Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 42 Membunuhnya Sekali Lagi


__ADS_3

"Aaargh..!"


Raja Bharata menggeram. Dia melemparkan mayat seorang pengawal yang baru dimangsanya begitu saja. Mulutnya yang berlumuran darah menyeringai lebar.


Para pengawal yang mengepungnya menjadi gentar. Tak pernah mereka membayangkan, bahkan dalam mimpi terliar sekalipun, akan berhadapan dengan monster haus darah seperti ini.


Seperti bisa mengendus rasa takut mereka, mayat hidup itu bergerak mendekat dengan gerakan aneh.


Tanpa aba-aba, para prajurit itu melarikan diri. Mereka lupa bahwa Raja mereka ada di sana. Mereka menyerah kepada rasa takut yang menguasai jiwa.


Kini hanya tinggal Raja Satria yang berhadapan langsung dengan mayat hidup itu. Pria itu menghunus pedangnya. Dia segera menyerang ketika monster itu mulai menyabetkan kukunya.


"Sreet... Sreet...!"


Beberapa kali pedang Raja Satria menyabet tubuh Raja Bharata dan berhasil mencabik dagingnya yang membusuk. Belatung kecil-kecil itu berjatuhan ke tanah, membuat Raja Satria bertambah mual.


"Sreet... Sreet...Jleb..!"


Pedang Raja Satria berhasil menusuk perut Raja Bharata. Namun mayat itu dengan santainya tetap berjalan mendekati Raja Satria, membuat perutnya tertusuk semakin dalam. Bahkan pedang itu sekarang menembus punggungnya.


Mayat itu menyeringai, tangannya menggapai-gapai ke arah Raja Satria. Melihat hal itu, Raja Satria segera menarik kembali pedangnya dan meninggalkan lubang menganga di perut mayat itu.


"Kkauu..akkaan..mmattii..!"


Mayat hidup itu merangsek ke depan, menyerang Raja Satria dengan gerakan abnormal. Kepalanya bergerak-gerak sementara jari-jarinya menekuk kaku. Tanpa memberi jeda, mayat hidup itu terus mendesak lawannya.


"Sreet.. Sreet..!"


Sabetan pedang Raja Satria semakin sia-sia. Tubuhnya kini menjadi kelelahan setelah meladeni makhluk itu selama berjam-jam.


Jari-jari tangannya terasa kaku dan napasnya tersengal-sengal. Keringat bercucuran di tubuhnya. Hingga pada suatu titik, dia sudah tidak kuat lagi.


"Tiing..!" Pedangnya terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah.


"Buugh!"


Dengan satu gerakan kuat, makhluk itu menghantam tubuhnya. Raja Satria terjengkang dan jatuh ke tanah. Dia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk bangkit. Kini dia hanya bisa menunggu makhluk itu menerkamnya.


Mayat hidup itu melompat, menerkam mangsanya yang sudah tak berdaya.


"Ssiiiiing...Jleb!"


Saat mayat itu masih melompat di udara, tiba-tiba sebuah anak panah menancap tepat di kepalanya sampai menembus kening.


"Aaargh...!"


Mayat hidup itu menggeram kencang. Tangannya mencoba menarik anak panah di kepalanya.


"Ssiiiiing..Ssiiiiing.. Ssiiiiing..!"

__ADS_1


"Jleb...Jleb..Jleb..!"


Anak panah kembali menancap di kepalanya. Kemudian disusul leher dan punggung mayat itu. Gerakan mayat hidup itu tiba-tiba berhenti dan langsung jatuh tersungkur di depan Raja Satria. Ada cairan yang sangat menyengat keluar dari lubang di kepalanya.


Di belakang makhluk itu, Raja Satria bisa melihat istrinya yang hamil tua sedang berdiri sambil menarik busurnya. Bersiap-siap melesatkan kembali anak panahnya.


Entah mengapa, keadaan ini mengingatkannya pada sesuatu. Seolah dia pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Namun pria itu lupa. Kapan, dimana dan dengan siapa?


"Kau tidak apa-apa?"


Pertanyaan istrinya membuyarkan lamunannya. Dia menyambut uluran tangan wanita itu. Dia tidak menyangka akan diselamatkan oleh seorang wanita hamil.


Dilihatnya mayat Raja Bharata diam tak bergerak. Aroma busuk semakin tajam menguar dari tubuhnya. Raja Bharata kembali terbunuh sekali lagi.


Di ufuk timur, langit mulai kemerahan. Fajar telah menyingsing. Para pengawal yang melarikan diri kembali berdatangan. Mereka merasa malu telah bertindak pengecut. Terutama melihat Sang Ratu yang sedang hamil tua sampai turun tangan memusnahkan mayat hidup itu.


"Segera bakar mayat itu!" Perintah Ratu.


Para pengawal itu segera menyeret mayat yang sudah membusuk itu dan dinaikkan ke gerobak. Mereka membawanya keluar istana dan segera membakarnya. Mereka menungguinya sampai mayat itu benar-benar menjadi abu.


*****


Jadukari Daalal Nath menggebrak meja di depannya. Dia sangat murka karena mayat Raja Bharata yang telah dia bangkitkan itu telah dikalahkan.


Padahal dia sudah mengerahkan semua kemampuan sihirnya. Seharusnya mayat itu tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Karena hanya orang yang memiliki darah bangsawan dari Kerajaan Dewanata, yang bisa membunuhnya.


Kini dia hanya seorang diri. Dia sudah kehilangan segalanya. Bahkan kekuatan sihirnya telah lenyap karena sudah dia kerahkan semua untuk membangkitkan Raja Bharata. Namun usahanya ternyata sia-sia.


Para prajurit dari Kerajaan Dewanata telah pergi seluruhnya. Mereka ketakutan ketika melihat mayat Rajanya bangkit kembali.


Kemudian dia mengambil kuda yang tersisa. Dengan cepat dia menaikinya dan pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjanji akan kembali lagi dan membuat perhitungan dengan penghuni istana Elfian.


*****


Raja Satria baru saja selesai diobati oleh tabib istana. Beberapa bagian tubuhnya yang sobek harus dijahit dan dibebat perban. Tabib juga memberikan beberapa butir pil untuk memulihkan kesehatannya.


Ratu Gita duduk tidak jauh dari sana, hanya mengamati. Setelah tabib itu pergi, Ratu Gita mendekati suaminya.


"Bagaimana keadaanmu?" Wanita itu menggenggam tangan suaminya sambil menatapnya dengan mimik sedih.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku." Raja Satria mengecup tangan istrinya.


"Yang terpenting mayat itu sudah menjadi abu. Jadi dia tidak mungkin bisa datang lagi kemari." Ucapnya lagi.


Ratu Gita mengangguk. Semalam dia menyaksikan sendiri, bagaimana mayat hidup itu menghajar suaminya. Karena melihat nyawa suaminya terancam, wanita itu nekat menyerang monster haus darah itu dengan panahnya.


"Ehmm, aku kok tidak melihat Eldrige?" Dengan agak ragu, Ratu Gita melontarkan pertanyaan itu.


"Kenapa kau menanyakan dia? Kau merindukan peri itu ya?" Wajah pria itu mulai tampak kesal.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya khawatir!"


"Yang harus kau khawatirkan itu aku. Bukan dia."


"Kenapa sih kau selalu marah kalau aku membicarakan Eldrige?"


"Ya, karena aku suamimu! Sudah aku bilang berkali-kali, kau tidak boleh memikirkan laki-laki lain selain aku!" Raja Satria merasa kesal karena sudah sering memperingatkan istrinya itu.


"Jangan marah, aku hanya heran. Kenapa dia tidak membantumu semalam." Bujuk Ratu Gita agar suaminya tidak marah.


"Peri itu kesurupan. Dia sekarang dibawa ke Kerajaan Lucshire untuk diobati oleh Ratu Malea."


"Kesurupan?" Ratu Gita merasa sangat terkejut.


"Iya. Itu semua pekerjaan dukun dari Kerajaan Dewanata. Aku juga yakin bahwa dia juga yang membangkitkan Raja Bharata yang telah mati."


"Berarti dukun itu sangat berbahaya. Kenapa tidak kau tangkap saja dia?"


"Tidak semudah itu. Dukun itu sangat sakti dan berbahaya. Bahkan Eldrige pun bisa kalah. Menurutmu, apa pengawalku sanggup menangkapnya?" Tanya Raja Satria sambil menatap tajam istrinya.


"Benar juga." Ucap Ratu Gita setelah berpikir sejenak.


"Sudahlah, yang penting saat ini Kerajaan Elfian kembali aman. Masalah dukun itu nanti kita pikirkan lagi."


"Iya, yang penting kau selamat dan bisa segera pulih."


"Agar cepat pulih, aku ingin kau yang merawatku!" Raja Satria menaruh telapak tangan Ratu Gita di pipinya.


Wanita itu tersenyum dan membelai wajah suaminya itu.


"Aku pasti akan merawatmu, Sayang!"


*****


Faye membuka ikatan di tangan dan kaki Eldrige. Peri itu terlihat sangat kelelahan. Dia sudah kesurupan selama dua hari. Dan selama itu dia terus meronta-ronta dan mengamuk.


Entah kenapa tiba-tiba hari ini dia sadar. Padahal Ratu Malea sendiri belum bisa menyembuhkannya.


"Dukun itu telah kehilangan kekuatannya." Kata Ratu Malea.


"Tapi bagaimana bisa?"


"Ada yang telah berhasil mengalahkannya!" Jawab Ratu Malea.


"Siapa orang itu,?"


"Seseorang yang memiliki darah bangsawan dari Kerajaan Dewanata."


Eldrige mengangguk. Dia merasa malu karena bisa dipengaruhi oleh mantera sihir dukun itu. Sekarang dia akan kembali dan menjalankan tugasnya sebagai Guardian di Kerajaan Elfian.

__ADS_1


__ADS_2