu peserta bisa menebak dengan benar.
"Aku sangat menghargai kedua pelamar. Bagaimana mereka berusaha menemukan Puteri Pertiwi diantara seribu wanita yang tampak serupa. Inilah yang kusebut sebagai ikatan batin. Salah satu peserta ini telah membuktikan ikatan batin itu dengan membawa wanita yang tepat." Raja Badre memandang ke arah calon menantunya.
__ADS_1
"Aku yakin kau bisa menemukan putriku tanpa terpengaruh apa-apa yang hanya tampak dari luar. Seperti keinginan putriku untuk menemukan calon suami yang mencintainya dengan tulus, yang merupakan belahan jiwanya." Ucapan Raja Badre membuat mata putrinya berkaca-kaca.
"Selamat untukmu wahai calon suami anakku, Bagas." Perkataan Raja Badre mendapatkan sambutan meriah dari para hadirin.
Perasaan Bagas dan Puteri Pertiwi sangat bahagia. Kini tidak ada penghalang lagi yang akan menghambat mereka.
"Terima kasih, Yang Mulia." Jawab Bagas.
"Kemarilah kalian berdua, duduklah di sampingku agar semua hadirin di sini bisa melihat calon pendamping anakku." Tangan Raja Badre melambai.
Kedua calon pengantin itu naik ke atas panggung dan duduk di sebelah raja. Wajah mereka tampak berseri-seri. Namun pemandangan itu tentu saja membuat Pangeran Awang geram bukan kepalang. Buku-buku jarinya memutih akibat tangannya mengepal terlalu kencang.
*****
Malam itu istana mengadakan pesta perjamuan makan malam yang dihadiri oleh semua pejabat istana, para tamu undangan dan tentu saja calon mempelai pria. Para dukun yang selama beberapa waktu selalu merapal mantera demi kesuksesan sayembara pun dipersilakan bersantap di ruangan yang sama.
Mereka semua terlarut dalam kebahagiaan hingga kehilangan kewaspadaan. Di ujung meja, Pangeran Awang makan dengan tenang. Pikirannya terfokus pada pasukan di luar sana yang sedang bersiap-siap menerima perintahnya.
Saat makan malam selesai, acara dilanjutkan dengan hiburan. Para pemusik dan penari didatangkan untuk menghibur mereka. Nyanyian dan tari-tarian tak berhenti, dan hidangan terus mengalir untuk memuaskan para tamu.
Sebelum tengah malam para tamu sudah cukup lelah dan pulang ke tempatnya masing-masing. Para pelayan segera membereskan sisa-sisa pesta.
Di luar sana, jalanan sepi. Ibukota telah terlelap. Tidak ada suara lagi kecuali gesekan dedaunan yang tertiup angin.
Di kamar Pangeran Awang, dukun sakti yang mendampinginya keluar dari kamar itu setelah berhari-hari mendekam. Malam ini dia akan membuat seluruh penghuni istana berlutut.
Asap tebal yang menyesakkan menyebar dari pedupaan yang dibawa dukun itu. Kakinya yang tanpa alas berjalan tanpa suara di koridor. Asap itu bergumpal-gumpal menyesakkan pernapasan.
Di luar, di salah satu sudut istana, sebuah panah berapi dibidikkan ke langit yang gelap. Sinarnya yang kekuningan sangat terang membelah kegelapan. Seluruh pasukan rahasia yang sudah siap-siaga mulai bergerak ke istana ketika melihat tanda api itu.
Derap pasukan berkuda bersenjata lengkap melewati jalanan ibukota sambil membidikkan panah-panah berapi ke atap-atap bangunan. Seketika saja seluruh kota terbakar.
Orang-orang terbangun dan berlarian ke luar. Namun mereka segera jatuh bergelimpangan saat panah-panah tajam tiba-tiba berhamburan dan menembusi tubuh mereka.
Pekik kengerian menggema di udara. Seakan malam itu ibukota kedatangan malaikat pencabut nyawa yang mendatangi setiap orang yang berpapasan dengannya. Orang-orang berusaha berlari untuk menyelamatkan diri namun semua tempat terbakar dan akan segera menjadi puing-puing.
Pasukan itu terus bergerak ke istana. Merangsek dan menyerbu gerbang. Beberapa orang anggota pasukan itu memanjat gerbang dan membunuh para penjaga. Kemudian gerbang dibuka lebar-lebar. Seluruh pasukan masuk ke halaman istana.
Prajurit-prajurit yang berjaga segera membentuk formasi untuk mencegah pasukan penyerang itu masuk ke dalam istana. Pertempuran sengit segera terjadi antara prajurit-prajurit Dewanata dan para penyerang. Para penghuni istana terbangun dan terkejut mendapati serangan yang tak terduga itu.
__ADS_1