Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 59 Sepasang Ular dari Baiyun


__ADS_3

Pangeran Chong membaca surat dari Tuan Liu dengan seksama. Tuan Liu menjelaskan situasi genting yang mereka hadapi saat ini.


Satu-satunya jalan adalah segera melakukan sesuatu sebelum Kaisar Haocun menemukan bukti-bukti keterlibatan mereka. Pangeran Chong kemudian meremas surat itu dengan gigi gemeletuk menahan marah.


Sebuah rencana langsung tersusun di otaknya yang licik. Lalu dia bergegas menuju ruang kerjanya. Ditulisnya sebuah surat berisi instruksi-instruksi yang harus segera dilaksanakan oleh Tuan Liu.


Lalu Pangeran Chong membuka laci mejanya, dan mengambil sebuah cincin warisan leluhurnya. Sebuah cincin perak bermata giok.


"Kau sudah menunjukkan semua koleksi lukisan ayah pada Chen? "


Pangeran Chong bertanya pada putrinya ketika mereka bertemu di gazebo, meneruskan kegiatannya melukis kaligrafi.


"Sudah, Ayah." Jawab Nona Bao Yu dengan senyum mengembang.


"Chen, berikan surat ini pada Tuan Liu."


Pangeran Chong menyerah surat yang baru ditulisnya pada Chen. Kemudian pemuda itu mengambilnya dan menyimpan surat itu di balik bajunya.


"Chen, aku ingin yang terbaik untuk putriku Bao Yu. Aku sudah memperhatikan dirimu sejak lama, dan kupikir kau pantas mendampingi putriku."


Pangeran Chong mengambil tangan putrinya dan menyerahkannya pada Chen. Pria bangsawan itu memandang wajah Chen dengan tajam, mata sipitnya memancarkan aura kekejaman.


"Aku harap kau bisa menghargai anugerah yang kau terima, Chen!"


Suaranya yang halus menyiratkan sebuah perintah sekaligus ancaman. Chen menelan ludah. Dia sudah kepalang basah. Satu-satunya hal yang kini bisa dilakukannya adalah mengikuti perintah atasannya.


"Saya sangat bersyukur menerimanya, Pangeran Chong." Chen membungkuk hormat.


"Bagus! Kau memang orang yang tahu diri. Itulah yang membuatku menyukaimu, Chen." Pangeran Chong tersenyum puas.


"Terimalah ini! "


Chen menerima sebuah cincin yang di ulurkan oleh Pangeran Chong.


"Aku tidak memiliki putra. Jadi kaulah nantinya yang akan meneruskan peninggalanku. Pakailah cincin ini sebagai menantuku! "


Dengan patuh Chen mengenakan cincin itu di jari tengah tangan kanannya.


"Terima kasih, ayah mertua! " Chen kembali membungkuk di hadapan Pangeran Chong.


"Ayah, aku sangat bahagia." Nona Bao Yu segera memeluk ayahnya.


*****


Kaisar Haocun memaksa rombongan Raja Satria untuk menginap di istananya. Kaisar menyiapkan kamar yang istimewa untuk mereka.


"Kamar ini indah sekali! " Ratu Gita mengagumi kamar yang disediakan untuknya dan Raja Satria.


Kamar itu luas dan memiliki banyak jendela dengan kaca bergambar bunga teratai. Ada ornamen naga dan bunga-bunga teratai menghiasi kusen pintu dan jendela.


Di luar jendela terdapat pemandangan taman bunga dan kolam ikan yang sangat memanjakan mata.


"Kau tidak keberatan malam ini tidur satu kamar denganku? "


"Ya. Bagaimanapun kau adalah suamiku. Aku tidak akan mempermalukanmu di hadapan Kaisar Haocun." Jawab wanita itu.


"Nanti kau bisa tidur bersama bayi kita di ranjang, aku akan tidur di sana! " Pria itu menunjuk ke arah kursi kayu panjang yang diukir sangat indah.


Ratu Gita mengangguk. Dia sangat bersyukur bahwa pria itu mau memikirkan perasaannya.

__ADS_1


"Terima kasih. "


"Baiklah, aku akan menemui Eldrige dan Pangeran Gaurav dulu. "


Raja Satria pergi ke kamar Eldrige. Di sana sudah ada Pangeran Gaurav yang sedang bermain catur dengan Eldrige.


"Kenapa kau kemari? " Tanya Pangeran Gaurav ketika melihat Raja Satria datang.


"Aku tidak tahu harus bagaimana di dekat istriku sendiri. " Keluh Raja Satria.


"Dekati dia, buat dia mengingatmu! " Saran Pangeran Gaurav.


"Eldrige, apa kau tak bisa mengobati istriku? " Raja Satria duduk di antara mereka sambil melihat jalannya permainan.


"Saya belum pernah mengobati penyakit seperti itu, Yang Mulia! " Jawab Eldrige, namun matanya tak lepas dari papan catur.


"Sudah kubilang, dekati dia. Ajak dia melakukan hal-hal yang disukainya." Kata Pangeran Gaurav lagi.


"Bagaimana kalau dia masih tidak ingat?"


"Apa kau mau menyerah? " Pangeran Gaurav meliriknya sambil menyeringai mengejek.


"Tidak akan! " Jawab Raja Satria dengan kesal.


Pangeran Gaurav dan Eldrige saling berpandangan sambil tersenyum-senyum.


"Atau, kau sebaiknya merubah penampilanmu! " Lagi-lagi ide datang dari Pangeran Gaurav.


"Merubah penampilan? "


"Saya sependapat dengan Pangeran Gaurav. "


"Kita tidak sedang membicarakan selera kami, tapi selera Gita."


"Tapi, dulu dia menyukai penampilanku. "


"Kita tidak tahu mungkin saja seleranya berubah? Seperti Chen misalnya? "


"Maksudmu aku harus merubah penampilanku seperti badut sirkus itu? "


"Tapi dia lumayan tampan. "


"Baiklah! "


Pangeran Gaurav segera memanggil seorang pelayan dan memintanya mendandani Raja Satria.


Pelayan itu kemudian datang bersama dua orang temannya. Mereka membawakan baju dengan kerah bentuk Y berwarna putih dan jubah sutra biru dengan sulaman tebal bergambar burung Phoenix di lengannya yang lebar.


Rambut Raja Satria disisir dan digulung separuh ke atas. Kemudian gulungan rambut itu dihiasi dengan tusuk rambut dari kayu berwarna hitam. Tusuk rambut itu memiliki rumbai biru dengan hiasan mutiara putih.


Penampilan Raja Satria kini terlihat seperti bangsawan Kerajaan Baiyun. Bahkan para pelayan yang mendandani Raja Satria merasa terpesona.


"Bagaimana penampilanku? "


Raja Satria memamerkan penampilan barunya pada Pangeran Gaurav dan Eldrige. Mereka mengangguk-angguk dan memuji penampilannya.


"Yang Mulia terlihat sangat mengagumkan! " Puji Eldrige.


"Terima kasih, Eldrige. "

__ADS_1


"Ya, kurasa Gita akan menyukainya. " Kata Pangeran Gaurav.


"Baiklah, aku akan mengajak istriku berjalan-jalan. Eldrige, tolong kau jaga anakku! "


"Sebaiknya kau menunggunya di taman. Aku akan menyuruh Gita untuk menemuimu di sana. "


"Baiklah." Raja Satria pergi sambil melebarkan kipas kertasnya.


Pria itu berjalan di koridor istana menuju ke taman. Namun ketika dia sedang berbelok, tanpa sengaja seorang wanita menabraknya. Wanita itu berambut hitam panjang dan berparas cantik.


"Maaf." Ucap Raja Satria.


Wanita itu memandangi Raja Satria dengan takjub. Dia begitu mengagumi wajahnya yang rupawan dan penampilannya yang memukau.Namun pria yang dikaguminya itu hanya memandangnya sekilas lalu segera pergi.


"S-siapa dia? Tampan sekali! "


Wanita itu masih memandangi kepergian Raja Satria yang semakin menjauh.


"Itu adalah Raja Satria dari Kerajaan Elfian. " Jawab seorang pelayan.


"Kerajaan Elfian? "


"Benar Nona Bao Yu! "


"Hmm, jadi dia adalah suami Fen. Aku tidak rela wanita yang telah merebut Chen hidup bahagia. Sekarang aku yang gantian akan merebut suaminya! " Wanita itu menyeringai licik.


Dengan bergegas wanita itu pergi mengikuti Raja Satria.


*****


Pangeran Gaurav dan Eldrige pergi menemui Ratu Gita. Mereka menyuruhnya untuk segera menemui Raja Satria di taman istana.


"Tapi bagaimana dengan anakku? "


"Biar saya saja yang menjaganya Yang Mulia." Eldrige segera menghampiri bayi yang tengah terlelap di ranjang.


"Baiklah."


"Tunggu! "


"Ada apa Gaurav? "


"Ganti bajumu dulu dan berdandan lah sedikit. Kami akan keluar."


Pangeran Gaurav keluar bersama Eldrige yang menggendong bayi yang masih terlelap.


Ratu Gita agak merasa aneh, namun tetap mengikuti saran Pangeran Gaurav. Dia mengganti baju dan merapikan rambutnya. Kemudian dia segera pergi untuk menemui suaminya.


Ratu Gita melangkah di antara bunga-bunga mawar yang disinari cahaya matahari sore. Dari kejauhan, dia melihat Raja Satria sedang duduk di bangku taman. Penampilannya terlihat agak lain. Pria itu mengenakan pakaian tradisional Baiyun.


"Apa kau menungguku?" Tanya Ratu Gita.


Raja Satria tersenyum manis kepada istrinya. Pria itu terlihat mempesona di bawah cahaya matahari yang kemerahan. Aura ketampanannya tiba-tiba bertambah berkali-kali lipat membuat Ratu Gita terkesima. Wanita itu berusaha mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup berada di dekat pria itu.


"Aku ingin mengajakmu berkencan, karena kencan terakhir kita tidak berjalan mulus." Raja Satria mengulurkan tangannya dengan lembut.


Ratu Gita mendekat dan menerima uluran tangan suaminya. Dia tak mungkin bisa menolak ajakan kencan dari pria semanis itu.


"Saya akan memandu Yang Mulia berkeliling istana ini! " Tiba-tiba seorang wanita datang menarik tangan Raja Satria.

__ADS_1


__ADS_2