
Alunan suara tabuhan gendang seorang pria bertangan tunggal terdengar menghentak-hentak. Kedua kaki Jadukari Daalal Nath berlompatan menarikan irama pemujaan. Mulutnya komat-kamit melantunkan kidung mistis sebagai permohonan kepada dewa.
Meski kekuatannya telah sirna, dia akan mencoba memanggil kembali entitas supranatural untuk membangkitkan pemilik raga yang telah mati ratusan tahun yang lalu. Dia berseru dengan kesungguhan hati dibarengi tetesan air mata sampai peluhnya membasahi tubuhnya.
Mujh mein aao
Hamaare beech koee doree nahin hai
Jab chaand chamakata hai
Ham ek saath chamakate hain
Sinar bulan menyeruak menyorot kerangka manusia yang terbaring di atas altar. Tarian dukun tua itu semakin bersemangat. Tangan kanannya meraup sejumput kelopak marigold yang ditempatkan di sebuah mangkuk tembikar kemudian dilemparnya ke udara, sedang tangan kirinya meraih belati yang tergeletak di sebelahnya.
Dug..dug..dug..
Suara gendang yang ditabuh masih bertalu-talu mengiringi tarian lelaki tua itu. Tubuhnya yang renta bergerak semakin cepat. Melompat ke kanan lalu ke kiri, kemudian berputar.
Sreeet..
Cras.
Mata belati berkelebat cepat di bawah kelopak-kelopak marigold yang berhamburan. Seketika terdengar pekik pelan dari si penabuh gendang. Seketika musik berhenti. Tubuh si penabuh gendang terkulai dengan leher bersimbah darah.
Jadukari Daalal Nath segera menampung darah yang mengucur dari leher Pangeran Awang dalam sebuah mangkuk. Setelah darah hampir meluber, dia segera membawanya ke depan pohon nagasari.
Sambil merapal mantranya, dia menyiramkan darah bangsawan Alsatia itu ke atas kerangka yang tergeletak di atas altar di depan pohon nagasari.
Jadukari Daalal Nath berdiri memandangi kerangka yang merah dan basah sambil menahan napas, menunggu. Warna merah itu perlahan-lahan menguap menjadi partikel-partikel kecil di bawah sorot cahaya bulan.
Sulur-sulur otot mulai merambat membalut tulang dan tengkorak Mandala. Kemudian tumbuhlah daging merah di sekujur tubuh mati itu. Dua buah bola mata tiba-tiba menyeruak dari dua lubang kosong pada tengkorak. Kedua mata itu bergerak-gerak mengerikan. Lalu, lapisan kulit juga mulai membalut daging yang merah.
Lama-kelamaan tulang-tulang kerangka itu membentuk sesosok pemuda bertubuh liat yang terbaring tanpa busana. Perlahan dada pemuda itu mulai naik turun pertanda bahwa napas sudah menggerakkan paru-parunya.
Selarik senyuman menghiasi wajah Jadukari Daalal Nath. Dia menatap takjub karena melihat kejadian terciptanya seorang manusia tepat dihadapannya.
Tiba-tiba kelopak mata pemuda itu terbuka. Tatapannya ke atas ke arah langit malam. Udara terasa semakin dingin dan angin bertiup menderu-deru.
"Uma!" Serunya.
Burung-burung yang bertengger di pepohonan seketika beterbangan. Suasana riuh sejenak, kemudian hening.
*****
Puteri Juwita tersentak. Seolah baru saja ada seseorang yang telah memanggilnya. Gadis itu kembali meraba tengkuknya yang meremang. Tiba-tiba dia merasa pundaknya disentuh. Dengan jantung berdebar kencang Puteri Juwita menoleh.
"Juwita, rupanya kau di sini? Dari tadi aku mencari-carimu!"
"Ningrum? Ah, kenapa kau mengagetkanku?" Puteri Juwita memegangi dadanya yang masih deg-degan.
"Ibumu mencari-carimu." Kata Ningrum.
Puteri Juwita kemudian mengikuti langkah Ningrum ke dalam, kembali membaur dalam keriuhan pesta. Gadis itu menghampiri ibunya.
"Ada apa ibu memanggilku?" Tanya Puteri Juwita.
"Ah, ibu rasa ini sudah waktunya kau tidur. Hampir tengah malam, tidak baik seorang wanita masih berada di luar. Biarkan saja para lelaki berpesta." Ratu Gita mengelus bahu putrinya.
"Iya bu."
Puteri Juwita mengangguk, dia berjalan bersama Ningrum untuk kembali ke kamar karena kamar mereka letaknya berdekatan.
"Apakah setelah pernikahan ini kau akan ikut pulang dengan orang tuamu?" Tanya Ningrum.
"Iya. Aku sudah rindu sekali ingin berbaring di atas ranjangku sendiri."
"Aku senang akhirnya kau bisa pulang. Hanya saja aku pasti akan kangen padamu." Mata Ningrum terlihat berkaca-kaca.
"Ah, kau bisa mengunjungiku kapan saja. Aku tidak akan melupakan sahabat terbaikku. Kau bahkan sudah kuanggap sebagai saudaraku. Aku berhutang banyak padamu dan keluargamu." Puteri Juwita menggenggam tangan Ningrum.
"Aku tidak suka mendengarmu lagi-lagi mengungkit-ungkit soal itu. Aku melakukannya dengan ikhlas. Aku sudah bahagia karena kau menganggapku saudara."
"Semoga secepatnya kita bisa kembali bertemu lagi." Ucap Puteri Juwita sambil berdiri di depan pintu kamarnya.
"Iya, semoga."
Keduanya berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Puteri Juwita segera membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya terasa letih namun pikirannya masih mengembara.
*****
__ADS_1
Bulan bersinar menerangi langit malam. Di bawah sana seorang pemuda berparas rupawan memandang bulan dengan tatapan dingin. Rambut panjangnya yang tergerai berkibar pelan ketika angin bertiup semilir.
"Tuan Mandala, kita sudah sampai. Lihat di sana, Tuan!" Seorang lelaki renta yang berjalan dengan menopang tongkat berseru penuh semangat.
"Benarkah ini tempatnya?" Pemuda bernama Mandala itu berjalan mendekat sambil menatap sebuah reruntuhan bangunan.
"Saya yakin, Tuan. Tongkat ini mengarahkan ke mari. Saya yakin di sinilah letak makam itu." Ucap lelaki tua itu.
"Hmm, bukankah sudah dua kali kau membawaku ke tempat yang salah?" Sindiran Mandala mengingatkan Jadukari Daalal Nath yang telah dua kali salah menunjukkan makam Uma.
Saat Mandala bangkit kembali dari kematian, pemuda itu terus mendesak Jadukari Daalal Nath untuk membawanya ke makam Uma. Namun sayangnya dukun itu tak mengetahuinya. Faktanya, tak seorangpun yang mengetahui di mana makam wanita itu.
Mereka telah mencari di setiap sudut desa Dewanata namun tak juga menemukannya begitupun saat mengunjungi pemakaman kuno di sekitarnya. Berhari-hari mereka menjelajah ke beberapa situs kuno yang diperkirakan menyimpan tubuh Uma.
"Kali ini tidak akan salah, Tuan." Jawabnya, setelah itu dia segera melompat dengan lincah memasuki area reruntuhan bangunan makam.
Tak jauh dari tempat itu beberapa pasang mata mengawasi dari balik pepohonan. Deru napas mereka memburu dengan mulut menyeringai ganas.
Tiba-tiba si lelaki tua berhenti, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengendus-endus udara.
"Aku mencium bau anjing," alis lelaki tua itu terangkat. "Apa jangan-jangan?"
Lelaki tua itu menoleh ke belakang, "Ah, s*al!"
Jadukari Daalal Nath segera bergegas keluar dari reruntuhan bangunan makam. Dia terhenyak begitu melihat puluhan ekor serigala sedang mengitari tuannya.
"Mereka pasti penjaga tempat ini," batinnya.
Dia segera melompat sambil mengayunkan tongkatnya untuk menghalau binatang-binatang itu.
Grrrr!
Serigala-serigala itu menggeram. Beberapa mulai menunjukkan taringnya yang tajam.
"Tenang saja, Tuan. Saya akan menghabisi mereka semua," teriak lelaki tua itu sambil mengacungkan tongkatnya.
"Tidak perlu," cegah Mandala. Pemuda itu malah berjalan terus menuju reruntuhan bangunan makam kuno.
Grrr!
Serigala-serigala itu terus menggeram. Mereka seolah menargetkan Mandala. Binatang-binatang itu melompat bersamaan ke arah pemuda itu dan menyerangnya.
Tiba-tiba selarik sinar memancar dari tangan Mandala yang terayun di udara. Sinar itu melesat menerjang serigala-serigala itu hingga mereka terpental di udara dan terbanting jatuh sejauh beberapa meter.
"Aiing..aiing.." Terdengar suara lirih rintihan para serigala.
"Sepertinya kekuatanku belum pulih sepenuhnya. Aku masih terlalu lemah," gumam pemuda itu sambil mengibaskan tangannya. Kepalanya miring sedikit ke kiri memandangi serigala-serigala yang kini tertatih-tatih berusaha bangkit.
"Tuan jangan meragukan diri sendiri," hibur si lelaki tua.
Mandala menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya tidak tahu batas kekuatanku."
Lelaki tua itu mengangguk maklum. Jika kekuatan tuannya sudah pulih maka serigala-serigala itu sudah hancur tak berbentuk.
"Daalal Nath!" Seru Mandala sambil menggerakkan dagunya.
"Siap Tuan!" Lelaki tua itu segera kembali memasuki reruntuhan bangunan dan mengorek-ngorek lantainya dengan tongkat.
"Tidak ada di sini rupanya," Jadukari Daalal Nath menggaruk-garuk kepalanya.
Mendengar itu Mandala berdecih kesal. Dia segera pergi meninggalkan tempat itu. Jadukari Daalal Nath yang melihat hal itu segera melompat mengejar tuannya.
"Tuan Mandala! Tunggu, Tuan Mandala!"
Mandala terus berjalan di jalan setapak yang diapit padang ilalang tanpa menghiraukan teriakan Jadukari Daalal Nath yang berlari di belakangnya.
Dia akhirnya tiba di pinggir sungai. Tubuhnya tegak menatap air sungai yang memantulkan cahaya bulan.
"Aku harus mendapatkan perahu."
"Saya akan mencarinya, Tuan," Ucap Jadukari Daalal Nath yang akhirnya mampu menyusul Mandala dengan napas terengah-engah. Kemudian lelaki tua itu pergi dan segera menghilang di balik gelapnya rimbun pepohonan.
Mandala kembali berjalan menyusuri sungai. Tak berapa lama di kejauhan sana dilihatnya beberapa perahu tertambat di sebuah dermaga kecil. Saat Mandala mendekat, rupanya di sana ada sekelompok orang yang sedang berdiang mengelilingi api. Mandala mendekati mereka.
"Siapa kau?" tanya seseorang.
"Aku ingin meminjam perahu," jawab Mandala.
"Heh, kau gila ya? Enak saja mau meminjam perahu! Kau pasti pencuri tengik!" Tuduh orang itu.
__ADS_1
Tak berapa lama orang-orang itu datang mendekat. Mereka memandangi Mandala seolah meremehkannya.
"Ada apa, Badra?" tanya mereka.
"Dia bilang ingin meminjam perahu."
"Alaah, alasan saja. Palingan dia ingin mencuri!"
"Hajar saja dia!"
Orang-orang itu maju bermaksud untuk menyerang Mandala, namun gerakan pemuda itu lebih cepat. Tahu-tahu tangan kanannya kini sudah mencengkeram leher salah satu penyerangnya.
Krek.
Suara tulang remuk terdengar mengerikan. Orang-orang yang menyaksikan itu bergidik ngeri.
Brak! Byur!
Tubuh orang itu kemudian dilemparkan begitu saja oleh Mandala sampai menghantam salah satu perahu. Perahu itu pecah. Air menyiprat dan membentuk riak gelombang saat tubuh orang itu akhirnya tercebur ke sungai. Perahu-perahu yang tertambat bergerak-gerak terombang-ambing di atas air.
"Kau siapa?" tanya salah seorang dari mereka sambil menghunuskan pedang.
Sebelum Mandala menjawab tiba-tiba Jadukari Daalal Nath datang dengan napas tersengal-sengal.
Maafkan saya, Tuan Mandala. Saya tidak berhasil mendapatkan perahu," ucapnya. Namun sesaat kemudian matanya terpaku menyaksikan deretan perahu yang tertambat di tepi sungai.
"Hah? Oh! Ada begitu banyak perahu!" serunya dengan gembira.
"Kalian! Berikan perahu itu untuk Tuan Mandala!" perintahnya pada orang-orang itu.
"A-apa?" Orang-orang itu berseru kaget.
"Kau bukan manusia. Bunuh mereka!" Seru seorang pria bertubuh tinggi besar yang merupakan pemimpin mereka.
Mereka mengepung Mandala dan Jadukari Daalal Nath, namun tak sedikitpun rasa takut terpancar di mata keduanya.
"Daalal Nath, urus mereka!" ucap Mandala dengan tenang.
"Baik, Tuan!" Jadukari Daalal Nath yang kekuatannya telah dipulihkan itu mengangguk patuh.
Dukun tua itu segera mengarahkan tongkatnya ke depan lalu memutar-mutarnya. Gelombang panas segera terbentuk dan semburan api yang sangat terang tiba-tiba muncul dari pusat gelombang.
"Rasakan panasnya api ini!" Seru Jadukari Daalal Nath sambil menyeringai senang.
"Aakh!" Teriakan kesakitan menggema dari orang-orang yang terbakar. Orang-orang itu kelojotan sementara api melalap tubuh mereka.
"Hahaha..tak ada yang tersisa. Jika kalian tak melawan, saat ini kalian pasti masih hidup." Jadukari Daalal Nath terkekeh melihat asap yang mengepul dari sisa-sisa jasad yang terbakar.
"Saya sudah selesai, Tuan Mandala," ucap lelaki tua itu, kemudian dia berbalik.
"Hah? Tuan Mandala, tunggu!" lelaki tua itu segera berlari menyusul Mandala yang sudah berada di atas perahu.
"Tuan Mandala, maafkan saya karena masih belum menemukan lokasi makam itu," kata Jadukari Daalal Nath ketika perahu sudah meluncur di sungai.
"Gadis itu pasti bisa menunjukkan tempatnya," ucap Mandala yang tengah duduk dengan tenang.
"Maksud tuan, sang awatara?"
"Benar sekali."
"Saya bisa saja mengantar tuan menemuinya, tapi dia sekarang berada di istana. Para penjaga pasti tidak akan membiarkan kita masuk."
Byur!
Baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuh Jadukari Daalal Nath tercebur ke sungai. Tubuh lelaki tua itu mengkerut kedinginan. Kepalanya naik turun di permukaan sungai, masih merasa bingung kenapa tiba-tiba bisa berada di air.
Cipak..cipak..
"Huft..hah..hah..Tuan Mandala!" dukun itu berenang di samping perahu sambil merasakan hawa dingin menusuk tulang. Rambutnya yang agak gimbal terlihat seperti sepon yang mengambang.
"Jangan pernah meremehkan aku, dukun peyot!" Mandala berbicara tanpa menoleh, tatapannya lurus ke depan sedang tangan kirinya menekan kepala Jadukari Daalal Nath dengan tongkat kepunyaan lelaki tua itu sendiri.
"Ma-Maafkan saya, Tuan Mandala," jawab Jadukari Daalal Nath dengan kepala yang timbul tenggelam. Akhirnya dia tahu siapa yang sudah mendorongnya ke dalam sungai.
"Lagipula jika benar dia titisan Uma, aku pasti bisa memanggilnya tanpa harus masuk ke dalam istana."
"Anda benar, tuan."
Lelaki itu kemudian meraih pinggiran perahu dan berusaha naik. Perahu terus meluncur membelah sungai yang gelap.
__ADS_1