Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 39 Ancaman Sihir Asing


__ADS_3

Raja Bharata terpaksa menarik mundur pasukannya dan segera memerintahkan mereka untuk berlindung menggunakan perisai. Namun sayangnya karena perintah yang terlambat itu, maka hampir separuh jumlah prajuritnya telah tewas tertusuk hujan es.


Di dalam tendanya, pria berwajah garang itu mendengus marah. Dia lupa bahwa ada seorang Guardian di istana Elfian. Dia harus melakukan sesuatu agar dapat menaklukkan Kerajaan Elfian.


"Panggil dukun itu! Jadukari Daalal Nath!" Raja Bharata berteriak kencang membuat pengawalnya segera berlari menuju tenda si Jadukari.


Jadukari Daalal Nath adalah seorang lelaki kurus berkulit gelap. Kelopak matanya cekung. Rambutnya berwarna hitam sepanjang bahu dan terlihat agak gimbal.


Kalung yang terbuat dari biji Jenitri melingkari lehernya. Lelaki paruh baya itu hanya melilitkan secarik kain berwarna kuning kunyit yang hanya menutupi area pusar sampai paha.


Lelaki aneh itu menjinjing tali yang menopang mangkuk pedupaan yang terbuat dari tembaga. Mangkuk pedupaan itu berayun-ayun dan asap putih mengepul menguarkan aroma dupa yang menyengat.


"Segera urus Guardian yang ada di istana Elfian! Aku tidak mau berlama-lama hanya untuk menaklukkan satu Kerajaan."


Si dukun atau Jadukari itu menyeringai lebar, menampakkan giginya yang geripis dan berwarna hitam.


"Siap, Yang Mulia!" Lelaki itu berbicara sambil menggoyangkan kepalanya.


Jadukari Daalal Nath segera duduk bersila di lantai. Meletakkan pedupaan tepat di hadapannya. Matanya terpejam dan mulutnya merapalkan mantera.


Sepintas penampakan dukun itu terlihat sangat menggelikan. Namun pada kenyataannya, kesaktiannya tak bisa diremehkan. Raja Bharata sudah membuktikannya. Oleh karena itu, dia selalu mengajak dukun itu bersamanya.


Suara rapalan manteranya sangat lirih bagaikan gumaman yang datar. Hampir mirip suara dengkuran. Lalu secara tiba-tiba bacaan mantera itu berkumandang kencang, sementara awan dupa bergulung menebar wangi yang menusuk indera penciuman.


Suara dukun itu kini melengking dan kedua tangannya bergerak-gerak keatas secara gila-gilaan. Kepalanya menggeleng-geleng aneh seperti orang yang tidak waras.


Mendadak dukun itu berhenti. Matanya kini terbuka. Pandangannya kosong.


*****


Para prajurit berusaha menutup kembali gerbang istana yang tadi sempat didobrak paksa oleh pasukan Kerajaan Dewanata. Dengan cepat mereka mengelas dan memperbaiki segala kerusakannya.


Setelah mengawasi mereka, Raja Satria mengajak Eldrige ke ruang kerjanya.


"Sejak ikut berperang melawan pasukan Raja Bharata, banyak kejadian ganjil yang terjadi. Pernah semua tenda pasukan Elfian tiba-tiba terbang tertiup angin, pernah juga petir menyambar para prajurit kerajaan Nord ketika tengah bersiap menyerang, hingga membuat mereka tewas seketika." Raja Satria merasa sangat aneh.


"Kudengar mereka memiliki dukun yang selalu ikut dalam setiap pertempuran agar selalu menang." Sambung Raja.

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus bersiap-siap menghadapi serangan sihir dari dukun itu." Eldrige mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Matanya yang semerah Ruby itu berkilat.


"Tampaknya sihir yang mereka gunakan agak berbeda dengan yang digunakan oleh para penyihir Daemonie. Sangat asing!" Raja Satria mengerutkan kening saat mengingatkannya.


Aaj ka badla main bas lungi


Jantar mantar jadu tone


Yeh toh mere khel khilaune


Mujh par chalega na zor tera


Telinga Eldrige mendengar gumaman lirih yang anehnya memenuhi telinganya. Selain itu sunyi. Dia tidak bisa mendengar suara Raja Satria dan hanya melihat bibirnya bergerak-gerak.


Raja Satria mendekatkan wajahnya dengan ekspresi kesal, telapak tangannya melambai-lambai tepat di depan wajah Eldrige. Tapi peri itu tidak mendengar suara apapun selain gumaman lirih yang terdengar aneh dan mengerikan itu.


Eldrige menutup telinganya yang runcing sambil menatap wajah Raja Satria dengan tatapan panik.


"Eldrige!"


Raja Satria menjadi cemas melihat Eldrige yang tiba-tiba bertingkah aneh. Peri itu biasanya selalu tenang, namun kini dia tampak panik.


Wajah Eldrige terlihat merah dan tatapan matanya mulai liar. Gerakan tubuhnya juga tak terkendali.


Raja memanggil beberapa pengawal untuk mengikat Eldrige di kursi. Namun peri itu terus meronta-ronta. Pengawal-pengawal itu dengan susah payah berusaha mengikat Eldrige yang tubuhnya lebih tinggi dan lebih kuat dari mereka.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka berhasil mengikat tangan dan kaki Eldrige. Namun pria itu masih berteriak-teriak.


"Kunci ruangan ini dan berjagalah! Jangan biarkan dia keluar!" Perintah Raja kepada para pengawal itu.


Raja Satria kemudian meninggalkan ruang kerjanya. Dia merasa bingung. Dalam keadaan genting seperti ini, Eldrige malah kesurupan.


*****


Di Kerajaan Lucshire, Ratu Malea mendadak merasakan firasat buruk. Ratu bangsa peri itu bangkit dari pembaringannya yang dipenuhi kelopak bunga-bunga mawar merah.


Wanita cantik itu berjalan menginjak rerumputan yang basah tersiram embun. Kemudian dia duduk di singgasananya yang terlihat berkilauan. Wanita agung itu hendak melakukan Scrying atau penerawangan.

__ADS_1


Jari wanita itu meraba-raba udara yang membuat sebuah gelombang energi menyerupai air. Perlahan gelombang yang bergolak itu menjadi tenang. Di sana mulai terlihat istana Elfian dari atas.


Jari Ratu Malea menggeser permukaan udara dan melihat keadaan istana yang porak-poranda. Dia juga melihat perkemahan pasukan Raja Bharata di seberang istana.


Ratu Malea menggeser jarinya lagi menuju ruangan istana. Dia melihat Eldrige dalam posisi terikat sedang meronta-ronta. Ada yang aneh dengan peri itu. Dia seperti sedang berada dalam pengaruh sihir.


Matanya yang sebiru samudera terbelalak. Dia merasakan kekuatan sihir yang asing. Suatu kekuatan yang gelap dan primitif.


Jari lentik Ratu Malea kembali bergerak. Kini dia mendekati perkemahan pasukan Raja Bharata. Di dalam salah satu tenda, Ratu Malea merasakan kekuatan sihir yang sangat jahat.


Ratu Malea tersentak ketika seraut wajah menyeramkan tiba-tiba terlihat menatapnya. Wajah itu menyeringai jahat!


"Chhed na mujhko main dass lungi !"


Sebuah kalimat ancaman yang di alamatkan langsung padanya. Seolah-olah orang itu tahu bahwa Ratu Malea sedang menerawangnya.


Ratu Malea menurunkan tangannya. Berhenti melakukan Scrying. Dia harus berhati-hati menghadapi kekuatan sihir asing itu.


Ratu Malea segera memanggil Faye. Disuruhnya gadis itu menemui Raja Satria dan meminta izin untuk membawa Eldrige.


Tanpa membuang waktu, Faye segera berangkat menuju istana Elfian menggunakan lubang dimensi. Dia tiba tepat di depan Wisma Raja.


Para pengawal merasa heran melihat seorang gadis belia muncul di hadapan mereka. Mereka kemudian mencegatnya.


"Nama saya Faye. Izinkan saya menemui Raja." Kata gadis itu dengan sopan.


"Akan saya sampaikan dulu kepada Raja. Tunggulah di sini!" Seorang pengawal masuk menemui Raja. Raja Satria kemudian segera keluar menemui gadis itu.


"Apakah kau diurus oleh Ratu Malea?" Tanya Raja Satria, wajahnya tampak putus asa.


"Saya ingin meminta izin untuk membawa Eldrige."


"Jadi, Ratu Malea sudah tahu?" Raja Satria mengangguk-angguk. "Bawalah! Dia kuikat di ruang kerjaku."


Faye mengikuti Raja Satria ke ruang kerjanya. Di sana terlihat Eldrige sedang meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari ikatannya.


"Saya akan membawanya sekarang!" Faye mencabik udara dan membuka lubang dimensi. Tangan kanannya mencengkeram lengan Eldrige dan menyeretnya masuk ke lubang dimensi itu.

__ADS_1


Raja Satria menatap keduanya yang menghilang di udara. Untuk beberapa saat pria itu termenung. Dia duduk di kursinya dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Satu-satunya orang yang bisa diandalkan untuk mengatasi serangan sihir kini sudah tidak ada.


Untuk pertama kalinya Raja Satria merasa tidak berdaya. Sebuah beban berat kini berada di pundaknya. Kewajiban untuk mempertahankan Kerajaan Elfian.


__ADS_2