
Satu Minggu berlalu, Alfaro dibuat kesal karena kehilangan bukti dan sampai sekarang masih belum menemukan petunjuk sama sekali.
"Aku benar-benar tidak percaya tiga orang yang akan membantu kita bisa lenyap begitu saja Ron" ucap Alfaro sambil mengaduk kopinya kembali sebelum akhirnya di minum seteguk.
"Tenanglah Faro..mungkin kita harus lebih ekstra berhati-hati lagi, musuh kita kali ini bukan orang sembarangan, dia punya kuasa dan bisa melakukan segalanya tanpa kita duga" jawab Ronan yang tengah menemani Alfaro sore itu di sebuah cafe.
Perbincangan berlanjut tentang strategi apalagi yang bisa di mobil oleh keduanya dalam menghadapi masalah Zahra yang tentu saja masih berhubungan dengan Alfaro.
Alfaro bahkan sempat di buat pusing karena masalah ini, nama baik Zahra harus di jaga karena dia tau kalau wanita itu hanya korban seperti dirinya, namun disisi lain justru dia harus menghadapi orang terdekat dari Zahra yang dia yakini adalah semua dalang dari munculnya masalah yang tengah terjadi.
Ronan berbicara dan berpikir begitu hati-hati, dia tidak ingin jalan keluar yang akan di bahas dan dilakukan nanti justru menjadi bumerang dan memperkeruh keadaan, hingga akhirnya keduanya sama-sama menghubungi seseorang yang akan membantunya.
"Semua sudah siap, beberapa orang khusus ku akan memantau Harry Milton dan anak buahnya, semua pergerakannya akan kita ketahui dengan detail mulai sekarang" ucap Ronan yang tidak pernah salah dalam memilih orang untuk melakukan tugasnya dengan benar.
"Hem.. orang-orang ku juga bergerak lebih aktif lagi mencari ketiga orang yang menjadi kunci dari semua masalah ini, semoga segera menemukan mereka" sahut Alfaro berharap.
"Aamiin..,aku berharap masalah ini segera beres, sungguh merepotkan dan menguras waktu dan tenaga kita, tapi bagaimana lagi..kalau tidak serius kita tangani, bisa menjadi kehancuran rumah tanggamu Faro" ucap Ronan.
Tak lama kemudian terdengar suara ponsel salah satu dari mereka, dan benar seperti yang di duga oleh keduanya, rupanya salah satu anak buah Alfaro melaporkan bahwa hilangnya ketiga orang yang akan menjadi saksi adalah perbuatan anak buah Harry Milton.
"Ada apa?" Tanya Ronan penasaran.
"Anak buah ku sudah menemukan jejak ketiga orang yang kita cari, tapi sayang_" ucap Alfaro tertahan.
"Kenapa?" Tanya Ronan makin gusar.
"Dua dari mereka sudah tewas dan satu lagi masih belum diketahui keberadaannya, ini sungguh rumit" desah Alfaro Sabil menarik nafas panjang tanda beban yang dirasakan nya cukup berat.
"Sabar..kita pasti akan segera menemukan jalan terbaik" sahut Ronan sambil menepuk pundak sahabatnya untuk memberikan support.
Alfaro tersenyum, lalu keduanya meminum kopinya masing-masing, setelah itu membicarakan hal lainnya.
*
Ditempat yang lain, Kirana tumben sekali tiba-tiba menginginkan Aneka buah untuk dia nikmati, mungkin ini adalah efek dari kehamilan mudanya, dan akhirnya dia pun mengajak salah satu pengawal dan asisten rumah tangganya untuk menemani keluar mencari buah-buahan yang diinginkan.
Hari itu Kirana tidak ingin masuk ke Mall, rupanya pasar tradisional yang letaknya lumayan jauh menjadi pilihannya untuk mencari buah segar yang sudah membuat saliva nya ingin keluar begitu saja.
"Biar nanti saya saja yang keluar mencari buah yang anda inginkan nyonya, Anda tetap berada di dalam mobil saja" ucap asisten rumah tangganya.
Kirana menoleh sejenak lalu tersenyum, "Aku juga pengen milih sendiri nanti Bik.." ucap Kirana yang kelihatan sudah tidak sabar melakukan hal itu.
__ADS_1
"Tapi Nyonya, nanti anda kecapekan, di pasar tradisional gak sama dengan di mall, kadang tempatnya juga kurang bersih dan ramai orang"
"Nggak apa-apa, tenang saja Bik..kita lihat saja nanti" jawab Kirana lagi.
Pengawal dan Asisten rumah tangganya saling menatap, seolah mereka sudah paham bahwa keinginan majikannya tidak akan bisa di tawar lagi, mereka pun hanya menghembuskan nafas panjang tanda tidak akan bisa membujuk Kirana lagi.
Sampai ditempat yang dituju, Kirana langsung tersenyum senang, seperti yang di duga tempat itu begitu ramai, tapi suasana seperti ini juga yang sangat di rindukan oleh Kirana, mengingatkan akan negara asalnya Indonesia.
"Nyonya hati-hati.." ucap pengawalnya yang setia berada di samping Kirana.
"Okey.." saut Kirana sambil terus berjalan dan tersenyum senang.
Rupanya sore itu begitu ramai, bukan hanya pembeli, tapi juga penjual yang berada di sana sini tengah menawarkan barang dagangan nya, hingga sampailah di sebuah tempat dimana semua buah-buahan ada di sana.
Kirana tersenyum lebar, memandang takjub hamparan aneka buah yang berjajar dan siap untuk di beli dan juga boleh di cicipi, pengawal dan Asisten rumah tangganya ikut tersenyum melihat tingkah majikannya yang kini sudah berjalan kesana kemari mencari buah yang diinginkannya.
"Luar biasa.. semua yang ku inginkan ada disini!" Ucap Kirana sedikit berteriak.
"Hati-hati nyonya..mari saya bantu" ucap Asisten rumah tangganya yang selalu mengikuti kemana langkah Kirana berada.
Saat semua yang diinginkan telah didapatkan, Kirana tersenyum puas, lalu segera beranjak pergi dengan diikuti oleh kedua orang yang masih setia di sampingnya.
"Kita langsung pulang, nyonya?" Tanya asisten rumah tangga.
Baru saja Kirana hendak melanjutkan langkahnya kembali, namun tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang berlari sangat cepat dan terlihat begitu ketakutan hingga tanpa sengaja menabrak salah satu lengan Kirana, beruntung sang pengawal dengan sigap menahan tubuh majikannya.
Sementara seorang laki-laki yang sudah menabrak Kirana jatuh tersungkur tak jauh dari sana.
"Ma-Maaf Nona, saya tidak sengaja" ucap laki-laki itu yang segera terbangun seolah tidak merasakan kalau tubuhnya terluka.
"Iya..kamu_" suara Kirana tertahan ketika laki-laki itu langsung berdiri dan melesat pergi.
"Hei..!!" Teriak sang pengawal ingin mengejar.
"Sudahlah.." ucap Kirana menimpali dan kemudian bergerak pergi.
Tiba di tempat parkir yang kebetulan lumayan sepi, ketiganya bersiap masuk ke dalam mobil, namun Kirana segera menghentikan geraknya saat telinganya menangkap suara merintih dan berisik.
"Tunggu.." ucap Kirana, kemudian mundur sedikit menjauh dari mobilnya dan berusaha mencari sumber suara yang di dengarnya.
Rupanya benar sekali, tak jauh dari sana terlihat seorang laki-laki berguling-guling di tanah dengan tendangan bertubi-tubi dari beberapa orang yang sengaja mengeroyoknya.
__ADS_1
"Nyonya..sebaiknya kita pergi saja, jangan ikut campur urusan orang" pengawal memperingatkan.
Kirana menatap sekejab, lalu kemudian kembali maju untuk masuk kedalam mobil bersama dengan asisten rumah tangganya.
Mobil akhirnya melaju perlahan, karena jalan keluar hanya satu pintu, mau tidak mau mobil harus melewati tempat dimana insiden sedang terjadi.
"Tolong.. Tolong saya.. Tolong...Akh..!!" Teriakan itu makin terdengar disaat itu, dan Kirana berusaha memejamkan mata, namun kata hatinya tidak bisa, hingga akhirnya dia membuka mata dan jendela mobil.
Disaat yang sama, Kirana melihat sebuah pisau siap di tancapkan ke dada orang yang terkapar di tanah dengan luka cukup serius, Reflek Kirana mengeluarkan tenaga dalamnya.
"Berhenti..!!" Teriak Kirana, dengan hempasan tangannya yang membuat sebuah pisau itu terlempar begitu jauh.
Semua tercengang tak percaya, empat orang yang menghajar seseorang itupun mundur seketika, mobil berhenti dan Kirana segera turun diikuti oleh pengawalnya.
"Nyonya..!!"
"Diam..jangan menghalangi ku!" Sahut Kirana dengan tatapan tajamnya, sang pengawal pun tidak berani berbuat apa-apa.
Sorot mata Kirana berubah arah seiring dengan dirinya yang perlahan melangkah maju mendekati orang yang tengah terluka parah dan sedang mengerang tak berdaya.
"To-long..saya mohon" ucapnya lirih dengan nafas yang terputus-putus.
Kirana mendekat dan berjongkok, menoleh ke arah sang pengawal untuk meminta bantuannya. Datang pengawalnya lalu segera membantu.
"Hubungi ambulan segera"ucap Kirana.
"Berani menolongnya, kami tak segan menghabisi kalian juga, jadi jangan ikut campur dan pergi..!!" Teriak salah satu dari mereka yang melakukan penganiayaan.
"Berani kalian menggangu majikan saya, aku yang akan menghabisi kalian..!!" Teriak pengawal Kirana tak kalah garang.
Dan akhirnya perkelahian pun terjadi, rupanya keempat orang itu tidak bisa dianggap remeh, gerakan bela dirinya juga begitu cepat, Kirana masih mengamati dan membaca pergerakan mereka, hingga ahirnya sang pengawal mendapatkan satu tendangan telak karena di serang bersama-sama.
"Akh..!" Sang pengawal menahan sakit di perutnya saat bergeser mundur beberapa langkah.
Kirana tidak tinggal diam, tidak ingin menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya yang bisa membuat kehebohan, dirinya langsung menghadang serangan salah satu dari orang-orang itu dengan gerakan bela dirinya.
Tampak tercengang mereka melihat kecepatan gerakan Kirana yang hampir tak bisa terlihat oleh mata mereka, satu orang tersungkur mundur dan menahan perih di bagian lengannya saat terluka karena gesekan di tanah.
"Aku tidak ingin menyakiti kalian dan ikut campur urusan ini, tapi aku tidak bisa melihat kekejaman yang kalian lakukan di depan mataku, jadi pergilah..!!" Ucap lantang Kirana.
Jangan lupa VOTE, HADIAH, LIKE, dan KOMENnya.. Terimakasih
__ADS_1
Bersambung.