Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 162 Kilasan Ingatan


__ADS_3

Puteri Juwita sendirian datang ke taman di belakang istana. Dipandanginya cabang-cabang pohon yang ditenggeri burung-burung pipit dan perkutut. Di bawahnya, mawar-mawar merah dan gerombolan marigold bergerak-gerak seperti gelombang.


Gadis itu duduk di atas rerumputan. Dia ingin menyendiri karena tidak bisa bercerita pada siapapun mengenai rahasia dan pikiran terdalamnya. Tentang kebingungannya dengan keanehan yang terjadi, juga tentang rasa kecewa pada orang yang dia cintai.


"Eldrige," Keluhnya, "Apa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama?"


Air mata mengalir tanpa bisa dicegahnya. Hatinya begitu pilu sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Dia ingin menumpahkan rasa sesak yang selama ini ditahannya.


Tanpa disadarinya, ada seseorang yang sedang berdiri mengamatinya. Saat gadis itu mendongak, dia terkejut melihat seseorang telah berdiri di hadapannya.


"Jangan takut Tuan Puteri, saya tidak bermaksud jahat." Namun perkataannya itu tidak membuat gadis itu percaya.


"Kau dukun itu!" Seru Puteri Juwita ketakutan. Gadis itu bergerak mundur.


"Tenang Tuan Puteri. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya mengerti dengan kondisi anda saat ini. Saya tahu bahwa terkadang anda merasa kehilangan waktu." Jadukari Daalal Nath mencoba menenangkan.


Puteri Juwita tertegun mendengar ucapan dukun itu. Benarkah laki-laki aneh itu memahami kondisinya saat ini?


"Bagaimana kau tahu?" Puteri Juwita menatap dukun itu dengan curiga. Tangannya yang menempel di atas tanah mencengkeram rumput.


"Saya tahu segalanya." Senyuman aneh mengembang di bibir Jadukari Daalal Nath.


"Jangan mencoba menipuku! Jangan-jangan kau yang melakukannya. Apa kau memantraiku?" Tuduh gadis itu.


"Tidak, Tuan Puteri. Saya tidak berani." Lelaki itu mendekat perlahan,"Saya bisa menolong anda."


Puteri Juwita bergidik memandang sosok aneh itu, namun dia juga penasaran dengan kondisinya. Mungkin saja laki-laki aneh itu tahu jawabannya. Dia akan mencoba mendengarkan perkataannya.


"Apa yang bisa kau lakukan?" Tanya Puteri Juwita akhirnya.


"Saya bisa menunjukkan siapa diri anda yang sesungguhnya. Sesuatu yang agung dan mulia sedang bersemayam dalam diri anda, Tuan Puteri." Suara dukun itu bergetar karena terlalu bersemangat.


"Apa maksudmu?" Puteri Juwita tidak mengerti maksud ucapan dukun itu.


"Akan saya tunjukkan."


Jadukari Daalal Nath menjentikkan jarinya. Mendadak pandangan Puteri Juwita menggelap seolah tiba-tiba dia ditelan ke dalam pusaran lubang hitam.


Semuanya tampak gelap dan Puteri Juwita merasa tubuhnya melayang-layang. Setelah gelap, tiba-tiba di hadapannya muncul jutaan bintang yang gemerlapan. Gugusan galaksi dan seluruh alam semesta seakan melingkupinya.


Tubuhnya yang melayang-layang kini melesat dengan sangat cepat melewati benda-benda langit. Batu-batu luar angkasa dan kabut berwarna merah menyala terlewati begitu saja.


"Selamat datang." Sebuah suara berdengung di telinganya tanpa tahu siapa yang mengucapkannya.


Kilasan-kilasan ingatan yang sama sekali bukan miliknya tergambar jelas di benak gadis itu.


*****


Serombongan penjaga bersenjata tajam berlari mengejar seorang pemuda yang datang menyusup ke area terlarang. Dengan rambut panjang berkibar-kibar, pemuda yang berpakaian serba hitam itu bergerak lincah melompat dari satu atap ke atap yang lain dan dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain.


Para pengejarnya melemparinya dengan tombak dan lembing, namun dengan gesit pemuda itu selalu saja mampu menghindari serangan-serangan itu.

__ADS_1


Tubuh pemuda itu kemudian mendarat di atas sebuah bangunan kuil. Kakinya menjejak kuat, seketika atap kuil itu ambruk dan melompat turun.


Pandangannya bergerak memindai ruangan itu. Wajahnya menyeringai nakal dan matanya menatap liar ke arah sebuah untaian manik-manik yang tergantung di depan altar. Sebuah mutiara sebesar telur merpati berada di tengah-tengah untaian itu.


Mutiara itu memancarkan cahaya ungu yang magis. Pemuda itu terkekeh puas. Segera direnggutnya untaian itu. Pada saat yang sama pintu kuil didobrak dari luar. Para penjaga tadi merangsek masuk.


Mereka kembali menyerangnya. Pedang-pedang berseliweran mengarah pada titik-titik mematikan pemuda itu. Pemuda itu mencoba berkelit. Beberapa kali tangannya menangkis serangan-serangan itu.


Seert..Jleb..Jleb..


Tombak-tombak dilemparkan ke arah pemuda itu, namun tak ada satupun yang mengenainya. Malah, salah satu tombak itu tanpa sengaja mengenai salah satu lilin yang menyala di atas altar. Lilin itu terguling dan dengan cepat api menyambar ke sekitarnya.


Kobaran api makin membesar begitu piala berisi minyak ikut terguling. Piala itu menggelinding ke ujung ruangan meninggalkan jejak minyak yang terbakar.


"Cepat padamakan api!"


Teriakan-teriakan panik terdengar bersahut-sahutan. Fokus mereka terpecah antara menyerang si penyusup dan memadamkan kobaran api.


Kesempatan itu tentu tak disia-siakan pemuda itu begitu saja. Dengan bertumpu pada sebuah meja dia kembali melompat ke atas menembus genteng sambil menenteng jarahannya.


"Dengan benda ini aku bisa menjadi orang terkuat di muka bumi." Ucapnya sambil melompat di udara.


Tak dihiraukannya teriakan-teriakan marah di belakangnya. Dia menjejak bumbungan rumah-rumah lalu kembali melompat meninggalkan asap tebal yang membumbung dari kuil yang terbakar.


Ketika dia sudah akan keluar dari wilayah itu, terdengar seseorang meneriakkan namanya.


"MANDALA!"


Pemuda itu menoleh ke belakang karena mengenali suaranya. Dilihatnya sebuah anak panah melesat cepat mengejarnya.


Anak panah itu menembus dadanya. Rasa nyeri mulai merambat dan membuatnya mengerang kesakitan.


"Aaakh!"


Untaian itu terlepas dari genggamannya. Sementara tubuhnya terpaku pada sebuah batang pohon. Ujung anak panah tadi menancap pada pohon itu.


Mulutnya menyeringai menatap seorang gadis cantik yang berdiri dalam jarak beberapa meter dengan menggenggam erat sebuah busur yang terentang. Rupanya gadis itulah yang memanahnya.


Wajah gadis itu tampak kacau. Air mata membasahi pipinya. Perasaan marah, sedih dan kecewa bergejolak di dadanya. Angin meniup rambut hitamnya yang diikat tinggi.


"Um..a? Kenapa kau..Aaakh!" Pemuda itu kembali mengerang. Tubuhnya yang tergantung menempel pada batang pohon tampak bergetar.


Tangan pemuda itu menjulur ke depan seolah ingin menggapai gadis itu.


"Um..a.." Kepalanya lalu terkulai dengan mata terpejam.


Gadis itu kemudian melangkah perlahan-lahan. Ada noda darah yang membentuk telapak kakinya setiap dia melangkah. Busurnya terlepas dan jatuh ke tanah, namun tidak dia hiraukan.


Dia kemudian menjatuhkan lututnya dan bersimpuh di tanah. Tangannya yang gemetar meraih untaian yang tergeletak di hadapannya dengan hati-hati. Ini adalah pusakanya. Bukti bahwa dia pernah menghuni Mayapada.


Perasaan cinta kepada makhluk fana membuatnya terusir dari tempat yang mulia. Penghianatan demi penghianatan berulang kali menimpanya.

__ADS_1


Suami pertamanya Raka, manusia yang membuatnya melepas kemuliaannya, telah menghianatinya dengan mencintai perempuan lain meski dia telah melahirkan ras campuran manusia dan dewa.


Manusia memang serakah. Setelah diberi kekayaan dan kekuasaan dia tega menghianati pasangannya. Maka dengan tangannya sendiri dia mencabut nyawa laki-laki itu.


Kini, berpuluh-puluh tahun telah berlalu, keturunannya membentuk sebuah koloni mandiri yang disebut Dewanata. Namun orang-orang di luar sana berusaha menghancurkannya.


Dia yang tak pernah beranjak dari masa muda, selalu menjaga wilayah keturunannya dengan segenap jiwa raga. Namun kedatangan Mandala di hidupnya sudah mengacaukan segalanya. Sekali lagi dia jatuh cinta. Dan sekali lagi dia dikhianati. Pemuda itu rupanya tidak sungguh-sungguh mencintainya. Ada sesuatu yang diam-diam diincarnya.


"Nona Uma, anda tidak apa-apa?" Seorang gadis kecil datang dengan raut cemas.


"Kelemahan hatiku telah membuatku seperti ini. Dan semua itu karena Mangal Arti ini." Ucapnya sambil menitikkan air mata.


"Nona Uma, kaki anda terluka!" Gadis kecil itu berseru begitu menyadari darah mengalir di kedua pergelangan kaki majikannya.


Gadis bernama Uma itu menggelengkan kepalanya. "Dengarkan aku baik-baik, Suci. Bakarlah benda ini bersama jasadku agar tidak jatuh ke tangan orang jahat."


Setelah berkata seperti itu tubuh Uma ambruk. Mangal Arti, untaian dengan mutiara bersinar ungu terlepas dari genggamannya.


"Nona Uma, bangun! Nona Uma!" Suci, gadis yatim piatu yang dipungut Uma sejak berusia tujuh tahun itu meraung melihat majikannya itu tergeletak tak bernyawa.


*****


"Rupanya kau di sini? " Eldrige muncul di hadapan Puteri Juwita, tubuhnya memunggungi matahari. Bayangannya memanjang melingkupi gadis itu.


Puteri Juwita tergagap seolah baru saja terbangun dari tidur.


"Kau melewatkan makan lagi." Eldrige memandangnya sambil menghela napas.


Puteri Juwita merasa bingung, dia tidak tahu yang dialaminya barusan adalah kenyataan atau sekedar mimpi. Ingin sekali dia menceritakan hal itu pada Eldrige, namun dia mengurungkannya.


"Aku sedang tidak lapar." Jawabnya pelan dengan suara agak sengau. Sesekali bahunya terangkat seperti terisak.


"Kau menangis? Apa kau sakit, Juwita?" Eldrige berjongkok di hadapan gadis itu. Tangannya meraih dagu Puteri Juwita dan mengamati wajahnya.


"Tidak." Jawab gadis itu namun dia sendiri tidak yakin. Dia bingung, apakah air matanya ini karena menangis sejak tadi atau dia menangisi gadis dalam mimpinya.


Eldrige menatapnya penuh selidik, ingin tahu apakah gadis itu menyembunyikan sesuatu. Kemudian Eldrige berdiri sambil menarik tubuh Puteri Juwita bersamanya.


"Aduh!" Rintih Puteri Juwita, kakinya terasa sakit ketika berdiri. Pelan-pelan disingkapnya ujung gaunnya dan betapa terkejutnya saat melihat luka di kedua kakinya.


"Kakimu kenapa?" Mata Eldrige memperhatikan goresan di sekitar pergelangan kaki gadis itu. Dia terkejut karena luka itu masih baru.


Puteri Juwita pun tak kalah terkejutnya. Dia tidak merasa melakukan sesuatu yang menyebabkan luka itu. Bukankah tadi yang terluka adalah gadis yang bernama Uma? Kenapa dia bisa memiliki luka yang sama?


Eldrige kini sudah berjongkok memeriksa luka di kaki Puteri Juwita, dahinya berkerut karena merasakan keanehan.


"Lukamu cukup dalam, seperti bekas jeratan." Ucapan Eldrige membuat gadis itu semakin bingung. "Apa tadi kau terjerat sesuatu?"


"Tidak. Ah, aku tidak tahu!" Gadis itu mulai panik.


"Naiklah ke punggungku!" Eldrige berjongkok di depannya.

__ADS_1


Puteri Juwita sebenarnya masih enggan berdekatan dengan Eldrige, namun kakinya benar-benar terasa sakit untuk melangkah. Terpaksa dia naik ke punggung Eldrige dan mengalungkan lengannya pada leher pria itu.


Eldrige kemudian berdiri, lalu berjalan menuju istana. Beberapa pelayan yang kebetulan melihat mereka diam-diam berbisik-bisik sambil cekikikan.


__ADS_2