
Saat fajar mulai merekah di ufuk timur, pasukan Elfian sudah bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Mereka kini sudah berada di atas punggung kuda dan menuntun kaki-kaki bersepatu besi itu melewati tepian lereng yang curam.
Melalui celah diantara pepohonan ara, Raja Satria melongok ke bawah ke arah aliran sungai berbatu yang berkelok di dasar lembah. Aliran sungai itu kemudian menukik turun membentuk tirai air yang jatuh di atas bebatuan yang menyembul dari dasar sungai. Jeram itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan mata.
Setelah sampai di jalanan yang datar dan agak lebar, mereka mulai memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Angin meniup rambut mereka dan membuatnya berkibar-kibar. Kulit mereka yang seputih salju beku berkilauan di bawah matahari. Mereka berkuda tanpa menghiraukan sekitar, fokus mereka hanya pada titik pandang di depan.
Tanpa terasa matahari sudah berada di atas kepala, bayang-bayang kuda yang melesat secepat busur panah kini berada tepat di bawah mereka.
"Gornerbahn berada di ujung bukit sana." Seru Eldrige dari punggung kudanya. Matanya yang merah terlihat redup di bawah terik matahari.
Raja Satria menatap ke depan ke sebuah bukit yang ditumbuhi pepohonan yang ranting-rantingnya meranggas.
"Semoga kita tidak terlambat. " Ucapnya lirih, seolah kepada diri sendiri.
Tak berapa lama setelah mereka mencapai kaki bukit, dari kejauhan mulai terdengar suara pertempuran. Suara-suara dentingan logam saling beradu dibarengi dengan suara-suara pekikan perang.
Raja Satria memacu kudanya lebih kencang menuju arena pertempuran. Di sana prajurit-prajurit berbendera Kerajaan Watu Ijo sedang didesak mundur oleh pasukan Daemonie yang menunggangi kuda-kuda bersisik dan bertaring yang disebut Squama. Sedangkan di udara, burung-burung Strix berputar-putar memburu mangsa.
Raja Satria segera menghunus pedangnya dan meleburkan diri ke dalam pertempuran diikuti oleh seluruh pasukannya. Mereka memberi bantuan bagi pasukan Watu Ijo.
Trang.. trang..
Wuut..
Slash..
Kedatangan pasukan Elfian bagaikan infus yang mengalirkan kekuatan pada setiap nadi prajurit Watu Ijo. Kepercayaan diri para prajurit Watu Ijo meningkat. Mereka mengayunkan pedang dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Mereka bertekad membalaskan dendam kematian saudara sebangsa yang bergelimpangan di bawah kaki mereka.
Trang.. trang..
Pasukan Daemonie yang sejak awal sudah menduga bahwa lawannya akan mendapatkan bantuan segera merubah strategi. Perlahan-lahan tanpa disadari, pasukan Daemonie bergerak melingkar dan mengepung gabungan pasukan dua kerajaan itu.
Senjata-senjata mengerikan yang digunakan oleh para Daemonie membabat lawan tanpa ampun. Kuda-kuda bersisik mereka yang haus darah menggigit dan mencabik kuda-kuda yang ditunggangi lawan. Para penunggang kuda yang tak beruntung langsung tersungkur ke tanah. Seringai angkuh terbit di wajah Lance, pemimpin pasukan Daemonie.
Namun dia terlalu dini untuk memandang rendah musuh yang baru bergabung itu. Tidak butuh waktu lama, pasukan musuh mulai menyeimbangkan diri.
Prajurit Elfian adalah prajurit yang tangguh. Meskipun fisik mereka terbilang indah, namun kekuatan mereka bahkan melebihi bangsa Nord yang terkenal ganas dan bertubuh besar berotot.
Belum ada satu jam, Eldrige sudah berhasil menjatuhkan beberapa ekor Strix dan membunuhnya dengan pedang perinya yang berukir indah. Peri itu berdiri di atas sanggurdi dengan pedang terhunus ke atas. Di udara masih ada sekitar selusin burung iblis berwarna hitam yang berputar-putar memburu mangsa.
"Untunglah kau segera datang. " Ucap Raja Gaurav ketika bertemu Raja Satria.
Raja Satria tersenyum lebar sambil mengayunkan pedangnya. "Ya, kau harus mentraktirku nanti untuk membalasnya. "
Tidak ada yang lebih memuaskan selain bertempur bersama kawan lama. Mereka seakan bernostalgia ke tahun-tahun yang sudah lewat ketika bersama-sama bertempur menghadapi musuh.
Faktanya, meski usia mereka semakin menua tetapi tidak menyurutkan semangat dan kekuatan fisik mereka. Raja Satria masih gagah dan gesit menjatuhkan lawan, sedang Raja Gaurav terlihat semakin tangguh menghadapi musuh-musuhnya.
__ADS_1
Trang.. trang..
Sreeet..
Kucuran darah dari luka-luka terbuka menguarkan aroma anyir di udara.
Meski jumlah pasukan Daemonie dua kali lipat dari gabungan kedua pasukan yang terkepung, namun kekuatan mereka kini mulai terbelah. Celah mulai tampak. Pasukan Elfian dan Watu Ijo terus mendesak dan membubarkan formasi pasukan Daemonie.
Burung-burung Strix terus menukik dan mencaplok kepala-kepala prajurit musuh. Sementara pasukan penunggang Squama menyerbu dengan kalap.
Matahari hampir tergelincir ke arah barat dan mereka telah bertempur lebih dari tiga jam namun belum tahu kapan pertempuran akan berakhir. Kuda-kuda mulai lelah, busa bercampur darah menetes dari mulut binatang-binatang itu.
Raja Satria terus memberi semangat pasukannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Yang bisa mereka lakukan adalah terus berjuang dan tidak menyerah.
Tiba-tiba dari arah barat terlihat siluet panjang yang mengepulkan debu dan berderap mendekat. Sebuah pasukan yang terdiri dari ratusan laki-laki bertubuh kekar dengan rambut berwarna cerah dan kostum perang yang mencolok ikut bergabung ke dalam pertempuran.
"Hyaaa.. " Mereka berteriak sambil mengayunkan pedang-pedang bermata ganda dan kapak-kapak bergagang panjang.
Kebuasan pasukan Daemonie setidaknya mendapat tandingan dari pasukan Nord yang baru bergabung itu.
Raja Norman yang memakai baju zirah berwarna perak dan helm unik berduri yang menutupi sebagian rambut kuning cerahnya yang kini dikepang dua, memimpin pasukannya yang bergerak dengan ganas.
Pasukan Daemonie seakan terpukul ketika menyadari betapa bar-barnya pasukan Nord. Mereka bahkan melempari burung-burung Strix dengan palu besi dan membuat burung jadi-jadian itu jatuh bergelimpangan dan kembali ke wujud aslinya.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan, pasukan Daemonie menarik diri. Mereka memacu Squama menjauh dari arena pertempuran dan meninggalkan jejak-jejak kaki bercakar di atas tanah.
Sampai tengah malam, hujan masih turun dan menyirami mayat-mayat yang terserak. Ada perasaan sedih karena melihat keadaan yang menyayat hati itu. Para prajurit yang lelah tertidur dalam keadaan kedinginan.
Pagi ini hujan sudah berhenti. Beberapa prajurit mulai menggali lubang di atas bukit untuk mengubur mayat-mayat rekan mereka yang terbunuh kemarin. Mereka juga mengubur mayat pasukan Daemonie dengan layak.
Di angkasa dari arah tenggara, ada sebuah titik putih yang terbang mendekat. Titik itu berangsur-angsur berubah menjadi seekor burung merpati. Dari ukiran pada cincin yang melingkar di salah satu kaki burung itu, bisa diketahui bahwa burung merpati itu berasal dari Kerajaan Angsana.
Raja Satria mengambil gulungan kertas yang terikat di kaki burung itu.
Sampai pagi ini kami masih tertahan di perbatasan Sungai Banger. Mohon kirim bantuan.
"Pasukan Angsana tertahan di perbatasan Sungai Banger, kita harus segera mengirim bantuan." Ucap Raja Satria setelah membaca pesan dalam kertas itu.
"Tapi kita tidak bisa pergi ke sana semua. Kita harus tetap menjaga tempat ini agar pasukan Daemonie tidak masuk ke wilayah kita." Raja Gaurav berkata dengan wajah muram.
Kemudian Raja Satria berkata, "Baik, aku yang akan berangkat. Kalian tetaplah di sini! "
Setelah itu Raja Satria mulai mengatur pasukannya. Setelah berpamitan dengan Raja Gaurav dan Raja Norman, Raja Satria kembali memimpin pasukannya ke arah tenggara. Mereka kini menuju wilayah perbatasan Kerajaan Angsana.
*****
Puteri Juwita membuka lembaran kertas yang sudah sering dibacanya itu di atas meja. Cahaya lilin menerangi tulisan yang tergores indah dengan huruf-huruf yang ditulis miring. Dia sudah menghapal seluruh isi buku itu, namun dia tidak pernah bosan membacanya. Buku itu adalah pemberian ibunya saat ulang tahunnya yang ke 15.
__ADS_1
Mata hitamnya yang besar dan berbentuk daun salam itu kemudian menatap ke luar jendela. Hari-harinya kini terasa sepi meskipun di istana ini masih ada bibinya dan dua sepupunya.
Pamannya sudah pergi bersama pasukannya sejak kemarin, gadis itu melepas kepergiannya dengan setetes air mata yang menggantung di sudut mata yang kemudian turun melewati tahi lalat kecil di atas tulang pipinya.
Dunia yang dikenalnya selama ini sudah berubah. Suasana damai dan aman sudah digantikan oleh kejahatan dan perang. Hanya cerita di dalam buku pemberian ibunya yang mungkin masih menyisakan kisah tentang indahnya kehidupan.
Puteri Juwita mendadak tersentak ketika melihat bayangan di depan jendela. Kemudian kaca jendela itu diketuk.
Tok.. tok..
Seorang pemuda tampan tersenyum di balik jendela kaca. Wajah yang menyenangkan yang seolah tidak terpengaruh oleh keadaan genting akhir-akhir ini.
Tangan pemuda itu melambai mengisyaratkan agar gadis itu mengikutinya. Puteri Juwita tergoda untuk mengikuti pemuda itu. Dia lantas keluar melalui pintu yang berada di sebelah kamarnya yang langsung menuju halaman.
"Aku ingin menunjukkanmu sesuatu. " Ucap pemuda itu dengan senyum masih tersungging di bibirnya. Tubuhnya yang tinggi semampai bergerak dibawah bayang-bayang senja.
Memandu di depan dengan alas kaki yang menimbulkan suara gemeresak saat menginjak daun-daun kering. Sementara Puteri Juwita mengikutinya beberapa langkah di belakang.
"Kau mau membawaku ke mana, Pangeran Ryota? " Tanya gadis itu ketika mereka kini berada di area kolam buatan yang dikelilingi pohon-pohon yang ranting-rantingnya tak berdaun.
"Ke sana. Ayo, tidak jauh lagi." Pangeran Ryota tak menghentikan langkahnya dan terus berjalan melewati pinggir kolam.
Ada beberapa ekor koi berwarna putih jingga yang menyembul dan menampakkan punggungnya dari permukaan air yang gelap. Mata Puteri Juwita sesaat teralihkan pada makhluk-makhluk cantik itu namun segera kembali tertuju pada pemuda di depannya.
"Sudah hampir jam makan malam dan sebentar lagi Bibi Akemi akan menyuruh pelayan untuk memanggilku. Sebaiknya kau...Oh! " Kalimat yang sudah ada di ujung lidah gadis itu kembali tertelan dan digantikan oleh decak kekaguman.
"Bagaimana menurutmu, Tuan Puteri? "
"Aku... tak bisa berkata-kata. Bagaimana kau menemukan tempat ini? " Kedua tangan Puteri Juwita tertangkup di depan bibirnya.
Di hadapannya ribuan kunang-kunang melayang di atas semak-semak. Dengan latar langit senja yang semakin gelap, cahaya yang berpendar dari serangga itu membuat suasana terasa mistis. Indah sekaligus misterius.
"Aku juga baru mengetahui tempat ini kemarin. Aku tak sengaja kemari ketika sedang berjalan-jalan sendiri untuk menjernihkan pikiran. " Wajah pemuda itu agak tersipu, jari-jari tangan kanannya menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan agak canggung.
"Menjernihkan pikiran? "
"Jangan menganggapku tidak tahu malu karena membiarkan diriku tetap tinggal di istana sementara orang-orang pergi berperang. Aku sudah meminta Paman Sagar untuk mengajakku, tapi dia melarang. Paman ingin aku menjaga Bibi Akemi, Lintang dan Wulan. Dan juga.. dirimu." Pangeran Ryota menunduk sejenak sambil menelan ludahnya.
"Terima kasih sudah menunjukkanku tempat ini. Ternyata kau tidak begitu menyebalkan. " Deretan geligi putih menghiasi senyuman gadis itu. Cahaya senja terakhir yang lembut menyorot wajah cantiknya dan menimbulkan debaran tak biasa pada jantung Pangeran Ryota.
"Kau cantik sekali. " Ucap Pangeran Ryota tanpa sadar saat matanya memandangi wajah gadis itu.
Suasana mendadak terasa aneh.
Puteri Juwita tiba-tiba merasakan adanya alarm tanda bahaya agar segera menjauhi pemuda itu. Bagaimanapun juga dia adalah milik Eldrige. Meskipun pria itu sudah pergi hampir sebulan tanpa kabar, namun tidak berarti dia lantas akan berdekatan dengan pria lain.
"Ehm, kurasa ini sudah waktunya makan malam. Terima kasih sudah mengajakku kemari. " Gadis itu agak gugup membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Pangeran Ryota yang masih termangu karena baru menyadari perasaannya.
__ADS_1