
Raja Pelvis duduk di pinggir kolam ikan di bawah naungan daun-daun pohon willow yang cabang-cabangnya menggantung. Pria itu memainkan kakinya di dalam air yang diisi ikan-ikan koi beraneka warna.
Di dalam benaknya sedang memikirkan bisikan-bisikan pesan yang beberapa kali tertangkap inderanya. Dia tidak tahu siapa pengirimnya, namun bisikan itu membuat hatinya tidak tenang.
Pesan-pesan itu berisi instruksi gila untuk membunuh Raja Satria dan Ratu Gita. Bagaimanapun dia adalah pribadi paling dominan di antara bangsanya, dia tidak suka ada seseorang yang memberi perintah seenaknya apalagi perintah yang akan merugikan bangsanya.
Jika dia sampai melakukan apa yang diinstruksikan itu maka kemungkinan besar bangsa Rusalqa akan mengalami genosida. Bangsa-bangsa di sekitarnya, terutama sekutu Kerajaan Elfian pasti akan bersatu menumpas bangsa Rusalqa.
"Kau siapa? " Seorang gadis cilik dari bangsa peri tiba-tiba mengagetkannya.
"Kau sendiri siapa? "
"Aku Sekar. Aku sahabat Ratu Gita." Ada nada bangga dari perkataan gadis cilik itu.
"Aku Pelvis, Raja bangsa Rusalqa! "
Mata gadis cilik itu terbelalak, perasaannya antara kagum dan takut. Sekar tentu saja pernah mendengar tentang bangsa Rusalqa. Ras manusia setengah ikan yang dapat sangat berbahaya bagi makhluk lain, terutama manusia.
"Oh, Raja Pelvis sedang apa kau di sini? Apakah kau sedang berendam di air? "
"Aku sedang berpikir sejenak, gadis kecil! Kalau kau tidak ada urusan penting, pergilah karena aku sedang tidak ingin diganggu! "
"Oho ho, aku juga sedang ada urusan penting. Aku kemari sedang ingin memberi makan ikan. Lihatlah! " Sekar melemparkan pakan ikan ke kolam dan segera disambut oleh gerombolan ikan-ikan yang kelaparan.
"Apa kau mau? " Sekar mengacungkan kantung berisi pakan ikan.
"Aku tidak suka makanan seperti itu. Kau jangan samakan aku dengan makhluk-makhluk peliharaan manusia itu! "
"Kau pikir aku menyuruhmu memakannya? Aku hanya menawarimu untuk memberi makan ikan-ikan itu." Sekar tertawa terbahak-bahak.
Wajah Raja Pelvis berubah merah, sisik-sisiknya mulai terlihat dan sirip di punggungnya mulai muncul. Raja Pelvis merasa geram, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan dipermainkan oleh seorang anak kecil.
"Lihatlah Raja Pelvis, betapa lucunya ikan-ikan itu! " Sekar seolah tidak menyadari perubahan pada diri Raja Pelvis, gadis itu masih melempari pakan ke tengah kolam.
Raja Pelvis menyeringai menunjukkan gigi-giginya yang tajam. Jiwa buasnya telah menguasai akalnya. Dia sudah siap mencabik tubuh gadis kecil berambut ikal di depannya.
"Aku sangat menyukaimu Raja Pelvis, kau benar-benar orang yang baik. Ratu Gita bercerita bahwa kaulah yang telah menyelamatkan nyawa Raja Satria! "
Gadis itu berbalik melihatnya. Matanya yang dari tadi berbinar-binar mendadak redup begitu melihat wajah Raja Pelvis yang menatapnya menyeramkan.
Raja Pelvis seakan kehilangan akalnya bersamaan dengan bisikan yang kembali memasuki pikirannya.
*****
__ADS_1
Ratu Gita menikmati istirahat siangnya di gazebo bersama teman-teman perinya. Kedua pelayan setianya bermain bersama Puteri Juwita di ayunan yang di pasang di sebelah gazebo.
"Faye, menurutmu apakah yang membunuh orang-orang di Elfian itu adalah Rusalqa wanita yang terbunuh waktu itu? "
"Ya, saya rasa begitu Yang Mulia. "
"Tapi apa sebenarnya yang menjadi alasan dia melakukan hal itu? "
"Ratu Malea mengatakan bahwa seorang wanita dari bangsa Rusalqa rawa-rawa Yaselda telah diculik. Wanita itu sebenarnya adalah calon pengantin Raja Pelvis. Oleh karena itu kemungkinan orang-orang yang terbunuh ada kaitannya dengan penculikan itu? "
"Tapi apa tujuan dari penculikan itu sendiri? Saat aku dan Raja Satria menyelidiki di desa Yaselda, seorang warga mengatakan bahwa sebuah cincin bermata safir telah hilang. Padahal cincin itu bisa digunakan untuk mengendalikan para Rusalqa."
"Itulah yang dicemaskan oleh Ratu Malea. Beliau takut jika cincin itu digunakan untuk melakukan hal-hal yang membahayakan Kerajaan Elfian."
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Sekar datang sambil berlari. Wajahnya terlihat pucat dan napas tersengal-sengal.
"Ada apa Sekar? " Arya setengah melompat melihat adiknya terlihat seperti dikejar setan.
"A-aku tidak apa-apa." Gadis kecil itu tanpa basa-basi segera meraih gelas kaca berisi sari jeruk dingin di atas meja dan meneguknya dengan cara yang jauh dari kata anggun.
"Kau ini tidak sopan sekali! " Arya menegur adiknya itu.
"Kau tidak apa-apa, Sekar?" Ratu Gita menatap Sekar agak khawatir.
Tak lama kemudian terlihat Raja Pelvis berjalan mendekat. Wajahnya datar dan terkesan misterius.
"Selamat siang, Yang Mulia! " Raja Pelvis menunduk hormat.
"Selamat siang. Mari bergabung bersama kami, Raja Pelvis." Ucap Ratu Gita ramah.
"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi maaf, saya ingin beristirahat di kamar." Raja Pelvis berbicara dengan sopan dan sangat memikat.
"Oh, silakan beristirahat Raja Pelvis."
"Permisi." Raja Pelvis berjalan pergi.
Semua mata memandang kepergian Raja Pelvis. Jika saja mereka tidak mengetahui bahwa pria itu bisa sewaktu-waktu berubah menjadi makhluk buas, pastilah mereka akan terpesona pada Raja Pelvis.
"Pria itu sangat mengerikan. " Ucap Arya.
"Jangan sembarangan bicara!" Tegur Faye.
"Apa aku salah? "
__ADS_1
"Pendengarannya sangat sensitif, jangan sampai kau membuatnya tersinggung dengan ucapanmu! " Faye mengingatkan.
"Maaf! " Arya tersenyum malu.
Sementara itu Sekar masih diam. Dalam hati dia menyetujui perkataan Faye. Gadis cilik itu masih ngeri membayangkan kejadian tadi. Perubahan pada Raja Pelvis yang tiba-tiba, bukan hanya fisiknya namun juga kepribadiannya.
*****
Pangeran Gaurav berjalan menuju kudanya ditemani oleh Pangeran Sagar dan Puteri Elok. Pria itu memutuskan untuk pulang ke kerajaannya.
"Apa Kak Gaurav yakin tidak mau didampingi prajurit? " Pangeran Sagar berbicara sambil mengikuti di belakang Paket Gaurav.
"Tentu saja. Jika aku berkuda tanpa henti, sebelum gelap aku pasti sudah sampai. Kau tidak usah cemas! " Pangeran Gaurav menepuk bahu Pangeran Sagar untuk menenangkannya.
Kemudian Pangeran Gaurav mendekati Puteri Elok. Pria itu menatapnya penuh pemujaan. Sebenarnya dia tidak rela harus berpisah dengan Puteri Elok, tapi dia sudah terlalu lama tidak pulang. Lagipula ada hal penting yang harus dibicarakan dengan pamannya. Hal yang akan menentukan masa depannya.
"Aku pergi dulu, kuharap kau tidak melupakan aku. " Pangeran Gaurav menggenggam erat kedua tangan Puteri Elok dan mengecupnya.
Puteri Elok mengangguk sambil tersenyum, ada semburat merah menghiasi pipinya.
"Berhati-hatilah di jalan. " Suara lembutnya membuat jantung pria di depannya berdegup kencang.
"Aku akan segera kembali! "Pria itu mengecup kening Puteri Elok kemudian segera naik ke atas kudanya.
Pangeran Gaurav terdiam sejenak dan memandangi wajah wanita yang dicintainya itu beberapa saat, kemudian dia memacu kudanya dengan cepat sampai menghilang dari pandangan Puteri Elok dan Pangeran Sagar.
Pangeran Sagar memandang wajah kakaknya yang memerah. Pemuda itu sukar untuk menerka apakah kakaknya itu sedih atau gembira.
"Apakah kakak sedih? " Tanya Pangeran Sagar.
"Tidak."
"Berarti kakak gembira? Tentu saja kakak gembira bukan?"
Wajah Puteri Elok semakin merah mendengar perkataan adiknya.
"Sudahlah, Sagar. Kau tak mengerti. Suatu saat ketika dewasa, kau akan memahaminya. " Puteri Elok berjalan mendahului adiknya.
"Tentu saja aku mengerti kak, aku sudah dewasa! "
"Kuharap kau jangan cepat-cepat dewasa, adikku ha..ha.." Puteri Elok mendorong Pangeran Sagar dengan pinggulnya, kemudian wanita itu tertawa.
Pemuda yang berpikiran dewasa itu hanya mengernyitkan keningnya karena tidak bisa memahami pikiran seorang wanita meskipun dia adalah saudara kandungnya.
__ADS_1