SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 10


__ADS_3

Dodi pun berdiri dan berkata sambil menatap Fadil "Hey hey, santai bung! aku mengerti jadi bisa kamu lepaskan tanganmu dariku!" Ucap dodi sambil tersenyum sinis kepada Fadil.


Fey tidak menyangka, anak yang terlihat seperti seorang kutu buku itu bisa memasang wajah yang cukup menyeramkan. "Wha.. gawat ni! apa mereka berdua akan ribut di perpustakaan" batin Fey. "He..hey! su.. sudah-sudah cukup! aku tidak apa-apa kok!" jelas Fey sambil tersenyum terpaksa dan berusaha menarik baju dodi agar dia duduk kembali ke kursinya.


"Dan Fadil aku mohon kembalilah ke tempat duduk mu, aku benar-benar tidak apa-apa, jadi jangan khawatir kan aku!" Pinta Fey sambil tersenyum terpaksa terhadap Fadil.


"Baik lah!" Ucap Fadil sambil menatap dodi dan melepaskan tangan nya. Mereka pun kembali duduk di tempat masing-masing.


"Hemp, dia aja tidak keberatan aku menyentuhnya! emang Fey itu miliknya?" Gumam dodi sambil mengambil buku novel yang di pegang fey.


Brak.. suara Fadil yang memukul meja menggema ke seluruh ruangan perpustakaan, karena Fadil merasa kesal terhadap ocehan dodi. "Apa katamu?" teriak Fadil sambil menatap Dodi dengan tatapan yang sangat tajam. akibat suara tersebut semua orang yang berada di perpustakaan menatap ke arah meja yang diduduki oleh teman-teman Fey.


"Kenapa Fadil selalu membuat ku kesal, padahal ini cuma masalah yang sepele." batin Fey sambil menundukan kepalanya sembari menggepalkan tangannya di atas meja.


"Sudah kubilang cukup! lihat di sekelilingmu kita ini sedang ada di perpus, kamu ini kenapa sih masih saja ribut dan dodi itu kan cuma mau pinjam buku ku!, lagian bukannya kita berdua baru saja kenal!" Ucap Fey yang mulai kesal dengan tingkah laku Fadil sembari tetap menundukkan kepalanya.


Fadil pun terkejut dengan pernyataan Fey yang seperti itu, "Begitu?, baiklah kalau begitu aku akan pergi dari sini, dan maaf sudah membuatmu kesal." Ucap Fadil sambil menatap Fey yang masih dalam keadaan menundukan kepalanya di atas meja. Fadil pun berdiri dari kursinya untuk meninggalkan tempat itu.


"Hemp! " senyum dodi sambil melirik Fadil.


"Apa yang sudah aku katakan kepada Fadil dia mungkin cuma mengkhawatirkan ku" batin Fey.


Fey pun berdiri dan berkata "Tu.. tunggu Fadil! maaf kan aku, aku.. aku bukan nya bermaksud seperti itu, hanya saja.. hanya saja kenapa kamu begitu perduli terhadap ku, kita kan baru saja mengenal?" tanya Fey sambil menundukan kepalanya.


Fadil pun berhenti sejenak dan berkata "Aku!."


"Mungkin fadil sangat merindukan adiknya" sela Sindy sambil tersenyum kepada Fey.


"Adik?, maksutnya?" tanya Fey sambil menatap Sindy.


"Iya, Kemarin Fadil bilang kepadaku, Kalau kamu itu sangat mirip dengan adik sepupunya yang sekarang sedang berada di luar kota, mungkin karena itu Fadil emosi, jadi Fadil sangat tidak suka saat melihat ada orang lain yang sedang mengganggu mu" jelas Sindy.


"Begitu kah?" tanya Fey sambil menatap Fadil.

__ADS_1


"Be... begitulah" Ucap Fadil.


"Hemmm, mirip adik nya ya?" sela dodi sambil membalik lembaran buku.


"Hey! kamu bisa diam gak!" Ucap Sindy sambil menatap tajam ke arah dodi.


"Maaf, silahkan lanjutkan drama kalian berdua" cetus dodi.


"Dodi sudah cukup jangan memperpanjangnya" ucap fey sambil menatap dodi. "Dan Fadil kamu jangan pergi dulu!, aku... aku minta maaf sudah berkata seperti itu tadi! dan aku tidak keberatan kalau kamu menganggap ku sebagai adik mu!" Ucap Fey sambil menatap Fadil.


"Terimakasih Fey!" Ucap Fadil sambil kembali duduk ke kursinya.


Setelah beberapa menit kemudian, bel pun berbunyi, tanda akhir dari jam istirahat, kami pun bergegas kembali kekelas masing-masing.


Dua jam pun berlalu dan waktunya untuk pulang, seperti biasa Fey berjalan bersama kedua sahabatnya yaitu Linda dan Amel serta Fadil dan Sindy yang mengikuti nya dari belakang menuju ke pintu gerbang.


"Hey Fadil, apa kamu suka sama Fey?" bisik Sindy kepada Fadil sambil berjalan mengikuti Fey dari belakang.


"Apa maksutku? aku tau, kamu berharap kalau dia adalah putri teman masa kecil kita yang sudah pergi meninggalkan kita!, jangan berharap terlalu tinggi, Menurut ku dia itu cuma sedikit mirip saja, dan sangat tidak mungkin dia adalah putri, secara Putri itu sangat lemah dan sakit-sakitan, mana mungkin dia adalah putri, percayalah padaku, aku tidak ingin kamu menyesal dan tersakiti oleh orang asing itu! karena tidak sesuai dengan harapanmu dan... kamu harus ingat! Putri adalah gadis yang menyebabkan adikmu meninggal!." jelas Sindy.


"Aku tau kalau Fey itu bukan Putri, Fey adalah gadis yang sangat energik dan penuh semangat, jadi Fey bukanlah Putri, hanya saja.. saat aku melihat dia tersenyum ataupun marah, entah mengapa itu mengingatkannku kepada putri kecil itu sekaligus Bagas adikku yang sudah meninggal!" jelas Fadil sambil tersenyum dan melihat Fey dari belakang.


Amel pun menatap Fadil sambil berkata, "Begitu kah?, jadi kamu benar-benar menganggap nya sebagai adikmu sendri, padahal tadi saat di perpus aku cuma mengarang saja" Ucap Sindy.


Sesampainya di pintu gerbang ada seorang laki-laki yang menggunakan setelan jas dengan sangat rapi berjalan menghampiri tiga serangkai tersebut Fey, Linda dan Amel.


"Pemisi, adakah diantara kalian yang bernama Fey?" tanya laki-laki tersebut dengan sopan sambil membungkukkan badannya.


"Saya Fey! ada keperluan apa anda dengan saya?" tanya Fey.


"Begini.." Ucap pria tersebut sambil mendekati Fey.


"Tunggu, ada keperluan apa dengan Fey, sebelum mendekati nya anda harus melangkahi saya dulu!" tegas Linda sambil melangkah ke depan Fey.

__ADS_1


"Benar, paman harus melangkahi kita berdua dulu sebelum mendekati Fey." jelas Amel.


"Anu... teman-teman, biarkan saja dia, lagi pula kita masih berada di sekolah, jadi tidak mungkin Paman ini akan berniat jahat!.. Mungkin, He-he-he." jelas Fey.


"Mu..mungkin?" Ucap Linda dan Amel secara bersamaan sembari menatap Fey dan mereka berdua memberikan ruang untuk pria tersebut agar bisa berbicara dengan fey. "Hati-hati Fey, kelihatannya Paman ini akan berniat buruk!" bisik Linda sambil memegang pundak Fey.


"O.. okey." Ucap Fey sambil tersenyum terpaksa. "Sebenarnya mereka berdua ini sahabat atau bodyguardku, serem juga kalau lagi waspada!" batin Fey.


"Paman, ada keperluan apa anda dengan saya?," tanya Fey sambil tersenyum.


"Dilihat dari jarak sedekat ini, dia terlihat benar-benar sangat cantik dan manis saat tersenyum seperti itu, padahal dia sekarang hanya memakai seragam sekolah yang biasa saja serta beberapa aksesoris yang melekat di badannya agar tidak ketahuan kalau dia ini adalah Feyza Amelia, pantas saja tuan ku sangat suka kepadanya" batin pria tersebut.


"Nona, tuanku..gimana bilangnya ya?..... orang yang membantu nona membayar hutang sekarang sedang menunggu nona di mobil!" jelas pria tersebut dengan sopan.


"Yang membantuku membayar hutang?.... apakah Andrian?.. apa ini yang dimaksud Andrian kemarin?" batin Fey.


"Linda, Amel kalian berdua pulang saja, aku mau ikut Paman ini sebentar." pinta Fey.


"Tapi.. " Ucap Linda dan Amel yang khawatir.


"Tidak tidak usah khawatir, Paman ini adalah suruhan dari temanku untuntuk menjemput ku!." jelas Fey.


"Baiklah, kalau begitu berhati-hati lah, kalau ada apa-apa, kamu harus segera menghubungi kami!" Pinta Linda.


"Siap bos!" Ucap Fey.


Fey pun pergi meninggalkan mereka berdua dan ikut bersama Paman tersebut untuk menemui pria yang sedang menunggu nya di mobil.


"Hei Lin, mel siapa pria tadi yang menghampiri kalian?" tanya Fadil kepada Linda dan Amel.


"Oh... orang itu?, katanya dia adalah suruhan dari teman nya untuk menjemputnya" jelas Linda.


"Benarkah?." ucap Fadil sambil menatap Fey yang berjalan bersama pria tersebut menuju kesebuah mobil dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2