
Eshwar tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Eldrige. Dia sangat khawatir ketika melihat wajah Eldrige yang pucat. Dan meskipun Eldrige sudah menghapus darah dari mulutnya, namun jejak nodanya membekas di ujung lengan bajunya.
"Tuan, apa Tuan baik-baik saja? " Tanya pemuda itu.
"Aku tidak apa-apa, Eshwar. Bagaimana penyelidikanmu?" Eldrige duduk setelah meletakkan busur dan pedangnya di atas meja.
"Kamar Pangeran Awang tertutup rapat sejak tadi karena sedang bermain catur dengan Pangeran Anthony. Tapi anehnya, saya mendengar suara-suara aneh dari dalam, seperti suara pertarungan."
"Jadi begitu?" Meskipun Eldrige melontarkan pertanyaan namun dia seolah sudah mengetahui sebelumnya.
Eshwar segera menyediakan teh untuk Eldrige sebelum ikut duduk di bangku di seberangnya.
"Bagaimana Tuan bisa terluka?" Tanya Eshwar.
"Ini bukan apa-apa, Eshwar."
"Jangan berkata seperti itu, Tuan. Saya benar-benar khawatir. " Kata Eshwar.
Eldrige tersenyum lalu meminum tehnya. Rasa hangat menjalar melalui tenggorokannya lalu ke dada dan berakhir di perut.
"Terima kasih, tapi aku benar-benar baik-baik saja. Awasi terus kamar Pangeran Awang dan laporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan." Setelah berkata seperti itu Eldrige pergi mandi.
Diam-diam dia memeriksa lukanya. Hantaman gaib tadi mengenai dadanya dan menyebabkannya memuntahkan darah. Namun dia pun telah membalas serangan itu. Meski dia sudah kehilangan kekuatan sihirnya, Eldrige tahu beberapa titik kelemahan sihir yang bisa dia manfaatkan. Jadi bisa dipastikan penyerangnya tadipun terluka.
Guyuran air membuat tubuh Eldrige lebih segar. Sambil mengeringkan rambutnya Eldrige keluar. Dia membayangkan seandainya masih memiliki kantungnya, dia pasti sudah mengoleskan salep dan minum ramuan obat buatannya.
Bruk!
Eldrige menubruk seseorang. Rupanya Eshwar masih berdiri menunggunya di depan kamar mandi.
"Esh.."
Auh!
Suara pekikan perempuan terdengar. Eldrige terkejut dan menurunkan handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut.
"Juwita?" Eldrige melihat gadis itu meringis memegangi hidungnya. Sudut matanya berair karena kesakitan.
"Kau tidak apa-apa?" Dengan cemas Eldrige mendekati gadis itu.
"Berhenti Eldrige! Apa kau tidak malu?" Teriakan Puteri Juwita membuatnya bingung. Kenapa dia harus merasa malu menolong gadis itu?
"Aku hanya mau memeriksa hidungmu, kau sampai menangis seperti itu." Eldrige terus mendekat.
Gadis itu memalingkan wajahnya ketika Eldrige memegangi dagunya.
"Biar kuperiksa sebentar, Juwita." Kini kedua tangan Eldrige memegangi kedua sisi wajah Puteri Juwita, namun gadis itu malah memejamkan matanya dengan wajah merona merah.
Hidung gadis itu baik-baik saja. Tapi Eldrige menjadi gemas dengan tingkah gadis itu. Dia terlihat malu-malu dan beberapa kali menggigiti bibirnya sendiri.
"Apa kau kemari untuk menggodaku? "
"Tidak Eldrige, aku ke sini untuk memeriksamu." Kata gadis itu masih dengan mata terpejam.
"Kenapa kau memejamkan mata? Apa kau tidak mau melihatku? " Tanya Eldrige di dekat telinga gadis itu.
"Tidak Eldrige, aku hanya malu." Sekejap kedua mata gadis itu terbuka melihat ke arah Eldrige lalu segera terpejam lagi.
__ADS_1
"Kau sangat menggemaskan." Eldrige tersenyum sambil terus mendekati gadis itu.
Tangan Eldrige mengelus pipi yang kemerahan itu. Kemudian bergerak ke samping menyibak rambut gadis itu dan menyelipkannya di belakang telinganya yang runcing. Rona merah di pipi gadis itu ternyata menjalar sampai ke ujung telinganya.
Eldrige tidak bisa menahan diri untuk menggoda gadis itu. Dia mendekatkan wajahnya dan menghirupi aroma mawar dari sela-sela rambutnya.
"Eldrige hentikan." Sambil menahan napas Puteri Juwita melangkah mundur. Detak jantungnya semakin cepat.
"Kau sendiri yang kemari dan memancingku seperti ini. " Eldrige terus mendesak.
"Aku tidak...Eldrige, tolong hentikan." Gadis itu terus memohon. Jika Eldrige terus mendesaknya seperti itu, diapun tak akan sanggup terus mengendalikan dirinya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tantang Eldrige.
Puteri Juwita membuka matanya dan berhadapan langsung dengan sepasang mata berwarna merah milik Eldrige. Tubuhnya gemetar. Dia sudah menyerah. Seluruh tubuhnya kini bereaksi terhadap sentuhan Eldrige.
"Aku belum pernah melihat tubuhmu tanpa pakaian." Telapak tangan gadis itu menyentuh dada Eldrige yang terbuka.
Eldrige kini terdiam memandangi gadis itu menyentuhnya. Sama seperti Puteri Juwita, diapun tidak pernah menunjukkan tubuhnya pada seorang wanita.
"Kau terluka di sebelah sini." Jari lentik Puteri Juwita menyentuh area gelap di dada kanan Eldrige. Jari itu bergerak menyusuri area itu.
Ada rasa nyeri yang dirasakan Eldrige saat ujung jari itu menekannya. Namun di saat bersamaan, jemari itu menyalakan api dalam diri Eldrige. Jika tadi dia berniat menggoda gadis itu, kini gilirannya yang mati-matian berusaha bertahan agar tidak jatuh dalam godaannya.
"Juwita." Eldrige memejamkan mata merasakan sentuhan gadis itu merambat turun menyusuri otot-otot perutnya. "Aku bisa gila."
Eldrige menghembuskan napas, menunduk dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Puteri Juwita. Tidak ada paksaan di bibir pria itu. Hanya ada kelembutan. Dia menunggu balasan gadis itu.
Mata Eldrige terbuka ketika merasakan lengan gadis itu melingkar di lehernya. Kepala Puteri Juwita terangkat dengan bibir yang merekah seperti kelopak mawar. Seolah mengundangnya untuk menyesapnya lagi.
Kepala Eldrige kembali menunduk dan mendaratkan ciuman lagi di bibir itu. Kali ini Puteri Juwita membalasnya. Gadis itu bahkan mengizinkannya menyusuri kedalaman mulutnya.
Saat gadis itu menarik tangan Eldrige, dia mengikutinya begitu saja. Eldrige menelan ludah saat gadis itu mendorongnya ke tempat tidur. Dia hanya bisa terpaku dengan jantung berdebar kencang.
Puteri Juwita lalu naik ke tepi ranjang dan mendekati Eldrige. Melihat keberaniannya, nyali Eldrige mendadak ciut. Sebagai orang yang telah hidup selama 300 tahun tentu saja dia bisa menduga apa yang diinginkan gadis itu. Tentu saja Eldrige juga mengiinginkannya, tapi tidak sekarang. Mereka belum terikat tali perkawinan.
Tanpa sadar dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menutupi tubuh bagian atasnya yang sejak tadi terekspos dan membuat gadis itu kehilangan kendali.
"Jangan Juwita!" Eldrige meringkuk ketika Puteri Juwita mulai menyentuhnya.
"Astaga, Eldrige. Jangan jadi pengecut seperti itu." Gadis itu memaksa menarik tangannya.
"Juwita, aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa melakukannya." Dengan tangan gemetar Eldrige memegangi tangan Puteri Juwita.
"Jangan menolak, Eldrige." Tangan gadis itu begitu lincah menyusup ke dada Eldrige hingga menekan lukanya.
"Aah!" Pria itu menjerit tertahan.
"Berhentilah melawan. Aku sendiri juga pada awalnya ragu, tapi aku rela melakukannya demi dirimu." Gadis itu terlihat sungguh-sungguh. Perlahan-lahan dia menarik tangan Eldrige yang menutupi tubuhnya.
"Baiklah Juwita, jika kau benar-benar menginginkannya. Tapi...tapi aku tidak tahu caranya. Aku...aku masih perjaka." Eldrige akhirnya menyerah pada kegigihannya.
"Apa?" Gadis itu seolah tak peduli, dia sibuk membuka lipatan gaunnya.
"Aku ingin menjadi kekasih yang sempurna untukmu. Tapi.."
Puk.
__ADS_1
Eldrige terdiam ketika sesuatu yang basah dan licin menempel di dadanya. Kemudian dengan lembut Puteri Juwita meratakannya ke seluruh area yang lebam.
"Aku hanya ingin mengobatimu, Eldrige. Eshwar menemuiku dan mengatakan bahwa kau terluka."
"Ah, mengobati?" Eldrige tertegun. Dia merasa malu karena sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Tak kusangka kau begitu ketakutan untuk diobati. Bukankah biasanya kau sering mengobati orang lain? Apakah karena dulu dirimu peri jadi tidak pernah merasakan sakit?" Gadis itu terus berbicara tanpa menyadari betapa merahnya wajah Eldrige.
"Setelah ini makanlah bubur yang kusiapkan, lalu tidurlah." Gadis itu mengelus kepala Eldrige dengan lembut.
Eldrige hanya mengangguk dan menatap kepergian gadis itu.
"Bodoh!" Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya sambil menertawakan dirinya sendiri.
*****
Di kamar Pangeran Aswang, Jadukari Daalal Nath duduk bersila di atas lantai sambil mengatur pernapasannya. Matanya yang cekung terpejam.
"Kau baik-baik saja, Jadukari?" Pangeran Awang yang baru masuk melihat mulut dukun tua itu bersimbah darah.
Dukun itu membuka matanya. Bulu mata lentik yang tumbuh mengitari matanya berkedip-kedip lemah.
"Seorang musuh lamaku berada di istana ini. Aku khawatir dia akan mengacaukan rencana kita." Jawab Jadukari Daalal Nath.
"Musuhmu? Siapa?" Pangeran Awang duduk di kursi di hadapan dukun itu dengan dahi berkerut.
"Dia peri penjaga Kerajaan Elfian."
"Maksudmu Eldrige ada di sini?" Mata Pangeran Awang terbelalak mendengarnya.
"Yang Mulia mengenalnya?" Tanya dukun itu.
"Tentu saja. Dia yang merusak rencanaku untuk menghukum mati puteri dari Kerajaan Elfian."
"Wah..wah..ternyata kita memang disatukan oleh takdir." Dukun itu tersenyum lebar. Gigi-giginya yang hitam kini merah karena darah.
"Apa yang dilakukan peri itu di sini?" Pangeran Awang menatap dukun yang kini mulai menyalakan gulungan tembakaunya.
"Sayangnya saya tidak sempat menanyakannya. Bagaimana jika salah satu pengawal Yang Mulia yang menyelidikinya?" Lelaki kurus itu menghisap tembakaunya lalu menghembuskan asapnya ke udara.
Pangeran Awang yang membenci bau tembakau segera mengibas-ibaskan tangannya untuk menghalau asap itu memasuki rongga hidungnya.
Meski tidak menyukainya tapi Pangeran Awang tidak melarang dukun itu merokok di kamarnya. Dia bersedia menoleransi kebiasaan buruk dukun itu yang suka merokok dan menyalakan dupa di kamarnya karena dia membutuhkan keahliannya.
"Aku akan menyuruh mereka mencari tahu. Tapi bagaimana denganmu? Apa kau sanggup melawan Eldrige? " Pertanyaan Pangeran Awang seolah sebuah tantangan untuk dukun itu.
"Yang Mulia jangan meragukan kemampuan saya." Aura kelam terpancar dari tatapan mata dukun itu hingga membuat Pangeran Awang bergidik.
Pangeran Awang antara takut dan mengagumi lelaki di depannya itu. Namun jika Jadukari Daalal Nath setia padanya, dia akan bisa menyingkirkan penghalang yang merintangi jalannya.
"Aku mempercayaimu." Ucap Pangeran Awang sungguh-sungguh.
Terjalin pengertian baru di antara keduanya. Kerjasama didasari dendam pada pihak yang sama mungkin bukan awal yang wajar, namun itulah yang menyatukan keduanya.
"Bantu aku menyingkirkan lawan-lawanku di pertandingan panah agar kemenanganku bisa mutlak dan tidak diperlukan lagi pertandingan lanjutan." Pangeran Awang memandang Jadukari Daalal Nath sambil tersenyum licik.
"Akan kukacaukan busur-busur mereka agar tidak ada yang bisa mengenai sasaran." Jadukari Daalal Nath terkekeh senang.
__ADS_1
"Bagus, setelah itu tidak ada alasan lagi bagi Raja Badre untuk menolak lamaranku." Pangeran Awang ikut tersenyum puas.