SELEMBAR KERTAS

SELEMBAR KERTAS
Episode 186


__ADS_3

Hendri tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zahra.


"Kita menikah malam ini, apa kamu keberatan?" Tanya Zahra tanpa peduli Hendri masih sangat shock dengan ucapannya.


"Malam ini?, Menikah?" Ucap Hendri meyakinkan dirinya sendiri.


Zahra mengangguk, lalu tersenyum tanpa dosa, dan tentu saja membuat Hendri makin membelalakkan matanya tak percaya.


"Serius?" Tanya Hendri lagi.


"Heh, ya sudah kalau kamu tidak bersedia, aku ke kamar dulu, membuatku malu saja" ucap Zahra dengan wajah sebalnya.


"Apa?, Eh tunggu!" Teriak Hendri sebelum Zahra benar-benar melangkah pergi.


Hendri melangkah mendekati Zahra, dan dengan berani tiba-tiba saja mencium bibir Zahra tanpa permisi, Zahra terkejut serasa tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun, menerima luma-tan yang diberikan dengan begitu lembut, hingga kemudian_


"Kalian!" Teriak seseorang mengejutkan.


BRUG


Zahra spontan mendorong tubuh Hendri hingga menabrak meja makan.


"Kirana?!" Teriak Zahra dengan mata lebarnya.


"Apa yang kalian lakukan, ya ampun, benar-benar tidak bisa di percaya!" Ucap Kirana yang kini sudah menampakkan wajah garangnya.


"Ada apa?" Tanya seseorang dibelakangnya yang tak lain adalah Alfaro.


"Mereka sudah_" ucap Kirana terpotong.


"Tunggu nona Kirana, kami akan menikah" sahut Hendri dengan cepat.


"Apa?, Bukannya tadi kamu menolaknya?" Ucap Zahra.


"Apa?" Kirana tak percaya dengan apa yang dikatakan Zahra.


"Aku tidak menolak, justru aku sangat menginginkannya, aku diam karena terkejut saat kamu meminta ku untuk menikahi mu malam ini juga" Hendri mencoba menjelaskan.


"Apa?!" Teriak Kirana dan Alfaro bersamaan.


Zahra dan Hendri terkejut dan menatap pasangan suami istri yang nampak shock dengan apa yang dijelaskan.


"Fix, panggil siapapun sekarang juga yang bisa menikahkan mereka honey, aku benar-benar tidak tahan lagi dengan semua ini" ucap Kirana dan tentu saja Alfaro segera menghubungi seseorang.


"Persiapkan diri kalian, malam ini kalian akan menikah sah secara agama, itu yang terpenting sebelum kalian lebih banyak berbuat dosa" ucap Alfaro lalu berjalan keluar untuk menyambut seseorang.

__ADS_1


Kaget sih memang, tak menyangka kalau Alfaro bisa mewujudkan impian Hendri secepat ini.


"Terimakasih Tuan Alfaro" ucap Hendri menyusul keberadaan Alfaro.


"Hem, kalian benar-benar merepotkan, kenapa tidak dari dulu kamu menikahi Zahra, aku tau kamu sangat mencintainya bukan?" Tanya Alfaro.


"Itu memang benar, tapi saya tidak mau memaksakan perasaan, hasilnya pasti tidak akan seperti yang di harapkan" jawab Hendri.


"Apapun itu, aku harap, kamu bisa membahagiakan Zahra selamanya, sudah cukup penderitaan yang dia alami selama ini, apa kau sudah tau semuanya?" Tanya Alfaro.


"Tentu saja, saya sudah mencari tau semuanya, dan akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan nya"


"Aku pegang kata-katamu, jika berani kamu menyakitinya, aku dan istriku tidak akan sungkan lagi untuk turun tangan, ingat itu" ucap Alfaro.


Hendri tersenyum, tentu saja dia bisa memastikan akan menjaga wanita yang bertahun-tahun selalu bertahta di hatinya dan tak bisa tergantikan.


*


*


Malam itu juga sebuah acara sakral di gelar, dengan persiapan yang singkat dan seadanya, disaksikan oleh Kirana dan Alfaro, juga para pengawal dan asisten rumah tangga, akhirnya Zahra dan Hendri menghalalkan hubungannya.


Tepat jam sebelas malam, semuanya sudah selesai dilakukan, Kirana memeluk erat Zahra sebelum berpamit pulang, begitu juga dengan Alfaro yang memberikan pelukan support akan apa yang sudah berani dilakukan oleh Hendri.


"Tentu saja akan kami usahakan dan dengan senang hati" jawab Kirana dengan senyumannya.


"Kabar berita kalian sudah ada di media, rupanya mantan suami mu tidak main-main untuk menghancurkan kalian, aku sarankan besok segera konferensi pers, perlihatkan salinan surat pernikahan malam ini sekaligus foto-foto nya" ucap Alfaro masih bermain di media sosial yang ada di handphonenya.


"Semua sudah saya siapkan, jangan khawatir, laki-laki itu tidak akan bisa menggoyahkan kami mulai saat ini, justru dia sendiri yang akan menerima balasannya dariku" jawab Hendri dengan senyum misterius.


"Bagus, hubungi aku kalau butuh bantuan" Alfaro menawarkan bantuan.


"Untuk sementara saya bisa mengatasi hal ini" sahut Hendri.


"Aku percaya padamu" ucap Alfaro sambil menepuk bahu Hendri sebelum akhirnya mengucap salam untuk segera pulang.


Begitu juga dengan Kirana yang tadinya hendak membicarakan bisnis kerjasama perusahaan, akhirnya di urungkan dan malah berganti ikut andil menikahkan Zahra.


Zahra dan Hendri Baru saja mengantar kepergian Kirana dan Alfaro, dengan perlahan melangkah ke kamar yang sebelumnya di tempati.


"Kamu tidak lupa kita sudah suami istri kan?" Ucap Hendri yang tentu saja membuat Zahra tak jadi melangkahkan kakinya lagi.


"Maksudmu?" Tanya Zahra yang kini sudah menoleh dan menatap tepat mata Hendri yang berada di depannya.


"Aku menginginkanmu tidur di kamarku, tentu saja kalau kamu tidak keberatan" ucap Hendri.

__ADS_1


"Apa ini tidak terlalu cepat, kalau kau menginginkanku malam ini harusnya kamu juga sudah siap bahwa aku sudah tidak pera-wan lagi" jawab Zahra.


"Oh my God, kau benar-benar kuno sekali, aku tidak memperdulikan hal itu, yang penting hatimu, itu sudah cukup bagiku" sahut Hendri yang kemudian segera berlalu pergi.


Zahra masih tertegun, tak menyangka kalau Hendri se menerima itu akan dirinya. "Begitu besarkah rasa cintanya padaku?" Ucap lirih Zahra, lalu kemudian menutup perlahan pintu kamarnya dan segera membaringkan tubuhnya.


Begitu juga dengan Hendri, yang kini menatap langit-langit kamar, berpikir apakah Zahra akan bisa melihat dan menerima rasa cintanya, dan lebih tepatnya, bisakah Zahra menerima dirinya sebagai suami dengan rasa cinta dan kasih.


"Heh, melelahkan sekali, yang penting aku sudah menikahinya, dan bertanggung jawab akan Zahra sepenuhnya, untuk yang lain, bisa dilakukan dengan berjalannya waktu" ucap lirih Hendri.


Tidak bisa tidur dengan tenang, Hendri melihat sosial media, dan benar saja, apa yang di khawatirkan akhirnya terjadi, kabar miring dan foto-foto keberadaan Zahra dan dirinya di Mansion sudah tersebar.


Bahkan banyak kata di bumbui dengan kalimat pedas yang tak pantas, Hendri mengambil nafas dalam, berusaha mengendalikan emosi, lalu berusaha memejamkan mata.


Berhasil terlelap hanya beberapa menit saja, setelah akhirnya berteriak dan terbangun karena mimpi buruk tentang Zahra yang di sakiti oleh Denta mantan suaminya.


"Sh-it, hanya mimpi" ucap Hendri segera duduk, mengusap keringat dan segera mengambil air untuk di minum.


Perasaannya masih belum juga tenang, hingga memutuskan untuk melihat keadaan Zahra di kamarnya.


"Lagi pula aku sudah sah menjadi suaminya" batin Hendri yang kemudian memberanikan diri membuka pintu kamar Zahra.


Perlahan Hendri merebahkan tubuhnya di samping Zahra, menyibak selimut hingga kemudian dirinya ikut berada di dalamnya. Pelan dan pasti kini Hendri melilitkan tangan ke pinggang Zahra, sedikit menarik nya hingga dengan erat memeluknya dari belakang.


Keduanya tertidur lelap dengan tubuh yang melekat erat, seolah keduanya berada di zona ternyaman dan tak ingin di lewatkan.


*


*


Pagi hari terdengar alarm dari Handphone Zahra, bunyi yang selalu membangunkannya untuk tak sampai telat menjalankan ibadah, namun betapa terkejutnya saat melihat ada tangan kekar yang ada di pinggangnya.


"Akh!" Teriak Zahra spontan dan segera membungkam mulutnya sendiri saat menyadari ada Hendri yang masih tertidur dengan lelap di sampingnya.


"Hendri?, Kapan dia pindah kesini?" Batin Zahra dengan pelan memindahkan tangan Hendri karena sudah tak tahan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Astagfirullah, Hendri!" Jerit Zahra saat keluar dan mendapati Hendri sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa berteriak?, Aku bahkan belum memasuki mu" ucap Hendri nyelonong masuk untuk membersihkan diri.


"Apa?!" Sahut Zahra terkejut.


Jangan lupa HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2