
Beberapa hari ini Raja Sagar merasa ada keanehan dalam istananya meskipun semuanya masih tampak sama. Para pengawal masih berjaga dan para staf kerajaan masih menjalankan tugasnya dengan baik.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang tidak wajar namun dia tidak tahu apa.
Sedangkan para peri yang dikirimkan oleh Ratu Malea telah dia tugaskan untuk melindungi perbatasan. Jadi sebenarnya dia tidak memiliki alasan untuk merasa khawatir. Namun, perasaannya masih tetap sama. Ganjil.
Pada malam hari saat Ratu Akemi telah terlelap, Raja Sagar pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Tanpa sengaja dia melihat sekitar selusin prajurit yang sedang berpatroli tiba-tiba berhenti di bawah bayang-bayang pepohonan.
Raja Sagar memicingkan matanya agar bisa melihat lebih jelas apa yang sedang mereka lakukan.
"Astaga! " Raja Sagar membekap mulutnya sendiri begitu melihat para prajurit itu bertransformasi menjadi orang lain. Mereka sekarang terlihat sebagai pemuda-pemuda berkulit pucat.
Daemonie? Mereka sudah menyusup kemari? Astaga !
Raja Sagar segera mengganti pakaiannya dan keluar untuk mencari pengawal pribadinya. Saat Raja berjalan tergesa-gesa di koridor yang lantainya bergambar mozaik bunga-bunga berwarna coklat tua, tiba-tiba langkah pria itu terhenti.
Di depan sana ada dua orang asing yang sedang berbicara. Raja Sagar tidak pernah melihat kedua orang itu. Meskipun dia tidak mengenal nama semua pengawal dan staf di istana, tapi minimal Raja Sagar mampu mengenali wajah mereka.
"Ehm! " Raja Sagar berdehem dan mendekati mereka. Namun anehnya, pada saat mereka berbalik Raja Sagar melihat wajah yang tak asing. Mereka adalah Timur dan Diarto, pengawal pribadinya.
"Selamat malam, Yang Mulia! " Ucap mereka serempak.
"Selamat malam." Raja Sagar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Andai tadi dia tidak melihat prajurit-prajurit yang berubah wujud, tentu dia akan menganggap kedua orang di depannya adalah bawahannya yang asli.
"Bisakah kalian siapkan kuda untukku besok pagi? Sudah lama aku tidak berkuda." Raja Sagar mencoba mencari alasan.
"Baik, Yang Mulia. Akan kami siapkan sekarang." Mereka berdua segera pergi ke istal untuk menyiapkan kuda.
Raja Sagar segera kembali ke kamar dan membangunkan isterinya.
"Bangun sayang! " Bisiknya sambil mengguncang tubuh isterinya.
"Apakah sudah pagi? " Ratu Akemi terlihat masih mengantuk.
"Sstt.. Kumohon sekarang pergilah ke kamar anak-anak. Bawa mereka ke ruang rahasia di perpustakaan. Jangan beritahu siapapun termasuk para pelayan! " Raja Sagar berkata serius pada isterinya.
Tengkuk Ratu Akemi langsung meremang. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi dari sikap suaminya dia tahu ada sesuatu yang gawat sedang terjadi.
Dengan patuh, wanita cantik itu segera masuk ke kamar dua anak kembarnya dan menuntun mereka ke perpustakaan yang terletak tidak jauh dari kamar mereka.
Ratu Akemi menarik sebuah buku dongeng yang berada di rak nomer tiga dari atas dan tiba-tiba rak buku di hadapannya berputar ke belakang.
"Ayo masuk, sayang! " Ratu Akemi membawa kedua putra putrinya itu masuk dan segera mengunci pintu lagi.
Sementara itu Raja Sagar masih di dalam kamarnya sedang mencoba memikirkan jalan keluar. Saat ini dia tidak bisa mempercayai siapapun. Para penyusup itu bisa menyamar sebagai siapapun.
"Andai para peri ada di sini... Eldrige, bisakah kau kemari? " Bisik Raja Sagar sambil menunduk.
*****
Tengah malam Ratu Elok bangun setelah bermimpi buruk tentang adiknya. Entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa adiknya sedang mengalami kesusahan.
"Kau kenapa, sayang? " Raja Gaurav ikut terbangun karena merasakan gerakan isterinya.
"Aku bermimpi buruk tentang Sagar. Aku mencemaskannya! " Wajah cantik wanita itu terlihat tegang.
"Itu hanya mimpi, sayang. Sagar adalah seorang raja. Di sekelilingnya ada ribuan penjaga yang selalu siap melindunginya." Raja Gaurav berusaha menenangkan isterinya.
"Tapi, firasatku mengatakan bahwa Sagar sedang dalam bahaya." Jelas kegelisahan sudah menguasai Ratu Elok.
"Baiklah, kalau kau begitu cemas. Sekarang juga aku akan memerintahkan salah seorang peri untuk memeriksanya." Raja Gaurav mengecup kening isterinya sebelum beranjak keluar.
Raja Gaurav pergi memanggil salah seorang peri yang berjaga di istana.
"Rowen, tolong periksalah keadaan Raja Sagar di istana Alsatia dan segeralah mengabariku!" Perintah Raja Gaurav pada gadis muda berambut merah.
"Baik, Yang Mulia! " Rowen segera mencabik udara dan pergi ke istana Alsatia lewat lubang dimensi.
Gadis itu keluar dari lubang dimensi tepat di depan kamar Raja Sagar. Tanpa ragu, peri muda itu mengetuk pintu kamar.
Tak lama kemudian pintu dibuka oleh seorang pria muda yang tampan dan gagah.
__ADS_1
"Selamat malam, Yang Mulia! "
"Selamat malam, kau siapa? " Tanya Raja Sagar.
"Saya adalah Rowen, peri yang ditugaskan di istana Watu Ijo. Raja Gaurav memerintahkan saya untuk memeriksa keadaan Yang Mulia."
"Kebetulan kau datang, aku bersyukur sekali! " Raja Sagar yang tadi terlihat pucat kini mulai tenang.
"Masuklah! " Raja Sagar masuk ke kamarnya diikuti oleh Rowena.
"Tolong bawa aku menemui Raja Gaurav! " Pinta penguasa Alsatia itu.
"Baik, Yang Mulia! " Rowen segera membawa Raja Sagar untuk menemui Raja Gaurav di istana Watu Ijo.
Ketika mereka keluar dari lubang dimensi, Raja Gaurav terlihat kaget.
"Aku tak menyangka kau akan kemari, adik ipar!" Raja Gaurav memeluk Raja Sagar.
"Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu! " Ucap Raja Sagar.
"Ada apa? "
Raja Sagar segera menceritakan keadaan yang sedang terjadi di istananya. Juga tentang isteri dan anaknya yang sekarang sedang bersembunyi di ruang rahasia.
"Kita harus segera menjemput mereka." Raja Gaurav terlihat cemas.
"Rowen, bisakah kau bawa Ratu Akemi dan kedua anaknya kemari? Dan juga, tolong hubungi Eldrige agar segera datang menemuiku! " Perintah Raja Gaurav.
"Baik, Yang Mulia! "
******
Eldrige kini sedang berpatroli di sekitar asrama. Dia meningkatkan kewaspadaan setelah mendengar berita kemunculan para Daemonie yang semakin meresahkan.
Saat berjalan di bawah kamar Puteri Juwita, Eldrige jadi ingin menemui gadis itu. Namun tiba-tiba dia merasakan panggilan telepati dari seorang peri.
"Eldrige. Saya Rowen, peri yang berjaga di istana Watu Ijo. Raja Gaurav memerintahkan agar kau datang menghadap sekarang! "
Saat Eldrige bersiap-siap untuk membuka lubang dimensi, dia kembali teringat pada Puteri Juwita. Sesaat dia memandang ke atas, ke arah jendela kamar Puteri Juwita yang gelap.
Dia ragu apakah akan berpamitan pada gadis itu atau tidak. Namun dia tidak tahu akan berapa lama dia pergi, jadi Eldrige memutuskan untuk mendatangi kekasihnya itu.
Dengan gerakan lincah dan tanpa suara, Eldrige melompat ke atas dengan dua putaran di udara. Tangannya kemudian meraih pinggiran jendela dengan sangat mudah. Dan dengan sekali sentil, jendela kamar itu langsung terbuka.
Eldrige segera melompat dan kemudian berjongkok di pinggiran jendela. Di sana dia mengamati suasana kamar yang temaram.
Kedua gadis penghuni kamar itu sedang terlelap. Eldrige kemudian melangkah ke arah ranjang Puteri Juwita tanpa menimbulkan suara. Pria itu menunduk dengan sorot mata lembut yang dipenuhi dengan kerinduan, mengamati wajah rupawan kekasihnya.
Gadis itu terlihat sangat cantik. Bulu matanya yang melengkung tebal sesekali bergetar dan membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Pelan-pelan disentuhnya kelopak mata yang terpejam itu dengan ujung jarinya, kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mengecupnya dengan lembut.
"Aku ingin menjadi orang pertama yang selalu kau lihat saat membuka mata. Dan aku juga ingin menjadi orang terakhir yang kau lihat setiap akan memejamkan mata." Ucap Eldrige pelan dengan merasakan desiran halus di dadanya.
Rasanya Eldrige ingin berlama-lama mengamati gadis itu. Tapi dirinya sudah tidak ada waktu lagi. Akhirnya dia mencuri sebuah ciuman kilat pada bibir Puteri Juwita sebelum akhirnya beranjak pergi.
Setelah berada di luar, Eldrige segera membuka lubang dimensi dan pergi menemui Raja Gaurav.
"Untunglah kau cepat datang, Eldrige. Istana Alsatia sedang ada masalah." Ucap Raja Sagar.
Saat itu juga bertepatan dengan datangnya Rowen beserta Ratu Akemi dan dua anak kembar penerus Kerajaan Alsatia.
"Ayah! " Seru kedua anak itu sambil berlari menghambur pada Raja Sagar.
"Syukurlah kalian selamat! " Raja Sagar merasa lega memeluk kedua anak berparas rupawan itu.
"Anak-anak, ikut bibi ke kamar kalian ya? " Tiba-tiba Ratu Elok muncul bersama dua orang pelayan.
"Ayo anak-anak! " Ratu Akemi mengulurkan kedua tangannya, kedua anak kembar itu segera meraih tangan ibunya dan berjalan masuk mengikuti bibi mereka.
Setelah itu Eldrige duduk di hadapan kedua raja. Mereka menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Kami butuh bantuanmu! " Ucap Raja Gaurav.
*****
Puteri Juwita beberapa hari ini sudah mulai mengikuti pelajaran di sekolah. Gadis itu belajar tanpa semangat karena belum bertemu lagi dengan Eldrige sejak pria itu menyelamatkannya dari pelelangan budak.
Pikirannya sekarang dipenuhi dengan kecemasan karena tidak mendengar kabar dari pria itu. Sehingga dia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Bu Irma di depan kelas. Puteri Juwita benar-benar merasa pelajaran terakhir hari ini sangat membosankan.
Tatapan Puteri Juwita justru mengarah ke luar jendela yang berada di sebelah kanannya, memandangi awan-awan putih yang menggumpal di langit yang biru.
Gadis itu membayangkan Eldrige sedang memandanginya di antara awan-awan itu. Bibir gadis itu tersenyum-senyum dan pipinya bersemu merah.
"Juwita! " Seseorang menyodok lengannya. Puteri Juwita menoleh ke samping dan menatap wajah Ningrum.
"Kau melamun? " Ningrum menatapnya seolah menangkap basah dirinya yang sedang berhayal yang tidak-tidak.
"Ada apa? " Tanya Puteri Juwita dan merasa agak malu.
"Kelas sudah selesai dari tadi! Kau tidak mau pulang? "
Dengan linglung Puteri Juwita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas yang sunyi.
"Ayo! " Tangan Ningrum menarik lengan Puteri Juwita.
Puteri Juwita berjalan mengikuti Ningrum dengan patuh. Mereka berjalan keluar dari gedung sekolah menuju asrama. Pada saat mereka sampai di depan kamar, tiba-tiba mereka melihat Nona Sekar datang.
"Selamat siang, Nona Sekar! " Sapa mereka.
"Selamat siang. Segeralah makan, setelah makan kalian datanglah ke kantorku! " Setelah mengatakan itu Nona Sekar segera pergi.
Puteri Juwita dan Ningrum saling berpandang-pandangan karena tidak mengerti kenapa mereka dipanggil ke kantor.
Setelah berganti pakaian, kedua gadis itu pergi ke ruang makan dan menyelesaikan makan siang mereka dengan cepat. Mereka tidak ingin Nona Sekar menunggu mereka terlalu lama.
"Duduklah! " Perintah Nona Sekar saat mereka telah berada di dalam kantornya.
Kedua gadis itu segera duduk di hadapan Nona Sekar. Wanita itu terdiam beberapa saat sambil memandangi kedua gadis di hadapannya itu.
"Kalian pasti penasaran dengan Sari dan kedua gadis yang lain."
Puteri Juwita dan Ningrum menatap Nona Sekar. Mereka memang penasaran dengan kabar Sari sekarang. Tapi mereka agak kaget ketika Nona Sekar juga menyinggung tentang Sapna dan Ratri.
"Apakah Sapna dan Ratri juga..? " Kalimat Puteri Juwita tidak selesai karena gadis itu terlalu kaget.
"Mereka berdua memang tidak terlibat dengan penculikan kalian, tapi mereka mengetahuinya dan memilih diam." Penjelasan Nona Sekar menambah rasa sakit hati kedua gadis itu.
"Kenapa? " Suara Puteri Juwita bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Nona Sekar tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya duduk diam dan menyaksikan reaksi kedua gadis di depannya.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa mereka sudah dikeluarkan dari sekolah. Saat ini mereka sedang menunggu dijemput oleh keluarga masing-masing."
"Boleh kami bertemu? " Pertanyaan yang meluncur dari bibir Puteri Juwita tentu saja membuat Nona Sekar kaget. Bahkan Ningrum juga.
"Juwita! " Protes Ningrum.
"Aku hanya ingin tahu alasan mereka. Apa kau tak penasaran? " Puteri Juwita memandang wajah Ningrum.
"Ya, sebenarnya aku juga penasaran sepertimu. Tapi kurasa itu tidak ada gunanya."
"Baiklah. Nona Sekar, izinkan saya menemui mereka! " Puteri Juwita meminta sekali lagi.
"Baik. Ikut saya! " Nona Sekar berdiri dan berjalan keluar mendahului. Puteri Juwita berjalan mengekor di belakang. Beberapa gadis yang kebetulan melihat mereka, segera menyingkir dan berbisik-bisik penasaran.
Nona Sekar berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya terkunci. Wanita itu kemudian membukanya dan menyuruh Puteri Juwita masuk.
Puteri Juwita menghirup napas panjang sebelum memutuskan untuk melangkah maju. Saat gadis itu akhirnya masuk ke dalam, pandangannya langsung tertuju pada tiga orang gadis yang duduk dengan wajah pucat.
"Puteri Juwita! "
Gadis itu terkesiap begitu namanya dipanggil secara lengkap dengan gelar kebangsawanannya.
__ADS_1