
Harry Milton sedikit mundur ke belakang, membelalakkan mata terkejut melihat kedatangan seseorang yang tidak pernah disangkanya.
"Aku peringatkan..jangan berani menyakiti laki-laki itu, atau aku tidak akan menahan diri lagi" ucapnya penuh intimidasi.
"Tuan Alfaro, untunglah kau segera datang, terimakasih" ucap Zahra lirih dan merasa lega karena bantuan yang dia minta dengan menghubungi Alfaro sebelumnya telah terjawab, dan kini perlahan mendekati Hendri yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Alfaro memerintahkan anak buahnya untuk maju membantu Zahra menolong Hendri, namun tidak kalah cepat anak buah Harry segera menghadangnya.
"Kalian cukup berani.." ucap Alfaro lagi dengan senyum miringnya.
"Aku tidak akan membiarkan kau membawanya hidup-hidup" ucap Harry Milton sengit.
"Bagus, aku semakin tidak sabar ingin menghajar mu Harry Milton.. setelah itu, aku pastikan aku akan melempar mu ke penjara untuk waktu yang cukup lama" sahut Alfaro.
"Tidak akan semudah itu Alfaro Rich Eagle "
"Kita buktikan saja" sahut Alfaro.
Dan terjadilah pertarungan yang sengit antara anak buah keduanya, tentu saja bukan hal yang sulit, kubu Alfaro mengalahkan anak buah Harry Milton, lalu kemudian mereka menggunakan cara yang curang dengan mengeluarkan senjata api menyerang dengan brutal.
Alfaro sempat terkejut, kekuatannya segera di kerahkan untuk melindungi anak buahnya dari serangan peluru, beruntung tidak ada satu peluru pun berhasil menembus mereka, hanya sebagian yang tergores tanpa arti.
"Kalian keterlaluan..!!" Teriak Alfaro yang kini menggerakkan benda-benda berat dengan kekuatan tenaga dalamnya untuk melemparkan ke arah musuhnya.
Harry Milton lari melindungi dirinya, kali ini dia selamat dibalik sebuah pohon besar, kesempatan itu digunakan oleh anak buah Alfaro untuk segera membawa Hendri pergi dari sana.
"Selamatkan laki-laki itu, bawa ke Rumah sakit, kalian pergilah dulu!" Teriak Alfaro memberi perintah.
Dan disaat itu, rupanya Harry Milton tidak tinggal diam, dengan amarahnya dia mengarahkan senjata canggih berukuran besar membidik Hendri yang tengah dilarikan menuju sebuah mobil bersama dengan Zahra, hingga kemudian.
Blam
Terdengar suara dahsyat efek dari senjata canggih yang di tembakkan oleh Harry Milton, Kekuatan tenaga dalam Alfaro berhasil membelokkan serangannya hingga tidak bisa mengenai tubuh Hendri dan anak buahnya, namun tanpa di sengaja, terpental mengenai seseorang hingga terdengar suara jeritan.
"Akh..!!"
"Zahra..!!" Teriak Alfaro dan Herry bersamaan.
Alfaro melompat berusaha menangkap tubuh Zahra dengan kekuatan penuh, namun dahsyat nya senjata yang telah mengenai tubuhnya membuat Zahra melesat cepat dan membentur sebuah pohon besar lalu jatuh kembali ke tanah tanpa sempat tertangkap oleh Alfaro.
Kejadian yang begitu cepat dan tidak terduga, Zahra pun tidak mengeluarkan suara lagi, darah keluar dari hidung dan mulutnya, Alfaro segera memeriksa keadaan nya ,denyut nadi yang semakin melemah dirasakannya.
"Sial..lukanya cukup serius, dia bisa mati kalau tidak segera mendapatkan pertolongan" batin Alfaro yang dengan cepat membawa tubuh Zahra masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi tanpa memperdulikan Harry Milton yang masih terpaku dengan apa yang terjadi.
"Tuan..Tuan Harry..apa yang_"
"Diam kalian..!!" Teriak Harry kemudian, di masih begitu shock melihat apa yang sudah di lakukan kepada putri satu-satunya.
"Zahra..maafkan Daddy..aku tidak bisa mundur lagi" ucap lirih Harri yang kemudian tatapannya berubah begitu mengerikan.
"Kita pulang, siapkan paspor ku, aku akan pergi keluar negeri dulu sampai semuanya sedikit tenang" ucap Harry lagi begitu dingin.
__ADS_1
Harry dan anak buahnya seger pergi dari tempat itu, sedangkan Alfaro dan juga anak buahnya meluncur cepat ke rumah sakit yang sama dengan istrinya berada untuk mendapatkan bantuan medis akan keadaan Zahra dan juga Hendri.
"Bagaimana keadaan dokter?" Tnya Alfaro sat beberapa lama menunggu.
"Keadaan kritis Nona Zahra dan tuan Hendri bisa saya tangani, nyawanya tertolong, tapi ada kabar buruk yang harus saya sampaikan "
"Kabar buruk, apa itu?" Ucap Alfaro.
"Untuk Tuan Hendri, dia dalam keadaan koma, dan tidak bisa kita prediksikan kapan akan bisa tersadar kembali"
"Astagfirullah.." gumam Alfaro.
"Dan untuk Nona Zahra, mungkin sebentar lagi akan tersadar, tapi _"
"Tapi apa dok?"
"Kami tidak bisa menyelamatkan satu kakinya, benturan di kepala cukup keras dan luka di tulang belakangnya lumayan parah, kami memastikan kakinya tidak akan bisa di gerakan lagi"
Deg
"Maksud dokter Zahra lumpuh?" Tanya Alfaro sangat terkejut.
"Begitulah tuan Alfaro"
"Tapi..apa tidak ada jalan keluar lainnya, operasi mungkin?"
"Itu juga yang sedang kami bicarakan dengan para dokter ahli yang lainya, kita lihat saja keadaan Nona Zahra setelah sadar kembali, namun kami tidak bisa menjamin bisa membantunya"
"Astagfirullah.." lirih suara Alfaro terdengar.
Kirana tersenyum saat melihat suaminya membuka pintu, setelah mengucap salam Alfaro mendekat dan memeluk dirinya dengan erat seakan tidak ingin melepaskan.
"Aku sangat merindukan mu honey" ucap lirih Alfaro Sabil menenggelamkan mukanya di ceruk leher Kirana.
"Aku juga honey, kamu kenapa?" Tanya Kirana yang merasa aneh dengan sikap Suaminya.
"Lelah" Alfaro menjawab singkat.
"Berbaringlah di sampingku honey"
"Hem.."
Tidak butuh waktu lama, kini Alfaro sudah ada di dalam selimut yang sama dengan istrinya, rupanya tempat tidur yang ada di ruangan itu masih cukup untuk mereka berdua walaupun terasa sedikit sempit.
"Maaf aku tadi meninggalkanmu saat tertidur" ucap Alfaro yang kini memeluk erat Istrinya.
"Tidak apa-apa, tadi kata Mom Aisyah, kamu ada urusan yang sangat penting"
"Iya" jawab Alfaro yang kemudian terdiam sesaat, ingin sekali menceritakan apa yang sudah terjadi, tapi di masih ragu, takut akan keadaan istrinya yang tidak boleh stres berlebihan untuk mempercepat proses kesembuhannya.
"Kamu tidak ingin membagi masalahmu honey?"
__ADS_1
"Kenapa kau pikir aku punya masalah?" Tanya Alfaro mulai khawatir.
"Tidak..aku hanya menebak saja"
"Tidak ada yang serius untuk di bicarakan honey..hanya masalah perusahan seperti biasanya" ucap Alfaro berbohong.
"Ya sudah..kalau kau capek tidurlah..aku juga mulai mengantuk lagi"
"Hem.." sahut Alfaro yang rupanya mulai memejamkan mata karena rasa nyaman luar biasa saat mendekap erat tubuh istrinya, baginya aroma tubuh Kirana selalu bisa menenangkan pikirannya disaat apapun.
Kirana tersenyum, memperhatikan wajah Alfaro yang di usapnya dengan lembut dan masih terasa sedikit panas, Kirana memicingkan mata sejenak, "Kau baru saja mengeluarkan tenaga dalam mu lumayan banyak Honey..dan masih bilang tidak ada masalah yang serius?" Batin Kirana.
Alfaro yang rupanya sudah tertidur sangat pulas, tidak terasa saat sang istri membenarkan posisinya agar lebih nyaman, dengan perlahan pelukan terlepas dan kini Alfaro tengah di tatap dengan intens oleh wanita cantik yaitu istrinya.
Kirana Tersenyum, mencium kening dan juga bibir suaminya dengan lembut dan sedikit lama, seolah ingin memberikan ketenangan disana. "Terimakasih sudah menjaga perasaanku suamiku, tapi maaf..aku ingin tau apa yang terjadi denganmu, karena ku juga sama..akan menjagamu seumur hidup ku" ucap lirih Kirana yang kemudian beranjak dari pembaringannya.
Salah satu pengawal yang tadi keluar bersama Alfaro sangat terkejut ketika sang Nyonya majikan kini sudah berada di hadapannya.
"Nyonya Kirana..?"
"Hem..aku ingin bicara"
"Ba..Baik nyonya, tapi kenapa nyonya harus turun dari tempat tidur, nanti _"
"Sudahlah..aku tidak apa-apa" ucap Kirana yang kemudian berjalan mencari tempat duduk yang terdekat dari tempat itu, sementara sang pengawal mengikutinya dari belakang.
"Duduklah..ada yang ingin aku tanyakan" ucap Kirana.
"Saya.."
"Aku bilang duduklah, kepalaku pusing kalau harus mendongak saat bicara dengan mu" ucap Kirana lagi.
"I iya..maaf nyonya" dan dengan terpaksa pengawal itu pun duduk dengan mengatur jarak di samping Kirana.
"Katakan apa yang baru saja terjadi, jangan menutupi apapun dariku"
"Maaf nyonya, saya tidak bisa"
"Kenapa?" Sahut Kirana mulai kesal.
"Perintah tuan Alfaro mutlak bagi saya"
"Ck..aku akan menghajarmu kalau kau tidak mau mengatakannya.!" Ucap Kirana sedikit keras.
"Bahkan kalau nyonya mengambil nyawa saya pun, silahkan saja.."
"Kau_!, Menyebalkan..!" Ucap Kirana.
"Nyonya mohon tenang, maafkan saya, sebaiknya nyonya kembali untuk istirahat, kasihanilah saya nyonya, jangan sampai kekesalan nyonya terhadap saya akan mempengaruhi kesehatan Nyonya yang masih harus di pulihkan"
"Berisik..!!" Sahut Kirana yang sudah berdiri dan berlalu pergi sambil bergumam tidak jelas, kemudian masuk ke dalam kamarnya kembali.
__ADS_1
Jangan lupa VOTE HADIAH LIKE dan KOMENnya.
Bersambung.