
Sementara itu, Louise yang terjebak macet setelah pamit untuk pulang lebih awal karena mengemban tugas yang menguras emosinya, kini bertambah emosi di tengah jalan. "Ya ampun, bisa telat ini aku sampai Rumah Sakit, pasti kena omel si Christopher gila itu lagi" ucap lirih Louise.
Dan akhirnya sampai juga dirinya di Parkiran Rumah sakit, dengan langkah cepat Loius langsung melesat ke ruangan Christopher, dan benar saja, Christopher sudah memasang tampang tidak ramah sama sekali.
"Sorry..macet..tinggal ngantar kamu pulang kan, ayo!" Ucap Louise membalikkan badan berniat pergi mendahului Christopher.
Namun yang terjadi, Christopher menarik dengan kuat tangan Louise hingga jatuh dalam pelukannya, detik berikutnya dengan sedikit kasar bibirnya mener-kam bibir Louise hingga terdengar sedikit jeritan kecil yang kemudian menghilang karena telah terbungkam oleh luma-tan yang dalam dan menutut.
Louise yang awalnya memberontak kini terpejam ikut terbu-ai dengan apa yang dilakukan oleh Christopher hingga akhirnya dia tersadar kembali lalu segera melepaskan pagu-tan bibirnya dengan paksa.
"Kau_!"
"Sudah jangan berisik, Ayo pulang, itu hukuman karena kamu sudah membuatku menunggu lama" sahut Christopher santai dan berjalan melewati Louise yang masih memegangi bibirnya.
"Dasar..manusia mes-um" ucap Louise lirih lalu mengikuti langkah Christopher dari belakang dengan sikap yang lebih waspada.
*
Tepat jam tiga sore, Kirana tersenyum melihat kedatangan Zahra yang kini tengah berjalan menuju ke arahnya. Keduanya segera berjabat tangan dan memulai perbincangan seputar rancangan gaun yang di pesan oleh Zahra.
"Aku sangat kagum dengan anda nona Zahra, selain cantik, ternyata multitalenta juga" ucap Kirana.
"Ah..jangan terlalu memuji, hanya kebetulan saja tanganku ini bisa digerakkan untuk membuat desain sederhana gaun yang aku inginkan" jawab Zahra.
Kirana memandang Zahra dengan lekat, dimatanya semakin terlihat Zahra adalah sosok wanita yang bisa di katakan hampir sempurna. "Apa anda belum punya kekasih nona Zahra?" Tanya Kirana ditengah perbincangan yang nyaman.
Zahra tersenyum, "belum, dan saya tidak berniat mencari kekasih, melainkan seorang suami, karena saya tidak ingin membuang-buang waktu saya Nona Kirana" Jawab Zahra.
"Owh..jadi begitu, maaf.. semoga anda segera bertemu dengan jodoh anda" ucap Kirana sambil menikmati minuman hangat yang tersaji diatas meja.
"Aamiin.." sahut Zahra.
__ADS_1
"Adakah kriteria laki-laki yang Anda inginkan sebagai seorang suami?" Tanya Kirana kemudian.
"Tentu saja, tentunya harus seiman dengan saya, dan bertanggung jawab dunia maupun akhirat, itu saja, sederhana kan?"
"Sederhana, tapi tanggung jawab yang sangat berat, bagaimana dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri?" Tanya Kirana lagi dan membuat Zahra terkejut akan apa yang dikatakan olehnya.
"Maksudnya poligami?" Zahra lebih menegaskan maksud dari Kirana.
"Hem.." jawab Kirana mengangguk dengan pasti.
"Heeh..tergantung, harus ada alasan yang sangat kuat dibalik itu semua, kalau tidak ada..tentu saja NO" sahut Zahra.
Kirana tersenyum, lalu mengambil minumannya lagi untuk dinikmati kembali, Memang tidak ada sesuatu yang kurang saat bertemu dengan Zahra, bahkan Kirana merasa Zahra adalah sosok wanita yang punya karakter kuat dan pemberani, terlihat sangat sempurna dimatanya.
Hampir jam lima sore, akhirnya sosok laki-laki tengah tersenyum melangkah menjemput Kirana yang masih duduk bersama dengan Zahra. "Apa kita bisa pulang sekarang honey?" Tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Alfaro.
"Iya, kita sudah selesai berbincang..bukan begitu nona Zahra?" Ucap Kirana.
"Aamiin.., saya berharap juga begitu" jawab Kirana.
Keduanya berdiri bersalaman dan akhirnya ketiganya berjalan bersama, menuju ke Mansion masing-masing. Ditengah perjalanan Kirana tersenyum sendiri dan tentu saja terlihat oleh suaminya. "Ada apa honey, seperti nya kau bahagia sekali?" Tanya Alfaro.
Kirana menoleh dan tersenyum melihat ke Alfaro sekejab, "Ternyata Nona Zahra menyenangkan sekali, dia sangat tegas tapi juga mempunyai jiwa yang sangat lembut, memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang matang, diusia yang masih muda seperti itu..dia sudah dengan cermat dalam menentukan sebuah keputusan, bukankah itu luar biasa honey?" Ucap kIrana.
"Hem..lumayan, tapi tidak ada yang sehebat wanitaku ini, dia punya karakter yang sangat kuat, menyenangkan dan membuatku selalu bahagia di manapun, terutama di ranjang..hehe" sahut Alfaro dengan muka mes-um nya.
"Aku serius honey..dasar..!" Ucap Kirana sambil memukul lengan Alfaro.
"Memangnya aku tidak..serius banget ini malah, sumpah..!"
"Terus apa artinya hebat di ranjang kalau sulit atau bahkan tidak bisa memberikanmu buah hati"
__ADS_1
Ciiit..!
Alfaro langsung menge Rem mobilnya dan kemudian berhenti di pinggiran jalan.
"Kenapa berhenti?" Tanya Kirana sangat terkejut.
"Apa maksud pertanyaan mu tadi?" Ucap Alfaro.
"Aku hanya mengatakan kenyataan yang kita alami sekarang honey, apa itu salah?, Kita tau sendiri kan apa yang terjadi dengan ku, hanya sedikit persen aku bisa hamil lagi, apalagi terjadi cidera juga di in-dung telurku yang tinggal satu, apa mungkin itu_"
"Cukup..!!" Bentak Alfaro dan seketika membuat Kirana terdiam.
"Aku menikahi mu bukan bertujuan untuk memberikanku seorang anak, sama sekali tidak..aku ingin bersamamu karena aku mencintaimu, karena aku tidak bisa hidup tanpa adanya kamu disisi ku, aku mencintai semua yang ada pada dirimu Kirana, semuanya..kekurangan atau kelebihan mu..semuanya..!!" Teriak Alfaro lagi.
Kirana menunduk, apa yang dikatakan oleh suaminya membuat dia merasa semakin sakit, "Dan aku melakukan semua itu, juga Karena aku mencintaimu lebih dari segalanya, lebih dari aku mencintai diriku sendiri, aku ingin membuatmu bahagia.." ucap lirih Kirana dengan air mata yang kini menetes tak terbendung lagi.
Alfaro menatap istrinya dengan sendu, dia sangat tau Kirana akan mengorbankan apapun bahkan dirinya sendiri untuk kebahagiannya, tapi dia berjanji, tidak akan pernah membiarkan hati Kirana terluka oleh apapun, walaupun Kirana sendiri yang menginginkannya.
Alfaro langsung memeluk Kirana dengan erat, mengusap lembut punggung istrinya, menciumi kepalanya berkali-kali, "kita bisa mencari jalan keluar yang lain kalau kamu memang menginginkan aku mempunyai anak, tidak harus dengan menghadirkan wanita lain dalam kehidupan rumah tangga kita, walaupun itu sebenarnya juga diperbolehkan dalam Agama, tapi aku tidak akan pernah melakukannya honey.. sungguh..aku tidak bisa" ucap Alfaro.
"Maafkan aku.. tapi aku mohon honey, kalau nantinya hanya itu jalan satu-satunya, aku minta kau mau mencobanya, demi aku, demi diriku..aku tidak bisa melihatmu menderita karena hanya memikirkan perasaanku"
Alfaro tidak menjawab dan hanya terdiam, dia sadar benar akan sikap istrinya yang akan sulit untuk berubah seketika disaat merasa dirinya benar, dan akhirnya Alfaro hanya tersenyum dan menci-um bibirnya dengan lembut dan dalam.
"Sudahlah.. kita pulang, sebentar lagi magrib, sedikit lagi kita sampai, nanti kalau aku sudah siap, aku akan membicarakan hal ini dengan serius..kau mengerti?" Ucap Alfaro lalu mengusap lembut puncak kepala Kirana setelah mengangguk.
Kemudian perjalanan pun segera dilanjutkan, setelah keduanya kini sudah tenang kembali.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMEN selalu di tunggu..
Bersambung.
__ADS_1