Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 174 Kedatangan Eldrige


__ADS_3

Eldrige melempar tatapan dingin ke arah lelaki tua kurus yang sedang berjalan menyeruak barisan prajurit. Dukun itu terlihat penuh percaya diri.


"Syukurlah jika kau sudah tahu, jadi kuharap kau segera meninggalkan tempat ini."


"Boleh saja, tapi aku akan membawa Puteri Juwita bersamaku."


"Tidak bisa. Tempat Puteri Juwita di sini, kau pulang saja sendiri. Bukankah dia sudah menolakmu? Tahu malulah sedikit!" ejek dukun itu.


"Aku tidak butuh saranmu. Aku hanya ingin membawa Puteri Juwita pulang dan menjauhkannya dari orang-orang jahat seperti kalian."


"Jadi kau mau melawan? Huh, jangan sombong, kau bukan lagi bangsa peri yang menguasai sihir." Dukun tua itu menatap Eldrige dengan pandangan meremehkan.


"Oh ya? Jadi maumu apa?" tanya Eldrige.


"Tentu saja menghajarmu!" Tiba-tiba Jadukari Daalal Nath mengangkat telunjuk mengarah pada Eldrige. Ada semacam hawa panas yang terlontar begitu kuat yang mengarah lelaki tampan dengan rambut perak dikepang itu.


Wuush ...


Namun serangan itu hanya lewat begitu saja ketika Eldrige memiringkan kepalanya. Sambil menarik ujung bibirnya sedikit, Eldrige menggerakkan lengannya ke atas, tangannya bergerak menghantam udara untuk mengirimkan serangan balasan pada dukun tua itu.


Duak! Bruk!


"Ah, si*an! Kau rupanya masih memiliki kekuatan sihir?" Jadukari Daalal Nath memegangi dadanya yang berdenyut panas akibat terkena hantaman dari Eldrige. Di sudut bibirnya mengalir darah.


"Kau terkejut?" cibir Eldrige.


"Jangan senang dulu, aku bisa hidup sampai detik ini karena tidak hanya mengandalkan kekuatan sihir." Dukun tua itu menyeringai. Dia lalu berpaling ke belakang, ke arah para prajurit dan memerintahkan mereka untuk menyerang Eldrige.


Selusin prajurit itu segera bergerak dan merangsek ke depan. Senjata tombak yang mereka bawa kini mengepung Eldrige.


"Ah, aku sebenarnya tidak ingin menyakiti kalian," ucap Eldrige.


"Maafkan kami, Tuan Eldrige," jawab salah satu prajurit sebelum mulai menerjangnya.


Eldrige bergerak menghindar. Kepangannya bergoyang ke kiri dan ke kanan setiap lelaki itu menggerakkan tubuhnya. Dia memang tidak bermaksud menyerang prajurit-prajurit itu.


Desh!


Trang!


Tombak-tombak berjatuhan tertampar tangan Eldrige. Meski sempat kebingungan, prajurit-prajurit itu kembali menyerang Eldrige.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Raja Badre dan beberapa pengawalnya datang. Dia terkejut melihat para prajurit kini sedang menyerang Eldrige, tamu kehormatannya.


Mendengar seruan raja, para prajurit itu berhenti menyerang. Mereka kebingungan untuk menjawab sebab ibunda raja sendirilah yang telah memerintahkan mereka untuk menyerang Eldrige yang setahu mereka adalah tamu pribadi raja.


"Kau tidak apa-apa, Eldrige?" tanya Raja Badre sambil mendekat.


"Saya baik-baik saja, Yang Mulia," jawab Eldrige.


Tatapan Raja Badre kemudian jatuh pada Jadukari Daalal Nath yang sedang berdiri menonton sambil meringis memegangi dada. Dahinya berkerut begitu dia mengingat lelaki tua itu.


"Apa yang kau lakukan di sini? Berani sekali kau menginjakkan kakimu lagi setelah perbuatanmu waktu itu!" seru Raja Badre yang teringat akan perbuatan dukun tua itu terakhir kali.


"Ampun, Yang Mulia. Ibunda raja sendiri yang memanggil saya kemari," jawab dukun itu.


"Lancang sekali mulutmu. Bagaimana mungkin ibuku melakukan hal itu?" geram raja.


"Itu semua benar, Ayah." Kali ini seruan itu datang dari Puteri Pertiwi. Wanita cantik itu datang tergesa-gesa bersama suaminya, Bagas.


"Apa maksudmu, Pertiwi? Bagaimana mungkin nenekmu membawa kemari orang yang pernah mencelakai ayah?" Raja Badre meragukan perkataan putrinya.


"Nenek menyimpan rahasaia gelap, Ayah. Ah, aku tidak sanggup mengatakannya." Puteri Pertiwi menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya, raut wajahnya tampak muram.

__ADS_1


"Tuan Puteri jangan berkata begitu, nenek anda sama sekali tidak melakukan hal-hal buruk," bantah Jadukari Daalal Nath.


"Oh ya? Lalu bagaimana kau akan menjelaskan tentang ritual semalam? Bagaimana kau menjelaskan keterlibatan kalian dengan Mandala yang menculik Puteri Juwita?" Eldrige menatap dukun itu dengan geram.


"Ritual apa?" tanya Raja Badre. "Dan benarkah keponakanku diculik?"


"Tenang saja, Yang Mulia. Saat ini Puteri Juwita telah kembali ke istana," jawab Jadukari Daalal Nath dengan cepat.


"Kau melihat Juwita, Pertiwi?" Raja Badre menatap putrinya.


"Saat ini Juwita berada di tempat nenek. Aku tidak diizinkan untuk menemuinya." Puteri Pertiwi menjawab pertanyaan ayahnya.


"Berarti dia baik-baik saja kan?" tanya ayahnya untuk memastikan.


"Ayah, sebaiknya ayah mendengarkanku. Nenek dan dukun itu bekerjasama untuk mencelakai Juwita," ucap Puteri Pertiwi.


"Kau ini bicara apa, Pertiwi?Kenapa kau mengatakan hal buruk tentang nenekmu sendiri?" Suara seorang wanita tua terdengar sedih. Semua orang menoleh dan melihat Nenek Divya datang dengan langkah tertatih dibantu para pelayannya.


"Ibu?" Raja Badre segera menghampiri ibunya dan memapahnya.


"Nenek tidak usah berpura-pura lagi. Semalam aku mendengar sendiri saat nenek berkata pada dukun itu bahwa nenek sebenarnya bukan keturunan asli bangsawan Dewanata. Itulah sebabnya nenek berusaha menyingkirkan Juwita. Karena hanya Nenek Widyalah yang keturunan asli bangsawan Dewanata." Puteri Pertiwi bicara dengan suara bergetar.


"Lancang sekali mulutmu!" teriak wanita tua itu. Dia geram pada cucunya yang membongkar identitasnya di hadapan orang banyak.


"Ibu, apakah itu benar?" tanya Raja Badre tak percaya. Selama ini tidak seorangpun yang pernah mengatakan hal itu padanya. Dan jika hal itu benar, maka tahtanya sekarang bukanlah miliknya.


"Tentu saja itu tidak benar, Yang Mulia." Lagi-lagi Jadukari Daalal Nath menjawab untuk menutupi kebusukan mereka.


"Kau! Aku tidak bertanya padamu," teriak Raja Badre marah. Pemimpin Kerajaan Dewanata itu kembali menatap ibunya untuk menuntut jawaban.


"Kita bicara di dalam saja," jawab Nenek Divya. "Tapi jangan libatkan dia," telunjuk wanita itu mengarah pada Eldrige.


"Maaf, Ibu, tapi kurasa Tuan Eldrige harus ikut," tolak Raja Badre.


******


"Katakan apa yang sebenarnya ibu sembunyikan dariku!" Kedua mata Raja Badre menatap ibunya menuntut penjelasan. Saat ini mereka hanya bertiga, dia, ibunya dan Eldrige.


"Tidak ada rahasia apa-apa, ibu hanya sedang melindungi warisanmu," jawab ibunda raja.


"Ibu, aku mohon jangan ada rahasia lagi. Hatiku tidak tenang setelah mendengar ucapan Pertiwi tadi. Apalagi ternyata dukun itu sekarang berada di pihak yang sama dengan ibu." Hati penguasa kerajaan Dewanata itu diselimuti kegundahan.


"Anakku, aku ini ibumu. Akulah yang membawamu ke singgasana ini. Akulah yang telah memuluskan jalanmu dari duri-duri yang mengancam tahtamu. Kau ... hanya harus percaya pada ibu."


"Apa maksud ibu?"


"Ibu sebenarnya adalah anak angkat kakekmu. Beliau mengambil ibu dari kuil tempat ibu tumbuh besar. Ibu sendiri adalah keturunan penjaga kuil yang menjaga Mangal Arti sejak ratusan tahun yang lalu."


"Jadi itu semua benar? Aku tidak seharusnya menduduki tahta Dewanata?" Raja Badre terduduk lesu, kenyataan itu membuatnya benar-benar terkejut. "Lalu mendiang Raja Bharata, apa dia juga ...?"


"Tidak. Dia keturunan asli bangsawan Dewanata. Karena itulah saat Jadukari Daalal Nath mendukung rencana gilanya untuk menguasai kerajaan-kerajaan tetangga, aku menentangnya. Karena jika dia berhasil itu berarti dia akan semakin mengokohkan kekuasaannya. Tapi lihatlah, takdir tidak mengizinkannya melakukan hal itu. Kaulah anakku ... yang berhak mewarisi tahta kerajaan ini." Nenek Divya menatap mata putranya.


"Ibu, aku perlu waktu untuk berpikir. Rasanya aku malu duduk di atas singgasana ini." Raja Badre menggeleng pelan.


"Kenapa? Satu-satunya penghalangmu sudah kusingkirkan. Gadis itu sudah ditangani Mandala." Nenek Divya tampak kecewa melihat reaksi putranya.


"Apa?" seru Eldrige yang sejak tadi terdiam hingga Nenek Divya melupakan keberadaannya.


"Yah, seperti yang kau dengar sendiri, Eldrige. Juwita sekarang sudah bersama Mandala. Roh Uma sudah menyatu dalam tubuh gadis itu."


"Jangan main-main!"


"Aku tidak main-main, Eldrige. Kau boleh melihatnya sendiri. Uma dan Mandala saling mencintai meski kebencian membuat mereka berpisah. Namun aku berhasil menyatukan mereka kembali. Bukankah itu sangat indah?" Wanita itu terkekeh seakan mengejek Eldrige.

__ADS_1


"Aku tidak percaya bualanmu, nenek tua!" Dengan geram Eldrige keluar dari ruangan itu untuk mencari Puteri Juwita. Segala skandal yang terjadi di istana itu sama sekali bukan urusannya.


*****


Eldrige melihat Puteri Juwita sedang duduk menatap keluar jendela. Gadis itu tampak tersenyum-senyum sendiri.


"Puteri Juwita?" sapa Eldrige. Namun gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya.


Eldrige berjalan mendekat dan berdiri di belakangnya sehingga kini dia melihat kepada siapa gadis itu sejak tadi tersenyum.


"Mandala!" gumamnya geram. Kedua tangan Eldrige terkepal erat. Di luar sana Mandala sedang memetik bunga-bunga marigold dan menyimpannya cukup banyak di pelukannya.


"Kau siapa?" tanya gadis itu ketika menyadari kehadiran Eldrige.


"Tuan Puteri, saya kemari untuk menjemputmu. Saya rasa kondisi Tuan Puteri sekarang sudah membaik sehingga memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh."


"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku menyukai tempat ini."


"Tapi Tuan Puteri, kau harus pulang. Kedua orang tuamu pasti sudah cemas menunggu."


"Kau ... pasti mengenal gadis ini," ucap Puteri Juwita sambil menunjuk dirinya sendiri. "Tapi sayang sekali gadis itu sudah tidak ada. Sekarang akulah pemilik raga ini. Dan aku harap kau tidak lagi menggangguku."


"Uma?"


Puteri Juwita terkesiap mendengar Eldrige memanggilnya. "Jadi kau mengenalku?"


"Aku adalah pelindung gadis itu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyingkirkannya, termasuk dirimu!"


"Hahaha. Kau ini lucu sekali! Jika kau benar-benar mengenalku, seharusnya kau tahu bahwa semua harapanmu itu sia-sia." Seringai di wajah Puteri Juwita dan warna matanya yang hitam membuatnya terlihat seperti orang lain.


"Tidak ada sesuatupun yang sia-sia jika dilandasi oleh niat baik." Kedua mata Eldrige tampak membara.


"Kau bukan dari golongan manusia, benar?" Uma mulai menyadari sesuatu.


"Aku dari bangsa peri," jawab Eldrige.


"Huh, peri jelas berbeda dengan dewa. Peri selalu tunduk kepada manusia. Sedangkan manusia kepada kami, mereka tunduk," ucap Uma dengan congkak.


"Tergantung kepada siapa seseorang itu tunduk. Tunduk bukan berarti menjadi lebih rendah."


"Kau pandai berkata-kata. Namun perlu kuingatkan sekali lagi, aku tidak tunduk pada siapapun. Pergilah, gadis ini tidak akan pulang bersamamu!" Puteri Juwita mengibaskan tangannya.


"Dan aku tidak akan pergi tanpa gadis ini," bantah Eldrige tak mau mengalah.


"Kalau begitu aku terpaksa memaksamu!" Puteri Juwita mengangkat lengannya lalu mengarahkannya pada Eldrige.


Wuuuut!


Seakan ada lengan tak kasat mata yang mendadak mencengkeram leher Eldrige dan meremasnya.


"Uuuhk!" Wajah Eldrige menjadi merah akibat cekikan di lehernya. Kedua tangannya kini berusaha melepas cengkeraman itu namun hanya mendapati udara kosong.


Dengan wajah tanpa dosa Puteri Juwita tersenyum sambil meneruskan aksinya.


"Juwita, kembalilah!" bisik Eldrige sambil menahan rasa sakit. Urat-urat di lehernya terlihat bertonjolan.


"Juwita!" panggilnya lagi.


Tubuh Puteri Juwita mendadak seakan tersentak. Ada ekspresi kaget dan bingung lalu diikuti perubahan warna matanya menjadi keunguan.


"Kau kembali!" Dengan suara tercekat Eldrige bergerak sambil memegangi lehernya yang kini terbebas.


"Eldrige?"

__ADS_1


__ADS_2