
Malam itu juga, para prajurit menyisir kawasan bekas ledakan untuk mencari korban yang selamat. Seluruh kawasan alun-alun, termasuk tenda sirkus berada dalam pengawasan prajurit.
Para pedagang dan pemain sirkus, untuk sementara tidak diizinkan untuk memasuki kawasan itu.
"Kami menemukan jejak mesiu di lokasi ledakan, Yang Mulia. Dan karena ledakan terjadi dua kali maka mayat korban dari ledakan pertama sangat susah dikenali."
"Apa kalian sudah menemukan jejak keberadaan Ratu Gita?"
"Maaf, Yang Mulia. Kami belum menemukannya, namun kami akan terus mencari."
"Selama tubuh Ratu Gita belum ditemukan, aku perintahkan untuk terus melakukan pencarian dalam waktu tak terbatas!"
"Baik, Yang Mulia."
Raja kembali ke kamarnya. Memandangi ruangan yang kosong. Padahal sore tadi mereka masih bersama.
"Kau dimana, sayang?" Ratapnya.
Tubuh Raja Satria terkulai lemah menyandar di pintu. Hatinya remuk. Rasanya sangat mengerikan jika membayangkan kemungkinan bahwa wanita yang dia cintai telah tiada. Seakan seluruh dunia hancur seketika dan dia tidak bisa melihat masa depan.
Malam itu kamarnya gelap, hanya ada dirinya yang duduk meratap dalam kegelapan. Sendirian.
*****
Seminggu berlalu, suasana duka masih menaungi Kerajaan Elfian. Ledakan yang sengaja dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan jatuhnya puluhan korban yang tidak bersalah.
Di salah satu sudut kota, rombongan sirkus dan pedagang asing sedang bersiap-siap untuk meninggalkan ibukota. Beberapa orang dari mereka masih dalam kondisi terluka. Ada satu orang yang masih belum sadar dan sebagian tubuhnya tertutup perban.
"Kita berangkat sekarang!" Chen, pemuda yang berkenalan dengan Ratu Gita, memimpin rombongan.
Mereka berkendara melewati berbagai kota tanpa menggelar dagangan. Tujuan mereka adalah kembali ke kapal mereka. Setelah satu hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di Teluk Puteri Duyung.
Chen menyerahkan dokumen untuk diperiksa oleh petugas patroli pengawas. Mereka juga memeriksa semua barang bawaan dan seluruh anggota sirkus yang kini jumlahnya berkurang lebih dari separuh akibat ledakan yang terjadi.
Kapal berlayar meninggalkan wilayah perairan Kerajaan Elfian dan menuju ke daratan Laut Timur. Kapal berlayar selama lima pekan mengarungi samudera sebelum akhirnya melempar sauh di dermaga Laut Timur.
Chen beserta rombongannya melanjutkan perjalanan darat selama satu hari menuju ibukota Kerajaan Baiyun. Mereka masuk ke sebuah bangunan megah yang dikelilingi tembok bata setinggi dua meter.
Di balik tembok terdapat taman yang luas dan asri. Terdapat beberapa paviliun di belakang bangunan utama. Chen menempati salah satu paviliun yang memiliki dua kamar tidur.
__ADS_1
Orang yang belum sadar setelah menjadi korban ledakan di Kerajaan Elfian, ditempatkan di salah satu kamar itu. Chen ingin mengawasinya langsung.
Malam harinya Chen pergi menghadap seorang lelaki tua berjanggut putih di bangunan utama. Lelaki tua itu bernama Liu, dia adalah seorang petinggi di Baiyun.
"Bagaimana hasil kerja kalian?" Suara Liu sangat tenang.
"Semua sesuai rencana, Tuan Liu. Beberapa anggota kita telah berhasil menyusup tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka mengira berkurangnya anggota kita akibat menjadi korban ledakan."
"Bagus. Kudengar ada seorang korban yang belum sadar?"
"Maaf, Tuan Liu. Korban yang belum sadar itu adalah tunangan saya."
"Tunanganmu? Siapa?" Dahi lelaki tua itu berkerut. Pasalnya Chen tidak pernah menjalin kasih dengan wanita manapun.
"Dia bukan salah satu anggota kita. Kami bertemu dalam perjalanan."
"Ha..ha..ha..Chen..Chen..Kau memang aneh. Banyak sekali wanita bangsawan yang ingin menjadi istrimu bahkan ada yang rela menjadi selirmu, tapi mereka tak pernah kau hiraukan. Sekarang kau malah membawa pulang wanita yang kau temui di perjalanan?" Tuan Liu terbahak-bahak.
"Saya sangat mencintai dia, saya tidak perduli dengan statusnya."
"Baiklah, terserah padamu. Kuharap dia wanita yang baik dan dapat menghargai pemuda hebat sepertimu."
Chen membungkuk hormat lalu segera meninggalkan tempat itu. Pemuda tampan itu berjalan menuju kediamannya. Dia membuka pintu kamar dengan perlahan lalu mendekati seorang wanita yang sedang berbaring di ranjang.
Dibukanya perban yang hampir menutupi seluruh kepala wanita itu. Setelah semua kain perban itu lepas, terlihat wajah seorang wanita yang sedang terpejam. Wajahnya tanpa cacat namun agak pucat. Sepasang matanya yang lebar memiliki bulu mata yang lentik. Rambut hitamnya yang bergelombang tampak kusut.
Chen mengambil sisir cantik yang terbuat dari gading, dan mulai menyisiri rambut wanita itu. Namun wanita itu sama sekali tidak bergerak.
"Tidurlah Sayang, besok kupastikan kau akan bangun dan kembali sehat seperti sediakala."
Chen meraih tangan berjari lentik itu dan mengecupnya, kemudian dia menaruhnya kembali di balik selimut bermotif bunga teratai. Dengan langkah pelan, Chen keluar dari kamar itu.
*****
Raja Satria masih menjalankan tugasnya seperti biasa. Hanya saja setelah selesai bertugas dia akan pergi bersama Eldrige keluar istana. Tujuan mereka adalah mencari keberadaan Ratu Gita.
"Aku sebenarnya ingin mencari ke tempat yang lebih jauh Eldrige, tapi aku tidak bisa seenaknya meninggalkan tugasku."
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Saya harap Yang Mulia tidak menyerah. Ratu Malea sudah mengatakan bahwa dia bisa merasakan bahwa Ratu Gita masih hidup."
__ADS_1
"Kau benar Eldrige, tapi aku mencemaskan Ratu Gita. Sudah dua bulan sejak kejadian itu, bagaimana keadaannya sekarang?"
Raja Satria terlihat sangat sedih dan sorot matanya redup. Tubuhnya juga sekarang terlihat agak kurus.
Eldrige memandang penguasa Elfian itu dengan rasa iba. Peri itu juga sedih dengan hilangnya Ratu Gita. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah terus mencari.
Saat ini mereka sedang berada di kawasan jalur utama menuju ibukota. Beberapa kali mereka mencari tahu keberadaan Ratu Gita tapi tak ada seorang pun yang pernah melihat wanita dengan ciri-cirinya.
"Akhir-akhir ini ada beberapa orang yang gerak-geriknya agak mencurigakan. Mereka biasa melewati jalan ini setiap tengah malam." Kata seorang peternak domba yang rumahnya berada di dekat jalan utama.
"Mencurigakan bagaimana?" Tanya Raja Satria.
"Mereka mengenakan tudung yang menutupi kepala dan membawa barang-barang ke arah hutan sana. Padahal daerah sana sama sekali tidak ada pemukiman maupun tempat penebangan kayu."
"Mungkinkah mereka pemburu?"
"Ini belum musim berburu. Lagipula kalau ingin berburu mereka tidak perlu membawa barang-barang sebanyak itu. Saya malah curiga kalau mereka adalah penyamun. Makanya saya tidak berani menegur mereka."
Pria dengan rambut dipenuhi uban itu memandang ke arah hutan sambil menghembuskan napas panjang.
"Penyamun?"
"Iya, penyamun atau perampok. Saya pernah melihat mereka membawa senjata dalam jumlah besar."
"Senjata? Kenapa tidak lapor kepada prajurit di pos jaga?"
"Saya tidak mau ribet. Saya tidak suka ditanyai macam-macam." Jawabnya.
Raja Satria mengangguk lalu berpamitan. Peternak domba itu memperhatikan kedua orang itu dari rumahnya. Dia merasa kalau mereka berdua bukanlah orang sembarangan.
Raja Satria dan Eldrige memasuki hutan, langit sudah gelap. Mereka berdua menajamkan indera agar dapat mendeteksi keberadaan orang-orang itu.
Setelah berjalan agak jauh, mereka sampai ke sebuah tanah lapang yang ditumbuhi ilalang setinggi dada. Mereka terus berjalan menerobos tumbuhan berdaun tajam itu.
Tak lama kemudian mereka mulai melihat tenda-tenda yang berdiri beberapa baris. Sekilas tenda-tenda itu terlihat seperti tenda militer.
Raja Satria memandang Eldrige dengan penuh arti. Eldrige mengangguk. Mereka merunduk memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk menumpuk barang-barang.
Raja Satria mengernyit, dia heran karena orang-orang itu adalah orang asing berwajah oriental.
__ADS_1