
Sisa malam itu mereka gunakan untuk beristirahat. Ratu Gita tidur bersama bayinya, sedangkan Raja Satria, Eldrige dan Pangeran Gaurav tidur berdesakan di kamar satunya.
Raja Satria sengaja tidak tidur bersama Ratu Gita agar wanita itu merasa nyaman. Meskipun dalam hati dia sudah sangat merindukan istrinya itu, namun dia tidak akan memaksanya.
"Eldrige, kau yang tidur di tengah! Aku tidak mau tidur disebelahnya! " Raja Satria menunjuk Pangeran Gaurav.
"Baik Yang Mulia! " Jawab Eldrige pasrah.
"Kenapa tidak tidur di bawah saja? " Tanya Pangeran Gaurav.
"Aku 'kan Raja, masak aku tidur di bawah sedangkan kalian tidur di ranjang? Atau kau saja yang tidur di bawah? " Raja Satria membantah dan membalikkan pertanyaan.
"Aku juga calon Raja! Aku harus tidur di ranjang! " Pangeran Gaurav tidak mau kalah.
Begitulah akhirnya Eldrige harus menjadi tembok pemisah diantara para pemimpin kerajaan itu. Mereka saling menyikut dan menendang memperebutkan wilayah kekuasaan.
Namun di akhir malam, mereka bertiga berubah menjadi bayi-bayi manis yang tidur saling berpelukan.
Ratu Gita mendengar keributan di kamar sebelah dan tidak bisa tidur. Dia heran dengan pria-pria dewasa yang berkelakuan seperti bocah itu.
Wanita itu khawatir jika mereka sampai membangunkan bayinya. Tapi nyatanya bayi itu tetap tidur tenang, tidak merasa terganggu sama sekali sampai pagi.
Besoknya mereka sarapan bersama di ruang makan. Suasana di penginapan tampak sepi. Wanita pemilik penginapan belum datang dan pelayan pria di meja penerima tamu duduk terkantuk-kantuk.
Seorang pelayan wanita menghidangkan makanan di meja dengan agak gugup.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat gugup?" Tanya Ratu Gita.
"Maaf, Nyonya. Teman-teman saya belum datang jadi saya sendirian yang harus mengerjakan semuanya."
"Memangnya mereka ke mana? "
"Teman saya, Ming. Dia pergi menemani tamu ke jamuan makan dari semalam, tapi sampai sekarang belum juga kembali. Nyonya Bong, pemilik penginapan ini juga belum datang. Padahal beliau biasanya sebelum subuh sudah di sini. " Jawab pelayan itu.
"Jadi kau gugup karena mereka belum datang? "
"Tidak hanya itu, asisten juru masak yang dari tadi pergi berbelanja juga belum kembali."
"Aneh sekali." Gumam Ratu Gita saat pelayan itu pergi.
Tapi ketiga pria di depannya sedikitpun tidak merasa bingung seperti dirinya, mereka malah sibuk mengambil makanan yang terhidang di meja.
"Apa kalian tidak merasa aneh? " Ratu Gita bertanya sambil menyuapi bayinya.
"Tidak." Jawab mereka serempak.
Ratu Gita bertambah bingung dengan kelakuan mereka. Eldrige akhirnya menaruh sumpitnya.
"Mereka tidak apa-apa, Yang Mulia. Lihatlah keluar! "
Ratu Gita beranjak ke jendela dan melihat beberapa orang yang mondar-mandir di depan penginapan seperti orang linglung.
__ADS_1
"Mereka kenapa? "
"Itu akibat mantera sihir milik Eldrige. Dia sudah menyegel gedung ini."
"Lalu, mereka bagaimana? "
"Sebelum Eldrige mencabut segelnya, mereka tidak akan menemukan tempat ini. "
"Apa kalian tidak merasa kasihan pada mereka? "
"Setelah sarapan saya akan mencabut segelnya. " Ucap Eldrige dengan sopan.
*****
Pangeran Gaurav berhasil mendapatkan sebuah kereta kuda yang mewah beserta kusirnya. Mereka semua naik dan minta diantar ke istana.
Di depan gerbang istana, ada beberapa pengawal yang menghentikan mereka. Eldrige menyerahkan sebuah surat kepada salah satu pengawal.
"Rombongan dari Kerajaan Elfian? "
"Benar! " Jawab Eldrige.
Mereka mempersilakan kereta memasuki halaman istana yang sangat luas. Istana Kerajaan Baiyun terlihat sangat megah. Untuk masuk ke sana harus menaiki ratusan anak tangga.
Setelah turun dari kereta kuda, mereka diantar ke balairung Kerajaan Baiyun yang sangat mewah. Pintu masuk ruangan itu dihiasi simbol Kerajaan Baiyun, yaitu ular naga yang terbuat dari emas.
Kaisar Haocun duduk di singgasana yang juga terbuat dari emas dan beludru berwarna merah. Kaisar itu tampak masih sangat muda namun memiliki aura kebangsawanan. Raut wajahnya terlihat cerdas dan sangat ramah.
"Salam hormat, Yang Mulia! " Raja Satria memberi salam.
"Saya adalah Satria, Raja dari Kerajaan Elfian. Saya membawa istri saya, Ratu Gita. Juga Pangeran Gaurav, Putera Mahkota Kerajaan Watu Ijo. Dan ini Eldrige, penasehat Kerajaan Elfian yang ditunjuk langsung oleh Ratu Malea dari Kerajaan Lucshire."
"Rupanya hari ini, saya mendapat kehormatan untuk menerima tamu-tamu yang begitu agung. " Ucap Kaisar dengan rendah hati.
"Sebenarnya, ada yang ingin saya sampaikan kepada Yang Mulia! "
"Saya sebenarnya sudah datang ke negeri ini sejak beberapa hari yang lalu untuk mencari Ratu Gita. "
"Mencari Sang Ratu, kenapa? " Kaisar tampak terkejut.
Akhirnya Raja Satria menceritakan semua hal yang terjadi. Mulai dari peledakan dan penculikan Ratu Gita. Dan kenyataan bahwa peledakan dan penculikan dilakukan oleh anak buah Tuan Liu.
Wajah Kaisar Haocun berubah merah karena geram. Dia merasa sangat dipermalukan oleh Tuan Liu. Kaisar segera memanggil penasehatnya dan membisikkan sesuatu.
"Saya sangat menyesal dengan kejadian mengerikan yang menimpa Kerajaan Yang Mulia dan juga Ratu Gita. Saya berjanji akan menyelidiki dan menegakkan keadilan! "
Raja Satria merasa sangat senang dengan sikap Kaisar yang sangat bijaksana.
"Terima kasih atas kebijaksanaan Kaisar! "
"Saya justru yang sangat berterima kasih karena Yang Mulia Raja memilih untuk menemui saya, alih-alih mengibarkan bendera peperangan. "
__ADS_1
Setelah itu dibuatlah beberapa kesepakatan antara dua kerajaan agar menghindari pertikaian.
*****
Tuan Liu mendapat kabar bahwa Raja Satria menemui Kaisar. Dia sangat marah karena merasa sudah didahului. Dia harus bergerak cepat agar Kaisar tidak bisa menghukumnya.
"Kirimkan surat ini pada Pangeran Chong! " Tuan Liu memberikan surat pada Chen.
Chen segera pergi dan menaiki kudanya menuju kediaman Pangeran Chong. Disana, dia disambut oleh Nona Bao Yu.
"Apa kau ingin bertemu dengan ayahku? " Tanya wanita bangsawan itu.
"Aku ingin memberikan surat dari Tuan Liu. "
"Ikuti aku, Kakak Chen."
Chen masuk mengikuti Nona Bao Yu. Mereka berjalan melewati ruangan-ruangan bersekat dengan pintu sorong. Pangeran Chong sedang melukis kaligrafi di gazebo kayu di sebuah taman yang cukup luas. Di depannya ada sebuah kolam ikan yang dipenuhi teratai bermekaran berwarna merah muda.
Wajah Pangeran Chong kelihatan sangat serius. Dia adalah paman dari Kaisar Haocun. Ayahanda Kaisar adalah kakak tiri Pangeran Chong. Sudah lama laki-laki berhati dingin itu berniat untuk melengserkan keponakannya.
"Ayah, Kakak Chen datang! "
"Kemarilah Chen! "
Chen datang mendekat. Dia tahu kalau Pangeran Chong berharap dia mau menikahi Nona Bao Yu.
"Ada titipan surat dari Tuan Liu. "
"Hmm, Bao Yu. Ajaklah Chen melihat koleksi lukisanku, sementara ayah akan membaca surat dari Tuan Liu. "
"Baik Ayah! "
Gadis itu tersipu dan dengan malu-malu dia meraih tangan Chen dan menariknya ke ruang pameran lukisan milik ayahnya.
"Ayo, Kakak Chen! "
Terpaksa Chen mengikuti gadis itu, meskipun hatinya enggan. Dia sebenarnya tidak membenci Nona Bao Yu, hanya saja hatinya sudah terlanjur mencintai Fen.
"Kakak Chen, ayahku berkata bahwa beliau merestui pernikahan kita. "
Chen tersentak kaget mendengarnya. Dia ingin sekali menolaknya.
"Tapi, Nona Bao Yu.. "
"Aku akan mengabaikan rumor gila tentangmu. Aku akan menganggapnya tak pernah terjadi."
Nona Bao Yu meletakkan kepalanya pada bahu Chen. Wanita cantik itu bertekad untuk menaklukkan Chen.
"Ayahku juga akan memaafkan kegagalan misimu jika kau menjadi menantunya. "
Ucapan wanita itu seakan alarm tanda bahaya agar dia tidak melupakan kedudukannya.
__ADS_1
"Baik, Nona Bao Yu! "