
Hari ini Kirana sudah diperbolehkan untuk pulang karena keadaan dinyatakan sudah baik oleh dokter yang telah memeriksanya. Bertepatan dengan itu pula, Edward dan Alena juga mempersiapkan diri untuk kembali ke Indonesia.
"Jadi hari ini kakak akan benar-benar meninggalkan ku lagi?" Tanya Kirana saat baru saja tiba di Mansion nya.
"Jangan berkata seperti itu, apa kau tidak kasihan dengan ketiga keponakan mu?" Jawab Alena.
"Iya aku tau kak..maaf, tentu saja aku juga sangat memikirkan mereka, aku bahkan merindukan setiap harinya"
"Jadi tidak perlu menjelaskan lagi kan kenapa aku harus pulang hari ini, pesanku hanya satu, jaga baik-baik keponakanku yang ada di dalam sini" ucap Alena sambil mengelus lembut perut Kirana.
"Tentu saja kak, siap..!" Sahut Kirana.
Alena tersenyum, kemudian berjalan masuk setelah memastikan Kirana berdiri dan berjalan ke kamarnya dengan baik.
Sementara itu Edward berdiri di balkon bersama dengan Alfaro untuk berbincang sejenak.
"Ku harap kau berhati-hatilah Faro" ucap Edward.
"Hem, aku tau.."
"Perhatikan juga istri mu yang tengah mengandung"
Sejenak Alfaro menatap Edward, Alfaro tersenyum, seorang Edward selalu bisa membuatnya merasa bahagia karena perhatian yang terkesan dingin namun penuh makna.
"Iya..aku tau itu, bagiku Kirana adalah prioritas utama ku" sahut Alfaro kemudian.
"Syukurlah.. aku akan pulang hari ini, dan sebaiknya kamu tidak usah mengantarku, ada paman Alindo yang akan mengantar kami" ucap Edward lagi.
"Baiklah, aku akan menunggu Kirana di Mansion" ucap Alfaro.
Edward mengangguk lalu kemudian beranjak dari tempatnya, sebelum lebih jauh melangkah dia berhenti dan menatap Alfaro sejenak.
"Jangan lupa berhati-hati lah dengan Herry Milton, kau tau kan apa yang harus kamu lakukan, selesaikan masalahmu dengan cepat dan tepat" ucap Edward lalu segera berlalu.
Alfaro menatap punggung Edward lalu tersenyum, "Dasar Edward..pasti sudah melakukan sesuatu untuk masalahku" gumam Alfaro lalu berjalan meninggalkan tempat untuk mencari keberadaan sang istri.
Kirana baru saja merebahkan tubuhnya setelah keluar dari kamar mandi, Alfaro mempercepat langkahnya saat melihat Kirana hampir meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Pelan-pelan honey" ucap Alfaro dengan sigap membantu Kirana.
Kirana tersenyum lalu mendapat kan tempat yang nyaman, "aku gak apa-apa honey, kamu mengantar kak Edward ke bandara?" Tanya Kirana.
"Edward tidak mengijinkan, dan aku rasa ada yang lebih membutuhkan keberadaan ku disini"
Ucap Alfaro.
Cup
Sebuah kecupan hangat dibibir Kirana diberikan oleh Alfaro.
Kirana tersenyum, menahan dada bidang suaminya saat ciu-man yang awalnya biasa berubah menjadi panas dan menuntut.
__ADS_1
"Aku baru keluar dari Rumah Sakit, dan ada si kecil disini yang membutuhkan istirahat" ucap Kirana.
"Oh..sorry.., aku sangat merindukanmu Honey" ucap Alfaro yang segera beranjak dari atas tubuh istrinya, lalu kemudian duduk ditepian tempat tidur sambil berpikir sejenak seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Kirana yang merasa heran.
"Tidak..tapi dokter tadi tidak bilang kalau kita harus libur bercinta kan?" Tanya Alfaro yang membuat Kirana terperanjat.
"Astagfirullah.. ya enggak honey..tapi kan kita harus hati-hati dulu"
"Alhamdulillah..berarti masih bisa..aman.." ucap Alfaro tersenyum me-sum.
"Hehh.. dasar..!" Ucap Kirana sambil menggelengkan kepala.
Tak lama kemudian rupanya Alindo sudah datang bersama dengan Aisyah, selain untuk melihat keadaan Kirana mereka juga bersiap mengantarkan Keponakannya untuk kembali ke Indonesia.
Aisyah berada di kamar Kirana, berbincang sejenak sambil menunggu Alena, "Alhamdulillah.. di jaga benar kesehatan kamu sayang" ucap Aisyah ke Kirana yang tengah merebahkan tubuhnya.
"Iya Mom, terimakasih perhatiannya.. maaf kalau sudah merepotkan, hari ini sudah bolak-balik ke sini" jawab Kirana.
"Tentu saja tidak, aku senang bisa berkumpul dengan kalian.. apalagi sebentar lagi ada si kecil yang akan meramaikan keluarga kita" sahut Aisyah sambil tersenyum bahagia.
"Iya Mom Alhamdulillah.." ucap Kirana.
Di saat yang sama, Alena mengetuk pintu lalu masuk untuk berpamitan, Kirana memeluk dengan erat sang kakak seolah masih belum rela melepaskan, Alena tersenyum dan menguatkan Kirana. Keduanya akhirnya menangis sejenak namun kemudian tersenyum kembali.
"Aku pasti nanti akan kesini bersama dengan yang lain, insyaallah"
"Pasti.." jawab Alena.
Setelah memberikan semua pesan untuk menjaga diri dengan baik, Alena dan ibu Aisyah segera keluar dari kamar Kirana untuk bergabung dengan yang lain, rupanya semua sudah siapa untuk berangkat ke bandara.
"Aku pulang Faro..ingat, selalu berhati-hati" ucap Edward setelah memeluk erat Sepupunya.
"Terimakasih.." ucap Alfaro yang tidak bisa mengantar kepergian Edward ke bandara untuk kali ini.
Alindo dan Aisyah segera berjalan di depan untuk mengantarkan Edward dan Alena masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan, beberapa pengawal yang sudah bersiaga segera masuk ke dalam mobil dan mengawal mereka dari depan dan belakang. meluncur ke Bandara untuk mengantar kepergian Edward dan Alena.
*
Sementara itu disebuah Mansion yang megah, terlihat seorang laki-laki yang baru saya masuk segera mencari keberadaan putri semata wayangnya.
"Dad?" Ucap Zahra saat melihat kedatangan laki-laki yang ditunggunya sejak kemaren.
"Sayang.." ucap Harry Milton.
"Apa yang harus ku lakukan Dad?" Tanya Zahra dengan tangisannya.
"Tenanglah sayang..kita akan cari jalan keluar yang terbaik" jawab Harry sambil memeluk Putri nya dengan erat.
Sementara berita tentang perseling-kuhan dirinya dan Alfaro semakin gencar di media tanpa bisa di cegah karena masih belum memiliki bukti apapun.
__ADS_1
"Sebaiknya kita harus segera mengakhiri masalah ini secepatnya sebelum mempengaruhi perusahaan kita" ucap Harry setelah melihat putrinya dalam keadaan lebih tenang.
"Bagaimana caranya Dad?" Sahut Zahrah.
"Serahkan pada Daddy mu ini, aku akan segera menemui Alfaro"
"Tapi Dad_"
"Tenanglah Zahra..percaya denganku" sahut Harry kemudian segera beranjak dan pergi meninggalkan Zahra yang masih belum mengerti maksud dari Daddy nya.
Masih berada di Mansion, Harry segera bertemu dengan seseorang di dalam ruang kerjanya.
"Rencana selanjutnya siap di jalankan, aku akan bertemu dengan Alfaro, persiapan dirimu" ucap Harry.
"Baik Tuan.."
Harry segera bersiap keluar setelah berhasil menghubungi Alfaro, seseorang yang bisa dikatakan seorang pengawal istimewanya berjalan mengikutinya di belakang, keduanya memasuki mobil dan segera melesat ke suatu tempat.
"Aku berharap kau bisa menghadapi orang ini" terdengar ucapan dari Harry yang ditujukan ke pengawal istimewanya.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk anda" jawab dingin sang pengawal.
"Bagus.." sahut Harry dengan senyuman miring.
Tak berapa lama kemudian mereka sudah tiba di tempat yang diinginkan, mereka segera keluar dan masuk ke dalam menuju ke tempat seseorang sudah menunggunya.
"Selamat malam, apa saya terlambat?" Ucap Harry
"Saya yang datang terlalu cepat tuan Harry.. mungkin karena saya sudah tidak sabar dengan urusan kita" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Alfaro.
"Hem..jadi begitu" sahut Harry yang kemudian segera duduk di depan Alfaro.
"Jadi..apa yang ingin anda sampaikan tuan Harry?" Ucap alfaro memulai lagi pembicaraan.
"Baiklah..anakku sekarang sangat depresi dengan apa yang menimpa kalian, bahkan ada beberapa kolega yang mengundurkan diri karena kasus ini, hantaman seperti itu sangat menyesalkan bagi Zahra yang berjuang mati-matian untuk perusahan selama ini" jawab Harry.
"Lalu?" Tanya Alfaro masih mode santai.
"Apa kamu tidak merasa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi?" Jawab Harry serius.
"Anda tau benar bukan, kalau kami tidak melakukan hal itu dan tidak pernah terjadi apapun?, Saya rasa Nona Zahra pasti sudah menceritakan semua ke anda" sahut Alfaro menjelaskan.
"Aku tau..tapi anda juga tau bukan, siapa yang paling tertekan disini, dengan tidak adanya bukti bahwa tidak terjadi apapun dengan kalian.. nama baik anak saya, bahkan mentalnya saat ini di serang habis-habisan "
"Saya tau, dan saya minta maaf akan hal itu"
"Maaf saja tidak cukup untuk beban mental anak saya, rumor ini harus segera di patahkan, kalau tidak punya bukti, harus cari solusi yang lain" ucap Harry.
"Misalnya?" Tanya Alfaro seakan sudah tau kemana arah tujuan lawan bicaranya.
Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE dan KOMENnya..
__ADS_1
Bersambung.