
Pagi itu pelayan yang sudah mengasuh Puteri Elok saat kecil dikuburkan di pemakaman istana yang dikhususkan bagi para pegawai istana. Kematiannya yang mengerikan menyisakan banyak sekali pertanyaan tentang siapa, mengapa dan bagaimana wanita paruh baya itu dibunuh.
Ayahanda Puteri Elok, Raja Narend meminta Pangeran Gaurav untuk tinggal beberapa hari di Istana Alsatia. Raja Narend ingin agar Pangeran Gaurav bisa menghibur Puteri Elok yang sedang berduka. Wanita itu sudah tidak memiliki ibu jadi kematian pengasuhnya sangat memukul hatinya.
"Tolong hibur dia, anakku." Wajah Raja Narend terlihat sangat berharap.
"Baik, Ayah! " Pangeran Gaurav mengangguk dan berpamitan untuk menemui Puteri Elok.
Pangeran Gaurav menemukan Puteri Elok sedang duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur. Rambutnya yang biasanya berkilau indah, kini tergerai kusut menjuntai menutupi wajahnya.
Perlahan-lahan pria itu mendekat, dia tidak ingin mengagetkan wanita yang sedang berduka itu.
"Boleh aku menemanimu? "
Suara Pangeran Gaurav terdengar lembut di telinga Puteri Elok. Wanita itu mengangkat wajahnya, matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. Sorot matanya mengandung keputusasaan sekaligus harapan akan uluran pertolongan.
"Aku akan berada disisimu, jangan takut! "
Secercah harapan tumbuh di hati wanita itu. Benarkah calon suaminya itu bersedia untuk selalu disisinya?
"Jangan menangis lagi. Aku suka dirimu yang selalu terlihat gembira. " Pangeran Gaurav duduk di sampingnya sambil menundukkan kepala. Jari-jarinya memainkan renda pada ujung gaun Puteri Elok.
Puteri Elok merasakan desiran di dadanya karena mendengar ucapannya yang manis. Diam-diam diamatinya wajah pria itu sambil menyeka air matanya. Wajah kecoklatan Pangeran Gaurav terlihat agak merah karena menahan malu.
Mau tak mau Puteri Elok tersenyum, rasanya agak lucu melihat pria yang selalu terlihat tegar bagaikan harimau itu kini bersikap malu-malu kucing. Jika tidak sedang berkabung, tentulah sekarang dia sudah memeluknya dengan gemas.
"Terima kasih. " Suaranya masih menyisakan isak tangis.
"Kemarilah." Pangeran Gaurav merentangkan tangannya dan menarik tubuh Puteri Elok masuk ke dalam dekapannya.
Mereka duduk berdua tanpa perbincangan hampir satu jam. Rasanya ada energi yang disalurkan oleh Pangeran Gaurav ke dalam tubuh Puteri Elok. Wanita itu kini merasa jauh lebih baik.
"Aku sudah lebih baik sekarang, terima kasih sudah menemaniku."
"Itulah gunanya teman. Kita bisa saling mengandalkan." Pangeran Gaurav tersenyum.
"Teman? Oh, tentu saja." Jawab Puteri Elok setengah linglung.
Ada kekecewaan yang tiba-tiba menghantam dadanya. Hanya dianggap teman oleh orang yang kita harapkan sebagai kekasih adalah pukulan tak kasat mata yang mampu menghempaskan seseorang sampai ke dasar jurang.
"Apa kau lapar? Aku akan menyuruh seseorang untuk membawakanmu makanan. "
"Iya."
Puteri Elok mengangguk meskipun kini dia sama sekali tidak memiliki hasrat untuk makan. Dihapusnya setitik air mata yang sempat lolos.
__ADS_1
"Tunggu sebentar. "
Pangeran Gaurav melepaskan pelukannya perlahan, lalu segera turun sambil tersenyum jenaka pada Puteri Elok. Kemudian pria itu berjalan dan menghilang di balik pintu.
"Apakah aku harus terus berjuang atau menyerah begitu saja? "
Hanya ada dua kemungkinan yang bisa dipikirkannya tentang alasan pria itu terus menolaknya. Pertama dia belum jatuh cinta padanya atau yang kedua, pria itu telah jatuh cinta pada wanita lain.
Seakan patah hati yang dirasakannya berlipat ganda. Kehilangan seseorang dari dunia dan kehilangan seseorang dari hatinya.
Setelah makan sedikit, Puteri Elok meminta Pangeran Gaurav untuk meninggalkannya.
"Aku ingin tidur, bisakah kau keluar? "
"Tentu saja." Pangeran Gaurav agak merasa terusir, namun dia memakluminya karena kondisi Puteri Elok yang sedang berkabung.
Dia menyelimuti tubuh Puteri Elok yang berbaring dengan mimik datar. Tampaknya kehadirannya tidak berpengaruh pada kondisi psikologis Puteri Elok.
Setelah Pangeran Gaurav pergi, Puteri Elok kembali menangis lirih. Bersamaan dengan itu diluar hujan mulai turun. Angin bertiup agak kencang dan petir mulai menggelegar bersahut-sahutan.
"Biarlah akan kuhabiskan air mataku hari ini. Besok aku tak akan menangisinya lagi. " Gumam wanita itu.
Tak disadarinya ada seseorang yang sedang memperhatikan di jendela. Sosoknya terlihat saat tirai jendela melambai tertiup angin.
*****
Raja Satria baru kali ini melihat penampilan istrinya seperti itu. Andaikan Ratu Gita tidak dilahirkan di istana, tentu seperti inilah penampilannya. Tubuhnya yang dibalut dalam kesederhanaan semakin menonjolkan kecantikannya.
"Bagaimana penampilanku? "
"Kau sangat cantik! Aku mungkin akan jatuh cinta padamu berkali-kali. " Raja Satria mengakui perasaannya dengan jujur.
"Kau sangat pandai merayu, Tuanku! " Ratu Gita tersenyum menggoda dan menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat oleh Raja Satria. Suatu daya tarik alami seorang wanita untuk menaklukkan lawan jenisnya.
Meskipun mereka sudah cukup lama menjadi suami istri, sikap yang ditunjukkan Ratu Gita barusan sudah berhasil membuat dada pria itu berdesir dan menahan napas.
"Kau nakal sekali! " Raja Satria memacu kudanya untuk mengejar Ratu Gita yang sudah meninggalkannya.
Mereka berkuda menuju daerah yang padat di ibukota. Pertama-tama mereka mengunjungi toko barang antik milik Seno, korban pembunuhan terakhir.
"Selamat datang Tuan dan Nona, silakan melihat-lihat toko kami. "
Sambutan hangat mereka dapatkan begitu menginjakkan kaki di dalam toko yang dekorasi ruangannya adalah lampu-lampu tua dan tulang-tulang binatang yang digantung pada langit-langit.
Seorang wanita berusia lebih dari setengah abad yang masih terlihat cantik, tersenyum sambil menunjukkan koleksi yang tersimpan dalam tokonya.
__ADS_1
"Apakah Nona suka berburu? " Wanita itu bertanya setelah melirik busur yang tergantung di punggung Ratu Gita.
"Iya. Bisakah kau menunjukkan barang untuk menangkap ikan besar? " Ratu Gita berbicara sambil melihat-lihat barang-barang yang dipajang di toko itu.
"Bukankah untuk itu diperlukan tombak dan jala? " Wanita itu mulai curiga kepada kedua tamunya.
"Ikan besar itu tidak bisa ditaklukkan hanya dengan tombak dan jala." Raja Satria menyahut.
"Saya tidak mengerti maksud kalian. Lebih baik pergilah ke toko alat-alat pancing, kalian bisa bertanya pada mereka. " Wanita itu merasa bahwa mereka berdua memiliki maksud tertentu.
"Mereka tidak punya alat untuk menangkap Rusalqa! " Satu Raja Satria dengan cepat.
Wajah wanita itu mendadak pucat. Kulitnya bagaikan tak dialiri darah, putih seperti kertas.
"Saya tidak paham apa yang kalian bicarakan, tapi sebaiknya kalian pergi! "
"Kami tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawabannya! "
"Kalau kalian tidak pergi, saya akan memanggil prajurit. "
"Oh ya? Sekalian tunjukkan ini pada mereka! "
Raja Satria mengeluarkan sebuah medali berukir simbol Kerajaan Elfian.Hanya pejabat tinggi Kerajaan yang memiliki medali itu. Dan sebagai pemilik toko barang antik, wanita itu jelas mengetahuinya.
"Ampun Tuan, saya tidak menyadari bahwa Tuan adalah pejabat Kerajaan. Saya bersedia membantu apapun yang Tuan butuhkan." Sikap wanita itu kembali ramah.
"Bagaimana Seno meninggal? Dan apa hubungannya dengan Rusalqa? " Raja Satria bertanya langsung pada intinya.
"Mendiang suami saya tidak ada hubungan apapun dengan makhluk mengerikan itu! Suami saya hanyalah korban kebuasan makhluk itu! "
"Lalu kenapa makhluk itu membunuhnya? Apa yang suamimu lakukan di tepi sungai itu? "
"Dia mengikuti mahkluk itu. Manusia setengah ikan itu terlihat begitu cantik dan tidak berbahaya. Suami saya yang telah dikuasai hasratnya tertipu oleh penampilannya yang polos. Suami saya jatuh cinta pada makhluk setengah ikan itu! " Wanita itu terlihat sangat geram.
"Bisa kalian bayangkan betapa terhinanya melihat suami saya berpaling pada makhluk yang setara dengan hidangan makan malam?" Wanita itu mulai terisak.
Ratu Gita mengangguk maklum. Dia kemudian memeluk bahu wanita itu untuk menunjukkan empatinya sebagai sesama wanita.
"Bagaimana suamimu bertemu dengan makhluk itu? " Raja Satria terus mengejar dengan pertanyaan.
"Beberapa pekan yang lalu, seorang temannya datang menawarkan sesuatu. Waktu itu saya pikir adalah benda antik. Namun ternyata yang dibawanya adalah makhluk buas berparas cantik. " Ucap wanita itu berapi-api.
"Bagaimana penampilan makhluk itu? "
"Dia cantik, berambut panjang dan memiliki ekor lebar. Sisiknya berwarna biru kemerahan yang sangat indah. Suami saya menempatkannya dalam ember besar." Wanita itu menghela napas panjang, berusaha menekan emosinya.
__ADS_1
"Namun beberapa hari kemudian, saya melihat makhluk itu turun dari ranjang dan berjalan dengan kedua kakinya. Dia baru saja bercinta dengan suami saya! " Di akhir kalimatnya, wanita itu berteriak histeris.
Raja Satria dan Ratu Gita saling berpandangan. Mereka memikirkan hal yang sama. Makhluk ini bisa saja berada di antara mereka!