Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 113 Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Bagas adalah seorang pemuda yang cakap dan cemerlang. Dia adalah putra kebanggaan Tabib Bagio. Sejak kecil pemuda itu memiliki bakat dan kecerdasan dalam ilmu pengobatan. Bagas juga dikenal sebagai kakak yang pengasih bagi adik satu-satunya yaitu Ningrum.


Mengingat hal itu, tidak mungkin jika tiba-tiba saja Bagas melupakan Ningrum dan bersikap begitu arogan. Hal itulah yang membuat Ningrum yakin bahwa pemuda yang terlihat sama persis dengan Bagas itu bukanlah Bagas yang sebenarnya. Dia hanyalah seorang imposter. Oleh karena itu Ningrum bertekad untuk membuktikannya.


Pada malam harinya saat semua gadis sudah tidur, Puteri Juwita dan Ningrum sengaja masih terjaga. Mereka berencana akan menyelinap keluar untuk menyelidiki Bagas.


"Apa kau sudah siap, Ningrum? " Puteri Juwita berbisik di telinga Ningrum.


"Siap." Ningrum mengangguk.


Keduanya berjingkat-jingkat ke arah pintu. Pelan-pelan Puteri Juwita membuka daun pintu agar tidak menimbulkan suara.


Di depan tidak ada siapapun karena staf asrama dan Nona Sekar sudah masuk ke kamarnya dari tadi. Kedua gadis itu menyusup keluar dari gedung wisma selir.


Mereka segera berjongkok di balik bayang-bayang pepohonan agar para penjaga tidak memergoki mereka.


Drap.. drap.. drap..


Dua orang penjaga yang sedang berpatroli berjalan melintas di depan mereka. Keduanya meringkuk sedemikian rupa bahkan sampai menahan napas agar tidak ketahuan.


"Sudah aman, ayo!" Puteri Juwita memimpin jalan. Mereka berjalan di sepanjang koridor menuju kamar Bagas.


"Bagaimana cara kita membuktikan.. hemp!" Saat sedang berbicara tiba-tiba mulut Ningrum dibekap oleh Puteri Juwita. Kemudian Puteri Juwita menarik tubuh Ningrum yang agak bongsor ke belakang salah satu pilar besar yang menyangga langit-langit.


"Sstt! " Puteri Juwita memberi isyarat agar Ningrum tidak menimbulkan suara.


Tak berapa lama kemudian beberapa pemuda datang dari ujung koridor yang berlawanan dan berjalan melewati mereka. Salah satu dari mereka adalah Bagas. Mereka seperti ingin menuju ke suatu tempat. Setelah dirasa agak jauh, mereka mulai mengikuti para pemuda itu dalam jarak aman.


Jalan yang mereka tempuh rupanya bukan jalan yang biasa dilewati. Mereka menerobos kebun istana dan melewati sebuah pintu rahasia yang tertutup semak dan tanaman rambat. Setelah melewati pintu itu, pohon-pohon semakin lebat dan suasana bertambah gelap dan menyeramkan.


"Juwita, aku takut." Bisik Ningrum.


"Tenanglah Ningrum, kita harus melakukannya untuk menemukan kakakmu yang asli." Jawab Puteri Juwita sambil berbisik juga.


Di depan sana mulai terdengar suara orang-orang berbincang. Kedua gadis itu semakin berhati-hati dalam melangkah. Mereka mulai melihat cahaya api unggun yang tidak terlalu besar.


"Kita patut berbangga karena sudah sampai sejauh ini. Ini semua berkat kesetiaan kalian sebagai Bangsa Daemonie." Seorang pria dengan postur mengesankan berdiri membelakangi api sambil menatap para pemuda itu.


"Seluruh kerajaan yang berada di wilayah Liga Kerajaan sudah berhasil kita susupi. Tinggal menunggu perintah Pemimpin Agung dan kita akan bergerak secara serentak." Mata pria itu terlihat membara.


"Ya Domn." Para pemuda itu mengangguk patuh.


Krak..


Sebuah ranting kering terpijak secara tidak sengaja terpijak kaki Ningrum. Suara patahan itu membuat semua kepala menoleh ke arah pepohonan yang gelap.


"Maaf." Bisik Ningrum dengan tubuh gemetar.


Tidak menunggu lama, beberapa pemuda menerabas semak dan pepohonan ke arah tempat persembunyian mereka.


Ningrum meringkuk ketakutan di balik punggung Puteri Juwita, dia merasa sangat bersalah karena sudah sangat ceroboh menginjak ranting di bawah kakinya. Entah apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya setelah tertangkap oleh para Daemonie itu.


"Di sini! " Teriak seorang pemuda tepat di depan kedua gadis itu.


Rasanya seluruh tubuh Puteri Juwita lemas tak bertulang. Dia sama sekali tidak bergerak seolah kakinya terpaku di tanah. Gadis itu hanya pasrah kepada nasibnya kali ini.


"Dasar kelinci nakal! " Tangan pemuda tadi mencengkeram telinga seekor kelinci berwarna abu-abu yang gemuk dan membawanya ke depan api unggun. Domn, pemimpin mereka, segera mengambil kelinci itu dan melemparnya dengan kencang ke sembarang arah.


Bunyi 'Kek' di sela-sela suara debum dan gemerisik daun-daun membuat semua orang di sana dapat membayangkan adegan bagaimana kelinci itu berakhir.


Rasanya tidak pernah Puteri Juwita merasa senang melihat penyiksaan binatang. Tapi kali ini perasaan lega itu datang begitu saja. Bukan karena dia sudah kehilangan rasa kemanusiaannya, namun karena dirinya telah selamat berkat makhluk malang itu.


"Kita pergi saja sekarang." Bisik Puteri Juwita pada Ningrum yang tubuhnya gemetar hebat.


Ningrum mengangguk dalam kegelapan. Dia membiarkan tangannya dibimbing oleh Puteri Juwita melewati pepohonan yang gelap. Pada saat mereka melewati pintu rahasia yang tertutup semak, tiba-tiba saja dibaliknya telah ada seseorang yang berdiri di sana menatap mereka dengan tajam.


"Ternyata kalian suka sekali menyusup ya? "


*****

__ADS_1


Meskipun ini adalah pertemuan para pemimpin Liga Kerajaan, namun suasananya tidak terlalu formal. Mungkin karena pertemuan itu hanya dihadiri oleh kelima raja dari masing-masing kerajaan beserta peri yang ditugaskan untuk melindungi mereka.


Dengan wajah muram mereka duduk mengelilingi meja kayu panjang yang besar dengan pencahayaan temaram. Mereka tidak terlihat tertarik pada piring-piring berisi makanan dan gelas-gelas berisi minuman yang disajikan di atas meja.


"Apa rencana kita selanjutnya ? Apakah ada yang sudah menemukan solusi? " Raja Satria bertanya.


"Terus terang kami sudah kewalahan menghadapi teror yang menyerang wilayah kami hampir setiap hari." Raja Norman dari Kerajaan Nord mengeluh sambil mengusap jenggotnya yang berwarna kuning cerah.


"Apa Raja Norman tidak melihat hal yang mencurigakan? " Raja Sagar memandang lelaki bertubuh besar yang duduk tepat di seberangnya itu.


"Mencurigakan bagaimana? Para penjahat itu langsung kabur tanpa jejak saat prajurit mengejar. " Raja Norman tidak mengerti.


"Maksud saya, apakah orang-orang di sekitar anda benar-benar dapat dipercaya? " Tanya Raja Sagar lagi.


"Orang-orang di sekitarku adalah orang-orang setia yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun dan mereka sudah banyak berkorban untuk membuktikannya. "


"Mohon jangan tersinggung, Raja Norman," Raja Gaurav menyela. "Raja Sagar telah memergoki beberapa pengawal pribadinya dan prajuritnya adalah orang lain yang menyamar. Rupanya bangsa Daemonie mulai menyusup ke dalam istana dan menggantikan orang-orang kepercayaan kita."


"Benarkah itu? " Mulanya Raja Norman nampak kaget tapi setelah memikirkannya semuanya nampak jelas.


"Memang sulit untuk mempercayainya. Tapi hanya para peri yang memiliki insting tajam yang mungkin bisa segera menyadarinya. Namun mengingat begitu banyaknya orang maka tidak mungkin peri-peri yang tinggal bersama kita untuk mengendus mereka satu persatu." Jawab Raja Satria.


"Lalu apa tindakan kita? " Raja Purnama yang sejak tadi diam kini mengajukan pertanyaan.


"Aku sedang menunggu Eldrige yang sedang menemui Ratu Malea untuk mendapatkan solusi yang lebih baik. Semoga saja Eldrige bisa segera datang." Raja Satria menyandarkan punggungnya ke belakang.


Saat mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu, seorang pengawal yang dari tadi menjaga pintu tiba-tiba mengetuk.


"Tuan Eldrige telah datang." Ucap pengawal itu.


"Suruh dia masuk." Jawab Raja Satria.


Kemudian Eldrige masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya yang jangkung membungkuk hormat.


"Bagaimana, Eldrige? " Pertanyaan Raja Satria diikuti oleh pandangan semua orang yang ada di ruangan itu pada Eldrige.


"Ya, Ratu Malea sudah memberikan jawaban. Dia meminta agar semua kerajaan bersiap-siap. Sebisa mungkin untuk mengusir penyusup yang masuk ke dalam wilayah masing-masing karena sebuah pasukan besar yang terdiri dari para Daemonie sedang dalam perjalanan." Eldrige berdiri di hadapan para raja, wajahnya yang tampan tertimpa cahaya lilin yang menerangi ruangan.


"Benar. Untuk itu Ratu Malea juga memberikan ramuan ini, " Eldrige membawa botol kaca berukuran kecil. Isinya semacam cairan yang bergolak berwarna merah muda.


"Apa itu? " Tanpa sadar kelima raja itu berseru heran.


"Ramuan ini bisa membuat para Daemonie yang menyamar kembali ke wujud aslinya. Saya akan membagikannya. " Eldrige memberikan masing-masing satu kepada kelima raja itu.


"Buka botol itu di setiap tempat yang ada. Isinya akan menyebar di udara dan masuk ke dalam saluran pernapasan. Jangan khawatir itu bukan zat yang berbahaya, fungsinya hanya untuk mengembalikan para Daemonie kepada wujud aslinya dan mencegah mereka berubah kembali." Eldrige berkata kepada para raja di hadapannya.


*****


Puteri Juwita menatap sepasang mata monolid yang juga sedang menatapnya. Jantungnya berdegup dengan kencang karena kaget.


"Pangeran Ryota? " Puteri Juwita agak lega karena yang memergoki mereka adalah Pangeran Ryota.


"Sedang apa kalian di sini? Bukankah sebagai gadis bangsawan kalian tidak diperkenankan berkeliaran malam-malam? " Pangeran Ryota berbicara mencela.


"Maaf kami sedang ada urusan pribadi. " Puteri Juwita berjalan sambil tangannya menyeret Ningrum.


"Urusan pribadi? " Pangeran Ryota berjalan mengikutinya.


"Urusan pribadi! " Puteri Juwita lama-lama jengah dengan Pangeran Ryota yang terus mencecarnya.


"Malam-malam begini, di tengah-tengah kebun?" Pangeran Ryota menaikkan sebelah alisnya.


"Kau sendiri sedang apa di sini? " Puteri Juwita balik bertanya.


"Aku mengikutimu." Jawab Pangeran Ryota yang langsung mendapatkan pandangan tajam dari Puteri Juwita.


"Ehm, kau jangan salah paham. Tadi aku melihat kalian berjalan mengendap-endap kemari, tapi mendadak perutku sakit jadi aku ke kamar kecil dulu. Setelah itu aku kemari lagi untuk memastikan kalian masih ada di sini." Nada suaranya terdengar agak malu.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan? " Pangeran Ryota kembali bertanya.

__ADS_1


"Ssttt! " Puteri Juwita memberi isyarat untuk diam. Tangannya yang sebelah segera menarik tangan Pangeran Ryota membuat pemuda itu kaget.


"Menunduk! " Bisiknya.


Mereka bertiga segera menunduk di belakang pepohonan. Tak lama kemudian, dari arah pintu rahasia para pemuda tadi berjalan keluar. Mereka berjalan tanpa berbicara. Dan untungnya tanpa menoleh. Mereka melewati ketiganya begitu saja.


Setelah rombongan para pemuda itu berlalu, Puteri Juwita dan Ningrum bisa bernapas lega.


"Tak kusangka ternyata kalian mengintip murid-murid dari Sekolah Elixir itu. " Suara Pangeran Ryota bernada mengejek.


"Jangan sembarangan ya? Salah satu dari mereka itu kakakku tahu! " Ningrum yang dari tadi diam sudah tidak sabar lagi menghadapi kelakuan Pangeran Ryota.


"Kalau kau adiknya kenapa diam-diam mengikutinya? " Pangeran Ryota masih tidak percaya.


"Karena.. " Ningrum tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Karena ternyata itu bukan kakaknya, pemuda itu menyamar dan berpura-pura menjadi kakaknya." Jawab Puteri Juwita.


"Wah, tidak kusangka kalau imajinasi kalian sangat besar." Pangeran Ryota menertawakan mereka, membuat kedua gadis itu menjadi kesal.


"Sudahlah Juwita, kita pergi saja. Kita tidak usah menghiraukan orang itu! " Kali ini Ningrum yang menyeret tangan Puteri Juwita dan meninggalkan Pangeran Ryota. Rasa kesal kepada pemuda itu ternyata mengalahkan rasa takut yang beberapa saat lalu menguasainya.


"Hei, ayolah. Aku cuma bercanda! " Seru Pangeran Ryota.


"Bercandamu tidak lucu! " Balas kedua gadis itu kompak.


Pangeran Ryota menatap kepergian mereka dengan pandangan tidak mengerti. Bukankah dia hanya bercanda? Kenapa gadis-gadis itu malah kelihatan marah padanya?


Sementara itu Puteri Juwita dan Ningrum kembali mengendap-endap kembali ke kamar mereka. Namun begitu pintu kamar di buka, Nona Sekar terlihat berdiri menghadap mereka.


"Kalian dari mana? " Tanya wanita itu dengan suara tegas.


"Kami.. kami baru saja dari luar. " Jawab Puteri Juwita.


"Bukankah peraturan asrama sudah jelas? Tidak ada yang diperbolehkan berkeliaran setelah jam malam? "


"Maafkan kami, Nona Sekar. " Ucap kedua gadis itu.


"Kuharap kalian tidak mengulangi hal ini lagi. Situasi di luar sedang berbahaya, saya tidak bisa bertanggung jawab jika kalian tidak mematuhi peraturan. "


"Iya, Nona! " Jawab mereka.


"Cepatlah tidur! " Nona Sekar berjalan melewati mereka.


"Nona Sekar! " Ucap Puteri Juwita ketika wanita itu melangkah keluar kamar. Seketika Nona Sekar berhenti.


"Sebenarnya kami keluar untuk mengikuti beberapa pemuda dari Sekolah Elixir. " Puteri Juwita memandang punggung Nona Sekar dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Kenapa? Kalian adalah gadis-gadis bangsawan yang terhormat, kenapa melakukan hal seperti itu? " Tanya Nona Sekar tanpa menoleh ke belakang.


"Kakak Ningrum adalah salah satu dari mereka, namun anehnya dia tidak mengenali adiknya sendiri. Karena itu kami curiga bahwa dia sebenarnya bukanlah kakaknya, melainkan orang lain yang menyamar. "


"Apa kalian menemukan buktinya? " Nona Sekar tersentak kaget namun dia dapat segera menguasai dirinya.


"Sayang sekali tidak, tapi kami melihat mereka pergi ke kebun dan melewati pintu rahasia. Mereka berkumpul bersama seseorang yang dipanggil dengan sebutan Domn. Mereka ternyata adalah bangsa Daemonie dan mereka bilang telah berhasil menyusup di seluruh wilayah Liga Kerajaan."


"Apa kau tidak berbohong? " Tanya Nona Sekar untuk memastikan.


"Tidak ada keuntungan yang akan kami dapatkan untuk berbohong mengenai hal ini." Puteri Juwita menjawab dengan tegas.


"Baiklah. Kembalilah tidur dan jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Mengerti? " Mata Nona Sekar melirik sekilas ke belakang ketika wajahnya menoleh ke samping.


"Mengerti." Jawab kedua gadis itu.


Segera setelah Nona Sekar pergi, mereka naik ke tempat tidur. Namun karena apa yang mereka alami malam ini, sulit sekali untuk mereka memejamkan mata.


"Firasatku tidak enak mengenai hal ini. Seolah-olah seperti ada sesuatu yang akan terjadi." Suara Puteri Juwita terdengar sedih.


"Apapun yang terjadi kita jangan sampai berpisah, ya? " Ningrum berbalik menghadapkan wajahnya ke arah temannya.

__ADS_1


"Iya. Kita akan selalu menjadi sahabat selamanya. " Mereka tersenyum sambil saling mengaitkan jari kelingking.


__ADS_2