
Sementara itu, tampak Harry Milton berjalan kesana kemari di ruang kerjanya malam itu, kabar yang ditunggunya tidak datang-datang, hingga mengharuskan dirinya menghubungi beberapa orang kepercayaannya, namun hasilnya Nol.
"Sialan, apa yang sebenarnya tengah terjadi, kenapa mereka belum juga memberi kabar" batin Harry mengumpat beberapa kali.
Dan satu jam berikutnya, terlihat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya yang berada di Mansion mewahnya. "Masuk..!!" Perintah Harry.
Seorang laki-laki masuk dengan wajah cemasnya, sontak Harry langsung maju untuk segera meminta penjelasan, "kenapa lama sekali, apa rencana kita berjalan baik?" Tanya Harry.
"Maaf tuan.." sahut anak buahnya.
"Maaf..?" Ucap Harry tampak berpikir, "apa maksudmu minta maaf..?, Apa terjadi sesuatu?" Tanya Harry lagi mulai gelisah.
"I-iya Tuan, kami semua tertangkap, dan ketua pasukan khusus kita telah tewas ditangan mereka" ucapnya.
"Apa..!!?" Teriak Harry tak percaya dan langsung terduduk lemas di kursi kerjanya.
"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa orang dengan kekuatan sakti seperti itu bisa kalah melawan mereka, sialan.. Breng-sek, kenapa aku selalu gagal" gumam Harry sambil memijit pelipisnya.
"Akh..!!"
Prank
Suara teriakan Harry di barengi dengan gerakan tangganya yang menghancurkan segala benda yang ada di atas mejanya.
Sontak saat itu Zahra yang baru saja masuk ke dalam Mansion begitu terkejut mendengar kegaduhan dari ruang Daddy-nya.
"Ada apa ini..?" Ucap Lirih Zahra yang bergegas mendekat ke ruang kerja Harry.
Zahra yang sudah bersiap memanggil Harry, segera mengurungkan niatnya saat melihat suara seseorang sedang bicara.
"Maafkan kami tuan, mereka benar-benar bukan tandingan kita, kekuatan mereka semua sangat dahsyat, dan seorang wanita yang terpaksa kita culik pun punya kekuatan yang tidak main-main, beruntung waktu itu masih bisa kita tangani, tapi untuk tuan Alfaro dan lainya, kami sungguh tidak mampu lagi"
"Diam..!!" Teriak Harry dengan penuh emosi.
Deg
Jantung Zahra serasa mau berhenti saat terdengar jelas di telinganya nama Alfaro disebut.
"Apa yang Daddy lakukan, ada apa ini?" Batin Zahra yang semakin merapatkan telinganya untuk mendengar percakapan lebih lanjut.
"Kalian semua sudah merusak rencana ku, lalu bagaimana dengan Hendri si Baji-ngan itu?" Tanya Harry lagi.
"Dia juga lolos tuan, tapi kami tidak tau dia lari kemana, yang jelas, dia terluka parah saat ini, dan saya pastikan, dia sudah tidak di bawah lindungan tuan Alfaro"
"Maksud mu, dia melarikan diri sendiri?"
"Iya tuan"
"Cari dia sampai dapat, lalu habisi, sebelum dia membuka mulut tentang diriku yang sudah merencanakan masalah yang terjadi antara Zahra dan Alfaro"
Deg
__ADS_1
Kesekian kalinya Zahra di buat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, kakinya teras lemas, bahkan kepalanya terasa sangat berat seketika, air mata mulai protes untuk keluar, dia tidak menyangka bahwa yang melakukan tindakan ke-ji terhadap dirinya adalah Daddy-nya sendiri.
"Astagfirullah.. Daddy..tega sekali" lirih terdengar suara Zahra yang kemudian segera beranjak dari tempatnya dengan hati-hati, dan segera menuju kamarnya.
*
Sementara itu, di sebuah Rumah Sakit, Kirana sedang mendapatkan penanganan yang serius akan kehamilannya yang masih berjalan beberapa minggu, kondisi tubuhnya yang melemah karena racun yang sempat masuk ke dalam tubuhnya, mengharuskan Kirana mendapat penanganan penuh.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Alfaro dengan cemas.
"Sebentar Tuan, mohon bersabar, kita masih menangani nyonya Kirana dengan maksimal" ucap salah satu dokter yang menenangkan Alfaro.
Berada di ruang tunggu malam itu, terasa sangat lama bagi Alfaro yang masih setia menunggu hasil pemeriksaan istrinya, tak lama disusul oleh kedatangan Aliando, Ronan dan Christopher, tentu saja semua didampingi oleh pasangan masing-masing.
"Bagaimana Kirana?" Tanya Aliando yang lebih dulu mendekat.
"Masih di tangani Dad" jawan Alfaro dengan tatapan nanar.
"Sabar, percayalah.. Kirana pasti kuat, dia akan baik-baik saja" sahut Aisyah.
"Amin.. bagaimana dengan_" tanya Alfaro.
"Sstt..Urusan para Baji-ngan itu sudah selesai..kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi Daddy pastikan bis menyeret pelaku yang sesungguhnya"sahut Aliando.
"Thanks Dad.." jawab Alfaro yang kini mendapat rangkulan dari sang Daddy.
Begitu juga dengan Ronan dan Hani yang memberikan support agar Alfaro bisa lebih tenang.
"Amin..kalau sampai terjadi sesuatu, aku merasa sangat bersalah Chris..Kirana menyerahkan dirinya demi aku dan Hani, dia_"
"Sudah.." Sahut Christopher, "jangan menyalahkan diri sendiri, aku yakin Kirana melakukan yang terbaik untuk dirinya, kita do'akan saja semua akan baik-baik saja" lanjut Christopher sambil memeluk Louise yang mulai tidak bisa menahan Isak tangisnya.
Hingga beberapa menit kemudian pintu sebuah ruangan terbuka, tampak seorang dokter keluar dengan wajah lelahnya, "Tuan Alfaro?!"
"Iya dok, saya.." ucap Alfaro yang segera melesat untuk mendekat dengan wajah yang sangat cemas.
"Bersyukur Tuan, keadaan Nyonya Kirana sudah stabil, walau keadaan fisiknya masih lemah, tapi masa kritis sudah terlewati dengan baik, begitu juga dengan janin nya, untuk selanjutnya kita mengharuskan perawatan di Rumah Sakit untuk memantau keadaan istri anda"
"Alhamdulillah.." ucap lirih Alfaro, begitu juga dengan Alindo dan Aisyah yang ikut mendekat.
"Baik Tuan, apa ada yang ditanyakan?, Kalau tidak..kami akan segera memindahkan istri anda di ruang perawatan untuk proses pemulihan selanjutnya" sahut sang dokter.
"Baik..silahkan" jawab Alfaro mundur beberapa langkah untuk memberi ruang.
Tak berapa lama, tampak Kirana sudah di dorong untuk dipindahkan ke ruangan dalam keadaan masih lemah dengan tangan yang terpasang infus, sementara semuanya mengikuti di belakang menuju kamar perawatan.
"Bagaimana keadaan mu Honey, apa lebih baik?" Tanya Alfaro saat Kirana kini sudah berpindah tempat tidur dengan posisi yang dirasa nyaman.
"Hem..aku tidak apa-apa, hanya lelah dan butuh istirahat saja, Racun yang sempat masuk masih sedikit berpengaruh di tubuhku, tapi dokter bilang sudah bisa dinetralkan, mungkin efeknya saja yang masih aku rasakan" jawab Kirana.
Alfaro tersenyum, menci-um kening istrinya dengan lembut berkali-kali, hingga di akhiri dengan ci-uman hangat dan lembut di bibirnya.
__ADS_1
"Honey..banyak orang" ucap lirih Kirana menahan dada bidang suaminya.
"Sorry.." sahut Alfaro lirih sambil tersenyum.
"Tenang saja, kami tidak keberatan kalau hanya sebatas ini, jangan lebih.." terdengar suara seseorang yang ada di belakang Alfaro, siapa lagi kalau bukan Aliando.
Satu persatu semuanya akhirnya mendekat, para wanita memeluk dengan hangat Kirana bergantian, sambil memberikan support, begitu juga dengan Ronan dan Christopher.
"Jangan berani memeluk..!" Ultimatum Alfaro yang segera waspada.
"Hais.. tenang, kami mengerti.. dasar..!" Sahut Ronan di lanjutkan dengan senyuman semua yang ada di ruangan.
**
Di tempat lain, Zahra yang tidak kuat lagi menahan semuanya, berusaha untuk menghubungi Christopher, namun rupanya tidak ada sahutan dari ponsel sahabatnya.
"Chris..dimana kamu?" Lirih suara Zahra yang berusaha menghubungi berkali-kali.
Merasa tidak mendapat respon, akhirnya Zahra memutuskan untuk keluar rumah menuju ke apartemen Christopher, ketakutan Zahra akan rencana Daddy nya yang dianggapnya sudah melebihi batas membuatnya tidak perduli lagi kalau saat ini sudah jam sembilan malam.
Dalam perjalanan dengan membawa mobil sendirian, Zahra memotong jalan yang sudah sepi, berharap secepatnya tiba ditempat yang di tuju. "Semoga Christopher ada di apartemennya..ini keadaan genting, kenapa juga sih Christopher tidak mengangkat ponselnya.. dasar.."
Brug..
Ciiitt..
Terdengar suara mobil Zahra yang ber decit kuat saat kakinya reflek menginjak rem ketika ada seseorang yang menabrak mobilnya dari arah samping.
Mobil berhenti disertai dengan teriakan Zahra yang terkejut setengah mati, segera dia melepas sabuk pengaman dan buru-buru keluar untuk melihat keadaan, seketika Zahra panik saat melihat seorang laki-laki tergeletak dengan lemah dan tak sadarkan diri tepat di samping mobilnya.
"Tuan..bangun..tuan..apa anda mendengarkan saya, tuan..!" Teriak Zahra berusaha untuk menyadarkan orang itu, tapi percuma.
Beruntung ada seorang perempuan yang lewat setelah beberapa detik kemudian, hingga akhirnya laki-laki itu berhasil di bawa kedalam mobil Zahra yang kemudian segera melesat ke sebuah Klinik yang tak jauh dari sana.
"Bagaimana?" Tanya Zahra panik.
"Tenang Nona, apa anda keluarganya?"
"Bukan, dia tadi menabrak mobilku dari samping dokter..dan_"
"Oh pantas saja.." sahut dokter lagi.
"Maksudnya?" Tanya Zahra tidak mengerti.
"Luka yang ada ditubuhnya lumayan parah Nona, tapi bukan luka akibat kecelakaan, melainkan seperti luka bekas pengania-yaan "
"Apa..?, maksudnya..?" Tanya Zahra terkejut.
Mohon maaf baru bisa Update lagi setelah sekian lama🙏, Semoga Author segera bisa menyelesaikan bab terakhir dengan baik, jangan lupa VOTE HADIAH LIKE dan KOMENnya.
Bersambung.
__ADS_1