
Ronan sudah menahan emosi sejak pagi, kedatangan Alfaro yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya sukses membuat Ronan ingin sekali menghajarnya.
"Dari mana saja kamu Faro, seenaknya sendiri meninggalkan kantor dan pekerjaanmu!" Teriak Ronan sambil melemparkan map berisi hasil dari Meeting yang baru saja selesai di lakukan.
"Jangan membuatku pusing Ron, aku masih menahan sakit, pusaka ku rasanya mau pecah"
"Maksudnya?" Ucap Ronan terkejut dengan jawaban Alfaro.
"Aku baru saja melihat keadaan Kiran" ucap Alfaro dan seketika membuat Ronan terdiam.
"Lalu?"
"Lalu dia menendang ku tepat di aset berharga ku, sampai sekarang rasanya masih ngilu!, Puas!" Ucap Alfaro semakin kesal saat melihat wajah Ronan yang sudah bersiap untuk tertawa.
Alfaro melihat jengkel kelakuan Ronan sahabatnya lalu dengan cepat melempar Map yang di berikan tadi tepat ke muka Ronan, hingga membuatnya berhenti tertawa.
"Sebaiknya kau berhati-hati saat berada di dekat Kirana, wanita itu mengerikan juga" ucap Ronan.
"Hem, aku tau, sebenarnya aku bisa melakukan lebih dari memaksanya untuk berbicara baik-baik denganku, tapi aku tidak bisa melakukannya karena dia terluka" sahut Alfaro dengan mukanya yang berubah cemas.
"What!, Maksudnya?" Sahut Ronan sangat terkejut, lalu segera duduk di dekat Alfaro dengan jarak yang sangat dekat, hingga Alfaro merasa risih di buatnya.
"Ish, kau ini, minggir!" Bentak Alfaro, lalu Ronan segera menyingkir dari sana dan duduk di depannya.
"Lengan Kirana terluka, sepertinya lumayan parah, aku melihat bercak darah yang merembes keluar, bisa di pastikan lukanya masih basah" ucap Alfaro dengan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, sesekali tangannya memijit pelipisnya.
"Sh*it!!, Memangnya apa yang sudah di lakukan oleh Viona hingga membuat keadaan Kirana seperti itu?"
"Entahlah Ron, Kirana sendiri tidak mengatakan apapun soal siapa yang sudah melakukan hal itu padanya, tapi aku sama seperti dirimu, menduga ini ulah Viona"
"Apa hanya ada Kirana di Mansion itu?" Tanya Ronan.
"Maksudmu?"
"Yah, kau tau maksud ku kan, mereka berdua jarang berpisah"
"Oh, maksudmu Hani?"
"Iya-iya, bagaimana keadaan nya?" Ucap Ronan terlihat raut cemas di wajahnya, dan Alfaro tersenyum penuh curiga.
"Kenapa kau ingin tau soal Hani?" Tanya Alfaro.
__ADS_1
"Ish..kau ini, itu bukan jawaban dari pertanyaan ku Faro, jangan mengalihkan pembicaraan!" Ucap Ronan.
"Kau yang jangan mengalihkan pembicaraan ku, aku merasa kau perhatian sekali dengan Hani, apa ada sesuatu?" Tanya Alfaro.
"Hentikan ocehan mu, kalau kau tidak mau menjawab pertanyaan ku, aku bisa mencari tau sendiri" jawab Ronan dengan raut wajah kesal.
Alfaro menaikkan alisnya, tak percaya dengan sikap sahabatnya yang dirasa sangat sensitif saat di tanya tentang seorang wanita yang bernama Hani.
"Kalau Hani aku pastikan baik-baik saja, dia yang menggantikan kegiatan di kantornya saat ini, dan aku sempat berbincang dengannya tadi" ucap Alfaro akhirnya dan membuat Ronan tersenyum dan bernafas lega.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ronan dan membuat Alfaro seketika mengerutkan keningnya.
"Tentu saja bekerja, memangnya apa lagi?" Ucap Alfaro.
"Bukan itu maksud ku Faro, otakmu itu kadang tumpul sekali untuk mencerna sebuah pertanyaan, yang aku tanyakan Viona, bagaimana seandainya Viona sudah semakin keterlaluan dan menggunakan kekuasaannya untuk menyakiti mereka berdua?"
"Entahlah, aku ragu, apa mungkin kita bisa menghadapi kekuasaan kakak Viona untuk saat ini, kau tau sendiri berapa hutang kita padanya"
"Hem, aku tau, untuk masalah ini, sepertinya kita menemui jalan buntu, coba saja seandainya dulu kamu memikirkan perkataan Daddy mu, mungkin_"
"Diamlah Ron, aku ingin membuktikan padanya jalan yang aku tempuh tidak salah, dan aku bisa hidup sukses tanpa dirinya dan embel-embel keluarga Eagle, Dady sudah sangat meremehkan aku, aku tidak terima!" Ucap Alfaro.
"Aku tau, kau memang sangat keras kepala, tapi apa yang akan kita lakukan sekarang, sementara Viona sangat keterlaluan akhir-akhir ini, dan aku tanya padamu, apa kau benar-benar mencintai nya?"
"Tapi perlu kau ingat, Dady mu yang memberikan perusahaan Eagle Company 2 ini, jangan kau lupakan itu" ucap Ronan.
"Itu karena memang seharusnya dia lakukan, hanya aku anak satu-satunya" Jawab Alfaro.
Ronan hanya bernafas panjang melihat jawaban Alfaro yang selalu tidak ingin kalah, dan kemudian Ronan menjelaskan hasil rapat yang sudah di lakukan nya tadi pagi, rupanya di sana sudah di agendakan kerja sama dengan Agensi NAHA satu Minggu lagi.
"Jadi kita akan melakukan kontrak kerjasama dengan NAHA Agensi dan semua sudah di persiapkan?" Tanya Alfaro.
"Iya, tentu saja, semua sudah beres, tinggal kau ACC saja dan kita akan segera melakukan kerja sama itu"
"Apa pihak NAHA Agensi sudah menyetujuinya?" Tanya Alfaro lagi.
"Aku tidak tau, setelah banyak yang terjadi antara kau dengan Kirana, mungkin saja mereka akan berubah pikiran, kau harus bersiap untuk itu" ucap Ronan mengingatkan.
"Heh..sayang sekali kalau sampai kita tidak bisa bekerja sama dengan mereka, Agensi NAHA sekarang sedang naik daun, banyak perusahaan yang berlomba ingin melakukan kerja sama dengan nya, dan bisa dipastikan ini akan membawa income yang banyak bagi perusahaan"
"Begitulah teorinya, tapi tentu saja semua terserah sang pemilik Agensi NAHA, untuk mau bekerja sama dengan kita atau tidak, dan pemiliknya adalah Kirana..ingat..Kirana!!" Ucap Ronan mengulang ucapannya di depan mata Alfaro.
__ADS_1
"Ish, minggir!...aku sudah tau, tidak perlu kau ulang-ulang menyebut nama Kirana, dasar kau!!" Ucap Alfaro jengkel melihat kelakuan sahabatnya.
Ronan terkekeh dan segera melihat jam, rupanya sudah saatnya dia beristirahat untuk mengisi perutnya karena sudah jam 1 siang, lalu kemudian dirinya segera pergi meninggalkan Alfaro.
"Kau sungguh tidak ingin makan di Cafe tempat biasanya?" Tanya Ronan.
"Aku tidak nafsu makan, dan aku malas untuk ketemu Viona di luar sana, biar aku pesan saja untuk aku makan di ruangan ku" jawab Alfaro.
"Baiklah, aku pergi dulu!" Teriak Ronan sebelum dirinya hilang di balik pintu.
Dan rupanya suasana Cafe begitu Rame, beruntung dia sebelumnya sudah menghubungi pemiliknya dan memesan tempat untuk menikmati akan siangnya.
"Tuan Ronan, sudah aku siapkan meja di ujung sana, tempatnya sepi, dekat kolam ikan ya!"
"Siap!" teriak Ronan kemudian segera menuju ke tempatnya setelah memesan menu yang dia inginkan. Baru saja duduk, Ronan di kejutkan dengan sosok wanita berhijab yang terlihat kebingungan melihat keadaan sekitar yang begitu ramai, Ronan mengamatinya sambil tersenyum lebar.
"Hani lucu sekali saat panik seperti itu" batin Ronan, masih menikmati pemandangan unik yang ada di depannya.
Tak lama setelah itu Ronan segera meninggalkan tempat duduknya dan mendekati Hani yang masih berdiri untuk mengantri.
"Apa kau butuh bantuan nona Hani?" Ucap Ronan dan membuat Hani terjingkat kaget.
"Tuan Ronan?, Kenapa anda bisa disini?" Ucap Hani konyol dan di sambut tertawa oleh Ronan.
"Ini tempat makan untuk umum nona Hani, menurutmu kenapa aku ada disini?, dan kau sendiri kenapa ada disini?" Tanya Ronan balik.
"Oh iya maaf, aku lagi antri, apa kau tidak melihatnya?"
"Di bawa pulang makanan nya?"
"Iya, Kiran yang minta pesan makanan disini, Sakit masih juga bikin aku ribet" ucap Hani masih tetap berdiri di antrian pembeli.
"Butuh bantuan nggak?" Ucap Ronan lagi sambil tersenyum.
"Kau itu dari tadi nanya terus, kalau memang niat membantu ya bantu saja, ngapain juga tanya-tanya butuh bantuan apa enggak, sudah tau orang lagi ribet gini, kalau gak ikhlas gak usah menawarkan jasa" jawab Hani jengkel.
Bukannya marah, Ronan malah tertawa melihat Hani yang sudah emosi dengan wajahnya yang makin menggemaskan menurutnya.
"Eh.. malah ketawa, dasar Gila!" Ucap Hani.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMEN selalu di tunggu ya..