Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 86 Sekolah Baru


__ADS_3

Pangeran Ryota adalah jenis laki-laki yang sadar akan pesonanya dan biasa memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.


Dia dikirim ke Alsatia untuk bersekolah di Sekolah Khusus Pangeran dan Putra Bangsawan, karena reputasinya yang mulai buruk di Kerajaan Kepulauan Timur.


Pada saat melihat Puteri Juwita yang terlihat polos, naluri penakluk dalam dirinya bangkit. Adalah suatu kepuasan jika dia bisa merenggut keluguan seorang gadis. Terutama seorang gadis dari kalangan bangsawan.


Namun Pangeran Ryota mewaspadai seorang pria muda yang terus-menerus mengikuti kemanapun gadis bangsawan itu pergi. Seakan-akan dia adalah pengawal pribadinya.


"Puteri Juwita, apa kau bersedia untuk berjalan-jalan denganku sebentar setelah ini? " Pangeran Ryota ingin menjauhkan Puteri Juwita dari Eldrige sebentar.


"Puteri Juwita sangat letih setelah perjalanan jauh, lagipula sebentar lagi dia akan segera pergi ke sekolahnya! " Eldrige langsung mencegati sebelum Puteri Juwita menjawab.


"Puteri Juwita, apakah kau tak punya pendapat sendiri? " Pangeran Ryota merasa kesal kepada Eldrige.


"Pendapat Eldrige sama denganku, Pangeran Ryota. " Puteri Juwita menjawab dengan sopan.


"Maafkan aku yang tidak peka. Seharusnya aku bisa bersabar menunggumu meluangkan waktu."


Pangeran Ryota segera memperbaiki kesannya dihadapan Puteri Juwita. Meskipun sebenarnya dia merasa kecewa dengan tanggapan gadis itu.


Puteri Juwita merasa tersanjung mendengar perkataan Pangeran Ryota. Puteri Juwita memang tertarik dengan pemuda itu, namun bagaimanapun juga Pangeran Ryota adalah orang asing yang baru saja dijumpainya. Dia tidak mungkin menerima tawaran pemuda itu.


"Aku akan menunggu sampai kau punya waktu untukku." Pemuda itu terlihat sangat sopan.


"Aku pasti akan mengabarimu." Puteri Juwita tersenyum senang.


"Ryo, adalah anak muda yang menyenangkan. Kapan-kapan aku akan mengatur agar sekolah kalian mengadakan acara bersama. Kalian nanti bisa saling mengenal." Ucap Raja Sagar.


Mendengar hal itu Eldrige merasa tidak senang. Nalurinya mengatakan bahwa Pangeran Ryota bukanlah orang yang baik.


Eldrige kemudian segera mengingatkan Puteri Juwita untuk segera berangkat menuju sekolah. Dia harus segera melapor kepada Kepala Sekolah terlebih dahulu.


*****


Setelah berpamitan dengan Raja Sagar dan Ratu Akemi, Puteri Juwita kembali naik ke dalam kereta kuda bersama Eldrige.


Sepanjang jalan menuju sekolah, gadis remaja itu tersenyum-senyum sendiri. Ini adalah pertama kalinya gadis itu menyukai seorang pemuda.


Berkali-kali Puteri Juwita melirik Eldrige. Dia ingin sekali bertanya bagaimana cara menarik perhatian seorang pemuda. Namun gadis itu segera mengurungkannya karena sikap Eldrige mungkin akan seperti ayahnya, terlalu protektif.


"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Tuan Puteri?" Tanya Eldrige, dia menyadari gerak-gerik gadis itu yang bolak-balik menatapnya.


"Tidak Eldrige. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena sudah menjagaku." Puteri Juwita tersenyum menyembunyikan maksudnya.


"Sudah tugasku untuk menjaga semua penerus Kerajaan Elfian." Jawab Eldrige.


Meskipun dia awam dalam hal percintaan tapi dia bisa melihat gelagat aneh pada diri Puteri Juwita. Dan Eldrige menduga kalau penyebabnya adalah pemuda kurang ajar tadi, Pangeran Ryota.


Kereta kuda akhirnya memasuki gerbang sekolah dan terus masuk ke halamannya. Mereka berhenti di depan gedung sekolah.


Gedung sekolah itu berupa bangunan kastil yang cukup megah dengan halaman yang luas. Jendela-jendela yang atasnya melengkung menghiasi temboknya.


"Ayo, aku antarkan untuk bertemu dengan Kepala Sekolahmu, Nyonya Padma." Eldrige mengajak Puteri Juwita untuk menemui Kepala Sekolah.

__ADS_1


Mereka berdua diantar oleh seorang staf menuju ruang Kepala Sekolah yang terletak di dekat lobi.


"Selamat datang, Puteri Juwita! " Seorang wanita bertubuh ramping dengan rambut disanggul rapi memberikan sambutan yang terasa formal.


"Saya adalah Nyonya Padma, Kepala Sekolah. Mulai sekarang segala gelar kebangsawanan yang melekat akan kita tanggalkan selama menjadi siswa sekolah ini. Setiap siswa memiliki derajat yang sama dan tidak ada satupun yang akan mendapatkan hak istimewa. Dan semua siswa harus mematuhi semua peraturan sekolah." Nyonya Padma memandang lekat ke arah Puteri Juwita.


"Apa kau mengerti?" Suara wanita itu terdengar sangat tegas.


"Saya mengerti, Nyonya Padma." Jawab Puteri Juwita dengan patuh.


"Untuk saat ini cukup sekian dulu pertemuan kita. Segeralah melapor ke asrama. Ibu asrama kalian adalah Nona Sekar, dialah yang bertanggung jawab atas semua yang ada di asrama."


"Baik, Nyonya Padma. Saya permisi! " Puteri Juwita memberi hormat pada Kepala Sekolah.


Eldrige meminta izin kepada Nyonya Padma untuk mengantar Puteri Juwita ke asrama. Nyonya Padma mengizinkan asal tidak terlalu lama karena jam berkunjung hampir habis.


Barang-barang milik Puteri Juwita sudah dibawa masuk oleh para pelayan ke kamarnya. Kini gadis itu berjalan bersama Eldrige di sepanjang koridor yang luas dan mewah namun terkesan suram. Rasanya seperti mengunjungi sebuah museum.


"Eldrige, apakah menurutmu Nyonya Padma itu galak? " Tanya Puteri Juwita.


"Tidak, dia hanya tegas. Diperlukan ketegasan untuk memimpin sekolah sebesar ini. Tanggung jawab yang diembannya sangat besar, oleh karena itu dia harus memastikan semua orang mengikuti peraturan yang ada. "


"Yah, tapi tadi aku sedikit takut padanya. Kuharap aku bisa mendapatkan teman yang baik agar aku bisa betah di sini." Gadis itu merasa agak cemas.


"Kuharap seperti itu, Tuan Puteri." Jawab Eldrige.


"Kau tidak usah memanggilku Tuan Puteri. Di sekolah ini semua gelar kebangsawanan dilepaskan. Panggil aku Juwita! " Perintah gadis itu.


Saat mereka sampai di ujung koridor, seorang wanita muda sudah menunggu. Wanita itu sangat cantik dan anggun.


"Selamat datang, saya yang akan mengantarmu ke asrama. Perkenalkan nama saya Nona Sekar! " Kata wanita itu.


"Sekar? " Eldrige nampak terkejut ketika mengenali siapa wanita itu.


"Eldrige? " Suara wanita itu agak terpekik. Dia terlihat senang bertemu dengan Eldrige.


"Kau menjadi ibu asrama di sini? " Tanya Eldrige seakan tak percaya.


"Iya, aku di sini bermula sebagai staf biasa. Setelah beberapa tahun, aku diangkat sebagai ibu asrama." Jawab Nona Sekar.


"Kalian saling mengenal? " Tanya Puteri Juwita.


"Tentu saja, kami sama-sama peri." Jawab wanita cantik itu.


"Oh? " Puteri Juwita melihat betapa serasinya Eldrige jika berpasangan dengan Nona Sekar.


Tiba-tiba terbersit ide untuk menjodohkan keduanya. Pasti akan sangat menyenangkan jika Eldrige memiliki pasangan. Mungkin Eldrige tidak akan menentang jika dia ingin lebih dekat dengan Pangeran Ryota.


"Kenapa kau tertawa-tawa sendiri? " Tegur Eldrige.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya senang sebentar lagi akan bertemu teman-teman baru." Puteri Juwita merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk terlihat senang dengan idenya.


Saat memasuki asrama, gadis-gadis remaja penghuninya berteriak histeris melihat Eldrige. Mereka sangat terpesona dengan ketampanan peri itu. Namun lagi-lagi seperti Puteri Juwita, mereka melihat betapa serasinya Nona Sekar jika disandingkan dengan Eldrige.

__ADS_1


"Apa kau murid baru? " Seorang gadis cantik dengan rambut pirang pucat mendekatinya.


"Iya, aku Juwita! " Puteri Juwita mengulurkan tangannya.


"Aku Sari." Gadis itu menyambut uluran tangan Puteri Juwita.


"Ngomong-ngomong pria tampan itu siapa? " Tanya Sari.


"Pria tampan? " Puteri Juwita memandang berkeliling mencari-cari.


"Itu yang sedang berbincang dengan Nona Sekar! " Sari terlihat sangat gemas.


"Oh, dia Eldrige. Dia yang mengantarku kemari."


"Jangan bilang kalau dia itu adalah tunanganmu? " Sari seolah-olah tidak rela.


"Apa? Itu tidak mungkin! Aku mengenalnya sejak bayi, yang benar saja! " Puteri Juwita tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Benarkah? Sayang sekali kau tidak tertarik padanya. Apa kau tidak sadar semua gadis-gadis di sini sampai menjerit histeris melihatnya? " Sari berbisik sambil mencuri pandang ke arah Eldrige.


Puteri Juwita mengalihkan pandangannya pada Eldrige, selama ini dia tidak sadar jika pria itu sebenarnya memiliki ketampanan diatas rata-rata. Mungkin karena sudah terlalu sering melihatnya hingga dia tidak pernah menyadarinya.


"Tapi Eldrige bisa sangat membosankan, dia bisa seharian berada di perpustakaan untuk membaca buku." Ucap Puteri Juwita.


"Aku suka pria yang cerdas. Sepertinya aku akan menjadi salah satu penggemarnya." Mata gadis pirang itu terlihat berbinar-binar.


"Ini kamarmu, mulai sekarang kau tinggal disini bersama teman sekamarmu! " Nona Sekar tiba-tiba berhenti di depan pintu sebuah kamar.


"Teman sekamar? " Puteri Juwita tampak bersemangat, selama ini dia tidak pernah memiliki teman sekamar.


Seorang gadis dengan tubuh agak berisi terlihat sedang menata barang-barangnya. Gadis itu segera menghampiri mereka ketika dipanggil oleh Nona Sekar.


"Ningrum, ini teman sekamarmu Juwita. "


"Halo! " Mereka berdua bersalaman. Sari ikut masuk ke kamar mereka.


"Sepertinya aku harus pergi sekarang, jam berkunjung hampir habis. Lagipula kulihat kau sudah menemukan teman baru! " Eldrige berpamitan begitu Puteri Juwita sudah sampai di kamarnya.


"Baik Eldrige. Terima kasih sudah mengantarku!" Puteri Juwita memeluk Eldrige dengan erat.


"Jaga dirimu baik-baik. Jika ada masalah kau bisa minta tolong pada Nona Sekar, dia adalah teman ibumu." Ucap Eldrige penuh perhatian.


"Apakah Nona Sekar adalah wanita yang kau cintai, Eldrige? " Tiba-tiba Puteri Juwita melontarkan pertanyaan yang aneh.


"Kau ini bicara apa? Sudahlah, jangan memikirkan hal-hal yang aneh-aneh. Aku mengunjungimu jika sempat." Eldrige mengelus kepala gadis itu dengan sayang.


Akhirnya Eldrige pergi meninggalkan Puteri Juwita yang memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang dia rasakan melihat kepergian pria itu. Dia merasa kehilangan sosok seorang pelindung.


Saat sampai di ujung koridor, Eldrige tiba-tiba berhenti. Kemudian Eldrige menoleh ke belakang memandang ke arah Puteri Juwita yang masih menatapnya dengan sedih. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya.


Saat itu Puteri Juwita melihat wajah Eldrige tersorot sinar matahari sore yang menyusup lewat jendela. Wajah Eldrige jadi terlihat bersinar dan mempesona.


"Ya, ternyata kau sangat tampan Eldrige." Gumamnya dan tangannya tanpa sadar memegangi dadanya yang berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2