Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 85 Memulai


__ADS_3

Jarak Kerajaan Elfian dan Alsatia hanya empat jam perjalanan. Kereta kuda yang membawa Puteri Juwita melaju dengan kecepatan sedang sehingga penumpangnya bisa merasa nyaman selama perjalanan.


"Eldrige bisakah kau selalu menemani ayahku dan menghiburnya saat aku tidak ada? " Puteri Juwita memandang Eldrige dengan matanya yang lebar dan berbentuk daun salam.


"Aku pasti akan melakukannya, Tuan Puteri!"


"Kuharap aku memiliki seorang adik agar orang tuaku tidak kesepian." Gadis itu menghela napas panjang. Jarinya memainkan liontin berbentuk tetesan air yang menggantung pada kalung pemberian ibunya.


Eldrige tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu untuk menenangkannya.


"Jangan mencemaskan mereka. Belajarlah yang giat agar bisa menjadi kebanggaan seluruh bangsa Elfian! "


"Eldrige, sebenarnya aku merasa gugup. Selama ini aku tidak pernah jauh dari keluargaku. "


"Di sana ada Raja Sagar, sepupu ayahmu. Dia juga keluargamu, jadi jangan cemas. "


"Maksudku, di asrama nanti aku pasti tidak akan diizinkan keluar-keluar."


"Aku akan sering berkunjung, Tuan Puteri. "


"Kau memang baik, Eldrige! " Gadis itu tersenyum.


Tiba-tiba ada rombongan berkuda yang menyalip mereka dan membuat kusir kereta menepi. Puteri Juwita menyibak tirai jendela dan melihat keluar.


Tepat pada saat itu seekor kuda berbulu coklat tua yang gagah melewatinya. Pengendaranya, seorang pria dengan mata berbentuk monolid dengan ujung runcing, menoleh ke arahnya dan tatapan mereka terkunci. Bibir pria itu membentuk senyuman yang sangat menawan dan menyebabkan dada gadis belia itu berdesir.


Pandangan mereka bertemu tidak lebih dari lima detik, namun mampu membuat Puteri Juwita merasakan sensasi menggelitik yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Wajahmu merah, Tuan Puteri." Eldrige menatap gadis itu dengan cemas ketika kereta kuda mulai berjalan lagi.


"Aku tidak apa-apa, Eldrige! " Puteri Juwita memegangi pipinya yang panas. Gadis itu merasa malu karena Eldrige melihat wajahnya yang tiba-tiba merona.


"Tidurlah, Tuan Puteri. Nanti akan kubangunkan saat kita sudah sampai. "


Puteri Juwita memiringkan tubuhnya ke samping dan menempelkan kepalanya pada bahu Eldrige. Kemudian gadis itu memejamkan matanya. Puteri Juwita sudah biasa bermanja-manja pada Eldrige sejak kecil.


"Eldrige, pernahkah kau menyukai seseorang? " Puteri Juwita bertanya dengan mata terpejam.


Eldrige tersenyum sambil membayangkan tahun-tahun panjang yang telah dilewatinya. Dia pernah menyukai wanita yang telah melahirkan gadis ini, bagaimana dia menjawabnya?


"Tentu saja pernah." Jawab Eldrige.


"Ah, aku lega mendengarnya." Gadis itu terus saja terbayang-bayang wajah pengendara kuda tadi.

__ADS_1


Pada tengah hari, kereta mereka mulai memasuki wilayah Kerajaan Alsatia. Beberapa prajurit yang berjaga di perbatasan segera mengenali mereka dan menyampaikan pesan dari Raja Sagar bahwa mereka sedang ditunggu di istana.


Mereka akhirnya mengikuti para prajurit ke Istana Alsatia. Terakhir kali Puteri Juwita datang kemari adalah lima tahun yang lalu saat acara pernikahan Raja Sagar dan Ratu Akemi dari Kerajaan Kepulauan Timur.


Kereta kuda berhenti di halaman istana. Seorang pria tampan dengan sedikit cambang menyambut mereka.


"Paman Sagar! " Puteri Juwita segera menghambur ke pelukan pamannya.


"Apa kau berencana tidak mengunjungi pamanmu ini sehingga datang kemari diam-diam? "


"Siapa yang mengatakannya pada Paman? " Puteri Juwita langsung menatap tajam pada Eldrige.


"Eldrige tidak bersalah gadis bandel! Kepala Sekolahmu yang mengabarkannya padaku. "


"Bibi Akemi apakah sedang bermain dengan Lintang dan Wulan? "


"Bibimu sedang menemui keponakannya yang baru datang. Ayo ikut aku, kita makan siang bersama! "


Puteri Juwita dan Eldrige mengikuti langkah Raja Sagar ke ruang makan. Disana mereka telah ditunggu oleh Ratu Akemi dan sepasang anak kembar mereka, Lintang dan Wulan.


"Anak-anak, beri salam pada sepupu kalian Puteri Juwita."


Kedua balita lucu itu segera menghampiri Puteri Juwita dan membungkuk dengan anggun.


"Halo, aku senang berjumpa kalian." Puteri Juwita sangat menyukai mereka karena sebagai anak tunggal dia selalu memimpikan memiliki seorang adik. Gadis itu segera memeluk kedua anak itu dan menciuminya dengan gemas.


"Ryo dimana? " Raja Sagar bertanya pada istrinya.


"Saya di sini, Paman! " Sebuah suara dengan logat asing terdengar.


Puteri Juwita menoleh karena penasaran. Saat itulah dia kembali bertatapan dengan sepasang mata monolid dengan ujung runcing yang sejak tadi mengusik pikirannya.


"Halo, Tuan Puteri. Aku Pangeran Ryota. Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini! " Pemuda itu menghampiri Puteri Juwita dan meraih tangannya.


Karena sangat terkejut dan gugup, gadis cantik itu sampai tidak bisa berkata-kata. Dia hanya membalas jabatan tangan pemuda itu dengan lemah.


"Aku..Juwita." Jawabnya terbata-bata. Seluruh perasaannya tergambar jelas di wajahnya yang bersemu merah.


Pangeran Ryota tersenyum samar, seakan meremehkan. Pemuda itu menyadari ketertarikan gadis itu padanya. Dia sudah terbiasa berhadapan dengan gadis-gadis dengan pandangan memuja seperti Puteri Juwita.


Sayangnya Eldrige sempat menangkap gelagat tidak menyenangkan itu. Radar proteksi langsung menyala. Dia tidak akan membiarkan pemuda itu mempermainkan Puteri kesayangan Kerajaan Elfian itu.


"Perkenalkan, saya Eldrige! " Peri itu memandang Pangeran Ryota dengan tatapan tajam. Matanya yang berwarna merah berkilat bagaikan nyala api.

__ADS_1


*****


Ini adalah pertama kalinya Ratu Gita berpisah dari putri semata wayangnya. Selama ini gadis itu selalu dalam pantauannya. Meskipun kepergiannya kali ini adalah untuk belajar, namun tetap saja hal itu membuatnya merasa sedih.


"Kau belum tidur, sayang? " Raja Satria menghampiri istrinya yang sedang termenung di tepi ranjang.


"Aku tidak bisa tidur. " Wanita itu mengeluh.


"Apa kau mencemaskan Juwita? " Raja Satria mengelus rambut istrinya yang masih hitam berkilau.


"Iya. Bagaimana ya, dia sekarang? " Ratu Gita menyandarkan kepalanya ke dalam dada suaminya.


"Aku yakin putri kita pasti baik-baik saja. Dia gadis yang cerdas dan tangguh. "


"Rasanya baru kemarin aku menggendongnya dan mengajarinya berjalan. Sekarang tau-tau dia sudah masuk sekolah dan berjauhan dengan kita. "


"Apa kau merasa kesepian, sayang? "


"Sangat! Juwita selalu bisa menyemarakkan suasana. Dia gadis yang ceria dan cerewet."


"Bagaimana kalau kita buatkan adik untuk Juwita? "


"Apa? Usiaku sudah tidak muda lagi. Bagaimana mungkin kau bisa berpikir aku akan hamil lagi? " Ratu Gita merasa terkejut mendengar perkataan suaminya.


"Menurutku kau masih muda dan sehat, sayang. Nanti aku akan minta Albus untuk memberimu obat kesuburan dan penguat kandungan. Aku menginginkan seorang bayi lagi di istana ini! " Pria maskulin itu merengek seperti bayi.


"Kau mengatakannya seolah-olah bayi itu bisa kau beli di pasar. " Ratu Gita mencelanya.


"Memang tidak. Tapi aku bisa mengusahakannya. Maksudku, kita! " Raja Satria tersenyum nakal.


Ucapan pria itu langsung membuat wajah Ratu Gita merona.


Raja Satria mendekati istrinya dan mengelus pipinya yang halus. Ratu Gita tampak semakin dewasa dan cantik. Rasa ketertarikan dan rasa cintanya pada wanita itu tak pernah berkurang sedikitpun. Di matanya, Ratu Gita adalah satu-satunya wanita yang paling sempurna.


"Ayo, kita buat bayi! " Raja Satria berbisik di telinga Ratu Gita, membuat wanita itu merasa geli.


"Kita sudah mengusahakannya selama ini. Jadi jangan terlalu berharap, sayang." Ratu Gita tidak ingin suaminya terlalu berharap lalu berujung dengan kekecewaan lagi.


"Aku tidak akan menyerah. Kita akan terus bekerja keras sampai berhasil! " Seringaian terlihat di wajah Raja Satria.


"Hahaha.. " Ratu Gita tidak bisa menahan tawa mendengar perkataan suaminya itu.


"Bersiap-siaplah, kau tak akan sempat menertawakanku lagi! " Suara Raja Satria dalam dan mengancam.

__ADS_1


Ratu Gita menjerit kaget ketika suaminya menarik pinggangnya dan menghujaninya dengan ciuman.


__ADS_2